Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Hati yang Terluka

Roxanna bergulat dengan pikirannya selagi berbaring di ranjang, tak juga bisa memejamkan mata.

Sebutan misterius tentang Aurora dari Lucy dan kata-kata Gertrudes masih menggema di benaknya, memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.

Ia teringat saat ia di rumah sakit dulu menanyakan asal nama restoran itu kepada Chris, dan bagaimana pria itu buru-buru mengalihkan topik, mengisyaratkan bahwa Aurora mungkin pernah menjadi seseorang yang penting baginya.

Dengan pandangan terpaku pada jam yang menunjukkan pukul 02.00, Roxanna memutuskan ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Ia bangkit, mengganti piyama dengan blus longgar dan celana pendek, lalu menguncir rambutnya asal-asalan menjadi sanggul.

Ia keluar dari kamar dan menuju dapur restoran, yang kini sunyi dan gelap.

Selagi malam merambat tenang, Roxanna mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser. Sembari menunggu, ia memikirkan dengan cemas posisi apa yang akan Chris berikan padanya keesokan hari, saat ia mulai bekerja di restoran Aurora.

Tiba-tiba, sebuah suara muncul, memecah keheningan dapur. Roxanna mendengar bunyi sesuatu yang pecah, disusul suara lain dari lantai atas. Jantungnya melonjak, dan ia meraih sapu di dekatnya, menghadapi rasa takutnya dengan penuh tekad.

Semakin dekat ia dengan sumber suara itu, ia menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang kerja Chris.

Jantungnya mulai berdebar semakin kencang, dan tangannya yang gemetar membuka pintu kantor.

Ruangan itu kacau total. Botol-botol minuman pecah menumpahkan cairan ke lantai, dan lukisan-lukisan yang hancur tergeletak bersandar di dinding. Chris, yang jelas mabuk berat, menggenggam botol lain yang siap ia banting, sembari berseru,

"Apa aku ini tolol? Ya, aku memang tolol karena mencintaimu!"

Ia meneguk tetes terakhir dan hendak membanting botol itu ke lantai ketika Roxanna, dalam keberanian yang tak terduga, berlari ke arahnya dan mencengkeram pergelangan tangannya sambil berkata,

"Kau bisa terluka."

Chris membeku, wajahnya menyingkap kemabukannya, dan sesaat ia menatap Roxanna seolah tengah melihat sesosok penampakan.

"Kau datang, Aurora!? Kau kembali padaku bersama anak kita?" tanyanya, matanya sarat emosi dan harapan.

Roxanna terpaku, terkejut tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Anak? Dia juga seorang ayah?

"Anda sedang..." ia mulai bicara, tapi Chris membawa tangannya ke bibir Roxanna dan memeluknya penuh haru,

"Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi! Aku berjanji akan menjadi pria yang selalu kau dambakan. Tunggu saja sedikit lagi, dan aku akan menjadi kaya untuk memberimu hidup yang pantas kau dapatkan."

Roxanna merasakan pelukan Chris mengerat di sekelilingnya, kehangatan tubuh pria itu memancar di kulitnya.

Ia teringat pada mata pria yang gelap dan mabuk itu, yang memeluknya dengan begitu kuat, merasakan beban emosi yang mendidih di udara di antara mereka.

Aroma alkohol yang berbaur dengan parfum Chris menyelimuti Roxanna, membuatnya merasa sedikit nyaman. Ia mendengar detak jantung pria itu yang cepat dan putus asa, bunyinya bergema di telinganya bagai sebuah lagu sedih.

Ketika Chris akhirnya melepaskannya, Roxanna menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosinya sendiri menghadapi situasi yang begitu asing dan mengejutkan.

Matanya bertemu mata pria itu, yang kini tampak hilang arah dan bingung, seolah ia tak mampu memahami apa yang sedang terjadi.

"Chris?" ucapnya dengan nada lembut dan ragu. "Kau sedang mabuk. Aku bukan Aurora; aku Roxanna."

Ia menunggu kenyataan itu meresap ke dalam kesadaran pria itu, berharap Chris tak semakin tenggelam dalam alkohol dan kepedihan.

Namun, Chris hanya menatapnya, pandangannya kini mencerminkan campuran kegetiran dan kebingungan.

"Roxanna? Siapa Roxanna, Aurora? Aku tahu kau marah, tapi aku tidak ingin kehilanganmu." Ia menggerakkan tangannya ke arah wajah Roxanna, mengusap lembut turun menyusuri lengannya.

Roxanna menelan ludah, memandangi botol yang masih tergenggam di tangan Chris.

"Berikan botol itu padaku, Chris," pintanya sambil mengulurkan tangan.

Chris mundur sedikit, menggenggam botol itu erat-erat.

"Aku tahu kau tidak peduli padaku, aku tahu aku ini cuma orang malang. Tapi apa yang kurasakan untukmu itu tulus, Aurora."

Roxanna merasakan hatinya perih mendengar kata-kata pria itu. Bahkan dalam kebingungan mabuknya, Chris mengungkapkan kepedihan dan cinta yang tulus untuk seseorang yang jelas telah menorehkan bekas mendalam dalam hidupnya.

Akhirnya, ia menyerah dan menyerahkan botol itu kepada Roxanna. Roxanna meletakkannya di samping, lalu membawa Chris ke sofa, dengan lembut membaringkannya. Selagi Chris meringkuk nyaman, Roxanna mulai mengumpulkan pecahan dan membersihkan kantor, menyingkirkan serpihan kaca dan sisa-sisa botol yang pecah.

Ketika selesai membersihkan ruangan, Roxanna kembali mengalihkan perhatiannya pada Chris, yang kini tertidur lelap.

Ia melepas sepatu kets pria itu, mengangkat kakinya ke atas sofa, dan menyelimutinya dengan selimut yang ia ambil dari kamarnya. Ia ingin Chris merasa nyaman saat terbangun nanti, terlepas dari kebingungan yang menantinya.

Roxanna lalu pergi ke kamar mandi dan mencari sebutir obat untuk sakit kepala yang pasti akan datang keesokan paginya.

Ia meletakkan pil itu dan segelas air di atas meja, dekat sofa. Ia bahkan menyalakan pendingin ruangan, menutup jendela, dan sebelum keluar dari kantor, melempar pandangan terakhir ke arah Chris.

* * *

Keesokan paginya, Roxanna terbangun oleh suara pintu-pintu yang berdebam dan suara-suara riang. Ia duduk di ranjang, masih sedikit linglung oleh kantuk, tapi segera menyadari bahwa itu suara rekan-rekan setimnya. Cepat-cepat ia teringat pada peristiwa malam sebelumnya dan momen emosional yang dialami Chris di kantornya.

Ia bangkit dari ranjang dan bersiap dengan cepat untuk hari itu, menyantap sarapan singkat, lalu bergabung dengan sisa tim di aula, tempat ia diarahkan untuk bekerja sebagai pelayan. Di sana, mereka membahas detail-detail terakhir sebelum acara besar hari itu: sebuah konferensi pers dan pesta pada malam harinya.

Roxanna berusaha sebaik mungkin untuk berkonsentrasi pada pembahasan, tapi hati dan pikirannya masih tertuju pada Chris.

Sepanjang pagi, Roxanna berupaya membantu timnya memastikan segalanya siap untuk pesta itu. Ia berkoordinasi dengan para penyelenggara, jasa katering, dan anggota tim, memberi arahan dan mengawasi setiap detail.

Meski fokus pada pekerjaannya, ia tak bisa menahan diri memikirkan apakah Chris baik-baik saja dan bagaimana ia menghadapi mabuk sisa semalam.

Selagi pagi berlalu, aula itu menjelma menjadi area resepsi yang elegan, dihias bunga-bunga eksotis dan perabot mewah. Roxanna memandang sekilas ruangan itu untuk terakhir kalinya, merasa puas dengan hasil kerja kerasnya dan kerja keras tim.

Selagi para tamu mulai berdatangan dan suasana kian semarak, Roxanna menyadari bahwa Chris belum juga muncul.

Ia mulai cemas, membayangkan kemungkinan terburuk. Bertekad memastikan keadaannya, ia pergi ke kantor Chris dan mengetuk pintu beberapa kali.

Tak ada jawaban.

Ia ragu sejenak, lalu perlahan membuka pintu. Saat melihat ke dalam, ia mendapati Chris masih berbaring di sofa, selimut menutupi tubuhnya, dan pil pereda sakit kepala yang ia tinggalkan di meja masih belum tersentuh.

Dengan helaan napas lega, ia mendekat dan membangunkan Chris dengan lembut, merasakan campuran kekhawatiran dan simpati untuknya.

"Chris, bangun. Kau harus pulih dan ikut serta dalam pesta ini."

Chris perlahan membuka mata, dan wajahnya memperlihatkan rasa tak nyaman yang kentara. Ia tampak bingung dan sedikit malu.

Roxanna mengamati raut wajahnya dan merasakan sepercik empati.

Ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang tengah menanggung luka karena cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!