Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Meredam ketakutan dengan naluri kepemimpinannya, Nadya menolak meloloskan kepanikan sekecil apa pun.
Ia menggeprak meja kerja pelan namun tegas, memaksa pikirannya tetap jernih di bawah tekanan hebat.
"Siska, jangan matikan teleponmu!" perintah Nadya cepat dengan suara rendah nan tajam.
"Hubungi tim pengamanan internal, sebar anggota ke seluruh titik jalur konveksi, dan sambungkan saya dengan detektif swasta detik ini juga!"
"Ba-baik, Bu!" jawab Siska dari seberang telepon, seketika panik namun langsung bergerak cepat mengikuti instruksi atasannya.
Nadya menolak berdiam diri di rumah. Tanpa membuang waktu untuk mengganti pakaian elegannya, ia menyambar mantel panjang dan melangkah lebar menuju halaman depan.
Didampingi empat orang tim pengawal berbadan tegap dan terlatih, Nadya menerobos dinginnya malam menuju lokasi pabrik konveksi dengan kecepatan tinggi.
Setibanya di lokasi, sirene mobil pengawal dimatikan agar tak memicu perhatian publik.
Nadya melangkah cepat menyusuri koridor samping yang sepi menuju area parkir khusus pimpinan.
Di area parkir yang remang-remang, dada Nadya bergemuruh hebat saat menemukan mobil Armand masih terparkir rapi.
Pintu kemudi terkunci, namun matanya yang jeli menangkap benda berkilau di tanah.
Nadya berlutut tanpa ragu. Ia menemukan ponsel Armand yang terjatuh tepat di bawah pintu mobil.
Tepat di samping ponsel itu, tercetak bekas
seretan sepatu yang tidak beraturan serta aroma samar zat kimia berbau menyengat—sisa cairan bius yang masih tertinggal di udara malam.
"Ibu Nadya, jangan disentuh dulu bekas fisiknya," cegah kepala pengawal sigap, mengamankan ponsel Armand dengan kain steril.
Nadya berdiri tegak. Tubuhnya gemetar hebat menahan amarah dan ketakutan yang membuncah, namun matanya memancarkan kilatan dingin yang berbahaya.
"Periksa seluruh CCTV luar!" desis Nadya pada tim teknis yang baru saja tiba.
Beberapa menit kemudian, tim keamanan melaporkan kenyataan pahit.
Rekaman CCTV area parkir luar pabrik ternyata sengaja dirusak dan beberapa sudut telah disesuaikan hingga menciptakan blind spot sempurna.
Ancaman itu kini terkonfirmasi sepenuhnya. Penculikan ini bukan sekadar tindakan spontan, melainkan sebuah aksi yang direncanakan secara terstruktur dan dingin oleh Rian dan Sarah.
Nadya mencengkeram ponsel Armand di tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa takut akan keselamatan suaminya seketika mengkristal menjadi keberanian yang membakar.
"Rian, Sarah." bisik Nadya dengan nada yang amat dingin.
"Kalian sudah menyentuh pria yang salah."
Ia memutar tubuhnya menghadap kepala pengamanan dan detektif swasta yang berdiri siap di belakangnya.
"Lacak sinyal terakhir dari nomor-nomor mencurigakan yang terhubung dengan Rian dan Sarah. Periksa seluruh aset, gudang tua, atau properti terbengkalai atas nama keluarga mereka di luar kota. Kita cari suami saya sekarang juga!"
Kesadaran Armand kembali perlahan, diiringi denyut nyeri yang hebat di belakang kepalanya.
Saat kelopak matanya terbuka, pandangannya masih kabur, terkunci pada remang-remang lampu gantung yang berayun pelan di tengah gudang tua terbengkalai.
Aroma debu, kayu lapuk, dan karat menyeruak tajam.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun kedua tangan dan kakinya telah terikat erat menggunakan tali tambang tebal pada sebuah kursi kayu yang kokoh.
Langkah kaki yang bergema di atas lantai semen berdebu memecah keheningan.
Rian dan Sarah muncul dari balik kegelapan, melangkah perlahan mengikis jarak.
Rian menatap Armand dengan tatapan penuh kepuasan seorang pemenang yang berhasil menjebak mangsanya.
Sementara Sarah berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap, melemparkan senyum ejekan yang sarat kebiadaban menatap kejatuhan mantan suaminya.
"Selamat bangun, Penjahit Besar," ejek Sarah dengan nada nada suara melengking penuh kemenangan.
"Bagaimana rasanya bangun di tempat yang pantas untuk pria miskin sepertimu?"
Rian memutar-mutar sebuah tongkat besi di tangannya.
Raut wajahnya seketika berubah murka, memancarkan frustrasi yang menumpuk akibat kehancuran reputasi dan bisnisnya.
"Gara-gara kau dan wanita sok berkuasa itu, bisnisku hancur! Nama baikku hancur!" bentak Rian dengan suara menggelegar.
Tanpa peringatan, Rian melayangkan tamparan keras ke wajah Armand hingga kepala pria itu terlempar ke samping, meninggalkan sudut bibirnya yang robek dan berdarah.
Rian lalu mengarahkan pandangannya ke jemari tangan Armand yang terikat di sandaran kursi.
Senyum licik dan dingin terukir di wajahnya.
"Kamu bangga sekali dengan jemari ini, kan? Jemari yang merancang busana, yang bikin Pak Dermawan kepincut, yang bikin kau merasa setara dengan kami?" desis Rian penuh racun.
Rian mengangkat tongkat besi di tangannya tingginya, lalu menghantamkannya tanpa ampun ke arah jemari tangan kanan Armand.
KRAK!
Suara remukan tulang yang patah bergema mengerikan di dalam gudang.
Nyeri yang luar biasa hebat menyengat saraf Armand, menjalar dari buku-buku jarinya hingga ke seluruh tubuh.
Aset utama dan modal hidupnya untuk menjahit dan merancang busana kini sengaja dihancurkan agar ia tidak akan pernah bisa berkarya lagi.
Napas Armand memburu, peluh dingin membasahi pelipisnya saat rasa sakit yang menyiksa itu mencoba meremukkan kesadarannya.
Namun, Armand menahan teriakan sakitnya. Ia tidak mengizinkan Rian dan Sarah mendapatkan kepuasan dari rintihannya. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Dengan rahang mengeras ketat dan tatapan mata yang berkilat dingin nan tajam, Armand mendongak.
Ia menatap lurus ke dalam manik mata Rian yang liar.
"Hanya ini yang bisa kamu lakukan, Rian?" ucap Armand dengan suara rendah namun sarat akan penghinaan yang tajam.
"Kamu mematahkan tanganku karena kamu tahu, tanganku sangat berharga. Tapi, meskipun tanganku patah , aku jauh lebih terhormat dibanding pria penakut seperti kamu yang cuma bisa bersembunyi di balik kekerasan."
Armand melirik Sarah sekilas lalu kembali menatap Rian dengan senyum sinis yang menohok.
"Kamu pikir kamu menghancurkanku? Kamu cuma makin membuktikan ke semua orang kalau kamu itu pecundang yang iri dengan kesuksesanku."
Kata-kata menohok itu menghantam kebanggaan Rian tepat di ulu hati.
Muka Rian merah padam, napasnya memburu keras.
Emosinya terbakar hebat, membuatnya semakin gelap mata hingga mengangkat kembali tongkat besinya dengan membabi buta.
Ponsel Nadya yang dipegang oleh kepala pengawalan mendadak berdering nyaring dari sebuah nomor tak dikenal.
Nadya langsung merebut ponsel itu, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya ke telinga dengan napas memburu.
"Halo?!" panggil Nadya tegas.
Bukan suara sapaan yang terdengar di seberang sana, melainkan helaan napas berat yang tersengal-sengal serta suara rintihan samar yang ditahan sekuat tenaga.
"N-ngghh,"
Dada Nadya serasa dihantam batu besar. Suara itu adalah milik Armand.
Darahnya berdesir dingin, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai membasahi pelipisnya.
"Mas Armand?!" teriak Nadya, tak bisa lagi menahan getar di suaranya.
Suara tawa berat dan dingin memotong teriakan Nadya.
Rian mengambil alih sambungan telepon, menikmati penderitaan wanita yang telah menghancurkan reputasinya itu.
"Dengar suara suamimu yang malang, Nadya?" desis Rian penuh rasa puas.
"Tangan yang biasa dia pakai untuk merancang busanamu itu, baru saja aku buat tak berguna lagi."
"Rian! Brengsek kamu! Jangan sentuh suamiku lagi!" jerit Nadya, emosinya meledak hingga membuat seluruh pengawal di sekelilingnya terkejut.
"Tutup mulutmu dan dengarkan!" potong Rian dingin.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk obrolan tidak penting. Aku beri kamu ultimatum satu kali dua puluh empat jam!"
Rian menarik napas dalam sebelum mendiktekan permintaannya yang gila:
"Pertama, serahkan lima puluh satu persen saham perusahaanmu atas namaku. Kedua, cabut seluruh gugatan hukum atas diriku dan Sarah tanpa syarat. Dan ketiga, batalkan seluruh kontrak proyek seragam dengan Pak Dermawan!"
Nadya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga jarum jam di pergelangan tangannya terasa menekan kulit.
"Jika dalam dua puluh empat jam kamu melibatkan polisi, mencoba berbuat curang, atau tidak memenuhi syarat ini," Rian mendekatkan ponselnya ke arah Armand.
"Aku pastikan kamu cuma akan menerima Armand dalam keadaan tidak bernyawa."
Di ujung sana, dalam rasa sakit luar biasa yang membakar seluruh tubuhnya, Armand memaksakan suaranya agar terdengar lewat mikrofon ponsel Rian.
"J-jangan pedulikan aku, Dek. Mas sayang sama kamu—"
Brak!
Suara benturan keras terdengar bersamaan dengan erangan Armand yang terputus mendadak.
Tut... Tut... Tut.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Rian.
"TIDAK!! MAS !!"
Jeritan histeris Nadya memecah keheningan malam di area pabrik konveksi.
Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke semen.
Tubuh Nadya gemetar hebat, kakinya lemas tak berdaya hingga ia hampir ambruk jika tidak segera ditahan oleh Siska dan kepala pengawal.
"Bu Nadya! Bu, tenang, Bu!" panggil Siska terisak, mencoba menenangkan atasannya.
Nadya cengkeram erat lengan baju Siska. Wajahnya yang semula pucat pasi kini memancarkan kilatan kegelapan dan amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Pikirannya tidak lagi menimbang angka miliaran rupiah atau aset perusahaan—satu-satunya hal yang bernilai di dunianya saat ini adalah nyawa Armand.
"Pak," panggil Nadya dengan suara rendah yang serak dan bergetar, namun penuh ketegasan yang mematikan.
"Lacak dari mana sinyal panggilan tadi memancar. Persiapkan semuanya. Kita tidak akan menunggu dua puluh empat jam."
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,