Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK DI BAWAH HUJAN

Udara pagi di kampus keesokan harinya terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Sisa-sisa hujan lebat semalam masih meninggalkan genangan air di setiap sudut halaman dan halaman parkir fakultas. Langit bergelayut kelabu, seolah mengunci kehangatan matahari di balik awan tebal yang menggantung rendah.

Aku berjalan menyusuri koridor perpustakaan seorang diri. Tas ransel terasa lebih ringan, tetapi dadaku justru terasa sebaliknya—ada ganjalan aneh yang sejak semalam enggan pergi. Kejadian di stasiun kereta itu, bayangan Kaito yang berdiri kaku di peron dengan jaket basahnya, terus berputar-putar di kepalaku.

Namun, pikiran itu dengan cepat kutepis saat sebuah pesan masuk di ponselku.

‘Hana, jam sepuluh nanti selesai kelas, ketemuan di kafe dekat gedung seni ya. Ada hal seru yang mau aku tunjukkan.’

Pesan dari Haruto.

Seketika itu juga, senyuman kecil terukir di bibirku. Segala rasa bersalah yang sempat hinggap semalam menguap begitu saja, tergantikan oleh rasa penasaran dan debar hangat khas anak muda yang baru mengenal dunia luar. Aku membalas pesannya dengan antusias, lalu bergegas mempercepat langkah menuju ruang kuliah umum.

Hari itu berlalu dengan cepat. Selama jam kuliah berlangsung, mataku beberapa kali melirik ke ponsel ku tapi pesan dari Kaito belum ada juga. tidak biasa nya Kaito begitu.

Saat aku bertanya-tanya dalam hati, ego kecilku langsung membisikkan pembenaran: Mungkin Kaito sedang sibuk dengan tugas hukumnya yang menumpuk. Lagi pula, dia bukan anak kecil yang harus selalu ditemani.

Aku memilih tidak ambil pusing. Selepas kelas berakhir, aku langsung meluncur menemui Haruto.

Waktu berjalan tanpa terasa. Pukul tiga sore, awan kelabu yang sejak pagi bergelayut akhirnya benar-benar tumpah. Hujan deras mengguyur kampus dengan ganasnya. Angin kencang menderu, merontokkan daun-daun mapel yang belum sepenuhnya menguning ke atas tanah basah.

Aku terjebak.

Gedung pameran seni tempat aku dan Haruto menghabiskan waktu tadi terletak cukup jauh dari stasiun kereta api kampus. Haruto, yang harus segera mengejar jadwal rapat mendadak dengan dosen pembimbingnya, terpaksa meninggalkanku lebih dulu karena ia memegang payung besar miliknya sendiri.

"Hana, maaf banget ya! Aku harus lari duluan ke gedung rektorat. Kamu tunggu di sini sebentar ya, nanti kalau hujannya redaan, kamu baru jalan!" begitu pesan terakhir yang Haruto ketikkan di layar ponselnya sebelum ia berlari kencang menembus tirai air hujan.

Aku mengangguk maklum dan melambaikan tangan. Namun, kenyataannya hujan semakin lebat. Air bahkan mulai membanjiri undakan teras depan gedung seni.

Aku berdiri seorang diri di balik pintu kaca, merapatkan mantel rajutku yang terasa tipis menahan angin dingin. Ponselku bergetar pelan di dalam saku.

Sebuah pesan dari ibu: ‘Hana, di kampus hujan besar? Jangan lupa pakai payung. Kalau terjebak, tunggu sampai reda ya.’

Aku mengetik balasan singkat bahwa aku baik-baik saja dan sedang berteduh. Namun, rasa cemas mulai merayap. Hari semakin gelap, dan kereta api terakhir menuju rumahku akan berangkat dalam waktu satu jam. Jika aku tidak segera beranjak, aku akan terjebak di kampus semalaman.

Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk nekat. Aku membuka tas kecilku, memastikan ponselku aman di dalam dompet, lalu melangkah keluar dari teras gedung seni. Aku tidak punya payung; Haruto membawanya, dan payung lipat kecilku tertinggal di dalam loker kampus.

Aku mulai berlari kecil menembus hujan menuju stasiun.

Air dingin langsung menghantam wajah dan tubuhku. Sepatu kainku basah kuyup dalam hitungan detik. Napasku mulai terengah-engah karena udara dingin yang menusuk dada. Asma ringan yang kerap kambuh saat cuaca ekstrem mulai mencengkeram tenggorokanku.

Langkahnya semakin berat. Pandanganku mulai kabur oleh derasnya air hujan yang tumpah dari langit tanpa ampun. Di tengah kepanikan kecil itu, aku merasa duniaku semakin menyempit menjadi dingin, gelap, dan benar-benar sunyi.

Tiba-tiba, dari arah persimpangan jalan setapak kampus yang dikelilingi pohon besar, aku melihat sesosok bayangan manusia berlari kencang menerobos badai.

Pria itu mengenakan jaket tebal yang basah kuyup hingga menempel di tubuhnya. Napasnya terengah-engah, naik-turun tidak beraturan, dengan uap tipis yang keluar dari celah bibirnya di tengah udara dingin. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah payung hitam berukuran besar.

Jantungku berdegup kencang. Sosok itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di hadapanku.

Di balik lensa kacamata tipisnya yang basah dan dipenuhi titik-titik air hujan, sepasang mata itu menatapku dengan campuran rasa panik, cemas, dan kelegaan yang teramat sangat.

Kaito.

Napasnya memburu hebat. Bahunya naik-turun menahan lelah yang luar biasa. Kaito tidak peduli lagi pada rambutnya yang basah kuyup menutupi kening, atau sepatunya yang sudah sepenuhnya terendam lumpur.

Tanpa berkata apa-apa karena memang ia terbiasa berbicara dalam sunyi Kaito langsung membuka payung besar di tangannya dan menaungi tubuhku dari terjangan air hujan.

Aku tertegun, berdiri kaku di hadapannya dengan tubuh menggigil.

Kaito mengangkat kedua tangannya. Gerakan isyaratnya kali ini tampak sedikit bergetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena sisa-sisa kepanikan yang luar biasa hebat di dalam dadanya.

[Bodoh...] isyarat tangan Kaito bergerak cepat dengan napas yang masih memburu. [Kenapa kamu nekat berjalan di tengah hujan deras seperti ini? Kamu tahu kan tubuhmu gampang sakit kalau terkena udara dingin?]

Aku menelan ludahku yang terasa kelat. Tenggorokanku tercekat.

[Aku... aku harus mengejar kereta ...] tanganku membalas isyaratnya dengan ragu-ragu.

Kaito menatapku tajam. Tidak ada kemarahan di matanya, yang ada hanyalah gulungan rasa sakit yang begitu pekat. Ia merogoh saku jaket basahnya, mengeluarkan kantong plastik kecil berisi obat hangat dan plester kompres yang ia beli dengan sisa uang sakunya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.

[Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Hana,] jemari Kaito kembali menari di udara, perlahan dan sarat akan keputusasaan. [Di perpus, di kafetaria, di gerbang utama... aku takut terjadi sesuatu padamu.]

Melihat Kaito yang sedemikian rupa mengorbankan dirinya di tengah badai hanya untuk mencariku sementara aku tadi siang dengan mudahnya melupakannya demi Haruto membuat dadaku dihantam oleh rasa bersalah yang teramat berat.

Hujan terus turun dengan deras, mencurahkan ribuan butir air di sekeliling kami. Namun di bawah naungan satu payung hitam itu, dunia seolah berhenti berputar.

Kaito menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemetar di tubuhnya. Ia meraih tanganku yang dingin, lalu menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan kehangatan—sebuah kehangatan tulus yang selama ini selalu kuanggap remeh.

Dan pada detik itu, di bawah gemuruh hujan kampus, aku menyadari satu hal yang menakutkan: aku hampir kehilangan orang yang paling mencintaiku di dunia ini, demi sesuatu yang bahkan belum tentu nyata.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!