( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 12 }:{secret journey }
Kembali ke masa lalu, ketika Zeo dan Iles telah memenjarakan Sora.
"Maafkan aku, Sora..."
Hati Iles dipenuhi rasa bersalah. Sejak saat itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sering terdiam sendiri, seolah pikirannya terus kembali pada satu kesalahan yang telah ia lakukan.
"Aku tahu ini salah... tapi aku lakukan apa yang terjadi kepadaku."
Kata-kata itu terus terulang di benaknya.
Iles tahu, keputusan yang telah ia ambil mungkin akan memicu sesuatu yang jauh lebih buruk.
Minggu demi minggu berlalu. Iles semakin sering terlihat murung. Tatapannya kosong, dan langkahnya terasa berat setiap kali melewati alam yang kini begitu sunyi.
"Il es, aku melihatmu seperti sedang memikul permasalahan yang begitu besar. Bisa kamu katakan ada apa denganmu?"
Iles segera menggeleng.
"Tidak, Ketua Zeo. Aku hanya merasa kesepian. Alam ini terasa kosong tanpa ada tawa dari bangsa-bangsa yang ada di semesta ini."
Zeo menatap Iles beberapa saat.
"Baik, bila itu yang kamu pikirkan. Kita akan menyembuhkan alam ini seperti semula."
Waktu pun terus berjalan.
Detik demi detik berlalu, tetapi tidak ada hasil yang mampu mengubah keadaan. Alam yang telah kehilangan kehidupan tetap sama.
Akhirnya, Zeo pergi ke tempat Artefak Kuno.
Di sisi lain, tiba-tiba roh ibu Iles datang menghampiri.
Sebuah cahaya yang memancarkan kehangatan perlahan terbentuk. Awalnya hanya berupa cahaya kecil, kemudian semakin jelas hingga memenuhi ruang di hadapan Iles.
Iles menatap cahaya itu dengan mata melebar.
"Apakah ini... dari kehancuran ini dan dari sesuatu yang terjadi, masih memiliki hawa seperti yang aku kenal?"
Di hadapan Iles, cahaya itu perlahan membentuk sosok seorang wanita.
"Ibu...?"
Suara Iles bergetar.
"Apa benar ini Ibu? Aku sangat merindukan Ibu. Aku butuh Ibu saat ini."
Elara tersenyum lembut.
"Peluklah Ibu, Iles. Ibu pun sangat merindukanmu."
Iles segera mendekat dan memeluk Elara.
"Kamu sekarang telah menjadi Dewi Api. Tanggung jawabmu pun ikut memuncak."
Iles menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu... apa yang membuatmu menjadi seperti itu?"
"Apa maksud Ibu?"
"Ibu tahu kamu menyimpan sesuatu yang membuat seseorang menderita. Sesuatu yang membuatmu seperti menanggung dosa besar alam semesta."
Iles terdiam.
Kemudian ia perlahan jatuh di hadapan Elara. Kedua tangannya menggenggam kaki ibunya, sementara air mata mulai mengalir.
"Iya, Ibu... Aku telah membuat Ketua Sora, ketua bangsa kita, menderita. Aku memenjarakannya di penjara yang akan sangat menyiksanya."
Elara menatap Iles dengan penuh kesedihan.
"Maka karena itu, kamu harus menghadapinya."
Iles mengangkat wajahnya.
"Apa pun yang kamu lakukan, akan datang tagihan atas dosa yang kamu lakukan sendiri. Meski kamu saat ini seorang Dewi Api, justru karena itu kamu harus membayarnya sebelum tagihan itu datang dan meminta bayarannya."
"Aku harus bagaimana, Ibu? Aku tidak mengerti."
"Kamu harus bisa membayarnya perlahan dengan memperbaiki kesalahan yang kamu buat."
Iles terdiam mendengarkan kata-kata ibunya.
Sesaat setelah Elara berbicara, cahaya yang membentuk tubuhnya perlahan berubah. Sosoknya menghilang dan meninggalkan sekelopak daun berbentuk sayap kupu-kupu.
Itu menjadi tanda bahwa Elara, sang ibu, akan selalu berada di sisi Iles meski alam mereka sudah berbeda jauh.
Iles mengambil sekelopak itu dengan kedua tangannya.
"Aku akan mencoba, Ibu. Aku akan mencoba. Aku sangat menyayangimu."
Mata Iles berkaca-kaca.
Namun saat ia mengangkat wajahnya kembali, Elara sudah tidak ada.
Iles hanya berdiri dalam keheningan sambil menggenggam peninggalan ibunya erat-erat.
Saat Iles masih meratapi kesalahannya, tiba-tiba orang misterius itu muncul.
"Berdirilah. Ingat kata-kataku ini."
Iles mengangkat wajahnya.
"Seorang dewi, manusia, maupun alam semesta pasti akan melakukan kesalahan bila kau hanya merasa bersalah tanpa mencoba mengambil pelajaran dari apa yang akan datang dari kesalahanmu."
Suara orang misterius itu terdengar tenang.
"Agar kau tak takut menjalani hidup, kau harus bisa memperbaikinya sedikit demi sedikit."
Iles mendengarkan tanpa berkata apa-apa.
"Sebelum waktu menagih bayaran atas apa yang telah kau lakukan."
Sesaat Dewi Api, Iles, menoleh.
Namun hanya ruang kosong yang menyambut pandangannya.
Tidak ada siapa pun.
Hanya kesunyian yang tersisa.
Lima puluh tahun pun berlalu.
Zeo masih mencoba memperbaiki alam semesta.
Ia berdiri di tengah tanah yang telah lama kehilangan kehidupannya. Tangannya mengepal, lalu perlahan terlepas ketika tidak ada perubahan apa pun yang terjadi.
"Apa sebenarnya yang terjadi, alam? Mengapa aku tak bisa mengembalikan alam ini menjadi seperti semula?"
Zeo kemudian menoleh kepada Iles.
"Iles, bisakah kamu menceritakan semuanya sebelum ini terjadi?"
Iles menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, Ketua Zeo. Kala itu aku sedang memiliki masalah sendiri. Aku tidak tahu semuanya."
Iles menarik napas.
"Aku hanya tahu Sora menghabisi Asta, Sikir, dan ayahku."
Zeo terdiam cukup lama.
"Aku sangat frustrasi, Iles. Lima puluh tahun kita mencoba, tapi gagal untuk menyembuhkan alam ini."
Ia kembali menatap kehancuran di hadapannya.
"Kita akan mencoba lagi. Iles, kita harus membuat orang-orang menjadi berjiwa dan membuat alam ini hidup lagi."
"Baik, Ketua Zeo. Aku akan ikut apa kata Ketua."
Berahli pada sora
Pada akhirnya, Sora sangat menderita.
Penjara yang berada di Dekat Api Abadi menjadi tempat yang terus menyiksanya. Waktu di sana tidak stabil. Hari, tahun, bahkan perjalanan waktu tidak lagi terasa seperti di alam lainnya.
Ketidakhadiran penjaga Api Abadi membuat sistem di sana menjadi sangat kacau.
Untuk memperbaiki waktu di sana, hanya ada satu keberadaan yang menjadi bagian penting: Garha.
Ketika Garha tidak ada, sistem di sana menjadi semakin liar.
Bukan karena Garha tidak memiliki tempat untuk tinggal, melainkan karena semua makhluk masih tidak berjiwa.
Tidak ada tempat bagi Garha untuk dilahirkan.
Garha hanya akan lahir bila ada sepasang kekasih yang memiliki hati yang suci.
Garha dapat lahir dari rahim seorang dewi, rakyat, raja, ratu, maupun dari pasangan Penjaga Artefak Kuno.
Dan Garha hanya akan lahir di Bangsa Api.
Di sisi lain, Iles terus berusaha memperbaiki alam.
Ia mengangkat tangannya, mencoba menggunakan kekuatan Dewi Api yang ada di dalam dirinya.
Namun tidak ada perubahan.
Tanah yang gersang tetap gersang.
Tidak ada kehidupan yang kembali.
"Mengapa kekuatan Dewiku tak bisa mengubah sedikit pun kehancuran ini menjadi kehidupan lagi?"
Iles perlahan menurunkan tangannya.
Di kejauhan, terlihat seorang gadis dengan rambut yang sangat panjang berdiri menatap tanah gersang.
Tidak ada kehidupan di sekelilingnya.
Hanya tanah yang kering dan sunyi.
Kembali pada Iles, ia masih terdiam.
Tatapannya tidak beranjak dari tanah gersang di hadapannya.
Lima puluh tahun telah berlalu, tetapi alam itu masih belum kembali seperti dahulu.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya