Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN DI BALIK KACA GELAP

Mobil sedan hitam yang dikendarai Aris membelah jalanan utama ibu kota yang mulai lengang oleh lalu lalang kendaraan.

Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu, alunan musik jazz bernada rendah berputar pelan dari sistem audio, berusaha keras mencairkan keheningan tebal yang terasa terlampau pekat dan mencekam di antara mereka berdua.

Aris sesekali mengalihkan pandangannya dari jalanan, melirik penuh perhatian ke arah Ziva yang sedang menyandarkan pelipisnya pada kaca jendela yang dingin.

Wajah cantik gadis itu terus-terusan tertimpa bias cahaya lampu jalanan yang berganti-ganti secara ritmis, tampak begitu pucat pasi dan menyimpan jejak kelelahan mental yang teramat luar biasa.

"Ziv, kamu benar-benar yakin tidak apa-apa kalau aku mengambil penawaran penugasan dari Om Gibran ke Eropa Timur bulan depan?" tanya Aris dengan nada suara yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian, sementara jemari tangan kirinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Ziva yang teraba dingin bagaikan es.

"Kalau kamu sedikit saja merasa berat, takut kesepian, atau lebih membutuhkan keberadaanku di sini, aku bisa membatalkan dan menolak penugasan itu secara baik-baik.

Karier dan ekspansi bisnisku bisa menunggu momentum lain, tapi kebahagiaan dan kenyamanan dirimu jauh lebih penting di atas segalanya."

Ziva tersentak kecil di tempat duduknya, seolah-olah dirinya baru saja ditarik secara paksa dan kasar dari dalam dasar lautan pikiran gelap yang terus menyiksanya sejak peristiwa makan malam misterius di Menteng.

Ia menoleh perlahan, menatap lurus sepasang mata Aris pria tulus yang selama dua tahun belakangan ini selalu berdiri paling depan untuk menjadi benteng pelindung, penghibur, dan penopang jiwanya saat ia hancur berkeping-keping di negeri orang.

Rasa bersalah yang merayap pekat di dalam seluk-beluk dadanya makin menjadi-jadi, menyengat dan menusuk-nusuk tangkai hatinya hingga terasa teramat perih dan berdarah.

"Jangan ditolak, Ris," bisik Ziva dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan, berusaha setengah mati menyunggingkan senyuman tipis meski sudut-sudut matanya sudah terasa begitu panas dan memerah oleh genangan air mata yang hendak meledak.

"Itu adalah kesempatan emas yang sangat besar untuk pengembangan karier dan masa depanmu ke depan.

Om Gibran sama sekali tidak salah... peluang seperti ini sangat bagus untuk masa depan yang sedang kamu bangun.

Aku janji akan baik-baik saja dan menunggumu kembali di sini."

_Om Gibran sama sekali tidak salah._

Kalimat itu mengalir tajam bagaikan racun paling mematikan yang membakar lidahnya sendiri.

Ziva segera memalingkan wajahnya kembali menatap kegelapan di luar jendela mobil, memejamkan kedua matanya erat-erat untuk menghalau bulir bening yang nyaris meluncur turun.

Sentuhan terlarang dan penuh dominasi dari kaki Gibran di bawah meja makan dua hari lalu seolah masih tertinggal pekat di sana, menyisakan jejak gesekan api yang membakar kulit pahanya dan tak akan pernah bisa dibasuh atau disucikan oleh air apa pun di dunia ini.

Dua hari berselang, hujan deras berangin mengguyur kawasan perkantoran pencakar langit di sepanjang jalan Sudirman sejak sore hari.

Ziva melangkah keluar dari lobi utama gedung firma hukum tempatnya bekerja sembari merapatkan mantel dan memegang erat gagang payung hitam di tangannya.

Jarum jam tangan telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat, dan pelataran parkir gedung sudah mulai sepi dari aktivitas karyawan.

Namun, baru saja Ziva melangkah dua cangkul mendekati tepi trotoar untuk memesan taksi online, sebuah mobil SUV hitam besar berlapis kaca pekat dan berpelat nomor dinas militer bergerak perlahan mendatangi posisinya, lalu berhenti tepat memotong jalan di hadapannya.

Kaca mobil bagian belakang bergulir turun tanpa suara.

Dari dalam kegelapan kabin yang menyerbakkan aroma kayu cendana hangat dan kulit interior mahal, sosok Letnan Jenderal Gibran Mahendra menatapnya dengan intrik mata yang tajam dan mengunci.

Pria bertubuh tegap itu masih mengenakan seragam dinas harian militernya secara lengkap, dengan deretan tanda jasa serta bintang tiga emas yang berkilat menakutkan di kedua pundaknya.

"Masuk ke dalam mobil sekarang, Ziva," perintah Gibran singkat.

Suaranya terdengar sangat rendah, bernada mengintimidasi, dan sanggup mengalahkan riuh gemuruh suara air hujan yang menghantam permukaan aspal di sekitar mereka.

Ziva refleks mengambil langkah mundur, mempererat genggamannya pada payung hitam.

"Nggak mau, Om.

Saya bisa pulang sendiri menggunakan taksi."

"Saya tidak pernah menerima penolakan dalam bentuk apa pun, Ziva," potong Gibran dingin tanpa ada nada kompromi sedikit pun di dalamnya.

"Masuk sendiri secara sukarela sekarang juga, atau saya yang akan memerintahkan ajudan saya turun untuk memapah dan memaksamu masuk ke dalam.

Jangan pernah mencoba membuat pertunjukan dramatis di depan gedung kantormu sendiri."

Ziva mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih di gagang payung.

Ia tahu betul bahwa pria di hadapannya ini adalah tipe penguasa yang tak pernah main-main dengan setiap ucapan dan ancamannya.

Dengan dada yang bergemuruh hebat oleh perpaduan antara kemarahan murni dan rasa takut yang melumpuhkan, Ziva akhirnya membuka pintu belakang dan melangkah masuk ke dalam kabin.

Begitu pintu ditutup rapat dari luar oleh sang ajudan, hembusan hawa dingin dari AC mobil langsung menyergap kulitnya, bertolak belakang secara ekstrem dengan aura panas, pekat, dan dominan yang menguar dari tubuh pria di sampingnya.

Mobil SUV besar itu melaju membelah tirai hujan malam Jakarta.

Tanpa perlu diperintah dua kali, ajudan kepercayaan Gibran yang mengemudi di balik kemudi depan langsung menaikkan panel kaca pembatas kedap suara, menyisakan sebuah ruang privat yang mutlak, terisolasi, dan tanpa celah bagi sang Jenderal bersama sang tawanan cantiknya.

"Sebenarnya apa lagi yang Om mau dari hidup aku?!" sembur Ziva tanpa sanggup menahan ledakan emosi dan frustrasinya lagi.

"Om udah bikin pikiran aku hampir gila saat makan malam di rumah Om kemarin!

Om memanipulasi Aris secara licik, Om menyentuh paha aku secara tidak senonoh di depan matanya sendiri!

Apa Om benar-benar sudah tidak punya sedikit pun rasa nurani dan rasa malu sebagai manusia?!"

Gibran tidak langsung merespons cecaran tajam itu.

Pria itu justru menyandarkan punggung tegapnya yang lebar ke sandaran jok kulit, lalu perlahan memiringkan posisi tubuhnya menghadap lurus pada Ziva.

Jemari kekarnya bergerak santai dan luwes, membuka dua kancing teratas kemeja seragam dinas militernya yang terasa menyekat.

"Rasa nurani saya sudah mati total sejak tiga tahun lalu, Ziva.

Tepat di hari ketika kamu berjalan membelakangi saya dan membiarkan saya membusuk dalam pernikahan formalitas tanpa jiwa," ucap Gibran dengan nada suara tenang yang justru terdengar seratus kali lebih mengerikan daripada teriakan amarah.

"Setiap kali mata saya melihat Aris tersenyum menyentuhmu, berbicara dengan nada intim seolah-olah kamu adalah milik sahnya... rasa sakit dan cemburu di dalam dada saya ini seribu kali lebih membakar ketimbang timah panas yang pernah menembus tubuh saya di medan perang."

"Tapi Aris itu keponakan kandung Om sendiri!" jerit Ziva dengan suara tertahan yang pecah, bulir-bulir air mata akhirnya lolos membasahi kedua pipinya.

"Dia sangat mengagumi dan menghormati Om!

Dia menganggap Om sebagai sosok panutan hidup terbesarnya!

Bagaimana bisa Om tega bertindak selicik dan sekejam ini pada darah daging Om sendiri?!"

Gibran mengulurkan telapak tangannya yang lebar dan kasar.

Tanpa sedikit pun mengindahkan rontaan dan tepisan lemah dari Ziva, jemari kokoh sang Jenderal mengusap lembut lelehan air mata yang membasahi pipi halus gadis itu, lalu beralih membelai garis rahang Ziva dengan dominasi mutlak yang tak terbantahkan.

"Justru karena dia adalah keponakan saya, saya memilih untuk mengirimnya pergi jauh secara terhormat," bisik Gibran tepat di depan bibir Ziva yang gemetar.

Napas hangatnya yang beraroma mint dan sisa alkohol tipis langsung membakar seluruh indra penciuman Ziva hingga lunglai.

"Saya berikan dia fasilitas karier, masa depan yang cemerlang, dan nama besar keluarga.

Namun khusus untuk dirimu... saya tidak akan pernah sudi mengalah atau menyerahkannya pada siapa pun.

Bahkan jika saya harus bertarung melawan darah daging saya sendiri."

"Om benar-benar pria gila..." cicit Ziva parau, napasnya memburu tak beraturan saat jemari kasar Gibran bergerak turun membelai leher jenjangnya, berhenti tepat di atas titik denyut nadinya yang berdetak liar tak terkendali.

"Ya, saya memang sudah gila.

Dan yang jauh lebih gila lagi, kamu tahu betul bahwa tubuh dan hatimu tidak akan pernah bisa menolak kehadiran saya," jawab Gibran rendah dan penuh penekanan.

Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, pria itu menarik pinggang Ziva secara mendadak, mengangkat dan mensejajarkan tubuh gadis itu hingga terduduk pasrah di atas pangkuannya di dalam ruang sempit kabin mobil yang terus melaju membelah kegelapan malam dan lebatnya hujan.

Ziva menahan napasnya seketika saat dada tegap berseragam militer itu menempel sangat rapat pada dadanya.

Sebelum Ziva sempat melontarkan patah kata protes atau makian baru, bibir tebal Gibran sudah lebih dulu membungkamnya secara brutal melalui sebuah ciuman dalam yang sarat akan dominasi, keputusasaan, dan rasa kepemilikan mutlak.

Ziva sempat mencoba memukul dada tegap Gibran dan mendorong bahu kekar itu dengan sisa-sisa tenaganya, namun seluruh persendian tubuhnya meluruh dan melunak satu per satu saat pergerakan bibir dan lidah Gibran menuntut balasan yang teramat intens.

Sebuah desahan kepasrahan yang teramat memilukan akhirnya lolos dari celah bibir Ziva yang terbuka, tenggelam sepenuhnya di antara gemuruh badai hujan di luar sana dan pekatnya aroma dosa batin yang kian erat mengikat takdir mereka berdua.

Di balik pekatnya kaca gelap mobil dinas militer yang terus bergerak menembus keheningan malam kota Jakarta, sang Jenderal telah berhasil mengunci kembali mangsanya ke dalam sangkar emas.

Perang ini tidak lagi berbicara tentang siapa yang benar atau salah secara moralitas, melainkan tentang siapa yang akan tetap berdiri tegak saat seluruh aturan hukum dan etika runtuh menjadi debu.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!