"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 - apa yang dia suka aku suka
⚘️⚘️⚘️⚘️.......
Saat berjalan menuju ruang perawatan berikutnya, mataku tertuju pada seorang anak kecil yang duduk sendirian di bangku koridor, menunggu ibunya. Langkahku terhenti, lalu aku mendekatinya pelan.
"Kamu sendirian di sini, Nak? Di mana keluargamu?" tanyaku lembut.
Anak itu menatapku polos, matanya jernih namun terlihat kesepian. "Aku hanya berdua sama Mama. Tidak ada siapa-siapa lagi, Tante."
Hatiku terasa tertusuk. "Maaf ya, Tante tidak tahu..."
Aku berjalan masuk ke ruang rawat ibunya. "Tante periksa dulu ya, Bu."
Setelah mengecek kondisi dan melihat catatan medis, aku menoleh pada anak itu. "Kondisi Ibu sudah mulai membaik, tinggal masa pemulihan saja. Kamu jangan khawatir ya."
Aku sengaja berkata begitu. Padahal kenyataannya, kondisi ibunya jauh lebih berat dari itu—kekurangan gizi yang parah, ditambah penyakit yang sudah lama diabaikan. Anak itu masih terlalu muda untuk mendengar kebenaran yang menyakitkan ini. Ia terlihat sangat kurus, wajahnya pucat, seolah tak pernah mendapat makanan yang cukup. Hati ini terasa perih melihat mereka yang hanya berdua, saling mengandalkan satu sama lain di tengah kesulitan.
"Ibu... Ibu akan baik-baik saja kan, Tante Dokter?" tanyanya penuh harap.
"Iya, Bu. Ibu pasti cepat sembuh. Kamu jaga Ibu dengan baik ya."
Aku menelan ludah, menahan rasa sedih yang mulai menyeruak. Aku berbohong kali ini—bukan karena tak jujur, tapi karena tak ingin mematahkan harapan satu-satunya yang dimiliki anak kecil ini.
Lalu aku bertanya pelan, "Kamu sudah makan, Nak?"
Anak itu menunduk pelan. "Belum, Tante."
Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan bingkisan roti yang tadi kubawa untuk diriku sendiri. "Ini ambil saja ya. Anggap saja hadiah dari Tante karena kamu sudah rajin menjaga Ibu."
"Tidak usah, Tante... Itu kan milik Tante sendiri," tolaknya sopan.
"Sudah, ambil saja. Tante sudah makan kok."
Anak itu menerimanya dengan mata berbinar. "Terima kasih banyak, Tante! Semoga Tante selalu diberi kebahagiaan ya."
"Sama-sama, anak manis." Aku mengelus kepalanya lembut, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. "Tante pamit dulu ya."
"Dadah, Tante!"
Di sudut lorong yang tak jauh dari sana, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya—Daffa.
Daffa berdiri diam, menatap sosok Indah yang baru saja keluar dari ruang perawatan itu. Ia melihat bagaimana Indah bersikap begitu tulus dan lembut pada anak kecil itu, tanpa memandang siapa mereka atau dari mana asalnya. Hatinya menghangat. Indah memang selalu begitu, sejak dulu—selalu penuh perhatian, tulus, dan penuh empati. Tak pernah membeda-bedakan orang. Justru itulah yang membuatku begitu menyukainya... dan terus menunggunya sampai saat ini.
Indah yang keluar dari pintu ruangan tertegun melihat sosok yang berdiri di sana.
"Eh? Lu kok ada di sini, Daffa?" tanyanya kaget namun tersenyum.
"Gue tadi habis dari ruang operasi," jawab Daffa santai sambil melangkah mendekat. "Kebetulan, mau ngajak lu makan siang bareng."
Indah matanya langsung berbinar. "Wah, kebetulan banget! Gue lagi laper nih, Daf... Tapi bingung mau makan apa... bosen banget makan di kantin rumah sakit terus."
"Kalau gitu yuk ikut gue, cari makan di luar sebentar. Mau nggak?" ajaknya ramah.
"Oke deh! Cari yang dekat sini aja ya, biar gampang baliknya."
"Siap, Indah."
Keduanya pun berjalan berdampingan meninggalkan rumah sakit, menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana untuk menikmati waktu istirahat siang bersama.
Namun, di balik pintu kantor dokter, sepasang mata lain melihat kepergian mereka berdua.
Dokter Mawar menatap tajam ke arah Indah dan Daffa yang berjalan keluar bersama. Wajahnya berkerut kesal, bibirnya mencibir sinis.
"Ih, nempel mulu dah tuh cewek... Apa-apaan sih?" gerutunya pelan, penuh rasa iri.
Dadanya terasa panas melihat betapa dekatnya Daffa dengan Indah. Rasa cemburu mulai menggerogoti hatinya.
"Apa sih kelebihan cewek itu? Cantik juga nggak lebih cantik dari aku. Aku ini jauh lebih pintar, lebih berprestasi darinya! Kenapa sih Daffa harus selalu dekat-dekat sama dia terus? Bikin kesal saja!" batinnya penuh kekesalan yang tak bisa disembunyikan.
Ia mengepalkan tangan erat, menatap bayangan mereka yang perlahan menghilang di ujung lorong. Ada rasa tidak terima yang begitu kuat—seolah Indah telah mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Sesampainya di restoran itu, Indah dan Daffa duduk berhadapan di meja dekat jendela. Keduanya membuka buku menu yang tersedia, menatap deretan hidangan yang menggugah selera.
Daffa menutup menunya, lalu menatap pelayan yang berdiri di samping meja. "Buat saya jus jeruk satu, ayam rendang dengan telur dadar kering satu ya, Mbak."
Lalu ia menoleh ke Indah. "Lu pesan apa, Dah?"
Indah tersenyum sambil menunjuk menu pilihannya. "Gue pesan tunjang dan ayam pop deh. Sama es teh manis ya."
Daffa mengangguk, lalu menyampaikan pesanan itu pada pelayan. "Itu ditambah pesanan ini ya, Mbak."
"Baik, Kak. Segera kami siapkan," jawab pelayan ramah.
"Katanya restoran ini menyajikan masakan khas Padang yang asli, lho," ucap Daffa sambil menatap sekeliling ruangan yang sederhana namun hangat. "Menu di sini terkenal enak semua. Makanya gue ajak lu ke sini."
"Tumben lu suka makanan kayak gini," goda Daffa sambil tersenyum jahil. "Biasanya protektif banget soal makanan, banyak aturan terus."
Indah memutar bola matanya malah tapi tersenyum. "Yakan? Sekali-kali makan kayak gini boleh lah, Daf."
Daffa tertawa pelan. "Dulu gue makan begini, lu bawel banget, ceramah in gue terus soal makanan nggak sehat. Sekarang malah ikut-ikutan gue makan begini ya?"
"Ya gue mau coba aja lah, Daf," jawab Indah santai. "Dasar Daffa! Makanya jangan nilai masakan dulu ya. Asal nggak berlebihan aja lah, itu kuncinya."
Sambil menunggu pesanan datang, Indah diam-dam memikirkan sesuatu. Ia menatap Daffa yang duduk di hadapannya, lalu bergumam dalam hati.
"Kok akhir-akhir ini Daffa terlihat aneh ya? Sering banget dia ikut suka apa yang gue suka... Apa cuma kebetulan saja?"
Pikirannya melayang pada kebiasaan Daffa yang dulu. "Padahal dulu dia orangnya sangat menjaga kesehatan, gak pernah suka makanan berlemak kayak gini. Kenapa sekarang malah ikut-ikutan makan masakan bersantan dan berlemak sama seperti gue?"
Ada rasa heran yang mulai tumbuh di hatinya—seolah ada sesuatu yang berubah dari diri Daffa, namun ia belum berani memastikannya.
Daffa menatap Indah yang begitu lahap menikmati makanannya, wajahnya tampak begitu bahagia. Melihat itu, hati Daffa terasa hangat dan penuh rasa syukur. Ia pun mulai mencoba suapan pertamanya, dan ternyata...
"Ternyata makanan kayak gini enak juga ya," batinnya tersenyum. "Dulu aku selalu ketat menjaga kesehatan, takut makan yang berlemak dan bersantan. Tapi sekarang aku sadar—selama tidak berlebihan, tidak ada yang salah dengan menikmati hal sederhana seperti ini. Apalagi kalau bisa makan bersama Indah..."
Matanya tak lepas dari wajah wanita di hadapannya itu, penuh kasih sayang yang tak terucap. "Apa pun yang Indah sukanya, pasti akan jadi hal yang aku sukanya juga. Selama dia bahagia, aku pun bahagia."