Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Kelas akhirnya benar-benar selesai menjelang siang.

Suara kursi bergeser dan obrolan mahasiswa mulai memenuhi ruangan, tanda hari kuliah sementara berakhir.

Evelyn merenggangkan tubuhnya pelan. "Capek juga..."

Di sampingnya, Celine sudah lebih dulu membereskan barang-barangnya. Sesuai rencana, mereka akan makan siang bersama Devan.

Pesan lokasi restoran sudah dikirim sejak 10 menittadi. Tapi sebelum itu- Evelyn menoleh ke Celine.

"Eh, gue mau balik dulu sebentar."

"Hah? Mau ke mana?"

"Balikin hoodie."

Celine langsung mengangkat alis. "Ohhh..."

Nada suaranya langsung berubah. "Kael lagi?"

Evelyn langsung

menatapnya tajam. "Bukan 'lagi'. Ini terakhir."

Celine tersenyum lebar.

"Yaudah yaudah, gue ikut."

"Terserah."

Dan mereka pun berjalan menuju gedung Fakultas Bisnis, tempat Kael biasanya berada.

-----

Koridor kampus mulai lebih sepi karena jam makan siang.

Evelyn berjalan di depan, sementara Celine mengikutinya sambil sesekali melirik kiri-kanan, seperti detektif yang mencium sesuatu yang menarik.

Belum sempat sampai tujuan, langkah Evelyn tiba-tiba terhenti.

"..."

Celine hampir menabraknya. "Eh kenapa si?"

Evelyn tidak menjawab.

Matanya sudah fokus ke depan. Kael. Pria itu berdiri tidak jauh dari mereka, di dekat pintu gedung TI, sambil memegang ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang membalas pesan penting.

"Ehh itu dia!" Celine langsung berbisik heboh.

Evelyn hanya menghela napas. "Ya, gue lihat."

Ia lalu melangkah maju.

Celine mengikuti dari belakang, sudah siap dengan ekspresi penasaran tingkat tinggi.

"Mas Kael."

Panggilan itu membuat Kael mengangkat kepala. Sedikit terkejut. Namun ekspresinya terlihat datar.

"Oh." Matanya berhenti di Evelyn. "apa?"

Evelyn langsung mengangkat hoodie hitam di tangannya.

"Ini. Kemarin ketinggalan di apartemen gue."

Kael menatap hoodie itu sebentar. Lalu mengangguk kecil.

"Terima kasih." Singkat. Tanpa banyak reaksi.

Ia menerima hoodie itu dengan tenang, lalu memasukkannya ke tas yang ia bawa. Evelyn mengangguk.

"Oke, beres."

Namun sebelum mereka sempat beranjak, sebuah suara terdengar dari arah samping.

"Kael!"

Seorang gadis berlari kecil mendekat. Cantik. Rapi. Dan terlihat sangat percaya diri.

Lexa.

Wajahnya langsung cerah begitu melihat Kael. "Syukurlah ketemu juga, aku kirain kamu udah ke kantin duluan."

Nada suaranya manja tapi hangat. Namun Kael hanya menoleh sebentar.

"...Lexa."

"Iya!"

Lexa tersenyum lebar, lalu tanpa ragu langsung menggandeng lengan Kael.

Seolah itu hal paling normal di dunia.

"Ayo, kita makan bareng.

Kamu kan janji tadi."

Evelyn dan Celine langsung berhenti berjalan. Melongo.

Diam.

Celine bahkan refleks menutup mulutnya dengan tangan.

"Buset..."

bisiknya pelan. Evelyn juga diam. Matanya mengikuti tangan Lexa yang masih menggenggam lengan Kael.

Namun Kael... tidak menolak. Tidak menghindar. Hanya diam sebentar, lalu mengangguk kecil.

"Oke." Satu kata.

Lalu mereka berdua mulai berjalan melewati Evelyn dan Celine begitu saja. Lexa bahkan sempat melirik sekilas ke arah Evelyn, seperti memastikan posisi "bukan siapa-siapa". Kemudian pergi. Senyum kecil masih di wajahnya. Celine langsung menoleh ke Evelyn.

"..."

Lalu berbisik pelan.

"Sabar ya."

Evelyn menghela napas panjang. Matanya mengikuti punggung Kael yang menjauh.

"Kok sekarang mukanya kayak tembok ya..."

gumamnya pelan.

Celine langsung menyikut pelan.

"Tenang. Lo cuma balikin hoodie. Bukan rebut cowok orang."

Evelyn langsung menatapnya. "Siapa juga yang rebut?"

Celine menyeringai.

"Belum."

"ЕН!"

Dan keduanya pun kembali melanjutkan langkah, sementara di kejauhan- Kael dan Lexa sudah menghilang di keramaian kampus.

_____

Restoran yang dipilih Devan berada tidak terlalu jauh dari kampus.

Tempatnya nyaman, didominasi warna kayu hangat dengan jendela kaca besar yang menghadap taman kecil. Suara musik pelan mengalun di udara, cukup untuk menghilangkan kebisingan kota tanpa mengganggu percakapan.

Saat Evelyn dan Celine masuk, Devan sudah lebih dulu menunggu di salah satu meja dekat jendela.

Begitu melihat mereka, pria itu langsung berdiri.

"Hei."

"Ehh, udah lama nunggu?" tanya Celine.

"Nggak kok. Baru sekitar lima menit."

Evelyn ikut duduk.

"Syukurlah. Gue kira telat."

Devan tertawa kecil. "Kalau telat juga nggak masalah."

Entah kenapa Celine

langsung melirik bergantian antara Devan dan Evelyn.

Tatapannya sangat mencurigakan.

Evelyn langsung menyipit.

"Lo kenapa?"

"Nggak kenapa."

"Jelas-jelas ada kenapanya."

"Nggak."

"Kalo nggak kenapa jangan senyum kayak setan nemu tumbal."

"Buset."

Devan yang melihat itu hanya tertawa pelan. Tak lama kemudian pelayan datang membagikan menu. Masing-masing mulai memesan makanan.

Setelah pesanan dicatat dan pelayan pergi, suasana menjadi lebih santai. Mereka membahas kelas, tugas yang baru diberikan pagi tadi, sampai keluhan mahasiswa pada umumnya.

"Serius deh," keluh Evelyn sambil menyandarkan dagu di meja. "Gue baru masuk kuliah beberapa hari, tapi rasanya udah pengen wisuda."

"Itu namanya belum adaptasi."

"Itu namanya gue capek."

"Bedanya?"

"Sama aja sih."

Celine langsung ngakak.

Devan menggeleng geli.

"Aneh banget cara berpikir lo."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Gapapa."

Percakapan mereka berlanjut sampai makanan datang. Aroma makanan langsung membuat mata Evelyn berbinar.

"Anjir enak banget baunya."

"Jaga mulut," tegur Celine.

"Ehm. Astaga, aroma makanannya sungguh menggugah selera."

"Nah gitu."

Mereka mulai makan.

Untuk beberapa menit suasana tenang.

Sampai akhirnya Devan meletakkan gelasnya.

Ekspresinya berubah sedikit lebih serius. Membuat Evelyn yang sedang mengunyah kentang goreng perlahan ikut berhenti.

"Ngomong-ngomong..." ucap Devan.

"Hm?"

"Besok soal kejadian di toilet."

Tubuh Evelyn langsung menegang. Jantungnya seperti kehilangan satu detak. Suasana restoran yang hangat mendadak terasa lebih dingin.

Devan menyadari perubahan ekspresinya. "Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan."

"..." Evelyn terdiam.

"Besok kemungkinan kamu perlu datang ke ruang sidang BEM."

Evelyn berkedip. "Ruang... sidang?"

"Iya."

"Kenapa kedengarannya kayak gue mau diadili?"

"Bukan diadili."

"Yakin?"

"Yakin."

"Seratus persen?"

Devan menahan tawa.

"Seratus persen."

Celine menyikut lengan Evelyn. "Tuh kan."

"Tapi kenapa harus ke sana?"

Devan menjelaskan dengan nada tenang.

"Karena kampus nggak mau kejadian kemarin menyebar dulu sebelum penyelidikan internal benar-benar selesai."

Evelyn mengangguk pelan.

Masuk akal. Sangat masuk akal.

Justru karena masuk akal itulah dia makin gugup. Karena kejadian itu nyata.

Suara benda tajam menancap di pintu. Bercak merah di lantai. Langkah kaki yang mendekat. Dan seseorang yang hampir membuka biliknya.

Ingatan itu membuat perutnya kembali terasa tidak nyaman. Devan melanjutkan.

"Kamu cuma diminta menceritakan apa yang kamu lihat dan dengar."

"Apa yang gue lihat dan dengar..."

"Ya." Evelyn menunduk menatap piringnya.

Kalau dipikir-pikir... Yang ia lihat sebenarnya tidak banyak. Hanya sepasang sarung tangan. Sepatu hitam. Sedikit bercak darah.

Dan aura mengerikan yang bahkan sekarang masih membuat bulu kuduknya berdiri.

"Eve?" Suara Celine membuyarkan lamunannya.

Evelyn mengangkat kepala.

Mendapati sahabat barunya sedang menatap khawatir.

"Lo nggak apa-apa?"

"Hah?"

"Wajah lo pucat."

Evelyn memaksakan senyum kecil. "Gue cuma... inget lagi kejadian kemarin."

Celine langsung meraih tangannya di bawah meja. "Gue temenin."

Evelyn menoleh.

"Hm?"

"Besok."

Celine mengangguk mantap. "Gue ikut."

"Serius?"

"Serius."

"Tapi kalau lo ada kelas?"

"Bolos bentar."

"Jangan ngajarin hal buruk."

"Ini namanya solidaritas."

Evelyn tidak bisa menahan senyum tipisnya. Untuk pertama kalinya sejak kejadian di toilet, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Devan yang melihat interaksi mereka ikut tersenyum.

"Kalau begitu besok lebih gampang."

"Kenapa?"

"Karena saya nggak perlu khawatir kamu kabur."

Evelyn langsung menunjuk dirinya sendiri. "Loh? Kok asumsi pertama saya kabur?"

"Karena kelihatannya begitu."

"Fitnah."

"Yakin?"

"..."

Hening. Celine langsung tertawa keras.

"Dia nggak bisa bantah!"

"Diam lo."

Meskipun suasana kembali mencair, jauh di dalam hati Evelyn masih ada rasa gelisah yang belum hilang.

Besok. Ia harus kembali membicarakan kejadian itu.

Kembali mengingat sosok misterius yang hampir menemukannya di dalam toilet.

Dan entah kenapa...

Perasaannya mengatakan satu hal. Kejadian itu belum benar-benar selesai.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!