Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — Rahasia Kelahiran Dila

"Apa yang belum Ayah ceritakan tentang kelahiranku?"

Pertanyaan itu jatuh begitu saja, pelan namun menghantam semua orang di ruangan itu seperti palu.

Jatmiko tetap menundukkan kepala. Bahunya naik turun menahan napas.

Dila menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik yang terasa seperti seumur hidup.

Tidak ada jawaban. Hanya suara jam dinding tua yang berdetak dan isak tangis Bu Ratih yang masih tertahan di sudut ruangan.

"Ayah," kali ini suara Dila lebih tegas, meski bibirnya bergetar. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu untuk hidup dalam kebohongan. Dua puluh delapan tahun, Yah. Jangan tambah lagi satu hari pun."

Jatmiko akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah, basah, dan penuh ketakutan. Ketakutan seorang ayah yang takut kehilangan anaknya untuk kedua kalinya.

"Ayah takut, Dila."

Dila mengerutkan kening. "Takut apa?"

"Takut setelah kamu tahu semuanya... kamu akan membenci Ayah. Kamu akan pergi dan tidak akan pernah mau melihat Ayah lagi."

Fadil yang sejak tadi berdiri di samping Dila, langsung mengusap punggung istrinya dan menatap Jatmiko dengan tenang.

"Pak Jatmiko, dengan segala hormat... lebih baik Dila membenci karena tahu kebenaran, daripada terus mencintai karena kebohongan. Dia sudah cukup kuat untuk mendengarnya."

Jatmiko menatap Fadil, lalu menatap Dila. Ia menarik napas panjang yang terdengar patah.

"Dila, sebelum kamu lahir... ibumu mengalami sesuatu yang sangat berat. Sesuatu yang hampir membuat Ayah kehilangan kalian berdua bahkan sebelum kamu sempat menangis."

"Apa maksud Ayah?"

"Ketika Larasati mengandungmu tujuh bulan, keluarga besar Wiratama mengetahui bahwa dia sedang mengandung pewaris pertama dari garis Ayah, garis Jatmiko."

"Lalu?" Dila menelan ludah.

"Mereka tidak menyukainya. Sama sekali."

"Karena Ibu bukan dari keluarga kaya? Karena Ibu hanya staf keuangan biasa?" tanya Dila, mengulang cerita yang sudah ia dengar.

Jatmiko menggeleng pelan. Ia menggenggam kedua tangannya begitu erat hingga kukunya memutih.

"Bukan hanya itu, Nak. Mereka takut. Mereka takut kamu akan menjadi pewaris utama yang sah, yang tidak bisa mereka kendalikan. Kamu bahkan belum lahir, tapi keberadaanmu sudah dianggap ancaman bagi pembagian warisan."

Dila terdiam. Napasnya tercekat. "Aku... bahkan belum lahir sudah dianggap musuh?"

"Itulah masalahnya," bisik Jatmiko.

 

Jatmiko berjalan gontai menuju sebuah lemari tua yang sudah lapuk di sudut ruangan. Ia membukanya dan mengambil sebuah kotak kayu kecil yang berbeda dari kotak-kotak sebelumnya. Kotak ini lebih sederhana, tanpa ukiran, hanya diikat dengan karet gelang yang sudah getas.

"Ini milik ibumu. Larasati menitipkannya pada seorang bidan desa sebelum dia meninggal. Bidan itu baru memberikannya pada Ayah minggu lalu, setelah Ayah mencarinya selama bertahun-tahun."

Dila menerima kotak itu dengan tangan gemetar.

"Isinya apa, Yah?"

"Buka sendiri."

Dila membuka perlahan. Di dalamnya tidak ada perhiasan. Hanya tumpukan dokumen lama yang sudah menguning dan berbau apak.

Akta kelahiran. Surat keterangan rumah sakit. Foto USG yang sudah pudar. Dan sebuah surat berwarna kecokelatan yang dilipat rapi.

Dila mengambil dokumen pertama — akta kelahirannya.

Matanya membesar.

Tanggal lahirnya tercetak jelas. Nama ibunya: Larasati Pramudya.

Namun pada kolom NAMA AYAH, kosong. Hanya ada garis strip panjang.

Fadil yang ikut melihat dari samping langsung menatap Jatmiko dengan kening berkerut.

"Pak... kenapa kolom ayah kosong?"

Jatmiko menjawab dengan suara pelan, hampir tidak terdengar. "Karena saat itu kami sengaja menyembunyikan identitasmu. Kami sepakat untuk tidak mencantumkan nama Ayah. Jika keluarga besar tahu kamu adalah anak sah Jatmiko Wiratama, mereka akan mencarimu sampai ke ujung dunia."

Dila menggeleng, air matanya mulai jatuh. "Kalau memang untuk melindungiku, Yah... kenapa hidupku harus penuh kebohongan begini? Kenapa aku harus tumbuh tanpa tahu siapa diriku?"

Jatmiko tidak mampu menjawab. Ia hanya menunduk.

Dila membuka dokumen kedua. Surat keterangan lahir dari rumah sakit.

Ia membaca perlahan, lalu wajahnya berubah pucat.

"Ini... ini tidak mungkin."

"Apa, Sayang?" Fadil bertanya cepat.

Dila menyerahkan surat itu pada suaminya. Fadil membacanya dan langsung menatap Jatmiko dengan tatapan tajam.

"Di sini tertulis Rumah Sakit Bersalin Kasih Bunda, Karangrejo. Bukan Rumah Sakit Wiratama Husada seperti yang selama ini tertulis di KTP Dila, Pak."

Jatmiko mengangguk dengan bibir gemetar. "Ya. Karena rumah sakit keluarga, Wiratama Husada, sudah diawasi oleh orang-orang suruhan ayah Ayah. Semua dokter dan perawat di sana adalah mata-mata keluarga. Larasati harus melahirkan di klinik bidan kecil di desa terpencil, dibantu dukun beranak, tanpa bius, tanpa keluarga."

Dila memegang kepalanya, kepalanya terasa berdenyut hebat.

"Jadi sejak aku lahir... sejak napas pertamaku... aku sudah menjadi target buruan?"

"Kamu sudah menjadi target bahkan sebelum kamu bisa membuka mata, Dila," jawab Jatmiko dengan suara yang hancur.

 

Dila kemudian menemukan sebuah foto di dasar kotak. Foto seorang bayi merah yang baru lahir, dibedong kain jarik. Di belakang foto, ada tulisan tangan Larasati yang sangat rapi.

Anakku lahir dengan selamat jam 02.14 pagi. Cantik sekali. Mirip Jatmiko. Tapi mereka sudah mengetahui keberadaannya. Seseorang di rumah sakit memberitahu keluarga Wiratama. Kami harus segera pergi malam ini juga.

Air mata Dila jatuh menetes ke atas foto itu.

"Ibu..."

Fadil meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. Dila membalik foto tersebut. Ada tulisan lain di baliknya, dengan tinta yang berbeda, lebih tergesa-gesa, seolah ditulis sambil menangis.

Jatmiko tidak boleh mengetahui rencana ini. Maafkan aku, Mas.

Dila membeku. Darahnya berdesir dingin.

"Yah..." suaranya hampir hilang. "Ibu... menyembunyikan sesuatu dari Ayah?"

Jatmiko melihat tulisan itu. Wajahnya yang sudah pucat kini seputih kertas. "Ayah... Ayah juga baru melihat tulisan ini sekarang. Ayah tidak pernah tahu."

Dila membalik foto itu lagi, ada satu baris terakhir yang tertulis sangat kecil di pojok.

Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Jatmiko membawa Dila kembali kepada keluarga Wiratama.

Dila menatap ayahnya dengan pandangan bingung dan terluka. "Kenapa Ibu takut Ayah membawaku kembali kepada keluarga Ayah sendiri? Kenapa Ibu tidak percaya pada Ayah?"

Jatmiko menundukkan kepala dalam-dalam, bahunya terguncang.

"Karena ibumu tahu sesuatu tentang keluargaku... yang bahkan aku sendiri tidak tahu sampai bertahun-tahun kemudian. Sesuatu yang jauh lebih busuk dari sekadar perebutan warisan."

 

Tiba-tiba pintu ruang tengah terbuka dengan keras.

Azam masuk dengan napas sedikit memburu, diikuti Laras.

"Ada perkembangan," kata Azam cepat.

Dila menoleh, menghapus air matanya dengan kasar. "Apa, Zam?"

"Kami menemukan alamat lama Suryanto. Alamat KTP terakhirnya sebelum dia menghilang."

"Di mana?" Dila langsung berdiri.

"Desa Karangrejo. Dusun Nglorog."

Dila terdiam. Nama itu terasa familiar di telinganya.

Laras menyambung, "Itu desa tempat rumah masa kecil Bu Larasati berada, Bu Dila. Rumah yang tadi Bu Ratih ceritakan."

"Jadi Suryanto tinggal di sana?" tanya Jatmiko.

"Pernah. Rumahnya sekarang kosong, kata warga sudah lima tahun tidak ditempati. Tapi..."

"Tapi apa?" Jatmiko menatap Azam.

"Rumahnya tidak pernah dijual. Pajaknya tetap dibayar tiap tahun lewat transfer anonim. Seolah-olah ada yang sengaja mempertahankan rumah itu agar tidak dibongkar."

Jatmiko langsung berdiri, matanya menyala. "Tidak mungkin dia meninggalkan rumah itu begitu saja."

"Kenapa, Yah?" Dila bertanya.

"Karena di halaman belakang rumah itu..." Jatmiko menatap Dila dalam-dalam, "Ada sebuah gubuk kecil. Di sanalah ibumu pernah menyembunyikanmu."

Dila membeku. "Aku?"

Jatmiko mengangguk. "Ketika kamu berusia dua tahun, Larasati membawamu lari ke sana. Kalian bersembunyi selama tiga bulan karena ada upaya penculikan terhadapmu di kota."

"Tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali?"

"Kamu masih terlalu kecil, Nak. Usia dua tahun."

Fadil bertanya dengan suara pelan, "Lalu siapa yang menjaga Dila selama di sana, Pak?"

Jatmiko menjawab tanpa ragu, sambil menatap Bu Ratih yang masih duduk di lantai.

"Bu Ratih."

Dila langsung terkejut dan menatap Bu Ratih yang masih terisak.

"Ibu... Ibu pernah menjaga aku waktu bayi?"

Bu Ratih mengangkat wajahnya yang basah, mengangguk pelan sambil menangis.

"Ya, Nduk... Tiga bulan. Larasati titip kamu padaku karena dia harus kembali ke kota untuk mencari Jatmiko yang hilang. Dia berpesan..."

"Berpesan apa, Bu?"

"Bahwa saya tidak boleh memberitahumu siapa dirimu sampai kamu dewasa. Sampai kamu cukup kuat untuk tahu. Saya berjanji di atas nyawa Azam."

Dila menghela napas panjang. Kepingan-kepingan puzzle yang selama ini terpisah, kini mulai menyatu, meski gambarnya masih buram dan menyakitkan.

"Dan sekarang waktunya sudah tiba, Bu," bisik Dila.

 

Tanpa menunggu pagi, mereka memutuskan pergi ke Desa Karangrejo malam itu juga.

Fadil bersikeras ikut. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke tempat yang pernah membuatmu jadi target tanpa aku di sampingmu."

Azam ikut bersama Laras dan Jatmiko dalam satu mobil di belakang.

Perjalanan memakan waktu hampir dua jam melewati jalanan kabupaten yang gelap dan berlubang.

Sepanjang perjalanan, Dila duduk di samping Fadil, memandangi pemandangan dari jendela. Sawah yang luas, pepohonan jati yang menjulang, rumah-rumah sederhana dengan lampu petromaks.

Semakin dekat ke desa, semakin kencang jantungnya berdebar. Bukan karena takut, tapi karena rasa yang aneh — seperti dejavu — seperti pernah melewati jalan ini dalam mimpi masa kecilnya.

"Mas," bisik Dila pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Fadil.

"Ya, Sayang?"

"Kalau nanti aku menemukan sesuatu yang buruk di sana... kalau ternyata aku bukan siapa-siapa yang selama ini aku kira..."

Fadil menoleh dan menatap mata istrinya yang berkaca-kaca di bawah cahaya lampu mobil yang temaram.

"Kita hadapi sama-sama," jawab Fadil mantap.

"Kalau ternyata aku bukan seperti yang selama ini aku pikir? Kalau aku ternyata anak dari orang jahat?"

"Kamu tetap Dila," jawab Fadil tanpa ragu. "Dila istriku. Dila ibu dari Arif. Itu tidak akan pernah berubah, mau darah siapa pun yang mengalir di tubuhmu."

"Kalau keluargaku ternyata sangat buruk, Mas? Seburuk yang diceritakan?"

"Bukan berarti kamu buruk, Sayang. Kamu tumbuh menjadi perempuan baik justru karena kamu tidak tumbuh bersama mereka."

Dila tersenyum untuk pertama kalinya malam itu, meski air matanya jatuh.

"Mas selalu punya jawaban yang menenangkan."

Fadil tertawa kecil, mencoba mencairkan ketegangan. "Karena kalau aku ikut panik, kita berdua bisa pingsan di sini dan mobilnya mogok. Sopirnya bisa kabur."

Dila tertawa kecil. Untuk sesaat, ketegangan di dalam mobil itu mencair.

 

Mereka akhirnya tiba di Desa Karangrejo tepat tengah malam.

Rumah lama Larasati berada di ujung desa, di dekat rumpun bambu yang rimbun. Bangunannya sudah sangat tua. Dinding gedeknya penuh lumut hitam, atap gentengnya banyak yang hilang, pintu kayunya lapuk dimakan rayap.

Jatmiko turun dari mobil paling akhir. Ia berdiri lama di depan rumah itu, tidak bergerak. Bahunya bergetar.

"Terakhir kali aku melihat tempat ini..." suaranya serak, "Larasati masih berdiri di pintu itu, menggendong kamu yang baru dua tahun, melambaikan tangan padaku... dua puluh delapan tahun lalu."

Mereka masuk dengan senter dari ponsel. Udara di dalam terasa dingin, lembap, dan berbau tanah.

Tidak ada perabotan. Hanya beberapa kursi bambu yang sudah hancur dan tikar pandan yang membusuk.

Laras memeriksa setiap sudut ruangan dengan senter. "Pak, tidak ada apa-apa di sini. Kosong."

Jatmiko menggeleng keras. "Tidak mungkin. Larasati tidak akan memilih tempat yang mudah ditemukan kalau hanya untuk bersembunyi. Dia pasti menyembunyikan sesuatu di tempat yang hanya dia yang tahu."

Dila berjalan perlahan, kakinya seperti ditarik oleh sesuatu. Entah mengapa, langkahnya membawanya menuju sebuah kamar kecil di bagian belakang, yang pintunya setengah tertutup.

Ia mendorong pintu itu. Debu beterbangan, membuatnya batuk.

Di dalam hanya terdapat sebuah lemari pakaian tua yang miring, catnya mengelupas.

Dila mendekat. Tangannya menyentuh permukaan lemari yang dingin. Jantungnya berdebar tak karuan.

Tiba-tiba —

Klik.

Salah satu papan kayu di sisi lemari itu bergerak masuk ketika ia tekan.

Dila terkejut. "Mas! Yah! Sini!"

Semua orang langsung berlari mendekat.

Di balik lemari yang mereka geser bersama, terdapat sebuah lubang kecil di dinding, seukuran kotak sepatu, ditutup dengan semen tipis yang sengaja dibuat retak.

Jatmiko mengambil linggis kecil dari mobil dan mencongkelnya.

Di dalamnya, terdapat sebuah kotak besi berkarat yang terkunci gembok.

Dila menatapnya dengan napas tertahan. "Ini... ini milik Ibu?"

Jatmiko mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Ini kotak tabungan ibumu dulu. Tempat dia menyimpan uang belanja."

Kotak itu terkunci rapat. Azam memeriksa gemboknya.

"Ada kuncinya?"

Dila tiba-tiba teringat sesuatu. Ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan kalung peninggalan ibunya — kalung bunga yang liontinnya bisa dibuka.

Liontin itu memiliki bagian kecil di belakangnya yang bisa dilepas, berbentuk seperti anak kunci yang aneh.

Dengan tangan gemetar, Dila memperhatikan bentuk lubang kunci gembok kotak besi itu, lalu mencoba memasukkan bagian kecil dari liontinnya.

Klik.

Suara itu terdengar keras di keheningan kamar.

Kotak itu terbuka.

Semua orang terdiam, menahan napas.

Di dalamnya, hanya ada satu benda.

Sebuah buku catatan hitam yang sampulnya sudah mengelupas, diikat dengan karet gelang.

Dila mengambilnya dengan hati-hati, seolah benda itu bisa hancur jika terlalu keras dipegang.

"Buku catatan Larasati," bisik Jatmiko, suaranya bergetar. "Selama ini... selama ini ada di sini."

Dila membuka halaman pertama. Tulisan tangan ibunya yang rapi memenuhi halaman yang sudah menguning.

Hari ini aku mengetahui bahwa anakku bukan sekadar pewaris. Ada sesuatu dalam darah keluarga Wiratama yang membuat mereka begitu takut kehilangan kendali. Mereka takut jika rahasia itu terbongkar.

Dila mengerutkan kening. "Dalam darah? Maksudnya apa?"

Fadil ikut membaca dari samping bahunya. Jatmiko dan Azam mendekat.

Halaman berikutnya membuat mereka semua terdiam, bulu kuduk berdiri.

Jatmiko tidak mengetahui semuanya. Aku sengaja merahasiakannya darinya demi keselamatannya. Jika mereka mengetahui siapa sebenarnya Dila, mereka tidak akan pernah berhenti memburunya. Mereka akan membunuhku, dan membunuh bayi itu juga. Maafkan aku, Mas.

Dila menelan ludah, tenggorokannya kering. "Siapa aku sebenarnya, Yah? Kenapa Ibu harus merahasiakan siapa aku bahkan dari Ayah?"

Jatmiko tampak semakin tegang, wajahnya pucat.

Azam berbisik, "Teruskan, Dila. Baca terus."

Dila membalik halaman dengan tangan gemetar.

Namun sebelum sempat membaca kalimat selanjutnya, suara langkah kaki terdengar jelas dari luar rumah.

Krek.

Suara ranting patah terinjak.

Semua orang membeku. Laras langsung mematikan senter ponselnya. Ruangan menjadi gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan dari celah genting.

Kreeek... pintu depan rumah yang tadi mereka tutup, terbuka perlahan.

Jatmiko memberi isyarat dengan tangannya agar semua diam, jangan bernapas terlalu keras.

Langkah kaki itu semakin mendekat. Satu. Dua. Tiga. Berat, pelan, dan diseret.

Kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar kecil tempat mereka bersembunyi.

Pintu kamar yang sudah lapuk itu perlahan terbuka, berderit panjang.

Seorang pria tua berdiri di sana, siluetnya terlihat jelas diterpa cahaya bulan dari belakang. Wajahnya keriput, rambutnya putih tipis, tapi sorot matanya masih tajam.

Dila mengenalinya dari foto yang ada di amplop tadi.

Suryanto.

Jatmiko langsung berdiri, tubuhnya melindungi Dila.

"Suryanto!" Suaranya menggelegar di ruangan sempit itu.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang dingin.

"Sudah lama sekali, Jatmiko. Dua puluh delapan tahun, ya? Kamu masih sama. Masih gegabah."

Azam maju selangkah, matanya menyala marah. "Di mana Arif? Anak itu di mana? Di mana kamu sembunyikan keponakanku?"

Suryanto tidak menjawab pertanyaan Azam. Tatapannya justru terkunci lurus kepada buku hitam di tangan Dila. Matanya berbinar melihatnya.

"Akhirnya... kalian menemukannya juga," katanya pelan. "Buku itu."

Dila memeluk buku itu erat ke dadanya. "Ini milik ibuku!"

"Ya. Dan isinya adalah kebenaran yang bisa menghancurkan keluarga Wiratama sampai ke akar-akarnya. Kebenaran yang membuat kakekmu sendiri harus turun tangan."

Dila menatapnya dengan berani meski tubuhnya gemetar. "Termasuk kebenaran tentang kelahiranku? Apa yang Ibu sembunyikan dariku?"

Suryanto terdiam sejenak, lalu menatap Jatmiko dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.

"Larasati menyembunyikan satu hal dari semua orang di dunia ini," ucapnya pelan.

"Apa?" bisik Dila.

"Bahkan dari suaminya sendiri yang sangat ia cintai."

Jatmiko mengepalkan tangannya hingga kukunya menancap di telapak. "Katakan, Suryanto! Jangan bermain-main!"

Suryanto kembali menatap Dila, senyumnya semakin lebar.

"Dila bukan anak kandung Jatmiko."

Ruangan itu langsung sunyi. Sunyi yang mematikan. Seolah-olah semua oksigen tersedot keluar.

Fadil menatap Jatmiko dengan kaget. Azam membeku, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Dila merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Lututnya lemas. Buku di tangannya hampir terjatuh.

"Apa... apa maksudmu?" bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.

Suryanto tersenyum tipis, menikmati reaksi itu.

"Dan itulah alasan sebenarnya kenapa Larasati harus mati, Dila. Bukan karena buku itu. Tapi karena siapa ayah kandungmu yang sebenarnya."

Jatmiko meraung, tidak tahan lagi. "BOHONG! KAU BOHONG, SURYANTO! JANGAN FITNAH ISTRIKU!"

Suryanto mundur satu langkah, tetap tenang.

"Kamu akan menemukan jawabannya di halaman terakhir buku itu, Jatmiko. Larasati menulis semuanya di sana sebelum dia mati."

Dila dengan tangan gemetar buru-buru membuka halaman terakhir buku hitam itu.

Kosong. Halaman terakhir telah disobek dengan kasar. Hanya menyisakan pinggiran kertas yang bergerigi.

Suryanto tertawa pelan.

"Sayangnya... bagian terpentingnya sudah lama ada padaku. Larasati merobeknya dan memberikannya pada Bu Ratih untuk disimpan. Dan Bu Ratih memberikannya padaku."

"Berhenti!" Azam langsung mengejar.

Namun Suryanto sudah berbalik dan berlari keluar dengan gesit yang tidak sesuai dengan usianya, menghilang ke dalam gelapnya rumpun bambu.

Azam dan Jatmiko mengejarnya keluar, senter mereka bergoyang-goyang di kegelapan.

Fadil tetap berada di samping Dila yang terduduk lemas di lantai berdebu, memeluk buku yang halamannya kosong itu.

"Mas..." bisik Dila, air matanya mengalir deras.

Fadil memegang bahunya dengan erat. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Jangan dengarkan dia."

"Kalau... kalau Suryanto benar, Mas... kalau aku bukan anak Ayah Jatmiko... lalu aku ini anak siapa?"

Fadil langsung menggeleng keras, memeluk istrinya. "Jangan percaya sebelum ada bukti, Dila. Jangan. Suryanto itu pembohong. Dia ingin kamu hancur."

Dila menatap halaman buku yang tersisa di tangannya. Di bagian paling bawah, di pinggiran sobekan yang kasar, masih ada satu kalimat yang belum terpotong sempurna, tertulis dengan tinta yang hampir hilang.

Ia membacanya dengan suara bergetar yang hampir tidak terdengar.

Dila adalah anak dari seorang lelaki yang seharusnya tidak pernah diketahui keberadaannya oleh siapa pun di keluarga Wiratama, bahkan oleh Jatmiko sendiri, karena dia adalah...

Kalimat itu terputus.

Dila membeku.

Tepat saat itu, suara Jatmiko terdengar berteriak dari luar, dari kegelapan sawah.

"DILA! JANGAN BACA!"

Ia berlari masuk kembali dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi karena panik.

Dila berdiri dengan buku di tangan. "Yah? Suryanto kabur?"

Jatmiko menatap buku di tangan putrinya, lalu menatap mata putrinya yang penuh pertanyaan dan luka.

"Ada sesuatu yang harus Ayah katakan padamu, Nak. Sesuatu yang seharusnya Ayah katakan sejak dua puluh delapan tahun lalu."

"Apa, Yah?"

Jatmiko menatap mata putrinya dalam-dalam, air matanya jatuh.

"Kalau perkataan Suryanto itu benar... kalau tulisan ibumu itu benar... maka selama ini Ayah juga telah dibohongi oleh ibumu. Dan Ayah... Ayah membesarkanmu bukan sebagai ayah kandungmu."

Dila menahan napas, jantungnya serasa berhenti.

"Jadi... jadi siapa ayah kandungku yang sebenarnya, Yah? Siapa?"

Jatmiko tidak sempat menjawab.

Karena tepat saat itu, ponsel Azam yang tertinggal di atas kotak besi itu berdering nyaring.

Azam yang baru masuk kembali, mengangkatnya dengan napas memburu.

"Halo? Ya, ini saya."

Ia mendengarkan beberapa detik. Wajahnya yang sudah tegang seketika berubah menjadi pucat, lebih pucat dari sebelumnya.

Ia menatap Dila, lalu menatap Jatmiko dengan tatapan yang tidak percaya dan penuh iba.

"Dila..." suaranya bergetar.

"Ada apa, Zam?" tanya Dila dengan jantung berdebar keras.

Azam menelan ludah dengan susah payah.

"Kami baru mendapatkan hasil tes DNA. Dari sampel rambut Larasati yang ditemukan di sisir tuanya di rumah ini, dan sampel darahmu yang ada di rumah sakit kemarin."

Dunia Dila seakan berhenti berputar.

"Dan hasilnya?" bisiknya.

Azam menatap Jatmiko dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jatmiko... bukan ayah biologismu, Dila. Hasilnya nol persen. Tidak ada kecocokan DNA sama sekali."

Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, setelah mengetahui ibunya dibunuh, dunia Dila runtuh berkeping-keping.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!