Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

semangat baru

jum'at sore tidak ada yang berbeda. Karsa memarkir sepeda ontelnya di depan warung, lalu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Di balik etalase kaca, seorang gadis berwajah manis dengan rambut yang dikuncir kuda sedang sibuk mengelap meja. Dialah Ningsih, anak pemilik warung yang selalu ramah kepada setiap pembeli.

"Eh, Mas Karsa..." sapa Ningsih, menghentikan aktivitasnya begitu mendengar langkah kaki Karsa. Senyumnya mengembang, memberikan sedikit kesejukan di tengah hawa sore yang gerah.

Karsa hanya tersenyum tipis, lalu duduk di bangku panjang. "Biasa.., Ningsih. Nasi satu, dibungkus saja ya," jawab Karsa dengan suara yang agak serak karena lelah.

Ningsih dengan cekatan mulai mengambil kertas minyak dan daun pisang. Sembari menyendokkan nasi hangat, dia melirik ke arah Karsa dengan tatapan ragu, seolah ingin menyampaikan sesuatu namun tertahan. Setelah membungkus nasi dengan rapi, Ningsih tidak langsung menyerahkannya. Dia menopang dagunya di atas etalase.

"Malam minggu katanya ada acara di lapangan desa, Mas..." pancing Ningsih, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Karsa yang sedang memijat pundaknya sendiri menoleh. "Acara apa'an?" tanyanya polos, benar-benar tidak tahu karena hari ini dia hanya fokus pada padi dan sawah.

"Yah... katanya sih ada dangdutan, Mas. Panggungnya besar, yang datang artis dari kota kabupaten," jelas Ningsih dengan nada sedikit bersemangat.

Karsa manggut-manggut. Dalam hatinya, dia tahu acara seperti itu pasti akan menjadi magnet bagi seluruh warga desa yang haus akan hiburan. "Pasti rame," sahut Karsa singkat.

Ningsih menggeser posisi berdirinya, menjadi sedikit lebih dekat ke arah Karsa. "Mas Karsa mau ke sana?" tanya Ningsih, suaranya mendadak melunak.Karsa terkekeh pelan, menggelengkan kepala.

"Ah, rasanya badan badan mau remuk semua, Ningsih. Paling malam minggu aku cuma tidur di rumah."

Mendengar jawaban itu, gurat kekecewaan langsung tampak di wajah Ningsih. Dia memainkan ujung celemeknya. "Yah... kalau Mas Karsa bawa aku ke sana, aku mau ikut..." gumam Ningsih pelan, namun masih cukup jelas terdengar di telinga Karsa.

Karsa tersentak. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Hah... kok aku?" tanya Karsa, mendadak gugup.

Ningsih cemberut, pura-pura kesal melihat reaksi Karsa yang lambat tanggap. "Apa Mas enggak mau jalan sama aku? Enggak mau nemenin?" tanyanya dengan nada menuntut yang manja.

"Bukan... bukan itu maksudku," cetus Karsa dengan cepat, tangannya melambai ke udara, panik kalau-kalau Ningsih salah paham. "Aku kan... aku kan cuma pakai sepeda ontel, Ningsih. Sepeda tua yang bunyinya kurang enak didengar kalau dipakai. Apa kamu mau naik sepeda begitu ke lapangan? Nanti dilihat orang banyak, lho." Karsa menunduk, mendadak merasa minder dengan kondisinya yang serba pas-pasan.

Ningsih malah tersenyum lebar mendengar alasan Karsa. Rasa leganya kembali memuncak. "Gak apa-apa, Mas... jaraknya kan juga dekat dari sini. Lagian, jalan kaki juga sampai kok kalau kita mau. Aku gak masalah naik sepeda ontel," kata Ningsih dengan tulus. Matanya menatap Karsa lekat-lekat, meyakinkan pria berbaju lusuh itu bahwa dia benar-benar tidak keberatan.

Karsa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perasaannya campur aduk antara senang, gemetar, dan juga sedikit cemas. "Hm... apa cuma kita berdua saja nanti?" tanya Karsa, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa canggung bagi mereka berdua.

"Nanti aku pergi sama Dewi juga kok, Mas. Jadi ada temannya," jawab Ningsih, menyebutkan nama sahabat karibnya yang rumahnya tak jauh dari warung. "Mas Karsa gak apa-apa kan kalau Dewi ikut?"

Mendengar nama Dewi disebut, sebuah ide langsung terlintas di kepala Karsa. Jika Dewi ikut, maka situasi ini akan menjadi jauh lebih mudah diatasi. Karsa hanya tersenyum simpul, rasa percaya dirinya kembali tumbuh.

"Ok.. kalau begitu, nanti aku ajak Budi sekalian," kata Karsa mantap. Budi adalah teman karibnya yang kebetulan sudah lama menaruh hati pada Dewi, namun selalu malu untuk mendekat. Ini adalah kesempatan emas bagi Budi, pikir Karsa.

Ningsih bertepuk tangan kecil dengan gembira. "Wah, bagus kalau begitu! Jadi kita bisa pergi berempat. Baik Mas, jam 8 malam kita berangkat ya. Aku tunggu Mas Karsa di sini, di warung."

"Hehe, iya... nanti aku kesini sama Budi tepat jam 8," pungkas Karsa sembari menyerahkan selembar uang untuk membayar nasi bungkusnya, lalu berpamitan dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat dia datang tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!