Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Semua warga yang sedang makan sampai berhenti mengunyah saking syoknya mendengar ucapan Akbar barusan.

Detik berikutnya, tawa keras Bu Tejo meledak memecah keheningan disusul tawa mengejek dari Pak RT Budi.

"Hahaha! Kamu ini makin hari makin gila ya Akbar karena kebanyakan ngayal!" tawa Bu Tejo sampai memegangi perut besarnya.

"Kamu pikir tanah seluas lima ratus meter persegi di pusat desa ini harganya semurah kacang rebus?"

"Total harga tanah ini tiga ratus juta rupiah anak muda, uang dari mana kuli panggul sepertimu bisa membayarnya?" tambah Pak RT Budi meremehkan.

"Jangankan tiga ratus juta, kamu pegang uang sejuta saja pasti gemetaran takut kerampokan."

Akbar hanya diam membiarkan dua orang tua rakus itu tertawa sampai puas menghinanya.

Dia perlahan merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak di berbagai sudut.

Akbar membuka aplikasi mobile banking di ponselnya dan memasukkan kata sandinya dengan sangat cepat.

"Silakan bapak dan ibu lihat sendiri layar ponsel retak saya ini," ucap Akbar menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Pak RT Budi.

Pak RT Budi awalnya melirik malas ke arah layar ponsel itu.

Namun detik berikutnya, mata tua Pak RT Budi membulat sempurna nyaris keluar dari kelopaknya.

Nafasnya mendadak tercekat seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekik lehernya dengan sangat kuat.

"I... ini... angka apa ini panjang sekali nolnya?" gagap Pak RT Budi dengan tubuh bergetar hebat.

Bu Tejo yang penasaran ikut memajukan wajahnya untuk mengintip layar ponsel tersebut.

Prang.

Piring kaca yang sedang dipegang Bu Tejo langsung jatuh meluncur dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai.

Di layar ponsel retak itu, tertera dengan sangat jelas tulisan Saldo Rekening Aktif.

Total angkanya adalah Rp 2.258.605.500.

Dua miliar lebih terpampang nyata di depan mata mereka tanpa ada kebohongan sedikit pun.

"Dua miliar rupiah? Mustahil, aplikasi ini pasti cuma gambar editan tipuan kan!" teriak Bu Tejo histeris dengan wajah sepucat mayat.

Akbar langsung menekan tombol perbarui saldo di layar ponselnya untuk membuktikan keasliannya.

Layar itu berkedip memuat ulang data dari bank pusat, dan angka dua miliar itu tetap muncul utuh menyala di sana.

"Kalau kalian masih menganggap ini editan, mari kita pergi ke bank di kecamatan sekarang juga untuk mencetak buku tabungannya," tantang Akbar dengan suara sangat dingin.

Tubuh Pak RT Budi langsung merosot lemas di atas kursi plastiknya.

Dia menatap wajah Akbar dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya, pandangan penuh ketakutan dan rasa hormat yang dipaksakan.

Orang miskin yang mereka hina seumur hidup itu sekarang memiliki uang tunai yang jauh lebih banyak dari total kekayaan seluruh perangkat desa digabungkan.

Warga kampung yang menonton adegan itu dari jauh hanya bisa menelan ludah mereka dalam-dalam tanpa berani berbisik sedikit pun.

"Jadi bagaimana Pak RT Budi? Tanah ini mau bapak jual ke saya atau tidak?" tanya Akbar memecah kesunyian yang mencekam itu.

"Sistem, aktifkan kekuatan Cincin Negosiasi Mutlak sekarang juga," perintah Akbar di dalam hatinya.

[Cincin Negosiasi Mutlak berhasil diaktifkan. Durasi efek tersisa: 30 menit.]

Wush.

Sebuah gelombang aura transparan yang tidak kasatmata tiba-tiba memancar kuat dari cincin perak di jari telunjuk Akbar.

Aura itu menyapu langsung ke arah wajah Pak RT Budi dan Bu Tejo yang sedang berdiri kaku.

Tiba-tiba saja, Pak RT Budi merasa pemuda di depannya ini berubah menjadi sosok bos mafia kejam yang nyawanya tidak boleh dibantah sama sekali.

Ada rasa tekanan psikologis yang sangat berat menghantam dadanya memaksa dia untuk menurut patuh.

"I... iya Den Akbar, tanah ini memang sedang butuh cepat saya jual," jawab Pak RT Budi mendadak mengubah panggilan akrabnya menjadi Den karena segan.

"Berapa harga pas yang bapak minta untuk kedua lahan ini?" tanya Akbar dengan suara rendah nan berwibawa.

"Tadi saya bilang tiga ratus juta Den, tapi karena ini Den Akbar yang beli, saya kasih dua ratus lima puluh juta saja."

Pak RT Budi menjawab dengan sangat patuh layaknya seorang bawahan yang sedang melapor pada bos besarnya.

Bu Tejo di sebelahnya juga hanya bisa mengangguk-angguk setuju dengan tatapan kosong tanpa berani protes sedikit pun soal harga.

Padahal biasanya Bu Tejo adalah makelar tanah paling cerewet yang tidak akan mau turun harga walau cuma seribu rupiah.

"Tiga ratus juta atau dua ratus lima puluh juta itu harga yang wajar," ucap Akbar sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.

"Tapi karena bapak sedang butuh uang cepat untuk kabur dari kejaran polisi kabupaten, saya rasa harganya harus menyesuaikan kondisi darurat."

Mendengar kata polisi disebut, wajah Pak RT Budi langsung pias tak berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!