Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Anya menahan napasnya saat melihat bayangan hitam itu bergerak lagi.
Jantungnya berdebar sangat kencang seperti mau copot dari dadanya saat ini juga.
"Siapa di luar?" seru Anya dengan suara yang terdengar sangat bergetar.
Tidak ada jawaban apa pun dari balik kaca jendela balkon tersebut.
Srak.
Suara gesekan pelan terdengar saat tirai jendelanya tertiup angin malam yang masuk lewat celah.
Anya memberanikan diri untuk turun dari kasur dan mengambil sebuah lampu meja kecil sebagai senjata.
Dia berjalan berjingkat perlahan mendekati pintu kaca balkon yang terkunci rapat itu.
Tap. Tap.
Anya menyibakkan tirai dengan cepat sambil mengangkat lampu meja di tangannya tinggi-tinggi.
"Meong."
Seekor kucing hitam berbulu lebat sedang duduk di pagar balkon sambil menatap Anya dengan mata kuningnya yang menyala.
Anya langsung menghela napas panjang dan menurunkan lampu mejanya perlahan.
"Astaga, ternyata cuma kucing liar," batin Anya merasa sangat lega.
Dia mengusap dadanya yang masih berdebar lalu kembali berjalan menuju ranjangnya yang hangat.
Malam pertamanya di rumah mafia ini akhirnya bisa dilalui tanpa insiden berdarah seperti yang dia takutkan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan keras di pintu kayu kamarnya membangunkan Anya dari tidurnya yang tidak terlalu nyenyak.
"Bangun Nona, Nyonya Martha sudah menunggu Anda di ruang rias."
Suara seorang pelayan wanita terdengar nyaring dari balik pintu kamarnya.
Anya melirik jam dinding besar yang menunjuk ke angka enam pagi.
"Iya, aku sudah bangun," jawab Anya setengah berteriak sambil mengucek kedua matanya.
Pagi ini adalah hari penentuan di mana dia harus tampil di depan seluruh anggota keluarga Bratadikara.
Anya segera mandi dan membersihkan diri sebelum pelayan itu masuk dan menyeretnya secara paksa.
Satu jam kemudian, Anya sudah duduk pasrah di depan meja rias yang sangat besar.
Nyonya Martha berdiri di belakangnya sambil menyisir rambut Anya dengan gerakan yang cukup kasar.
"Keluarga inti sangat menjunjung tinggi tata krama dan penampilan, Nona."
"Jika kau mempermalukan Tuan Muda malam ini, aku jamin besok pagi kau sudah menjadi makanan ikan di kolam belakang."
Nyonya Martha berbicara dengan nada datar tapi ancamannya terdengar sangat nyata di telinga Anya.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin, Nyonya," jawab Anya pelan sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Gaun malam berwarna merah marun yang membalut tubuhnya terlihat sangat elegan dan mahal.
Rambutnya disanggul rapi ke atas dengan menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah cantiknya.
Riasan wajahnya tidak terlalu tebal tapi sukses membuat wajah pucatnya terlihat jauh lebih segar dan menawan.
Cklek.
Pintu penghubung dari kamar Kenji terbuka dan pria itu melangkah masuk dengan setelan jas hitam resminya.
Kenji menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Anya dari atas sampai bawah.
"Tinggalkan kami berdua," perintah Kenji pada Nyonya Martha dan para pelayan rias.
"Baik, Tuan Muda," Nyonya Martha segera menunduk hormat lalu memimpin para pelayan keluar ruangan.
Blam.
Kini hanya tersisa Anya dan Kenji di dalam kamar rias yang luas tersebut.
Kenji berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki oleh Anya.
Dia menatap pantulan wajah Anya dari cermin besar di depan mereka.
"Ingat semua aturan yang aku katakan semalam."
"Mulai dari detik ini, kau adalah wanita yang sangat mencintaiku sampai rela mati untukku."
Kenji membungkuk sedikit dan berbisik tepat di samping telinga Anya.
"Jika kau berani mengacaukan sandiwara ini, aku akan langsung menembak kepalamu di meja makan."
Anya menelan ludah dengan susah payah merasakan hembusan napas dingin pria itu di kulit lehernya.
"Aku mengerti, Kenji," jawab Anya mencoba membuat suaranya terdengar tidak bergetar.
[Misi Harian Diperbarui: Hadiri Makan Malam Keluarga Tanpa Menimbulkan Kecurigaan.]
[Peringatan: Tingkat stres karakter utama mencapai batas wajar.]
Anya menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai berantakan.
"Ayo kita turun sekarang, para serigala tua itu pasti sudah menunggu mangsa barunya," ucap Kenji dingin.
Kenji menyodorkan lengan kirinya ke arah Anya.
Anya berdiri dari kursinya dan dengan ragu-ragu menggamit lengan kekar pria tersebut.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga utama yang sangat megah.
Ruang makan keluarga Bratadikara ternyata berada di sayap timur lantai satu yang dipenuhi dengan dekorasi barang antik.
Dua orang penjaga berbadan besar langsung membukakan pintu ganda ruang makan saat melihat Kenji datang.
Kriet.
Anya menahan napasnya saat melihat sebuah meja makan panjang dari kayu mahoni yang diisi oleh sekitar sepuluh orang.
Semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada Kenji dan Anya yang baru saja masuk.
Keheningan seketika menyelimuti ruang makan besar itu dengan aura yang sangat mencekam.
"Wah, wah, lihat siapa yang datang terlambat ke acara makan malam keluarga kita ini."
Seorang pria muda berambut pirang yang duduk di ujung kanan meja bersuara memecah keheningan.
Pria itu tersenyum miring sambil mengangkat gelas anggurnya ke arah Kenji.
"Selamat malam juga untukmu, Leon," balas Kenji dengan nada suara yang sangat datar.
Kenji menarik sebuah kursi di dekat ujung meja utama lalu mempersilakan Anya duduk lebih dulu.
Anya duduk dengan sangat hati-hati dan meletakkan kedua tangannya di atas pangkuannya yang gemetar.
Kenji kemudian duduk di kursi tepat di sebelah kanan Anya.
"Jadi ini gadis jalanan yang kau ceritakan itu, Kenji?"
Suara berat dan parau itu berasal dari pria paruh baya yang duduk di kursi utama ujung meja.
Pria itu memiliki bekas luka sayatan panjang di pipi kirinya dan menatap Anya dengan sorot mata merendahkan.
"Dia bukan gadis jalanan, Paman Haris," jawab Kenji dengan tenang sambil membuka serbet di pangkuannya.
"Namanya Anya, dan dia adalah calon istriku."
Ucapan Kenji langsung membuat beberapa orang di meja makan itu mulai berbisik-bisik pelan.
"Calon istri katamu?" Paman Haris tertawa keras hingga perut buncitnya berguncang.
"Kenji, klan kita tidak menerima sembarang orang luar untuk masuk ke dalam garis keturunan utama."
"Keluarga Salim sudah menawarkan putri mereka untuk menjalin aliansi bisnis yang menguntungkan dengan kita."
Paman Haris memukul meja makan pelan dengan telapak tangannya untuk memberikan penekanan.
"Lalu kau malah membawa wanita tidak jelas ini dari mana asalnya?"
Ting.
Kenji meletakkan sendok supnya ke atas piring porselen dengan sedikit keras hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Keluarga Salim hanya lintah darat berkedok pengusaha yang sedang sekarat."
"Aku tidak butuh aliansi murahan mereka untuk memperbesar kekuasaan Bratadikara."
Kenji menatap tajam langsung ke kedua mata pamannya itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dan aku sendiri yang berhak menentukan siapa wanita yang akan tidur di ranjangku, bukan Anda, Paman."