Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Potongan Pertama dan Kedai di Ujung Jalan
Suasana di dalam kelas 7-A masih tampak tegang saat Evan dan Auren melangkah masuk kembali secara berdampingan. Balisya yang berdiri di samping meja ketua kelas langsung melipat tangan di dada dengan wajah masam, sementara Fathur yang duduk di bangku belakang menatap tajam ke arah jemari Evan yang sempat tidak sengaja bersentuhan dengan lengan seragam Auren.
"Lama banget sih, Van? Kuenya keburu meleleh nih," cetus Balisya dengan nada ketus, melirik sinis ke arah Auren yang kini sudah tampak lebih tenang dengan pipi yang sedikit merona.
Evan tidak menggubris sindiran Balisya. Ia berjalan ke mejanya dengan pembawaan tenang, mengambil pisau plastik yang disediakan di samping kotak kue mewah tersebut. Seluruh pasang mata di kelas seketika tertuju pada sang ketua kelas, menanti siapa yang akan beruntung mendapatkan potongan kue pertama dari sang juara satu.
Balisya sudah bersiap maju satu langkah, menadahkan sebuah piring kecil dengan senyum kemenangan yang tertahan di bibirnya. Ia sangat yakin kue mewah itu adalah miliknya, maka potongan pertama pun sudah sepatutnya menjadi haknya.
Sret.
Pisau plastik itu memotong bagian tengah kue tart berlapis cokelat premium dengan sempurna. Evan mengangkat potongan pertama yang terlihat sangat lezat itu di atas piring kecil. Namun, alih-alih berbalik ke arah Balisya, Evan justru memutar tubuhnya sembilan puluh derajat, menghadap langsung ke arah meja sekretaris di sebelahnya.
"Ini buat kamu, Aurenku," ujar Evan lantang, cukup keras hingga suaranya menggema di setiap sudut ruang kelas.
Evan menyodorkan piring tersebut, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lembut, ia mengarahkan sendok kecil berisi potongan kue itu tepat di depan bibir Auren.
Suasana kelas seketika pecah. Sorakan heboh dan siulan dari anak-anak laki-laki langsung membahana.
"Waduh! Ketua kelas kita langsung gas pol!" seru salah satu teman sekelas mereka dari barisan belakang.
Wajah Balisya seketika berubah merah padam karena menahan malu dan amarah yang luar biasa. Ia menghentakkan kakinya keras-keras lalu berjalan cepat keluar kelas, menubruk pintu geser dengan kasar. Di sudut lain, Fathur hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, membuang muka karena tidak sanggup melihat kedekatan mereka yang kian tak terbendung.
Auren yang mendapati dirinya disuapi di depan seluruh teman sekelasnya merasa pipinya seperti terbakar. Namun, menatap mata kecokelatan Evan yang begitu teduh dan penuh keseriusan, ia tidak bisa menolak. Auren membuka mulutnya kecil, menerima suapan pertama itu dengan jantung yang berdegup melompat-lompat.
"Manis?" tanya Evan pelan, mengabaikan kegaduhan di sekeliling mereka.
Auren mengangguk pelan, menyembunyikan senyumnya. "Iya, manis banget. Makasih, Evan."
Sore harinya, setelah bel pulang sekolah berbunyi dan seluruh urusan piket kelas selesai dibersihkan, Evan tidak langsung menuju ke parkiran motor. Ia berjalan beriringan dengan Auren menyusuri trotoar jalan menuju halte bus, persis seperti sore kemarin. Bedanya, hari ini langit sangat cerah dengan semburat warna jingga yang indah.
"Kita enggak langsung ke halte, Aurenku," ucap Evan tiba-tiba saat mereka hampir sampai di ujung jalan.
Auren menoleh bingung. "Eh? Lalu kita mau ke mana?"
Evan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih ujung tas ransel Auren, menuntun gadis itu berbelok ke arah sebuah kedai kecil berpapan kayu dengan tulisan neon bergaya retro: Kedai Es Krim Om Jo. Kedai itu terletak tepat di samping stasiun bus, tempat yang selalu mereka lewati namun belum pernah mereka singgahi bersama.
"Kemarin kamu sudah menemaniku di bawah hujan. Hari ini, temani aku merayakan ulang tahunku yang sebenarnya di sini. Hanya berdua," kata Evan sambil membukakan pintu kedai untuk Auren.
Aroma vanila dan waffle hangat langsung menyambut mereka di dalam kedai yang sepi dan tenang. Evan memesan dua porsi es krim besar varian cokelat dan stroberi, lalu mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah jalanan sore.
Di bawah temaram lampu kedai yang kuning hangat, mereka menikmati es krim bersama. Tidak ada bahasan soal grafik matematika, tidak ada urusan absensi kelas 7-B. Yang ada hanya obrolan ringan, tawa kecil Auren yang menghias suasana, dan tatapan protektif Evan yang tidak pernah lepas dari gadis di hadapannya.
"Evan," panggil Auren pelan, menyendok es krim stroberinya. "Selamat ulang tahun sekali lagi, ya. Aku benar-benar tidak menyangka potongan pertama tadi buat aku."
Evan meletakkan sendoknya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap lekat manik mata Auren. "Sudah kubilang kan, Aurenku? Kue mewah atau kado mahal itu tidak penting. Merayakan hari ini bersamamu di kedai kecil ini jauh lebih berharga dari apa pun."
Auren menunduk, menyembunyikan senyum bahagianya yang merekah sempurna. Hari ulang tahun Evan yang awalnya dimulai dengan kepanikan dan rasa minder, kini ditutup dengan momen paling manis yang diukir berdua di ujung sore yang hangat.