Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:76.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Sang Pelaku

Sesampainya di kantor Polda, Rama langsung dibawa ke ruang interogasi.

Rama tampak kebingungan. Kenapa dirinya tiba-tiba dijemput dua petugas kepolisian dan dimasukkan ke dalam ruang interogasi.

Baru sekitar lima menit berada di ruang interogasi, pintu ruangan terbuka. Nino masuk dengan membawa berkas di tangannya. Pria itu menarik kursi di hadapan Rama lalu duduk.

“Saudara Rama, apa yang Anda lakukan dua hari lalu di jam sebelas malam sampai tiga dini hari?” tanya Nino membuka jalannya interogasi.

“Tentu saja saya berada di rumah.”

“Anda tertangkap berada di klub Butterfly sekitar pukul sembilan malam sampai sebelas malam.”

“Aku memang ke sana.”

“Dengan siapa Anda ke sana?”

“Sendiri.”

“Apa yang Anda lakukan di sana?”

“Saya hanya ingin melepaskan penat saja.”

Nino membuka berkas di atas meja lalu mengeluarkan satu lembar foto. Dia memperlihatkannya kepada Rama. “Anda mengenalnya?”

Rama memandangi foto Riri di atas meja. Untuk sesaat dia terdiam sampai akhirnya dia bisa mengingat wanita muda itu. Wanita di foto itu adalah wanita yang ditemuinya di klub Butterfly.

“Aku tidak mengenalnya, tapi aku bertemu dengannya di klub Butterfly.”

“Anda yakin tidak mengenalnya? Dia bekerja di klub itu sebagai LC.”

“Ya. Lagipula aku baru pertama kali ke sana.”

“Wanita ini bernama Riri. Dia adalah korban pembunuhan. Kemarin jasadnya ditemukan di salah satu bangunan kosong yang berada tak jauh dari klub. Perkiraan pembunuhan terjadi sekitar pukul dua belas malam hingga tiga dini hari.”

Mendengar itu, perasaan Rama mulai tidak enak. Pria itu merasa Nino sedang menargetkan dirinya sebagai tersangka.

“L-Lalu apa hubungannya denganku?”

“Luka-luka yang dialami Riri, sama seperti yang dialami Nilan. Posisi wanita itu sama persis seperti Nilan dahulu. Jadi kami berkesimpulan, bisa saja pelaku pembunuhan adalah orang yang sama.”

“A-Aku tidak membunuh Nilan dan juga perempuan itu,” jawab Rama gugup.

“Anda tidak bisa membuktikan alibi saat pembunuhan Nilan terjadi. Bagaimana dengan sekarang? Apa Anda bisa membuktikan alibi Anda?”

Rama menggeleng pelan. Sepulangnya dari klub malam, Rama memang tidak kembali ke rumahnya. Dia memutuskan menginap di rumah temannya. Namun kondisi rumah temannya saat itu juga sedang kosong. Jadi tidak ada siapa pun yang bisa membuktikannya.

Apalagi Rama keluar dari rumah temannya pagi-pagi sekali. Para tetangga di kediaman temannya tidak ada yang melihatnya.

“Setelah meninggalkan klub, Anda ke mana?”

“Ke rumah teman saya.”

“Kenapa tidak pulang ke rumah?”

“Saya tidak mau mama saya mengetahui kalau saya habis minum minuman keras.”

“Apa ada yang bisa membuktikan ucapan Anda?”

“Tidak ada,” jawab Rama sambil menundukkan kepala.

Nino bangkit dari duduknya lalu meninggalkan ruang interogasi. Dia segera menuju ruangan sebelah. Di sana ada Miko dan Asep yang sedari tadi memantau jalannya interogasi.

“Bagaimana, Ndan?” tanya Nino.

“Kita tidak punya cukup bukti untuk menahannya.”

“Apa kita akan melepaskannya begitu saja?”

“Untuk sementara sampai kita menemukan bukti yang kuat. Aku akan memerintahkan orang untuk mengawasinya.”

“Baiklah.”

Nino keluar lalu kembali ruang interogasi.

“Anda boleh pulang, tapi Anda tidak boleh bepergian ke luar kota. Untuk sementara Anda tidak diperbolehkan bepergian ke luar kota.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kami mendapatkan bukti bahwa bukan Anda pelaku pembunuhan Nilan dan Riri.”

Rama mengangguk pelan. Dia tidak punya pilihan kecuali mengiyakan perkataan Nino. Tanpa berlama-lama, Rama segera meninggalkan kantor Polda.

Setelah Rama pergi, Nino dan Asep pun meninggalkan kantor. Sekarang keduanya hendak menuju rumah sakit untuk menemui dokter Bagas. Siapa tahu ada informasi tambahan yang bisa mereka dapat untuk mengungkap identitas pelaku.

Sesampainya di rumah sakit, keduanya segera menemui dokter Bagas. Dokter forensik itu sudah menunggu di ruangannya.

“Apa ada informasi lain, dok?” tanya Nino.

“Kalian sudah membaca hasil autopsinya?”

“Sudah.”

“Hanya itu informasi yang bisa kuberikan, maaf.”

“Bagaimana dengan tanda titik hitam di telapak jempol kaki korban.”

“Sepertinya itu tanda dari pelaku. Nilan hanya memiliki tanda satu titik, sementara Riri memiliki tanda dua titik. Titik itu sepertinya menunjukkan urutan korban.”

“Jadi dia sengaja memberi tanda seperti itu untuk menunjukkan jumlah korban yang sudah dibunuhnya.”

Dokter Bagas menjawab pertanyaan Nino dengan anggukan saja.

“Dasar gila!” umpat Asep pelan.

“Dari pola pembunuhan, cara dia menghabisi korban, memosisikannya seperti janin, serta tanda titik hitam yang ditinggalkan, pelaku menunjukkan perilaku yang sangat menyimpang.

Ada kemungkinan dia memiliki kecenderungan psikopatik,” tutur dokter Bagas mengemukakan analisisnya.

“Apa menurut dokter, dia sengaja memberi tanda itu untuk memberitahu kami?” tanya Nino.

“Bisa jadi. Kalau benar itu tujuannya, kalian sedang berhadapan dengan seorang psikopat. Kalian harus segera menemukannya sebelum korban lain berjatuhan.”

Tanpa sadar Nino dan Asep mengangguk bersamaan. Untuk sesaat suasana di ruang kerja dokter Bagas hening sebelum akhirnya terpecahkan dengan dering telepon ekstensi yang ada di atas meja.

Dokter Bagas segera mengangkat telepon. Setelah berbicara sebentar, dokter itu menaruh kembali gagang telepon di tempatnya lalu langsung bangkit. “Maaf, aku harus menghadiri rapat.”

“Baiklah, terima kasih dokter.”

Nino dan Asep ikut bangkit. Bergantian mereka menyalami dokter Bagas lalu segera keluar dari ruangan.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, keduanya memutuskan untuk mampir ke kafetaria. Tadi mereka melewatkan jam makan siang. Keduanya memutuskan makan di kafetaria rumah sakit.

Setelah memesan makanan, Nino dan Asep segera menuju meja yang kosong. Meski jam makan siang sudah lewat dua jam lalu, kafetaria masih ramai didatangi pengunjung.

Selain petugas rumah sakit, staf rumah sakit, kafetaria ini juga sering didatangi pengunjung atau keluarga pasien.

Sambil menunggu pesanan, keduanya berbincang, membicarakan kasus yang sedang mereka tangani.

“Menurutmu apa motif pelaku melakukan pembunuhan?” tanya Asep membuka diskusi mereka.

“Ini yang belum aku tahu. Nilan dan Riri tidak saling mengenal sebelumnya. Keduanya juga bekerja di tempat yang berbeda. Sulit sekali menemukan benang merah di antara keduanya.”

“Saat masuk ke dalam ingatan korban, apa pelaku mengatakan sesuatu?”

“Tidak. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Benar-benar aneh. Saat memukuli korbannya, dia terlihat sangat menikmati. Teriakan kesakitan korban seperti sebuah hiburan untuknya. Dasar gila!” Nino mengusap wajahnya kasar.

“Ada dua saksi makhluk halus yang sepertinya mengetahui identitas pelaku. Tapi mereka hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Apa menurutmu pelaku juga dibantu makhluk halus seperti kita? Atau bisa jadi dia dirasuki saat melakukan itu?”

“Entahlah.”

Nino sendiri tidak berani berspekulasi. Informasi yang mereka dapatkan tentang pelaku masih sedikit.

Perbincangan keduanya terhenti ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Karena rasa lapar sudah melanda, keduanya dengan lahap memakan pesanan masing-masing.

Tak butuh waktu lama, nasi beserta lauk yang dipesan sudah tandas dimakan keduanya. Mereka beristirahat sebentar untuk menurunkan makanan yang baru masuk ke perut.

Dari pintu masuk kafetaria muncul seorang dokter wanita. Dia langsung menuju kasir untuk memesan sesuatu.

“Mau pesan apa, dok?” tanya sang pelayan seraya melemparkan senyuman.

Dokter wanita bernama Nayla itu adalah seorang dokter residen tahun kedua. Saat ini, wanita berusia 25 tahun itu sedang mengambil spesialis emergensi.

“Aku pesan iced cappuccino.”

“Bagaimana IGD hari ini?”

“Rush hour as always,” jawab dokter Nayla sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Dia tetap menunggu di sana sampai pesanannya selesai. Begitu pesanannya selesai, dokter Nayla berbalik. Dia hendak kembali ke IGD.

Namun langkahnya terhenti saat melihat pria yang disukainya sedang duduk bersama sahabatnya.

Nayla berjalan mendekati meja yang ditempati Nino dan Asep lalu berhenti tepat di samping dua pria yang sedang asyik berdiskusi.

***

Kira² pelakunya Rama bukan, ya?

Yang ditaksir dokter Nayla siapa hayo?

1
Wardah Saiful
seruuu ceritanya
Febri Nayu
R A inisial nya garasi inget ramaa
tehNci
Harus kebongkar doong
tehNci
Ladalah....tambah 1 lagi yg harus dijaga Gilang si penjaga arwah. 5 arwah jadi anak asuh gilang😅😅😅
Humaira
kebongkar kayaknya 🤔
Ani
kebongkar lah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
takajutlah Ramli denger karyawan yg kerja dgn nya yg jadi korban ke sadisan si pelaku....apalagi bila tau korbannya itu selingkuhan WIL-nya....wah pasti langsung kena shock terapi dia.. apakah bakal lanjut dinas ke Singapura nya apa di cancel ya 🤔🫣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha kamu mah wayahe Lang jd bulan² Asep... selalu di bikin jengkel olehnya 😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
mungkin saja laptop nya Dipta ada lebih dari satu........ laptop khusus eksekusi sama laptop buat tugas dr Nino dan Asep terpisah biar gk di curigai....namanya juga orang jahat yg pintar ....jd udah di perhitungkan semuanya....cara eksekusi korban juga rapih dan teliti dia ngerjainnya.... jangan sampe meninggalkan jejak biar gk terendus polisi....dia tuu pintar dan licin 🫣
Ria alia
Stlh denger inisial apakah pa ramli trkjut lgsg inget sama selingkuhan’y 🤔
Munas Tuti
nahh ketar ketir tu Ramli, takut terbongkar sesuatunya 😄😄
yula
💪💪💪💪💪thor
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Nambah lagi anak asuh Gilang 🤭
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Pasti terbongkar
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Setelah mendengar berita dari anaknya, cangkir kopi yang dipegangnya langsung terlepas, pecah tak terarah 🤭 dia langsung membelalakan matanya sambil berteriak "apa !!!" sehingga membuat istri dan anaknya kaget. hehehe.... imajinasiku tentang lanjutan cerita ini 🤭😄😄😄
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Pasti si Ramli panas dingin tuh🤭
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Jadi hantusitter kedatangan anak asuh baru lagi? 😏🤣🤣🤣🤣
Humaira
asiaap 💪
tehNci
Apakah Yuniar akan mengikuti jejak para arwah para korban pembunuhan topeng Rahwana yg sudah mati dan ngumpul jadi anak asuh Gilang? Lumayan tuh Gilang, bisa konsultasi masalah tugas kuliahnya sama arwah Bu yuniar🤣🤣🤣
Febri Nayu
ikut kami.. eh langsung melok dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!