Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Brummm brummm brummm.

Suara bising mesin diesel memecah keheningan pagi di desa Sukamaju.

Tiga buah truk tronton berukuran besar berjalan beriringan memasuki jalan utama desa.

Debu jalanan beterbangan tinggi saat ban besar truk-truk itu menggilas aspal yang berlubang.

Truk-truk itu membawa tumpukan besi baja ringan, sak semen, dan batu bata ringan dalam jumlah yang sangat banyak.

Cittt.

Truk paling depan berhenti tepat di pelataran tanah kosong milik Akbar di sebelah balai desa.

Beberapa pekerja bangunan berseragam proyek langsung melompat turun dari bak truk dan mulai menurunkan muatan.

Warga desa yang sedang menjemur pakaian atau menyapu halaman langsung berkerumun menonton pemandangan langka tersebut.

"Ini mau dibangun apa lagi sih pagi-pagi sudah berisik bawa truk besar segala?" keluh seorang ibu berdaster merah.

"Katanya sih si Akbar yang beli tanah ini mau bikin toko besar bersaing sama pasar kecamatan," jawab ibu lainnya sambil berbisik.

"Gila benar anak itu, uangnya pasti dari hasil pesugihan siluman sungai, masa kuli pasar tiba-tiba jadi miliarder."

Akbar yang sedang berdiri mengawasi di bawah pohon mangga hanya tersenyum tipis mendengar gosip murahan itu.

Dia sama sekali tidak peduli dengan omongan orang miskin iri hati yang otaknya tidak bisa menerima kenyataan.

Tap tap tap.

Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah jalan raya.

Risa datang dengan membawa dua kantong plastik besar berisi es teh manis dan gorengan hangat.

"Bar, ini sarapan buat para tukang bangunannya sudah aku beli semua," ucap Risa sambil menyodorkan kantong plastik itu.

"Terima kasih banyak Mbak Risa, maaf ya pagi-pagi sudah aku repotkan suruh beli makanan," jawab Akbar mengambil kantong tersebut.

"Tidak apa-apa Bar, ini kan memang sudah jadi tugasku sebagai manajer tokomu sekarang."

Risa memandang takjub ke arah tumpukan besi baja ringan yang menggunung di atas lahan kosong tersebut.

"Kamu beneran mau bangun toko tiga lantai Bar? Dananya apa tidak kehabisan nanti?" tanya Risa agak khawatir.

"Tenang saja Mbak Risa, uangku masih sangat sisa banyak meskipun bangunan ini dicor pakai emas sekalian."

Akbar tertawa pelan melihat wajah Risa yang menggelengkan kepala keheranan.

"Aku sudah membayar lunas pemborong dari kota kabupaten kemarin sore."

"Mereka janji bangunan ini akan selesai dan siap pakai dalam waktu dua minggu karena dikerjakan siang dan malam."

Risa hanya bisa menelan ludah mendengar betapa gilanya cara Akbar menghamburkan uang demi kecepatan.

Dua minggu untuk membangun toko tiga lantai adalah waktu yang sangat mustahil kalau pekerjanya hanya sedikit.

Tapi Akbar menyewa lima puluh tukang bangunan profesional sekaligus untuk bekerja dengan sistem shift dua puluh empat jam.

"Pokoknya tugas Mbak Risa sekarang mulai cari info agen-agen barang murah di pabrik pusat Jakarta," perintah Akbar.

"Kita tidak akan mengambil barang dari tengkulak lokal lagi, kita potong jalurnya biar harga jual kita paling murah sekecamatan."

"Siap Bar, aku sudah mulai cari-cari nomor kontak agen besar dari internet tadi malam," jawab Risa antusias.

"Nanti sore aku coba telepon mereka satu per satu untuk minta daftar harga grosirnya."

Akbar mengangguk puas melihat kinerja Risa yang sangat cekatan dan bisa diandalkan.

Hari itu berlalu dengan sangat cepat diiringi suara ketukan palu dan raungan mesin pengaduk semen yang tidak berhenti sama sekali.

Pondasi toko mulai digali dan tiang-tiang besi mulai didirikan dengan kecepatan yang luar biasa.

Warga kampung yang awalnya hanya mencibir kini mulai diam dan menatap proyek itu dengan pandangan segan.

Mereka akhirnya sadar kalau Akbar benar-benar tidak sedang main-main dengan ucapannya.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mengganti langit desa dengan kegelapan malam yang pekat.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, para pekerja proyek tahap pertama sedang beristirahat tidur di tenda terpal.

Hanya tersisa beberapa lampu sorot kuning yang menyala menerangi area proyek bangunan tersebut.

Di sebuah gubuk reyot di desa sebelah, Juragan Haris sedang mabuk berat sambil menenggak minuman keras murahan.

Rumah mewahnya dan gudang utamanya sudah rata dengan tanah akibat kebakaran gila kemarin sore.

Hartanya ludes tidak bersisa, bahkan istrinya langsung minta cerai dan kabur membawa sisa perhiasan emas.

Kini tengkulak sombong itu hanya tinggal memakai kaos kutang kotor dan celana pendek compang-camping.

"Anak anjing Akbar... gara-gara dia semua hartaku habis dikutuk setan," racau Juragan Haris dengan mata merah menyala.

Dua preman bayarannya yang kemarin ikut ke tanah kosong sedang duduk di lantai tanah menemani bos mereka.

"Bos, kita sudah tidak punya uang lagi, gaji kami bulan ini bagaimana Bos?" tanya salah satu preman berambut keriting.

Prang.

Haris melempar botol kacanya ke dinding hingga pecah berkeping-keping.

"Otakmu cuma uang uang dan uang saja bodoh! Aku ini sedang bangkrut total!" bentak Haris kalap.

"Tapi aku tidak akan mati sendirian, kalau aku hancur, anak sialan itu juga harus hancur malam ini!"

Haris menatap kedua premannya dengan pandangan psikopat yang sudah kehilangan akal sehatnya.

"Kalian berdua pergi ke desa Sukamaju sekarang, bawa dua jerigen bensin ini."

Haris menendang dua jerigen plastik berwarna biru yang ada di sudut ruangan reyot itu.

"Bakar semua bahan material bangunan si Akbar malam ini juga sampai jadi abu!"

"Kalau kalian berhasil membakarnya, aku akan jual tanah sisa gudangku besok pagi dan uangnya kuberikan semua pada kalian."

Mendengar janji uang penjualan tanah, mata kedua preman itu langsung berbinar serakah.

"Siap Bos Haris! Urusan bakar membakar mah makanan sehari-hari kami," jawab preman keriting itu sambil berdiri.

Mereka berdua mengambil jerigen bensin itu dan berjalan keluar menuju motor butut mereka.

Vrooom.

Suara knalpot bocor membelah malam menuju desa Sukamaju dengan niat jahat yang membara.

Sementara itu, di kamarnya yang sepi, Akbar sedang duduk bersila di atas kasur.

Dia sama sekali belum tidur meskipun waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

Ding.

Layar biru holografik sistem tiba-tiba menyala terang di depan wajahnya memecah kesunyian kamar.

[Peringatan Darurat: Terdeteksi ancaman sabotase tingkat tinggi mengarah pada aset properti Tuan.]

[Dua orang berbekal cairan mudah terbakar sedang menuju ke lokasi proyek pembangunan toko Tuan.]

Akbar langsung membuka matanya lebar-lebar dan tersenyum sangat dingin membaca peringatan sistem tersebut.

"Haris keparat itu rupanya benar-benar sudah bosan hidup dan menantang maut," gumam Akbar pelan.

"Sistem, apakah Poin Hoki milikku cukup untuk membeli item jebakan dari toko kelas perak?"

[Saldo Tuan saat ini adalah 100 Poin Hoki.]

[Sistem merekomendasikan pembelian Item Gaib: Jebakan Ilusi Tembok Hantu seharga 80 Poin Hoki.]

"Tolong bacakan fungsi dari item tembok hantu itu sekarang," perintah Akbar tanpa membuang waktu.

[Jebakan Ilusi Tembok Hantu. Harga: 80 Poin Hoki.]

[Fungsi: Menciptakan ilusi visual dan fisik berupa dinding beton tak terlihat di area yang Tuan tentukan.]

[Efek: Musuh yang mencoba masuk akan terus-menerus menabrak dinding gaib dan tidak bisa mencapai targetnya.]

[Durasi: Ilusi bertahan selama tiga jam atau sampai Tuan mematikannya sendiri.]

"Sempurna, ini barang yang sangat bagus buat bermain-main dengan tikus jalanan," ucap Akbar tertawa pelan.

"Beli item itu sekarang juga sistem, dan langsung pasang mengelilingi area proyek tokoku."

[Transaksi berhasil. 80 Poin Hoki telah dipotong. Saldo Poin Hoki Tuan saat ini adalah 20 Poin.]

[Item Jebakan Ilusi Tembok Hantu telah otomatis terpasang melindungi area radius seratus meter lahan proyek Tuan.]

Akbar segera memakai jaket hitamnya dan berjalan keluar rumah menyalakan motor Scoopy barunya.

Dia tidak akan melewatkan tontonan komedi gratis ini secara langsung di lokasi kejadian.

Motor Akbar melaju pelan tanpa menyalakan lampu depan agar tidak ketahuan oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!