Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
.
Wajah Raka bersinar cerah ketika akhirnya pria itu bisa duduk berdampingan dengan Aisyah di kursi kayu panjang yang berada di halaman belakang. Keduanya duduk sambil memperhatikan Rangga dan Fatimah yang kembali bermain air setelah selesai makan martabak coklat.
Sesekali terdengar suara tawa Fatimah, disusul teriakan Rangga yang berusaha menghindari semprotan air dari adiknya membuat Raka tersenyum melihat kedua anaknya.
Beberapa saat lamanya suasana di antara mereka terasa tenang. Raka merasakan jarak yang semakin terbentang diantara mereka. meskipun Aisyah kini terlihat duduk di sampingnya.
“Katanya kamu tadi ke toko?” tanya Raka sambil tetap memandang anak-anak mereka.
“Iya,” jawab Aisyah singkat.
Hanya itu. Jawaban yang begitu datar yang mampu membuat Raka menahan napas. Entah kenapa, satu kata sederhana dari Aisyah kini terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan atau bentakan.
Dulu, satu pertanyaan darinya bisa membuat Aisyah bercerita panjang. Sekarang, bahkan untuk mendapatkan beberapa kalimat dari istrinya, Raka merasa harus berusaha keras.
Raka menelan ludah sebelum kembali bertanya, “Katanya kamu minta berkas keuangan toko dan restoran?”
“Iya.” Lagi-lagi hanya satu kata yang meluncur dari bibir Aisyah.
Raka menarik napas dalam-dalam. Rasanya begitu sulit berbicara dari hati ke hati dengan Aisyah sekarang.
Padahal sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan jika Aisyah ingin ikut mengelola toko dan restoran. Ia bahkan ingin mengatakan bahwa jika kegiatan itu bisa membuat Aisyah lebih tenang, silakan saja.
Raka bahkan berpikir mungkin dengan begitu mereka bisa kembali mengelola toko bersama seperti sebelum kelahiran Rangga dan Fatimah. Dan itu bisa membuat hubungan mereka berdua kembali dekat.
Namun, sebelum sempat membuka mulut, Aisyah lebih dahulu berbicara. “Pulanglah ke rumah istri keduamu.”
Raka langsung menoleh. Apakah dirinya sedang diusir?
Aisyah masih memandang anak-anak yang bermain di halaman. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan. “Aku tidak mau Nabila datang lagi ke sini dan membuat keributan seperti kemarin,” lanjut wanita itu.
Nyess!
Hati Raka bagai tertusuk serpihan kaca yang tajam.
Bukan karena Aisyah mengusirnya. Tetapi karena kalimat itu membuatnya sadar bahwa sekarang keberadaannya di rumah sendiri saja sudah bisa dianggap sebagai sesuatu yang berpotensi mendatangkan masalah.
Dulu Aisyah selalu menunggunya pulang. Tapi sekarang Aisyah justru memintanya pergi demi menghindari istrinya yang lain.
Raka terdiam cukup lama. Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa rumah itu juga miliknya. Ingin mengatakan bahwa Nabila tidak akan datang lagi tanpa izinnya.
Tetapi Apa memang benar begitu? Kenyataannya yang dikatakan Aisyah memang benar. Jika Nabila kembali datang dan membuat keributan seperti kemarin, yang terluka bukan hanya Aisyah. Rangga dan Fatimah malah lebih terluka lagi. Meskipun sebelumnya Nabila sudah berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi, tetapi entah kenapa tiba-tiba ia merasa ragu.
Raka menghembuskan napas pelan. “Baik,” jawab Raka akhirnya. “Aku akan pergi.”
Aisyah hanya mengangguk. Tidak ada permintaan agar Raka tetap tinggal. Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada pula tatapan yang menunjukkan bahwa ia berharap suaminya berubah pikiran.
Raka berdiri, lalu menatap kedua anaknya yang masih bermain. “Ayah pergi dulu, ya,” katanya sambil tersenyum kepada mereka.
Aisyah memanggil kedua anaknya untuk salim sebelum ayahnya pergi.
Fatimah dengan pakaiannya yang basah kuyup memeluk kaki Raka. “Ayah mau pergi lagi?” tanyanya dengan wajah menengadah menatap wajah ayahnya.
Raka terdiam sejenak selalu menekuk lututnya hingga posisi tubuhnya sejajar dengan Fatimah. “Iya, Sayang. Ayah harus pergi.”
Fatimah tampak kecewa, tetapi akhirnya mengangguk.
Sementara Rangga, bocah itu hanya mencium punggung tangan ayahnya tanpa kata, dan tanpa bertanya apapun.
Raka menatap Aisyah sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap wanita itu akan menghentikannya.
Namun Aisyah hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”
Satu kata yang begitu sederhana. Tapi justru itulah yang membuat langkah Raka terasa semakin berat. Padahal dulu Aisyah juga selalu mengucapkan kalimat pesan itu setiap kali dirinya akan pergi. Tapi entah kenapa sekarang rasanya berbeda.
Pria itu akhirnya pergi meninggalkan halaman belakang.
Aisyah tetap duduk di tempatnya sampai suara kendaraan Raka menghilang dari depan rumah. Setelah itu, wanita tersebut menarik napas dalam-dalam. Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya. Namun Aisyah tidak menangis. Ia justru kembali menatap Rangga dan Fatimah.
Kedua anak itu sudah tidak lagi bermain semprot-semprotan. Rangga dengan sabarnya membujuk adiknya untuk berhenti bermain lalu masuk ke dalam rumah untuk segera mandi.
Aisyah kemudian tersenyum tipis. Demi mereka berdua, ia tidak akan terus-menerus tenggelam dalam luka.
---
Malam harinya, setelah Rangga dan Fatimah tertidur, Aisyah duduk sendirian di kamar dengan lampu yang hanya menyala redup.
Wanita itu baru saja merapikan beberapa pakaian anak-anak ketika tiba-tiba pikirannya teringat pada sesuatu. Nomor telepon pemilik ruko yang tadi siang ia catat.
Aisyah mengambil ponselnya lalu membuka nomor kontak yang sudah ia simpan. Ia menatap deretan angka tersebut beberapa saat. Sebenarnya ia masih belum yakin akan melakukan apa dengan ruko itu. Namun, sejak melihatnya tadi siang, pikirannya terus kembali ke tempat tersebut. Aisyah akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil.
Tidak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.
“Hallo?” terdengar suara laki-laki yang cukup berat dari seberang sana
“Selamat malam, Pak. Apakah benar ini dengan Pak Akbar? Maaf mengganggu. Saya Aisyah. Tadi siang saya melihat ruko Bapak yang disewakan di Jalan—”
“Oh, iya, Bu,” potong pria tersebut setelah mendengar penjelasannya. “Ruko yang dekat warung Bu Yani?”
“Iya, Pak.” Aisyah mengangguk lupa kalau orang di seberang tidak bisa melihatnya.
“Memangnya Ibu berminat?” tanya Pak Akbar dengan antusias.
Aisyah melirik catatan kecil yang tadi sempat ia tulis mengenai lokasi ruko itu. “Untuk sementara saya ingin mencari tahu dulu mengenai harga sewanya, Pak.”
“Kalau soal harga, sebenarnya saya masih bisa bicarakan,” sahut Pak Akbar. “Daripada ruko itu saya biarkan kosong.”
“Kalau boleh tahu, berapa harga sewanya?”
Pak Akbar menyebutkan nominal yang menurut Aisyah masih cukup masuk akal untuk ukuran lokasi tersebut. Tetapi Aisyah tidak langsung menyetujuinya.
“Apakah harga itu masih bisa dibicarakan, Pak?” tawar Aisyah.
Pria tersebut tertawa kecil di seberang telepon. “Bisa saja, Bu. Namanya juga sewa-menyewa. Gampanglah nanti kalau kita ketemu. Memangnya Bu Aisyah mau gunakan ruko itu untuk usaha apa?”
“Saya berencana menggunakannya untuk usaha kecil, Pak,” jawab Aisyah. “Tapi saya belum bisa memastikan sebelum melihat kondisi ruko lebih detail.”
“Itu tidak masalah. Tapi saya masih di rumah anak saya di luar kota. Dua hari lagi baru saya bisa pulang.”
“Kalau begitu, apakah kita bisa bertemu dua hari lagi di ruko tersebut?” minta Aisyah.
“Tentu saja bisa. Sekitar pukul berapa, Bu?” tanya Pak Akbar.
“Kalau pagi bagaimana, Pak? Sekitar pukul sembilan setelah saya mengantar anak ke sekolah?”
“Boleh. Saya usahakan sudah sampai di sana sebelum jam sembilan. Kita lihat rukonya bersama. Kalau cocok, kita bicarakan harga dan perjanjiannya.”
“Baik. Terima kasih, Pak Akbar.”
“Sama-sama, Bu Aisyah.
Aisyah menurunkan ponselnya ke atas pangkuan setelah panggilan berakhir. Wanita itu menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.
Belum ada yang pasti. Ia bahkan belum tahu usaha apa yang akan dijalankan di sana. Tetapi sekarang Aisyah memiliki sesuatu yang ingin ia pikirkan hanya untuk dirinya sendiri bersama dua orang anaknya.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...