"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL YANG BARU
Prosesi pernikahan privat itu berlangsung dengan begitu khidmat dan penuh kehangatan. Di hadapan penghulu, para saksi, dan pengawalan ketat di sekeliling area mansion, Haidar mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas. Suaranya menggema di ruangan, mengikat takdirnya dengan Elara secara sah di mata hukum dan Agama. Saat kata "Sah!" terdengar, Elara meneteskan air mata haru—kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan kebahagiaan yang meluap.
Setelah seluruh rangkaian acara usai dan resepsi kecil yang intimate selesai diselenggarakan, kedua orang tua Elara melangkah mendekati pasangan pengantin baru tersebut untuk berpamitan.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Nak," ucap sang ibu seraya memeluk Elara erat-erat, mengecup kedua pipi putri tunggalnya dengan penuh kasih sayang. "Ibu dan Ayah selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua."
Ayah Elara menjabat tangan Haidar erat, menepuk bahu menantunya itu dengan tatapan hangat seorang ayah. "Kami pamit pulang dulu, Haidar. Tolong jaga Elara dengan sepenuh hatimu."
"Pasti, Paman—maksudku, Ayah," jawab Haidar tegas, kini menyapa mertuanya dengan sebutan yang lebih dekat. "Pengawal pribadi saya akan mengantar Ayah dan Ibu sampai tiba di rumah dengan selamat."
Elara memeluk kedua orang tuanya sekali lagi sebelum melepas kepulangan mereka di pelataran mansion. Dengan kepergian orang tuanya dan meredupnya hiruk-pikuk acara, Elara kini berdiri bersanding dengan Haidar sebagai istri sah sang bos mafia—siap memulai babak kehidupan baru yang penuh perlindungan dan cinta.
Sepeninggal kedua orang tua Elara dan para tamu privat, suasana pelataran mansion yang megah perlahan kembali tenang. Angin sore berembus pelan, mempermainkan helai-helai halus gaun pengantin putih yang masih dikenakan Elara.
Elara memutar tubuhnya, mendapati Haidar masih berdiri di tempatnya. Pria itu terpaku, menatapnya tanpa kedip. Ada binar kehangatan dan kekaguman yang begitu dalam di manik mata hitam milik bos mafia itu—sebuah tatapan yang kini seutuhnya hanya milik Elara.
"Kenapa menatapku seperti itu, Haidar?" tanya Elara lembut, merona tipis karena malu diperhatikan sedemikian rupa.
Haidar melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga tak tersisa. Tangannya yang kokoh terangkat, jemarinya dengan lembut merapikan helai rambut Elara yang tertiup angin, lalu membingkai pipi sang istri yang hangat.
"Aku hanya masih tidak percaya," bisik Haidar dengan suara rendah nan serak, sarat akan emosi yang meluap. "Wanita seindah ini, dengan hati yang begitu kuat... sekarang resmi menjadi istriku. Hak milikku sepenuhnya."
Elara menyandarkan pipinya pada telapak tangan Haidar, menikmati sentuhan yang selalu berhasil memberinya rasa aman tak terbatas.
"Aku milikmu, Haidar," jawab Elara tulus, menatap tepat ke dalam mata suaminya. "Hari ini, besok, dan seterusnya."
Haidar tersenyum—sebuah senyuman langka yang hanya terukir khusus untuk wanita di hadapannya. Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, ia merengkuh pinggang Elara dan membopongnya dengan lembut masuk ke dalam mansion, meninggalkan seluruh bayang-bayang duka di luar sana dan menyambut malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri yang sah.
Di dalam kamar utama yang dipenuhi nuansa hangat, Haidar menatap lekat wajah Elara yang kini telah resmi menjadi belahan jiwanya. Rasa syukur membuncah di dadanya, menggantikan dinginnya amarah yang selama ini menguasai pikirannya.
Ia merengkuh tubuh Elara semakin dekat, merapatkan jarak hingga napas mereka menyatu. Dengan penuh kelembutan dan rasa hormat, Haidar mendaratkan ciuman hangat di bibir istrinya. Sebuah ciuman manis yang sarat akan janji perlindungan, kesetiaan, dan cinta yang tak terhingga. Elara memejamkan mata, membalas tautan itu seraya menyandarkan jemarinya di dada bidang Haidar, merasakan detak jantung suaminya yang berpacu hangat.
Saat tautan itu terlepas perlahan, Haidar menyatukan kening mereka. Pandangannya mengunci manik mata Elara dengan pendar kebahagiaan yang nyata.
"Mulai malam ini, ini adalah awal baru kita, Elara," bisik Haidar dengan suara rendah nan tulus. "Aku berdoa dan berjanji, rumah tangga kita akan penuh dengan keindahan, kedamaian, dan cinta yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun."
Elara mengangguk pelan, mengukir senyum terindah yang pernah Haidar lihat. "Amin. Bersamamu, aku yakin kita bisa melewati segalanya, Haidar."
Malam yang dingin di luar mansion terasa begitu hangat di dalam kamar itu. Di bawah naungan ikatan suci yang sah, Haidar dan Elara siap mengarungi lembaran baru kehidupan mereka—meninggalkan duka masa lalu dan menyambut setiap esok dengan harapan yang membumbung tinggi.