Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.Getaran pelan
Kunjungan di rumah sakit siang itu membawa kedamaian yang sudah lama tak dirasakan Aira. Setelah menyisir rambut ibunya dan memastikan Ny. Wahyuni tertidur lelap dengan nyaman, Aira memimpin Elano keluar dari kamar VIP. Arka dan Raymond sudah menunggu di lorong sepi dekat jendela besar yang menembus pemandangan taman rumah sakit.
Perjalanan pulang di dalam mobil berjalan hening, namun bukan lagi keheningan yang mencekam seperti hari-hari sebelumnya. Ada kehangatan tersembunyi yang mengalir perlahan di antara mereka.
Elano, yang kelelahan setelah berceloteh sepanjang hari, tertidur lelap di pangkuan Aira dengan kepala kecilnya yang bersandar di lengan gadis itu.
Aira menatap keluar jendela mobil, memperhatikan deretan pohon dan bangunan kota yang melaju cepat. Sesekali matanya secara tidak sengaja melirik ke arah Arka melalui pantulan kaca jendela. Pria itu fokus menatap tablet kerjanya, membaca dokumen perusahaan dengan kacamata bertangkai tipis yang menambah kesan intelek dan matang pada wajah tampannya.
Terima kasih, Mas Arka, bisik Aira di dalam hatinya. Ia ingin mengucapkannya secara langsung, namun bibirnya mendadak kaku setiap kali membayangkan harus merusak ketenangan pria itu.
Setibanya di rumah mewah Danuartha, Arka bergerak lebih dulu. Tanpa meminta bantuan Raymond atau Aira, pria bertubuh jangkung itu membungkuk dan dengan hati-hati menggendong Elano yang tertidur pulas dari pangkuan Aira.
Gerakan Arka begitu lembut dan sigap, memperlihatkan sisi keayahannya yang hangat di balik penampilan luarnya yang serba dingin dan tegas.
Aira menyusul langkah Arka dari belakang, memperhatikan bahu lebar pria itu yang menopang tubuh Elano. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, melangkah menuju kamar tidur anak laki-laki itu.
Arka membaringkan Elano di atas kasur empuknya, melepaskan sepatu kecil bocah itu, lalu menarik selimut hingga sebatas dada.
Aira melangkah mendekat, membantu mengusap poni rambut Elano yang sedikit basah oleh keringat. Untuk beberapa detik, posisi mereka sangat dekat—berdiri berdampingan di tepi ranjang dengan napas yang hampir bersinggungan.
Aira mendadak sadar akan jarak mereka yang menyempit. Aroma kayu cendana yang khas dan jantan dari tubuh Arka menyeruak lembut, membuat jantung Aira berdegup kencang tanpa kendali. Ia buru-buru mundur satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Biarkan Elano istirahat," bisik Arka pelan, suaranya yang berat memecah kecangguhan di antara mereka.
Pria itu melepaskan kacamatanya dan menyimpannya di saku kemeja.
"Ikut saya ke ruang kerja sebentar, Aira. Ada hal yang perlu kita bicarakan."
Jantung Aira kembali berdesir ragu, namun ia mengangguk sopan. "Baik, Mas."
Ruang kerja Arka di lantai bawah terasa hangat sore itu. Sinar matahari senja menerobos masuk melalui celah tirai kayu, membiaskan cahaya keemasan yang menimpa permukaan meja mahoni.
Arka duduk di kursi kulitnya, sementara Aira berdiri canggung di depan meja, meremas kedua telapak tangannya.
"Duduklah," perintah Arka tenang, menunjuk kursi di hadapannya.
Aira menurut, menarik kursi dan duduk dengan posisi tegap. "Ada apa, Mas Arka?"
Arka menyandarkan punggungnya, menatap Aira lurus-lurus. Tidak ada lagi kilat ketegangan di antara mereka seperti kemarin. Tatapan Arka terasa lebih rileks, meski aura kepemimpinannya tetap terpancar kuat.
"Mengenai penjagaan di rumah sakit..." Arka membuka pembicaraan, suaranya teratur dan tenang. "Dua pengawal yang saya tempatkan di sana akan bertugas dalam rotasi dua belas jam. Kamu tidak perlu khawatir lagi tentang keselamatan ibumu. Semua akses keluar masuk kamar VIP sudah diperketat."
Aira menelan ludah, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Mas Arka... terima kasih banyak. Aira benar-benar bingung harus bilang apa lagi. Bantuan Mas Arka sudah terlalu banyak."
Arka memajukan tubuhnya sedikit, menopang kedua tangannya di atas meja. "Saya melakukan ini bukan cuma untuk ibumu, Aira. Tapi juga untuk ketenanganmu. Kamu tinggal di rumah ini untuk merawat Elano, dan Elano membutuhkanmu dalam keadaan fokus dan tenang. Jika pikiranmu terpecah karena kecemasan pada ibumu, itu akan berdampak pada anak saya."
Penjelasan Arka terasa sangat logis dan berjarak—seolah-olah seluruh tindakan perlindungannya semata-mata demi kepentingan Elano dan efisiensi rumah tangga. Namun, Aira bisa merasakan ada kepedulian tersembunyi yang sengaja Arka bungkus rapat-rapat di balik alasan rasional tersebut.
"Saya mengerti, Mas," balas Aira dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi tetap saja, saya sangat berterima kasih atas kebaikan Mas Arka."
Arka mengamati senyuman itu. Senyum Aira sederhana, tanpa riasan tebal atau kepura-puraan, memancarkan kepolosan alami yang sudah lama tidak Arka temui di lingkungan sosialnya.
Pria berusia 39 tahun itu menghembuskan napas pelan, lalu meraih sebuah amplop tebal berwarna cokelat dari dalam laci mejanya dan menggesernya ke arah Aira.
Aira menatap amplop itu dengan dahi berkerut. "Ini... apa, Mas?"
"Buka saja," kata Arka datar.
Dengan ragu, Aira membuka segel amplop tersebut dan mengintip isinya. Matanya membelalak kaget ketika melihat tumpukan kartu dan sebuah kartu debit hitam berkilau berlogo bank swasta ternama.
"Ini kartu debit atas nama kamu," terang Arka tenang sebelum Aira sempat bertanya.
"Setiap bulan, sistem akan otomatis mengisi saldo untuk kebutuhan pribadi kamu, kebutuhan Elano, dan biaya tak terduga lainnya. Kamu tidak perlu meminta izin setiap kali ingin membeli pakaian, barang pribadi, atau kebutuhan harian."
Aira buru-buru mendorong amplop itu kembali ke tengah meja dengan wajah cemas. "Jangan, Mas Arka! Aira tidak bisa terima ini! Untuk kebutuhan pribadi Aira... Aira masih punya sisa tabungan kecil. Kalau untuk kebutuhan Elano atau rumah, Aira bisa minta nota ke Bi Inah. Aira tidak mau pegang uang sebanyak ini."
Arka menaikkan sebelah alisnya. Reaksi Aira benar-benar di luar ekspektasinya. Sebagian besar wanita di posisi Aira tentu akan menyambut kartu tanpa batas itu dengan gembira, tetapi gadis di hadapannya ini justru menolaknya ketakutan bagaikan memegang bara api.
"Aira," tegur Arka dengan nada tegas yang memicu kepatuhan.
"Kamu adalah istri sah saya di mata hukum dan masyarakat. Sangat aneh jika istri seorang Arka Danuartha tidak memiliki kartu kredit atau debit pribadi. Jika ada kolega atau media yang melihatmu harus membayar kebutuhan kecil dengan uang pas-pasan, itu akan merusak citra keluarga ini."
Aira menggigit bibirnya pelan. Alasan Arka lagi-lagi menyangkut nama baik dan citra keluarga, sebuah benteng pembatas yang selalu Arka gunakan untuk menjaga jarak.
"Tapi Mas... Aira takut salah pakai," bisik Aira polos, menundukkan kepalanya.
Arka terkekeh tipis—sebuah tawa sangat rendah yang hampir tak terdengar, namun sanggup membuat dada Aira berdesir aneh. Itu adalah pertama kalinya Aira mendengar Arka terkekeh di hadapannya.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Aira. Gunakan sesuai kebutuhanmu," ujar Arka, nada suaranya sedikit melunak.
"Pegang kartu itu. Ini perintah, bukan penawaran."
Aira menghembuskan napas pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan pria sekeras Arka. "B-baik, Mas. Terima kasih. Aira akan simpan dan pakai cuma kalau benar-benar mendesak."
"Terserah kamu bagaimana menggunakannya," balas Arka seraya kembali meraih dokumen kerjanya, memberi isyarat bahwa pembicaraan mereka telah selesai.
"Kamu boleh kembali ke kamar."
Aira berdiri, merapikan gaun santainya, lalu mengambil amplop cokelat itu dengan hati-hati. Sebelum melangkah menuju pintu, Aira menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah meja kerja Arka.
"Mas Arka..." panggil Aira lirih.
Arka mendongak dari dokumennya. "Ya?"
Aira menatap mata hitam Arka dengan kejujuran yang terpancar jelas. "Selamat istirahat ya, Mas. Jangan bekerja sampai larut malam terus. Nanti Mas Arka bisa sakit."
Setelah mengucapkan kalimat perhatian yang spontan itu, wajah Aira mendadak memerah karena malu. Ia buru-buru membungkuk kecil dan keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat, meninggalkan Arka yang mematung di tempat duduknya.
Di dalam ruang kerja yang mendadak hening kembali, Arka meletakkan pulpennya. Pria berusia 39 tahun itu menyandarkan punggungnya, menatap pintu kayu yang baru saja tertutup. Jemari tangannya mengusap dagunya yang mulus secara refleks.
Peringatan kecil dari Aira tentang kesehatannya terasa begitu hangat dan tulus—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Arka dengar dari siapa pun sejak kepergian almarhum istrinya. Tembok es yang membentengi hati Arka tidak runtuh dalam semalam, tetapi malam itu, retakan kecil di dinding itu bertambah satu garis lagi.
Sementara itu di kamarnya, Aira duduk di tepi ranjang dengan amplop cokelat di pangkuannya. Ia mengeluarkan kartu debit hitam itu, menatap namanya yang terukir rapi di sana: AIRA DANUARTHA.
Nama belakang itu terasa begitu asing sekaligus memiliki beban yang sangat besar. Aira menyandarkan kepalanya pada bantal, memejamkan mata rapat-rapat.
Ia tahu, pernikahan ini adalah pernikahan kontrak tanpa landasan cinta. Arka bersikap baik dan melindunginya semata-mata demi tanggung jawab, hukum, dan kebaikan Elano. Namun, Aira tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Setiap ketegasan, perhatian kecil, dan perlindungan yang Arka berikan perlahan-lahan mulai menggoreskan rasa kagum dan getaran halus di dalam dadanya.
Aira menghembuskan napas panjang, meremas jemarinya sendiri. Jangan sampai kamu jatuh cinta, Aira... bisik nuraninya memberi peringatan. Ingat posisimu di rumah ini. Mas Arka adalah pria dari dunia yang sangat berbeda denganku.
Dengan tekad untuk menjaga batasan hatinya, Aira menyimpan kartu tersebut di laci mejanya dan berjanji pada diri sendiri untuk tetap fokus pada tugas utamanya: menjadi ibu yang baik bagi Elano dan tidak merepotkan Arka Danuartha.
_Bersambung