Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2, RATU BAYANGAN.
Perjalanan menuju Lythandar memakan waktu berbulan-bulan. Zhoo dan Kael melintasi pegunungan yang tertutup salju, menyeberangi sungai yang deras, dan menyusuri perbatasan kerajaan yang dijaga ketat. Di setiap perhentian, Zhoo melihat wajah benua Est yang sebenarnya: petani yang takut akan pajak, pedagang yang dirampok prajurit, anak-anak yang tumbuh dengan mendengar suara pedang beradu.
“Orang-orang tidak menginginkan perang,” ujar Zhoo suatu malam saat mereka duduk di dekat api unggun di tengah hutan. “Lalu mengapa raja-raja terus membuatnya?”
“Karena raja-raja hidup di menara gading,” jawab Kael sambil mengaduk api dengan ranting. “Mereka tidak melihat wajah rakyat. Mereka hanya melihat peta dan angka. Bagi mereka, ribuan nyawa hanyalah tinta untuk menulis nama mereka dalam sejarah.”
Di tepi sungai yang memisahkan Ironhold dan Airis, mereka bertemu dengan seorang gadis yang sedang duduk sendirian di atas batu besar, menyanyikan lagu kuno dengan suara yang selembut air dan sedih seperti perpisahan. Rambutnya hitam legam terurai di punggung, matanya berwarna hijau daun, dan di jari-jarinya terdapat noda tinta yang tidak pernah hilang. Itu Elara—putri seorang bangsawan yang dibunuh karena menentang kebijakan raja, kini hidup sebagai pengembara, menyanyi dan menyebarkan berita dari satu desa ke desa lain.
Suara nyanyiannya membuat hati Zhoo bergetar. Bukan karena indah, melainkan karena di dalamnya tersimpan kebenaran yang tidak berani diucapkan orang lain.
“Lagu apa itu?” tanya Zhoo saat gadis itu berhenti bernyanyi.
Elara menoleh, menatapnya dengan pandangan yang tajam namun penuh kelelahan. “Lagu tentang benua yang terluka. Lagu yang dilarang dinyanyikan di lima kerajaan. Kau ingin melaporkanku kepada prajurit, wahai pemuda?”
“Aku tidak melayani raja mana pun,” jawab Zhoo tenang. “Dan aku tidak takut pada lagu.”
Elara turun dari batu, mendekat. Ia melihat ke arah Kael, lalu kembali ke Zhoo. “Matamu penuh pertanyaan, tapi mulutmu jarang berbicara. Itu berbahaya di dunia ini. Orang yang terlalu banyak berpikir biasanya berakhir dengan kepala dipajang di gerbang kota.”
“Lebih berbahaya menjadi orang yang tidak berpikir sama sekali,” balas Zhoo.
Elara tersenyum—senyum pertama yang tulus dilihat Zhoo. “Kau berani, aku akui itu. Tapi keberanian tanpa arah hanya membuatmu menjadi sasaran empuk. Ke mana kalian pergi?”
“Ke Lythandar,” jawab Kael. “Kami berharap mendapatkan dukungan para penjaga hutan.”
Elara tertawa renyah namun penuh kepahitan. “Para penjaga hutan? Mereka tidak peduli apa yang terjadi di luar hutan mereka. Mereka menutup mata dan telinga, berpikir bahwa jika mereka diam, bahaya akan melewati mereka. Biar kuberitahu kalian sesuatu: tidak ada tempat yang aman di benua Est ini. Api akan datang ke mana-mana.” Namun setelah jeda sejenak, ia menambahkan: “Tapi… jika kalian benar-benar ingin mengubah sesuatu, maka aku ikut. Suaraku bisa membuka pintu yang tidak bisa dibuka dengan pedang atau pena. Dan laguku bisa menyatukan hati yang terpisah.”
Maka bertambahlah jumlah mereka menjadi tiga. Di siang hari, Elara menyanyi di pasar-pasar, mengumpulkan informasi dari percakapan orang-orang, sementara Zhoo mengamati dan mengingat setiap wajah, setiap kekuatan, setiap kelemahan. Di malam hari, Kael mengajari mereka sejarah dan strategi, sementara Elara mengajari Zhoo cara berbicara agar orang mendengarkan, cara membaca emosi, cara membedakan kebohongan dari kebenaran yang tersembunyi di balik mata.
“Kau memiliki kekuatan untuk memimpin orang, Zhoo,” kata Elara suatu malam saat mereka berjalan di bawah sinar bulan. “Tapi kau terlalu sering menahan dirimu. Seolah-olah kau takut jika orang-orang mengikutimu, mereka akan terluka.”
“Karena aku melihat apa yang terjadi pada mereka yang dipercaya orang,” jawab Zhoo pelan. “Pemimpin yang salah akan membawa orang-orangnya ke jurang. Aku tidak ingin menjadi penyebab kematian orang yang mempercayaiku.”
“Itu tandanya kau layak memimpin,” kata Elara lembut. “Hanya mereka yang takut gagal yang akan berusaha sekuat tenaga agar tidak gagal.”
Sementara itu, di istana batu Ironhold, Raja Vereon duduk di atas singgasana besinya yang dingin. Ia adalah raja terkuat di benua Est—tinggi, bertubuh kekar, wajah penuh bekas luka pertempuran, dan mata yang menyala dengan ambisi tak terukur. Di sebelahnya berdiri Rhaen, penasihat kepercayaannya, seorang pria berwajah halus namun dingin seperti ular, yang menarik tali kekuasaan dari balik tirai.
“Laporan dari perbatasan Airis,” kata Rhaen dengan suara lembut namun tajam. “Ada tiga pengembara yang bergerak dari desa ke desa. Pemuda desa, seorang penasihat yang melarikan diri, dan putri pemberontak. Orang-orang mulai berbicara tentang mereka. Beberapa menyebut mereka pembawa harapan.”
Raja Vereon tertawa, suara yang bergema di ruangan batu yang luas. “Pembawa harapan? Di zaman ini? Harapan adalah penyakit yang harus dimusnahkan sebelum menyebar. Kirimkan utusan. Undang mereka ke istanaku. Jika mereka bijak, mereka akan melayani aku. Jika tidak… biarkan kepala mereka menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani bermimpi terlalu tinggi.”