Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Hilang Tanpa Jejak

Tangisan yang pecah di sudut kamar perlahan reda ketika siang mulai berganti sore.

Tidak ada lagi air mata yang menetes di pipi Intan Saputri. Yang tersisa hanyalah mata yang sembap, tenggorokan yang terasa kering membakar, dan keheningan yang amat pekat di dalam dadanya.

Layar ponsel retak yang tergeletak di atas lantai semen kamar itu sudah mati total, kehabisan daya.

Namun, Intan tak lagi memiliki keinginan untuk menyalakannya kembali. Ia tahu betul apa yang akan ditemukannya di sana: hampa.

Pria bernama Rian itu telah menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak, meninggalkan Intan dengan sisa-sisa kehancuran jiwa yang tak berwujud.

"Intan?"

"Kamu di dalam, Nak?"

"Dari tadi siang dipanggil kok tidak keluar?"

"Ayo makan dulu."

Suara ibu mengetuk pintu kamar, memecah kesunyian yang mencekam.

Intan menelan ludah yang terasa pahit. Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, berusaha merapikan rambutnya yang berantakan sebelum melangkah pelan membukakan pintu.

Saat engsel pintu kayu itu berdecit, sosok ibunya berdiri di sana membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauk tempe goreng.

Senyum hangat di wajah wanita paruh baya itu mendadak surut saat menatap wajah anak gadisnya.

"Astaga, Intan!"

"Kamu kenapa, Nak?"

"Matamu sembap begitu..."

"Kamu sakit?"

Tanya Ibu cemas, menyentuh dahi Intan dengan telapak tangannya yang kasar.

Sentuhan lembut itu hampir saja merobohkan benteng pertahanan Intan.

Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk menumpahkan seluruh beban, memeluk ibunya, dan mengaku bahwa ia baru saja ditipu oleh pria jahat hingga kehilangan seluruh tabungannya.

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Melihat guratan lelah di wajah ibunya, Intan sadar.

Jika ia jujur, orang tuanya tidak hanya akan bersedih karena uang yang hilang, tetapi juga akan makin merasa bersalah dan khawatir akan masa depan anak gadisnya yang dianggap tak berdaya ini.

Warga desa juga pasti akan menjadikan kemalangannya sebagai bahan gunjingan baru yang tak ada habisnya.

"Intan tidak apa-apa, Bu."

"Cuma... kepala Intan agak pusing karena kurang tidur tadi malam."

Jawab Intan dengan suara parau yang diusahakan setenang mungkin.

Ibunya menatap Intan lama, mencoba mencari kebohongan di mata bulat anaknya.

Namun, yang ditemukannya hanyalah tatapan kosong yang amat dingin—tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari seorang Intan Saputri.

"Ya sudah, kalau pusing makan dulu, terus minum obat ya."

"Jangan mengurung diri terus di kamar."

Pesan Ibu pelan sebelum menyerahkan piring dan berjalan pergi.

Intan menutup pintu kamar kembali. Ia duduk di tepi kasur, menatap piring nasi di tangannya tanpa selera.

Setiap suapan terasa bagaikan pasir yang menyumbat tenggorokannya. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk mengunyah dan menelannya.

Ia tahu, jika ia ingin bertahan dari rasa sakit ini, tubuhnya tidak boleh lemah.

Malam kembali merayap turun. Desa Sukamaju kembali dibungkus oleh kegelapan dan suara jangkrik yang monoton.

Intan menyambungkan ponselnya ke kabel pengisi daya, lalu menyalakannya.

Harapan konyol yang sempat tersisa di hatinya benar-benar musnah saat ia memeriksa ulang semua akses komunikasi.

Nomor telepon Rian tetap tidak aktif. Akun aplikasi pencari jodoh itu telah benar-benar terhapus.

Bahkan aplikasi perpesanan yang dulu dipenuhi ucapan selamat pagi dan pujian manis kini bersih dari jejak pria itu, menyisakan deretan obrolan yang terputus di tengah jalan.

Pria itu telah merencanakan semuanya dengan sangat rapi. Ia adalah profesional dalam memburu mangsa-mangsa yang rapuh, mengambil apa yang ia inginkan, lalu lenyap bagaikan asap ditelan angin.

Intan memandangi foto dirinya di cermin rias tua yang menggantung di dinding.

Di dalam cermin itu, tampak bayangan seorang gadis bertubuh mungil, berwajah polos, dan bermata redup.

Gadis yang selama ini selalu takut pada bayangannya sendiri, takut pada penilaian orang lain, dan takut tidak ada pria yang mau menikahinya.

Gadis lugu itulah yang membuatmu mudah diinjak-injak, bisik sebuah suara dari dalam hatinya.

Dua juta rupiah. Bagi sebagian orang di kota besar, nominal itu mungkin hanya seharga satu kali makan malam di restoran mewah.

Namun bagi Intan, dua juta rupiah itu adalah harga dari kepolosannya yang telah mati. Itu adalah bayaran teramat mahal untuk sebuah pelajaran hidup yang menyadarkannya dari mimpi disiang bolong.

Rasa sakit hati akibat pengkhianatan itu perlahan memicu perubahan kimiawi di dalam jiwa Intan.

Rasa takut tidak menikah? Ketakutan ditinggalkan? Semuanya mendadak terasa begitu konyol dan tidak penting lagi.

Kehangatan dan kepolosan yang selama 23 tahun ini menyelimuti diri Intan perlahan membeku, membatu menjadi sebuah tekad yang dingin dan tajam.

"Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah meremukkan hidupku?" bisik Intan pada bayangannya di cermin.

Suaranya tidak lagi bergetar. Tidak ada lagi nada ragu atau ketakutan di sana. Tatapan matanya yang dulu redup kini menyala oleh kobaran dendam yang pekat.

Rian mungkin berpikir ia telah berhasil memperdaya seorang gadis desa yang bodoh yang hanya bisa menangis meratapi nasib di dalam kamar.

Rian berpikir korban kecilnya ini akan menyerah dan menerima kepahitannya begitu saja.Pria itu salah besar.

Intan melangkah menuju meja belajarnya. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil bercover hitam dan sebatang pena.

Dengan jemari yang mantap, ia menuliskan nama yang pernah digunakan pria itu, nomor rekening tujuan transfer, hingga detail kecil dari setiap cerita yang pernah diucapkan Rian—mulai dari jenis pekerjaan, istilah proyek yang digunakan, hingga ciri-ciri suara dan sudut wajahnya saat video call.

Ia tahu, mencari seseorang yang hilang tanpa jejak di era digital bukan perkara mudah, apalagi untuk seorang gadis desa yang tidak memiliki jaringan atau uang.

Tapi Intan tidak peduli. Jika ia harus mempelajari cara melacak jejak digital, jika ia harus keluar dari desa ini dan menginjakkan kaki di kerasnya kota besar, ia akan melakukannya.

Luka ini tidak membunuhnya, melainkan menempanya menjadi sosok yang baru. Gadis penakut yang terlupakan itu resmi mati malam ini.

Intan menutup buku catatan hitam itu dengan helaan napas panjang. Ia menatap ke luar jendela, menembus pekatnya malam desa.

"Tunggu aku, Rian."

Gumam Intan dingin.

"Aku akan menemukanmu, siapapun kamu yang sebenarnya."

Jangan lupa like, komen dan subscribe ☺

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!