Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesenjangan yang semakin kentara
Azarin merunduk lemah, ia remat ujung gaunnya kuat.
Azarin akui.
Ia khawatir.
Tapi bukan berarti ia harus perduli. Itu semua pilihannya. Dan resiko yang harus Fajar tanggung.
Azarin tau betul batasannya. Hanya saja, ada rasa mengganjal dalam hati yang membuat otaknya terus memutar kejadian lama.
Tentang...
Rasa sesak dalam hatinya.
Dulu ia berjuang mati-matian memberikan yang terbaik untuk Fajar. Namun wanita lain dengan seenak jidatnya menyakiti, melukai bunga yang dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak akan memaksakan mu, Azarin. Setiap orang berhak ada di dalam hatimu. Itu naluriah, kerja otak yang tidak bisa di kontrol."
"Tidak!" sela Azarin, ia tatap Dean cemas.
"Aku akui memang aku khawatir, tapi aku sudah tidak perduli lagi padanya!"
Dean terpaku, iris matanya menyipit menatap jalanan yang cukup ramai malam itu.
Percaya?
Ia percaya.
Apapun yang Azarin ucapkan ia akan mempercayainya. Meski hati memberontak sekalipun.
Dean tersenyum tipis, "Bercanda, Azarin....aku tidak serius mengucapkannya." kekeh Dean.
Azarin menatap pria di sampingnya pias.
Ia tau betul Dean tidak sepenuhnya percaya. Ada batasan tertentu yang sengaja ia jadikan penghalang.
Azarin—hanya tak ingin membuatnya salah faham.
"Aku serius, Tuan. Tolong jangan marah padaku..."
Dean spontan terkekeh, satu tangannya terulur ke pucuk kepala Azarin, mengelusnya lembut.
"Aku tau...Azarin. Jangan nyalahin diri sendiri yah."
Azarin tersenyum haru. Ia tatap wajah teduh yang mulai kembali senyumnya.
"Makasih, tuan."
Meski ia tau tidak sepenuhnya Dean berucap. Setidaknya pria itu masih mau mendengarkannya.
Azarin merunduk, memilin jemarinya tanpa sadar. Ingatan masa lalu memang masih terngiang. Tapi ingatan akan tetap menjadi ingatan.
Ia akan terus berkerak, tapi semua akan melunak seiring waktu.
Azarin tatap slide wajah Dean dari samping.
Wajahnya yang proposional, hidung bangir, dagu sedikit runcing, leher tegak berotot, bulu mata panjang nan lentik, bibir sensual merah muda itu benar-benar pose pria yang begitu di dambakan semua wanita.
Azarin menatap ke bawah intens, tersenyum tipis.
Sekarang ia yakin dengan pilihannya.
Bahwa Dean, pasti akan membantunya menghilangkan kerak masa lalu dalam ingatannya.
Meski tidak berharap sekalipun, Azarin pasti bisa menghilangkannya perlahan-lahan.
"Iya, ini cuma tentang waktu."
***
Sesampainya di ballroom pesta, suasana sudah ramai.
Melihat Dean masuk, semua orang langsung berlari mengerumuninya. Tak perduli pria dan wanita, seolah topik utama di tempat ini adalah Dean.
"Akhirnya Tuan Dean datang. Ya ampun, anda memang selalu tampan, tuan."
"Kamu benar, selain paripurna. Tuan Dean adalah sosok yang paling dinanti kedatangannya di tempat ini."
Para tamu yang semula bertebaran kini sudah berkumpul di satu titik. Mengerumuni Dean.
Seolah pria itu bintang utama di tempat ini.
Sementara Azarin.
Dia bak wanita buangan dalam sekejap.
Tidak ada yang menyapanya. Atau sekedar menghargai kehadirannya.
Semua orang menatapnya sinis seolah dia tamu tidak di undang disini.
Tempat ini benar-benar tidak cocok dengannya.
Semua wanita dandan dan mengenakan gaun mewah. Mereka tampak sempurna bak bidadari di bumi.
Azarin semakin merasa kecil, ia yang semula di samping Dean kini tampak jauh dari pria itu.
Tentu karena di dorong-dorong oleh para wanita yang mendambakan di sisi Dean.
Azarin gigit bibir bawahnya kecil.
Apa yang aku harapkan.
Bukankah ini hal yang wajar untuk sekelas pengusaha sukses seperti Dean. Di dambakan oleh semua orang.
Azarin merunduk cepat, menjauh dari mereka semua, memilih memojok di samping meja penuh akan kue cantik yang tersusun rapi, dan juga gelas kaca yang di tata bak Castel bertingkat.
Azarin menatap kakinya nanar. Menggigit bibir bawahnya gusar. Genggamannya pada tas jinjing semakin menguat.
Mencekik.
Berada di dalam lingkungan mereka benar-benar mencekik. Ini seperti bukan tempatnya.
Yang sedari awal memang tidak pantas untuknya.
Ia tatap Dean dari kejauhan. Pria itu di sambut meriah, semua orang mengaguminya.
Sosok pebisnis muda yang nyaris menyaingi pebisnis senior yang memiliki pengalaman mumpuni. Semua orang tentu ingin belajar darinya.
Lagi-lagi Azarin harus merasakan kondisi tidak setara ini.
Dia seperti orang hilang di tengah lautan sosialita tingkat tinggi.
Orang rendahan yang memaksa masuk ke dalam dunia penuh gemilang kemewahan.
"Aku benar-benar tak sanggup menahan semua ini."
Tiba-tiba Azarin merasa haus.
Ia lirik minuman yang tertata bertingkat di sampingnya. Menatapnya ragu.
"Kalo aku ambil yang paling atas, mungkin tidak akan runtuh kan?"
Lagi-lagi ia harus melihat hal yang tidak ia inginkan.
Ia lebih suka minum dari ketel plastik yang dituangkan dalam gelas plastik. Lebih simpel, dan tidak ribet.
Namun sekarang untuk sekedar minum saja, ia harus merasakan gugup yang luar biasa.
Takut salah.
Takut melakukan tindakan bodoh.
Taku membuat Dean malu.
Takut di hina mereka yang semula mengabaikannya.
"Tolong jangan liat kesini."
Ia tatap mereka semua ragu. Ada yang sekilas menatapnya curiga, namun acuh dengan sendirinya.
Azarin menghela nafas lega.
Setidaknya mereka tak melihat keberadaannya penting.
Akhirnya ia tak jadi minum. Ia juga tak jadi makan meski kuenya terlihat menggiurkan. Memilih keluar menuju balkon pesta yang tak jauh dari sana.
Ia sandarkan dada dan sikunya pada pembatas balkon, menatap lekat panorama malam yang indah dibawah sana.
Akhirnya ia bisa bernafas lega. Setidaknya disini tidak ada yang melihat dirinya, atau mengkritik sikapnya.
Azarin tatap jari jemarinya yang saling memilin. Memanyun sedih.
Sekarang Azarin baru menyadari, seberapa jomplang dirinya dan Dean.
Ia yang biasa minum dengan gelas plastik 5 ribuan. Harus bersanding dengan pria yang minum dengan gelas kaca 100 ribuan. Benar-benar jomplang.
Rasa percaya dirinya semakin dipertaruhkan.
"Aku heran, padahal banyak wanita yang berkelas, cantik, dan jauh lebih dariku. Tapi kenapa dia milih aku?"
"Dilihat dari sisi manapun, aku tidak pantas di jajarkan dengan mereka."
Banyak tanda tanya besar di dalam hatinya tentang selera Dean.
Kekurangannya banyak.
Satu, dia janda.
Sementara Dean lajang dan masih perjaka.
Dia wanita miskin, cuma penjual warungan yang sehari omsetnya belum tentu dapat 1 juta.
Sementara Dean seorang pengusaha berkelas yang sehari omsetnya bisa ratusan juta.
Sesak.
Menyadari kesenjagannya dengan Dean saja dadanya sesak sekali.
"Jadi ini, wanita kampungan yang katanya bakal jadi istri Dean itu?"
Sindiran dari belakang mengejutkan Azarin. Wanita itu lantas berbalik.
Dimana di belakangnya. Seorang wanita dengan rambut blonde blasteran, menatapnya sinis.
Hanya dilihat dari sebelah mata saja sudah di pastikan wanita di depan Azarin berkelas. Sangat jauh kastanya di atas dirinya.
Charlotte berjalan mendekati Azarin dengan langkah bak model terkenal, sambil memutar-mutar jus dalam gelas kaca miliknya.
"Kenalin, aku Charlotte..."
Wanita itu tersenyum smirk seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Azarin.
Ia tergagap kecil. Memandang tangannya yang dipenuhi kapalan itu ragu. Membalas uluran gugup.
"A-Azarin."
"IUHH!" Pekik Charlotte tiba-tiba, menarik tangannya.
"Tanganmu kasar banget gila! Kamu pekerja kasar yah?!"
Azarin tarik tangannya cepat, merunduk lemah.
"Ma-maaf...." cicit Azarin gemetar.
Charlotte tatap Azarin rendah. Menggeleng tak percaya.
"Bagaimana bisa mantanku memilih kampungan kek kamu?!"
lanjuut thor.....