Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sebuah Kesepakatan
Vara tetap memasang wajah kesal. "Beberapa hari itu lama."
"Aku akan kembali setiap kali ada kesempatan."
"Kau bilang begitu terus."
"Karena aku memang selalu kembali."
Vara akhirnya menghela napas panjang, hingga Reval tak tahan untuk mengecup bibirnya singkat.
"Aku akan menggantinya."
"Dengan apa?"
"Apa yang kau mau?"
Vara diam beberapa detik, lalu akhirnya tersenyum tipis. "Aku pikirkan nanti."
Reval tahu itu berarti ia telah menang, setidaknya untuk malam ini. Karena ia tahu persis bahwa Vara akan menggunakan berbagai cara dan alasan agar dirinya datang kepadanya. Namun, disisi lain ia tidak bisa lepas tangan begitu saja terkait keturunan keluarga Arsenalio.
...****************...
Di Mansion Utama, suasananya jauh berbeda. Dhana berdiri di halaman belakang dengan jarak yang cukup jauh dari Jenara. Ia tidak ingin keberadaannya terasa seperti ancaman. Jenara sedang duduk sendirian di bangku taman, memandangi kolam yang permukaannya diterpa cahaya sang mentari. Sesekali perempuan itu membolak-balik halaman sebuah buku, meskipun Dhana tidak yakin ia benar-benar membacanya.
Dhana telah menghabiskan beberapa jam terakhir hanya untuk mengawasinya. Bukan karena Reval memerintahkannya. Setidaknya, bukan sepenuhnya karena itu. Ada sesuatu tentang Jenara yang membuat Dhana sulit mengalihkan pandangan. Namun ia tetap menjaga jarak. Tidak mendekat, tidak menyapa dan tidak mengganggunya.
Hingga suara Jenara terdengar dari kejauhan. "Kau boleh berhenti bersembunyi."
Dhana membeku, sedangkan dalam hatinya sedikit terkejut, “Sejak kapan dia menyadarinya?”
Jenara masih menatap kolam. "Aku tahu kau di sana."
Dhana akhirnya keluar dari balik bayangan pepohonan. "Aku tidak bersembunyi."
Jenara tersenyum tipis. "Benarkah?"
Dhana tidak menjawab, sampai Jenara menutup bukunya. "Kenapa kau menjaga jarak?"
"Supaya anda tidak merasa terganggu dengan keberadaan ku di sini."
Jawaban itu membuat Jenara menoleh. Untuk pertama kalinya siang itu, mereka saling memandang dengan jelas. "Rupanya kau berbeda dari mereka."
Dhana mengernyit. "Siapa?"
"Orang-orang Reval."
Dhana memilih diam, sementara Jenara bangkit dari bangku. Ia berjalan perlahan mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah. Tampak Jenara memperhatikan Dhana dengan sangat seksama seolah sedang menilai dan menimbang sesuatu yang begitu rumit dalam diri pria itu.
"Aku tahu kau diperintah untuk mengawasiku."
"Itu tugasku."
"Dan kau akan terus melakukannya?"
"Selama diperintahkan."
Jenara tersenyum kecil. "Kalau begitu aku akan memberimu perintah yang lebih menarik."
Dhana menatapnya waspada. "Perintah?"
"Tidak… bukan perintah melainkan sebuah Kesepakatan."
Angin sejuk siang itu melewati halaman, menerpa rambut panjang Jenara yang terurai. Jenara berdiri tepat di bawah bias cahaya matahari yang memantul dari kolam taman. Ia semakin mendekatkan wajahnya seraya berkata, "Bunuh Reval untukku."
Seketika Dhana membeku, bukan karena terkejut tapi lebih mengarah tidak menyangka kalau kebencian wanita itu kepada suaminya begitu besar, hingga berniat untuk membunuhnya. Tidak ada keraguan dalam suara perempuan itu. Tidak ada gurauan… Jenara benar-benar serius dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Kau tahu apa yang kau minta?" Dhana bahkan sampai tidak bersikap sopan lagi kepadanya.
"Tentu."
"Dan kau pikir aku mau melakukannya?"
"Aku tidak tahu." Jenara melangkah lebih dekat. "Itulah sebabnya aku menawarkan kesepakatan, bukan perintah seperti yang biasa Reval lakukan. Tenang saja, aku akan memberikan bayaran yang pantas untuk nyawa seorang ketua klan mafia terbesar di Negara ini."
Dhana menyipitkan mata. "Apa?"
"Diriku." Jenara menjawabnya tanpa ragu sedikitpun,"Dan seluruh kekayaan keluarga Arsenalio."
Untuk sesaat, Dhana tidak mampu berkata-kata. Ia sungguh tidak menyangka sama sekali bahwa Jenara akan mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya untuk bisa membunuh Reval. Dhana sampai tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan wanita itu selama hidup sebagai istri Reval.
Melihat sikap diam Dhana, Jenara pun melanjutkan, "Anggap itu sebagai bayarannya. Bukankah itu sudah cukup setimpal untuk nyawanya?"
"Kau menawarkan hidupmu sebagai imbalan pembunuhan terhadap suamimu sendiri?"
"Bukan hidupku."
Tatapan Jenara berubah tajam. "Kebebasanku."
Ia menarik napas perlahan. "Jika Reval mati, aku akan bebas. Dan jika kau menginginkan kekayaan Arsenalio sebagai imbalannya, aku akan memberikannya."
Dhana menatap perempuan itu lama. "Kau sadar bahwa jika Reval tahu tentang percakapan ini, kau mungkin tidak akan sempat melihat matahari terbit besok?"
"Aku sudah tahu."
"Dan kau masih memintaku melakukannya?"
"Aku sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayangnya."
Jenara mengepalkan tangan. "Aku tidak takut mati." Kemudian ia menatap Dhana tepat di mata. "Tapi aku takut kalau Reval terus hidup."
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Dhana berubah. Ia datang sebagai Ardhana Vendra untuk menjalankan misi Negara. Untuk mengawasi, Untuk memastikan kekuasaan reval hancur sepenuhnya dari Negaranya. Namun siang itu, untuk pertama kalinya, seseorang menawarkan kepadanya alasan yang tepat untuk dirinya mempertahankan misi Negaranya yang sempat ia pertanyakan.
Dhana menatap Jenara tanpa berkedip. "Dan kalau aku menolak?"
Jenara tersenyum getir. "Kalau begitu kita kembali seperti semula."
"Seperti semula?"
"Aku menjadi alat baginya untuk meneruskan keturunan keluarga Arsenalio." Tatapannya turun sesaat. "Dan kau yang akan menanamkan benih keturunan itu di rahimku. Lalu kita selamanya akan berada dibawah kendali bajingan itu."
Dhana kembali terdiam, sebab semua yang Jenara katakan adalah kebenarannya. Jika ia tidak membunuh Reval malam ini, maka ia harus berakhir meniduri wanita dihadapannya saat ini. Lagi-lagi antara misi negara dan kehormatan seorang wanita membuat Dhana sulit memutuskan pilihannya.
Namun, membunuh Reval bukanlah perihal yang mudah untuk dilakukan. Penjagaan yang begitu ketat, anak buah kepercayaan yang selalu siap disisinya. Dhana sendiri mengakui kehebatan orang-orang itu. Jika pun ia nekad mencoba membunuh Reval, kemungkinan keberhasilannya hanya 20 persen dan 80 persennya ia sendiri yang akan mati.
Dari dalam mansion, jam tua berdentang seolah mengiringi setiap pemikiran Dhana saat itu.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Jenara berbalik hendak pergi. Namun sebelum langkahnya menjauh, suara Dhana menghentikannya hingga Perempuan itu menoleh.
"Jenara."
Dhana masih berdiri di tempatnya. "Aku belum mengatakan iya."
Jenara menatapnya beberapa detik. "Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tersenyum?" Karena untuk pertama kalinya malam itu, senyum Jenara terlihat tulus.
"Karena setidaknya kau tidak mengatakan tidak."
Setelah itu, ia berjalan meninggalkan halaman. Dhana tetap berdiri sendirian. Tatapannya mengikuti punggung Jenara hingga menghilang di balik pintu mansion.
Baru saat itu ia menyadari betapa berbahayanya kesepakatan yang baru saja ditawarkan kepadanya. Bukan karena Reval, bukan karena keluarga Arsenalio melainkan karena untuk pertama kalinya, Dhana mulai mempertimbangkan untuk mengkhianati orang yang selama ini menjadi pusat dari penyamarannya. Dan yang lebih berbahaya lagi… ia mulai mempertimbangkan untuk melakukannya demi Jenara.
“Haruskah aku membunuhnya malam ini? Atau harus tetap mempertahankan penyamaranku selama ini?” gumam Dhana dilanda kebimbangan.
Bersambung….