**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Serigala yang Lembut
Arkana tidak menciumku malam itu.
Dia hanya mengambil tanganku dari atas tuts piano, membalik telapak tanganku, lalu menyentuh kapalan di ujung jari.
"Terlalu banyak latihan," katanya.
Sentuhan itu biasa. Dia pernah mengobati lukaku, memeriksa demam, dan menggandengku menyeberang jalan ketika masih kecil.
Namun setelah tatapannya berubah, tidak ada lagi yang terasa biasa.
Aku menarik tangan. "Kita pulang."
Arkana membiarkanku pergi lebih dulu. Di dalam mobil dia kembali duduk berjauhan. Bayu berbicara tentang restoran dan harga anggur, tetapi aku hanya mendengar bunyi ibu jari Arkana menggesek cincin peraknya.
Seolah dia juga sedang berusaha menahan sesuatu.
***
Keesokan paginya, Arkana menungguku di tangga Vila Arkana.
Biasanya dia sudah pergi sebelum aku berangkat kuliah. Hari itu dia mengenakan kemeja putih tanpa jas. Ketika aku berjalan melewatinya, tangannya menyentuh bahuku.
"Sarapan."
"Aku terlambat."
"Kelasmu mulai satu jam lagi."
"Kau masih menghafal jadwalku?"
"Aku menghafal hal yang penting."
Tangannya tetap di bahuku. Ibu jarinya bergerak sekali, menyapu kulit di dekat tali blus. Gerakan kecil itu membuat seluruh punggungku kaku.
Aku menepisnya. "Jangan."
"Jangan apa?"
"Bersikap aneh."
"Aku hanya menyuruhmu makan."
"Kau tahu maksudku."
Arkana mendekat setengah langkah. "Jelaskan."
Aku tidak bisa. Mengucapkannya akan membuat perubahan itu nyata.
"Kau mengangkatku sebagai anak," kataku akhirnya. "Orang-orang akan menganggap apa pun selain hubungan itu menjijikkan."
"Orang-orang tidak hidup bersama kita."
"Itu bukan jawaban."
"Aku tidak pernah meminta kau memanggilku sebagai ayah."
"Tapi kau membesarkanku."
"Dan tidak pernah menyentuhmu melewati batas ketika kau belum dewasa."
Kalimatnya membuat wajahku panas.
"Sekarang aku sudah dewasa, jadi batas itu hilang begitu saja?"
"Tidak." Matanya turun ke bibirku. "Sekarang kau yang menentukan di mana batasnya."
Aku mundur.
Dia tidak mengejar.
"Sarapanmu di meja," katanya, lalu berjalan menuju ruang kerja seolah percakapan tadi tidak mengubah udara di seluruh rumah.
Aku tetap pergi ke meja makan. Bi Sum menyajikan bubur ayam tanpa daun bawang, persis seperti yang kusukai. Di sebelah mangkuk ada vitamin dan jadwal pemeriksaan kaki yang sudah dibuat Arkana.
Dia kembali dengan map di tangan.
"Kau masih mengatur semuanya," kataku.
"Mengatur jadwal dokter tidak sama dengan mengatur pilihanmu."
"Kalau aku memilih berkencan dengan seseorang?"
Map itu berhenti di atas meja.
"Siapa?"
"Tidak ada. Aku hanya bertanya."
"Kalau tidak ada, pertanyaannya tidak penting."
"Reza pernah mengajakku."
Arkana menarik kursi dan duduk. "Anak yang meminjam catatanmu?"
"Katamu pengawal hanya memastikan aku selamat."
"Mereka tidak perlu melapor. Kau sendiri pernah menyebut namanya."
Aku tidak ingat pernah melakukannya.
"Bagaimana kalau aku menyukainya?"
Arkana menyandarkan punggung. "Kau tidak menyukainya."
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena kau menyebut namanya untuk melihat reaksiku, bukan karena ingin membicarakan dia."
Sendokku jatuh ke mangkuk.
Arkana bangkit, puas meninggalkanku tanpa jawaban.
***
Di kampus, aku salah memainkan bagian yang sudah kuhafal sejak minggu lalu.
Ibu Clara mengetuk stand partitur. "Pikiranmu di mana?"
"Di rumah."
"Kalau masalah rumah ikut duduk di bangku piano, beri dia partitur sendiri. Jangan biarkan dia mengacaukan permainanmu."
Aku mengulang dari awal. Pada bagian tema gelap, wajah Arkana muncul lagi. Jemarinya di bahuku. Kalimatnya tentang batas.
Aku menekan tuts terlalu keras.
Ibu Clara menutup piano. "Pulang. Selesaikan apa pun yang membuatmu marah."
"Aku tidak marah."
"Kalau begitu kamu takut. Itu lebih buruk."
Dia mengambil pensil dan menulis dua kata di atas partitur komposisiku: `jujur` dan `pilih`.
"Karya yang baik tidak lahir dari orang yang terus bersembunyi," katanya. "Kamu tidak harus menceritakan rahasiamu kepada saya. Tapi saat bermain, pilih perasaan mana yang ingin kamu bela."
Aku menatap dua tema pada kertas. Melodi terang yang selalu kusebut milik Gilang. Melodi gelap yang tanpa sadar selalu berakhir pada nada rendah kesukaan Arkana.
Untuk pertama kalinya aku menyadari tema gelap itu mengambil lebih banyak ruang.
Aku pergi tanpa membantah.
Alih-alih pulang, aku meminta sopir mengantarku ke Club Aurora. Klub belum ramai. Di ruang VIP, Bayu duduk sendirian dengan sebotol kopi dingin dan sebuah foto lama.
Seorang perempuan muda berseragam polisi berdiri di sampingnya dalam foto itu. Rambutnya diikat, senyumnya sangat tipis, sedangkan Bayu tampak jauh lebih muda dan jauh lebih bahagia.
Dia cepat-cepat membalik foto saat melihatku.
"Mengintip barang orang itu tidak sopan."
"Menaruh foto di meja juga bukan cara terbaik menyembunyikannya."
Bayu terkekeh. "Kau mulai terdengar seperti Kana."
"Siapa dia?"
Senyumnya meredup. "Seseorang dari masa ketika aku masih cukup bodoh untuk percaya cinta bisa mengalahkan semua perbedaan."
"Apa yang terjadi?"
"Aku menyuruhnya pergi."
"Karena tidak mencintainya?"
Bayu memasukkan foto ke dompet. "Karena terlalu mencintainya."
Jawaban itu tidak masuk akal. Namun matanya memperingatkanku untuk tidak bertanya lagi.
"Kau datang mencari Mbak Tania?" tanyanya.
"Mencari tempat untuk tidak pulang."
"Kalau masalahmu Kana, sayangnya seluruh tempat ini juga milik dia."
Seolah dipanggil oleh namanya, Arkana masuk ke ruang VIP.
Kemejanya kini hitam. Wajahnya dingin.
"Sopirmu bilang kau mengubah tujuan."
"Aku tidak wajib melapor setiap menit."
"Benar. Tapi pengawalmu wajib."
Bayu berdiri sambil membawa kopinya. "Aku tiba-tiba ingat ada urusan yang sangat jauh dari ruangan ini."
Dia melewati Arkana, lalu berbisik cukup keras untuk kudengar, "Jangan membuatnya takut, Kana."
Pintu tertutup.
Aku dan Arkana tinggal berdua.
"Aku tidak menyukaimu," kataku sebelum dia berbicara.
"Aku tidak bertanya."
"Aku juga tidak akan pernah melihatmu sebagai pria yang bisa kucintai."
Arkana melepaskan jam tangan dan meletakkannya di meja. Gerakannya tenang, tetapi aku tahu itu tanda dia sedang menahan emosi.
"Kau datang ke tempatku untuk mengatakan itu?"
"Aku datang karena tidak ingin melihatmu."
"Namun kau memilih satu-satunya tempat yang pasti kudatangi."
Aku terdiam.
Arkana berjalan mendekat. Kali ini aku menahan diri agar tidak mundur. Tangannya terangkat, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telingaku, lalu berhenti sebelum menyentuh pipi.
Dia menunggu.
Aku bisa menolak. Dia telah mengatakannya sendiri, batas itu kini pilihanku.
Aku tidak bergerak.
Ujung jarinya menyentuh pipiku.
"Kau boleh membenciku," katanya. "Kau boleh lari, berteriak, atau mengunci semua pintu."
"Lalu?"
"Kau tetap akan menyukaiku."
Napas tersangkut di tenggorokanku.
Dia tidak menciumku. Sekali lagi, dia berhenti tepat sebelum batas yang belum berani kutentukan. Penantian itu lebih mengguncang daripada paksaan mana pun, karena aku tidak bisa menyalahkan tangannya, kekuasaannya, atau masa lalu kami.
Jika jarak itu tertutup, aku tahu akulah yang pada akhirnya harus memilih untuk tidak mundur.
Arkana menunduk sampai bibirnya nyaris menyentuh telingaku.
"Aku bisa menunggu sampai kau mengakuinya sendiri."