Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Di Sita

Rumah keluarga Wijaya yang dulu ramai, kini terasa dingin dan kosong. Tidak ada lagi suara tamu penting yang datang silih berganti. Tidak ada lagi pesta makan malam mewah, apalagi tawa penuh kebanggaan. Yang tersisa hanya rasa cemas, was-was dan takut.

Rahman duduk di ruang tamu dengan wajah muram. Kemejanya yang ia kenakan terlihat kusut dan, rambutnya berantakan.

Di atas meja, berserakan surat tagihan.

Dyah mondar-mandir dengan gelisah, sedangkan Lina duduk sambil memeluk lututnya sendiri.

"Man, kita harus bagaimana?" tanya Dyah untuk kesekian kalinya.

Rahman memijat pelipisnya kasar. "Aku sedang berpikir, Ma."

Tapi sebenarnya, ia sudah tidak punya apa pun untuk dipikirkan.

Semua rekening dibekukan. Semua aset disita bertahap, beberapa relasi bisnis mulai menagih utang pribadi. Bahkan, perusahaan nya sudah di akuisisi, dan itu belum cukup untuk menutup semua utang-utang nya.

"Aku harus mencari jalan. Tapi, bagaimana?" Rahman menarik rambutnya frustasi, berharap ada keajaiban. Sampai, suara ketukan pintu terdengar keras, membuat semua orang langsung menoleh.

TOK! TOK! TOK!

Dyah langsung duduk di sisi Rahman dengan wajah takut.

"Man, itu... "

Rahman menghela napas panjang sebelum berdiri membuka pintu.

Di depan, dua pria berpakaian formal berdiri bersama beberapa petugas lain.

"Selamat Siang, Pak Rahman."

Rahman langsung mengenali logo di map yang mereka bawa.

Ya, mereka dari pihak Bank.

"Ada apa lagi?" tanyanya lelah.

Salah satu pria membuka dokumen. "Kami datang terkait tunggakan pinjaman dan penyitaan aset."

Dyah langsung mendekat. "Penyitaan?"

"Benar," jawabnya. "Pinjaman sudah melewati batas jatuh tempo, Bu."

Rahman mengepalkan tangan. "Saya sudah bilang, beri saya waktu. Saya pasti akan membayarnya."

"Kami sudah memberi toleransi sebelumnya, Pak," ucap pria itu tetap sopan, namun dingin. "Dan sekarang, kami harus menjalankan sesuai prosedur."

Rahman mulai emosi. "Prosedur?" Ia tertawa sinis. "Setelah bertahun-tahun saya bekerja sama dengan bank kalian, sekarang kalian memperlakukan saya seperti ini?"

Pria itu tetap tenang. "Maaf, pak, kami hanya menjalankan tugas. Jadi, jangan mempersulit kami atau, kami akan menggunakan kekerasan."

Rahman ingin membantah lagi namun, ia tahu semua itu tidak ada gunanya.

"Berapa lama waktu yang kami punya?" tanya Dyah dengan suara gemetar.

"Maaf, Bu." Pria itu menutup mapnya. "Hari ini juga rumah ini harus dikosongkan."

Wajah Dyah langsung pucat. "Hari ini?!"

Lina berlari, memeluk Dyah dengan panik. "Nenek, aku tidak mau pergi."

Dyah hanya bisa menangis, sambil memeluk Lina.

"Mohon menyingkir," ucap pria itu.

Rahman langsung merentangkan kedua tangannya, mencoba menghalangi.

"Tunggu! Kalian tidak bisa begitu saja mengusir kami!"

Namun, para petugas mulai masuk dengan paksa. Mereka mendata barang, memeriksa ruangan.

"Apa yang kalian lakukan?" teriak Rahman. Kedua tangannya dicekal oleh petugas lain. "Berhenti kalian!" Rahman menangis, tubuhnya merosot ke lantai.

Dulu, rumah ini dibangun dengan penuh rasa bangga. Tapi kini, ia bahkan tidak punya hak untuk mempertahankannya.

Setelah selesai mendata, pria itu kembali menghampiri Rahman. "Kami beri waktu 15 menit. Silakan anda membereskan barang pribadi seperlunya."

Kalimat itu menusuk harga diri Rahman begitu dalam.

"Man, lakukan sesuatu! Mama tidak mau pergi dari rumah ini," isak Dyah.

Namun, Rahman hanya menatap kosong ke depan.

Apa yang bisa ia lakukan? Ia bahkan tidak ada mempunyai koneksi. Dia tidak punya kekuasaan dan uang.

Yang tersisa hanya nama dan, bahkan nama itu kini sudah hancur.

Rahman perlahan bangkit. "Ayo, Ma. Kita bereskan barang kita." Rahman berjalan gontai dengan tatapan kosong menuju kamarnya.

Beberapa saat kemudian, koper-koper akhirnya dikeluarkan. Hanya berisi pakaian seadanya, tidak lebih karena petugas mengawasi jangan sampai mereka membawa barang yang sudah menjadi bagian sitaan.

Saat melewati ruang tamu, Rahman berhenti sejenak. Tatapannya jatuh pada foto keluarga yang masih tergantung di dinding.

Foto saat semuanya masih terlihat sempurna. Ada dirinya, Dyah, Lina dan Camila.

Rahman mengepalkan tangannya erat saat tatapannya jatuh pada Camila. Wanita yang ia cintai justru membawa bencana.

Namun tiba-tiba, bayangan Mela muncul. Ia baru sadar jika foto keluarga saat bersama Mela tidak ada.

"Ma, siapa yang mengganti foto keluarga?" tanya Rahman.

"Siapa lagi? Tentu saja wanita brengsek itu," jawab Dyah, penuh emosi.

Rahman terdiam. Lalu, ia teringat sesuatu. "Tunggu sebentar, pak!" ia berlari ke kamar Lina, lalu membuka laci yang biasa Mela gunakan untuk menyimpan barang kesayangan Lina.

Ia menemukan banyak benda yang dulu putrinya sukai, masih terlihat bersih dan rapi. Lalu, pandangannya jatuh pada bingkai foto saat Mela menggendong putri kecil mereka.

Rahman mengambilnya, mengusapnya perlahan lalu mendekapnya. Kemudian, ia keluar dari kamar Lina. Pandangnya melihat sekitar. Bayangan Mela kembali muncul saat menyiapkan makanan, saat mengatur rumah, saat bermain dengan Lina.

Rahman menunduk. Air matanya perlahan jatuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa rumah besar ini benar-benar kosong tanpa Mela.

"Pak!" Suara petugas membuyarkan lamunannya. "Kami harus mengunci rumah ini. Jadi, silahkan keluar."

Rahman tersadar. Lalu, ia mengusap air matanya dan mengajak Ibu dan putrinya keluar dari rumah itu.

Mereka menoleh, menyaksikan pintu rumah megah keluarga Wijaya tertutup rapat. Dan, bersamaan dengan itu, kehidupan lama mereka ikut berakhir.

Di halaman rumah, Dyah menangis tersedu. Lina terlihat syok. Sedangkan Rahman hanya berdiri diam menatap rumah itu.

Mobil-mobil petugas mulai pergi, meninggalkan mereka bertiga di pinggir jalan dengan koper, tanpa tujuan.

Dan, untuk pertama kalinya dalam hidup keluarga Wijaya benar-benar tidak punya tempat untuk pulang.

1
Marina Tarigan
terima kasih Dino kamu beri tempat kerja buat Rahman agar dia bisa hidup layak bersama anak dan ibunya yv arogan itu kasihan juga begitu mirisnya hidup nya sekarang
Marina Tarigan
cepat pernikahan kalian dgn sederhana dulu biarkan pekerjaan sepeperti biasa dulu
Marina Tarigan
tuan itu buat wanita itu barang ya kalau sdh bosan singkirkan gitu wanita itu manusia ciptaan Tuhan sm nilainya dgn laki2 malahan wanita jauh lebih kuat dari laki2 kecuali jalang deperti camila pergi saja ke panti asuhan bantu2 disana bisa tempat mondok
LENY
HARUSNYA MELA BERSYUKUR DPT DINO LIHAT KETULUSAN DAN CINTANYA BUKAN MARAH 🙏❤
LENY
BENER KATA DINO KL HIDUP DENGAR OMONGAN ORANG KITA GAK AKAN TENANG DAN BAHAGIA🙏🙏
LENY
RAHMAN MENYESAL TIADA GUNA ITU AKIBAT PERBUATANMU SENDIRI🙏
Marina Tarigan
bantu mereka sebisamu tapi jgn dgn hatimu
LENY
SYUKURLAH NENEK LAMPIR MULAI SADAR🙈
LENY
BAGUS BARU TAHU RASA KAMU RAHMAN 😅😅😅
Marina Tarigan
Dyah dari dulu terus menghinamu Mel sdhlah lepaskan saja merela
LENY
DYAH NENEK LAMPIR KAN CAMILA MANTU KESAYANGAN DAN PILIHAN KAMU RASAKAN NIKMATI 😅😅😅😡
Marina Tarigan
lanjut kan saja
Marina Tarigan
pergi kehutan saja uang tak ada mau apa lagi
Marina Tarigan
bagus istri yg penurut bekekerja merawat kalian semua dgn kasih sayang kalian sakiti kalian puji2 wanita ular nikmayi daja bekas lilitan nya sesak kan terutama kamu Diah selalu menghina Meli wanita bodoh nikmati ulahmu
LENY
DUH RAHMAN MAU ADU DOMBA LAGI MELA SAMA DINO 🙈😡
LENY
KEREN ASUH DAN YATI. MELA MSH BERBAIL HATI KIRIM MAKANAN KE NENEK LAMPIR🙈
Marina Tarigan
itu akibat perbuatanmu satu keluarga menyiksa batin Mela selama ini nikmati saja
LENY
DINO TERUS TERANG AJA SAMA MELA JGN ADA RAHASIA DRPD MELA TAHU DARI ORANG LAIN. KASIH TAHU SIAPA KAMU SEVENARNYA DINO🙏
LENY
MEMANG MELA BODOH MAU BALIK KAGI SAMA KAMU BELUM DYAH SI NENEK LAMPIR BAIK KRN ADA MAUNYA IH AMIT2 MENDING SAMA DINO JAUH LEBIH BAIK DINO.❤
LENY
DASAR IBLIS TAK TAHU DIRI 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!