Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Bawah Hujan
Awan mendung yang menggantung pekat di atas langit Surabaya akhirnya tumpah juga. Hujan deras mengguyur area pelataran kedai tempat Vino bekerja, menciptakan tirai air yang tebal dan suara gemuruh yang menenangkan.
Di sudut area outdoor kedai yang terlindung atap kanopi, Vino duduk berdua bersama Yunita. Dua cangkir teh melati hangat mengepulkan uap tipis di antara mereka. Hari itu, Yunita sengaja mampir sehabis mengurus dokumen pendaftaran kuliahnya.
"Kamu beneran kelihatan beda beberapa hari ini, Vin," buka Yunita seraya mengaduk tehnya pelan. "Lebih banyak diam kalau lagi nggak ada pelanggan. Ada masalah di kedai?"
Vino menatap rintik hujan yang menghantam lantai semen. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ada beban yang sudah terlalu berat untuk ia simpan sendiri.
"Yun..." panggil Vino, suaranya terdengar sangat serius hingga membuat Yunita menghentikan adukan sendoknya.
"Kenapa, Vin?"
Vino menatap mata Yunita dengan raut penyesalan sekaligus kejujuran yang utuh. "Aku mau minta maaf. Sekaligus mau jujur soal alasan kenapa kemarin aku nggak bisa membalas perasaanmu."
Yunita mengerutkan keningnya tipis, hatinya mendadak berdesir aneh. "Soal perasaanku pas perpisahan kemarin?"
"Iya," jawab Vino pelan. "Waktu itu aku bilang aku nggak bisa karena hati nggak bisa dipaksa. Dan itu jujur, Yun. Tapi ada alasan lain yang belum sempat aku ceritakan... karena aku takut menyakiti kamu."
"Alasan apa, Vin?" tanya Yunita ragu.
Vino menatap lurus ke dalam mata sahabatnya. "Aku suka sama seseorang. Dan orang itu... Mbak Vita."
Ting.
Sendok kecil di tangan Yunita terlepas, membentur tepi cangkir keramik. Suara hujan yang bising mendadak samar di telinga Yunita. Matanya melebar, menatap Vino seolah mencari tanda-tanda bahwa pemuda di depannya ini sedang bercanda konyol seperti biasanya. Namun, raut wajah Vino seratus persen bersungguh-sungguh.
"Mbak... Mbak Vita?" bisik Yunita memburu. "Kakakku?"
"Iya, Yun," sahut Vino tulus. "Sejak pertama kali aku melangkah masuk ke butik dan melihat cara Mbak Vita menjaga dirinya, cara dia sayang sama Keyra, sampai ketegangan dan luka yang dia sembunyikan rapat-rapat... hatiku tertambat di sana. Aku tahu ini terdengar gila. Usia kami beda lima belas tahun. Tapi rasa ini tumbuh gitu aja, Yun."
Yunita terdiam membatu. Rasa terkejut, bingung, dan kekecewaan berbaur di dadanya. Namun, melihat betapa jujurnya tatapan Vino, Yunita menyadari satu hal: binar mata Vino saat menyebut nama kakaknya adalah binar mata yang tak pernah ia lihat saat Vino bersamanya.
"Jadi... karena itu kamu sering ke butik?" tanya Yunita dengan suara bergetar. "Bukan cuma sekadar mengantarkan makanan?"
"Aku mau mengutarakan perasaanku secara resmi ke Mbak Vita, Yun," aku Vino jujur. "Aku mau bilang kalau aku serius, bukan cuma main-main atau kagum sesaat. Tapi aku tahu diri. Aku mau ngomong sama kamu dulu sebagai sahabatku sebelum aku jujur ke Mbak Vita."
Yunita menarik napas panjang, berusaha menata badai emosi di dadanya. Ia memandang Vino lama, lalu mengulas senyum getir.
"Vin..." suara Yunita melunak, bercampur rasa prihatin yang mendalam. "Kamu nggak perlu mengutarakan perasaan itu ke Mbak Vita."
Vino mengerutkan kening. "Kenapa, Yun? Kamu marah sama aku?"
"Bukan karena aku marah, Vin," pangkas Yunita cepat, menggelengkan kepalanya. "Tapi karena Mbak Vita sudah menolakmu bahkan sebelum kamu sempat mengutarakannya."
Vino terpaku. "Maksud kamu?"
Yunita menggeser duduknya mendekat, menatap Vino iba. "Mbak Vita itu kakakku, Vin. Aku tahu betul jalan pikirannya. Dua hari lalu, pas kamu pulang dari butik, Mbak Vita ngobrol sama aku. Dia menegaskan berkali-kali kalau dia cuma menganggapmu anak remaja yang kebetulan teman sekolahku. Dia menutup rapat-rapat semua pintu buat kamu."
Yunita menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Mbak Vita minta aku buat terus dekat sama kamu. Dia bilang, kamu itu seumuran sama aku, punya masa depan panjang, dan kamu lebih cocok memberikan perhatianmu buat cewek seumuran seperti aku. Mbak Vita sendiri yang minta kamu kasih kesempatan buat aku, Vin. Dia menolak keberadaanmu di hatinya sebelum kamu sempat melangkah."
Kata-kata Yunita menghantam dada Vino bagaikan gada berat. Ruang dengarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan gemuruh hujan di luar.
Evita telah membentengi dirinya begitu rapat. Bukan hanya menarik garis batas, wanita itu bahkan secara aktif berupaya mendorong Vino ke arah adiknya sendiri, menganggap perasaan hangat Vino hanyalah kekeliruan anak muda yang salah arah.
"Dia... beneran ngomong gitu?" bisik Vino, suaranya mendadak parau.
"Iya, Vin," jawab Yunita jujur. "Mbak Vita punya luka masa lalu yang terlalu dalam. Dia merasa dirinya nggak layak buat siapa-siapa lagi, apalagi buat pemuda delapan belas tahun yang baru mau mulai hidup kayak kamu. Jangan paksakan diri, Vin. Kamu cuma bakal melukai diri kamu sendiri dan makin bikin Mbak Vita ketakutan."
Vino menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya mengepal erat di atas meja, meremas kain celananya. Ada rasa sesak yang membuncah di dadanya. Bukan rasa marah, melainkan rasa iba yang teramat sangat pada wanita yang terus mengurung diri dalam sangkar ketakutan dan rasa tak layak.
"Aku nggak minta kamu membalas perasaanku lagi, Vin," tambah Yunita pelan, menyentuh punggung tangan Vino sejenak lalu menariknya kembali. "Tapi tolong, demi kamu dan demi Mbak Vita... dengarkan kata-kata Kakakku. Berhenti sebelum kamu makin terluka."
Hujan deras di luar semakin lebat, membilas kaca-kaca kedai. Di bawah deru air yang jatuh dari langit, Vino hanya bisa terdiam menatap cangkir tehnya yang mulai dingin, menyadari betapa tebalnya tembok yang harus ia tembus jika ingin menyelamatkan hati wanita yang dicintainya.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍