Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Ryan VS Tetua Clan.
WUUUSSHH!! WUUUSSHH!! WUUUSSHH!!
Pedang Tetua Qiwel menari di udara, setiap ayunannya membawa aura biru yang beriak seperti api, cepat, berat, dan mematikan.
Ryan, dengan tatapan dingin tanpa ragu sedikit pun, menghindari semua tebasan itu.
WUUSSH! WUUSSH! WUUSSH!
Tubuhnya bergerak ringan, bagaikan bayangan.
TRAAANG! TRANG! TRANG!
Kilatan logam beradu memenuhi udara, menyalakan percikan api di setiap benturan.
‘Aku harus mempercepat tempo serangan nya!’ pikir Qiwel sambil menggertakkan gigi.
WUUUSSH!
Tubuhnya melesat, lebih cepat dari sebelumnya.
WUUUSSHHH!!
Ayunan pedangnya kini hampir tak terlihat oleh mata biasa.
WUUSSH! TRANG! TRANG!
Ryan memiringkan tubuhnya dengan tenang, menghindari serangan maut itu, lalu menahan sisanya dengan Katana yang ia genggam mantap.
Meski ditekan, wajahnya tetap datar.
‘Pak tua ini memang cukup kuat... Serangan-serangannya sulit ditebak. Jika terus mengikuti tempo ini, aku bisa dipaksa bertahan. Aku harus membuatnya lengah.’ Ryan menyeringai tipis.
WUUSSSH!
Dengan lompatan ringan, Ryan bergerak ke atas genteng.
Batu-batu genteng bergetar, berjatuhan, tapi tubuhnya tetap seimbang sempurna.
WUUSSHHH!!
Qiwel mengejarnya tanpa ragu, kecepatannya bahkan lebih buas.
Tebasannya datang bertubi-tubi, silang, vertikal, horizontal, seperti badai pedang.
WUUUSSH! WUUUSSH! WUUUSSH!
Udara berdesing.
Setiap tebasan membelah udara, meninggalkan garis cahaya biru di kegelapan malam.
Namun Ryan, dengan kelincahan nya menghindari semua serangan itu.
Boom! Boom!
Sesekali, pedangnya menangkis.
TRAAANG! TRANG! TRANG!
Benturan-benturan itu menyalakan percikan api, membuat genteng-genteng hancur berhamburan oleh efek serangan mereka.
‘Sialan… Bocah ini benar-benar kuat!!’ pikir Qiwel, napasnya mulai berat. ‘Meski Masih muda, tapi kekuatannya sudah menyaingi tetua sepertiku?! Siapa sebenarnya dia?!’
Dengan marah, Qiwel mengalirkan auranya lebih besar.
Boom!
Pedangnya semakin bersinar terang, menebar tekanan yang menyesakkan dada siapa pun yang melihat.
Lalu dia kembali menyerang.
TRANG! TRANG! TRANG!
Ryan menahan semua serangan itu.
Meski tubuhnya terdorong mundur, tatapannya tidak goyah.
‘Cih… Pak tua ini memang kuat. Tapi… aku sudah melihatnya. Aku sudah tahu pola serangannya sekarang.’
Langkah Ryan berubah. Tangan yang menggenggam Katana kini menegang, auranya tenang namun menekan.
WUUUSSHHH!!
Ia maju menyerang balik Tetua Qiwel.
TRANG! TRANG! TRANG!
Kali ini, giliran Qiwel yang mundur.
Tebasan Ryan lebih tajam, lebih cepat.
‘T-tidak mungkin!!’ Qiwel terbelalak. ‘Bocah ini… menekanku?! Bagaimana bisa kekuatannya tiba-tiba meningkat seperti ini?!’
TRANG! TRANG! DHUARR!!
Setiap benturan mereka menciptakan gelombang kejut.
Rumah, dinding, hingga menara batu di sekitar area runtuh, hancur menjadi puing. Tanah bergetar seakan gempa mengguncang.
WUUUSSH!
Keduanya melesat dari satu titik ke titik lain, kecepatannya membuat mata manusia biasa tak mampu mengikutinya.
Hanya kilatan cahaya biru dari pedang Qiwel dan bayangan hitam Ryan yang terlihat, saling memburu.
DHUARRR!! BOOMM!! CRASSHHH!!
Benteng, atap, dan jalanan hancur berkeping-keping.
Area berubah jadi ladang kehancuran.
Namun di tengah semua itu, tidak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah lebih dulu.
'aku harus meningkatkan tempo serangan!'
WUUUSSHH!!
Ryan melanjutkan serangan beruntunnya, setiap tebasan Katana bagaikan kilatan petir yang melesat tanpa henti.
TRANG! TRANG! TRANG!
Dhuar! Dhuar! Dhuar!
Tetua Qiwel berusaha menahan, tubuhnya berguncang setiap kali pedang mereka beradu.
Namun, dalam satu celah kecil....
BUAAAKK!!
Tendangan keras Ryan menghantam perut Qiwel.
WUUSSH!
Tubuh tua itu terlempar jauh seperti meteor yang kehilangan kendali.
DHUAAARRR!!
Benteng batu yang kokoh luluh lantak, puing-puing beterbangan, debu menutupi pandangan.
Tapi Ryan tidak memberi waktu lawannya untuk bernapas.
WUUSSH!
Tubuhnya melesat, menembus kepulan asap.
TRAAAANGG!!
Pedangnya langsung menyambar, namun ditahan oleh Qiwel yang masih bertahan dengan pedangnya, meski mulutnya berlumuran darah.
“Anak bajingan! Cuh!” Qiwel meludah darah, matanya menyala dengan amarah. “Kau harus mati sekarang juga! Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup!”
TRANG! TRANG! TRANG! WUUUUSHHH!!
Pertarungan berlanjut.
Keduanya bergerak begitu cepat, sulit ditangkap mata biasa.
DHUAR! DHUAR! DHUAR!
Tanah retak, rumah roboh, dan suara logam beradu menggema seperti guntur di langit malam.
“TEKNIK PEDANG—TARING NAGA!!” teriak Tetua Qiwel.
BOOM!
Aura biru meledak keluar dari pedangnya.
Cahaya itu membentuk siluet naga raksasa, lengkap dengan sisik berkilauan dan mata menyala.
Suaranya bergemuruh, seakan naga itu hidup di dunia nyata.
Ryan sempat mengangkat alis. ‘Sial… teknik apa lagi ini?! Di dunia ku sebelum nya, tidak ada yang seperti ini!'
'Aura pedang berubah menjadi seekor naga?! Jangan bercanda dengan ku!’ pikirnya dengan tatapan dingin.
Meski kaget, wajahnya tetap tenang.
WUUUUSSHHH!!
Qiwel melesat bersama naga aura itu.
DHUAR!
Tekanannya menghancurkan lantai yang diinjaknya, dan tebasannya datang dengan kekuatan bagaikan gunung yang runtuh.
Namun, Ryan hanya menyeringai tipis.
Katana di tangannya bergetar, seolah siap menelan apa pun di depannya.
“Teknik pedang satu pedang!—Tebasan Sempurna.” Suaranya tenang, tapi tajam.
Naga besar milik tetua Qiwel berbentuk dengan katana milik Ryan.
SRAAAAAAAAKK!!
Dalam sekejap, pedangnya melesat begitu cepat hingga udara terbelah.
Serangan Ryan menebas naga aura itu.
CRAAAK!
Dalam satu gerakan, tubuh naga biru Qiwel koyak, terpecah menjadi ribuan serpihan cahaya yang lenyap dalam hitungan detik.
“Ti-tidak mungkin…! Itu tidak mungkin!!” Mata Qiwel membelalak, wajahnya penuh ketakutan. “Teknik Taring Naga… dipotong begitu saja?!”
Ryan tidak menjawab. Tatapannya dingin, penuh kepastian.
“Mati lah, tua bangka.”
SRAAAAAAAAAAAAKK!!
Dengan satu tebasan menyilang, pedang Ryan menembus pertahanan Qiwel.
TRAK!
Pedang tetua itu patah, lalu pedang Ryan mengenai tubuh nya dan seketika tubuhnya terbelah dari bahu hingga pinggang.
BYUUUURRRR!!
Darah menyembur deras.
Organ dalam berhamburan ke tanah.
Jeritan Qiwel terhenti sebelum tubuhnya jatuh, terbelah dua.
Sejenak hening. Lalu...
“Ti-tidak mungkin… Tetua Qiwel tewas?!”
“Bajingan itu benar-benar membunuh tetua kita!!”
“Lari!! Kita tidak akan bisa melawan monster seperti dia!!”
"Kita harus kabur dan melaporkan apa yang kita lihat!"
Suasana berubah kacau.
Para anggota Clan Taring Naga menjerit, wajah mereka pucat pasi.
Tanpa aba-aba, mereka semua berbalik, berusaha kabur dari area.
Ryan menurunkan pedangnya perlahan, darah masih menetes dari ujung katana.
“Apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian pergi?” gumamnya datar. “Kalian akan menyusul tua bangka itu.”
WUUUUSSSHHH!!
Tubuh Ryan menghilang, lalu muncul kembali di tengah kerumunan.
SRAAAAK!! SRAAAAK!! SRAAAAK!!
Setiap ayunan pedangnya merobek tubuh manusia.
Lengan terbang, kepala terpisah, darah menyembur liar ke udara.
Teriakan histeris memenuhi malam, bercampur dengan bau amis yang menusuk hidung.
“Lari!!!”
“Jangan mati di sini! Kabur!!!”
Beberapa berhasil keluar dari gerbang benteng, namun… yang menunggu mereka adalah tiga bayangan lain.
“Heh…” Tarya berdiri dengan senyum sadis, kedua tangannya sudah siap memegang senjata. “Akhirnya ada orang yang bisa aku bunuh juga.”
Sadel melangkah maju, tatapannya dingin menusuk. “Maaf… karena kalian tidak ada yang akan lolos dari sini.”
Calvin menurunkan kapaknya, wajahnya tenang tapi mematikan. “Ini perintah Pemimpin Ryan. Dan aku akan pastikan… semuanya berakhir malam ini.”
Dari tiga arah berbeda, Tarya, Sadel, dan Calvin masuk ke kerumunan.
SRAAAAK!! SRAAAAK!! SRAAAAK!!
Jeritan semakin menggema.
Tubuh-tubuh terbelah, darah menyembur memenuhi tanah. Seperti ladang penyembelihan.
Tak ada belas kasihan. Tak ada pengampunan. Semua anggota cabang Clan Taring Naga dibantai habis tanpa tersisa.
Beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang tersisa.
Angin malam berhembus, membawa bau busuk darah yang menyesakkan.
Ryan berdiri di tengah lapangan, tubuhnya penuh darah, tatapannya menatap ke arah bulan.
Di sekelilingnya, ribuan mayat berserakan.
“Sepertinya ini sudah cukup,” gumamnya pelan. “Aku sudah membunuh mereka semua. Dan aku yakin… yang mencoba kabur sudah dihabisi oleh anak buahku.”
Ryan menggenggam katana yang masih meneteskan darah, lalu menghela napas.
“Sial… Pada akhirnya, aku kembali melakukan hal yang sama… membunuh manusia, sama seperti kehidupanku yang lalu.”
Malam itu, langit menjadi saksi bisu, Cabang Clan Taring Naga itu lenyap dari dunia.