Indonesia
NovelToon NovelToon
Love In The Crossfire

Love In The Crossfire

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil mogok di depan Good Resto

Jalan tol menuju kota sudah lengang ketika Dawin Prasetya menyetir mobilnya sendirian, jaket loreng masih menempel di badan, ransel besar berisi perlengkapan tempur teronggok di jok belakang. Tiga bulan terakhir dia habiskan di perbatasan, menjalankan operasi yang bahkan tidak boleh dia ceritakan detailnya ke siapa pun, termasuk ke ibunya sendiri yang selalu menunggu kabar dengan cemas setiap kali putranya berangkat tugas.

Baru saja dia keluar dari tol, mesin mobilnya tiba-tiba tersendat, asap tipis mengepul dari kap depan. Dawin menepikan mobil tersebut di bahu jalan, mengumpat pelan sambil turun memeriksa kondisi mesin yang mengepul tersebut.

"Mati total ini kayaknya," gumamnya, mengetuk-ngetuk kap mobil dengan telapak tangan, mencoba menilai kerusakan tanpa alat yang memadai.

Dia mengeluarkan ponselnya, mencari bengkel terdekat, dan menemukan satu yang berjarak sekitar lima ratus meter dari lokasinya berhenti. Setelah menghubungi montir tersebut dan menunggu kedatangannya, mobil Dawin akhirnya diderek pelan-pelan menuju bengkel kecil di pinggir jalan, meninggalkan Dawin sendirian menunggu di trotoar dengan perut yang mulai keroncongan setelah perjalanan panjang tanpa sempat makan siang.

Tidak jauh dari bengkel tersebut, sebuah papan nama sederhana bertuliskan "Good Resto" menarik perhatiannya, cat kayu yang sudah agak pudar namun terawat, dengan jendela kaca yang menampilkan suasana dalam restoran yang hangat meski sederhana. Dawin melangkah masuk, lonceng kecil di atas pintu berdenting menandai kedatangannya.

Di dalam restoran tersebut, suasana terasa begitu tenang, meja-meja kayu tertata rapi dengan taplak kotak-kotak sederhana, aroma masakan rumahan menguar dari dapur di belakang. Hanya ada beberapa orang di dalam—seorang pria paruh baya berbadan tegap yang tampak sedang mengurus catatan pesanan di meja kasir, seorang wanita yang sibuk di dapur, dan seorang remaja laki-laki yang sedang menyapu lantai sambil sesekali melirik ponselnya.

"Selamat datang, Mas. Silakan duduk di mana aja," sapa pria paruh baya tersebut dengan ramah, meletakkan pena yang tadi dia pegang. Dia adalah Tuan Lidar, pemilik sekaligus koki utama restoran tersebut, seorang pria yang meski usianya sudah kepala lima, masih memancarkan kehangatan khas seseorang yang menikmati pekerjaannya.

"Terima kasih, Pak," jawab Dawin, memilih meja di dekat jendela, meletakkan ranselnya di kursi sebelah sebelum duduk.

Remaja laki-laki yang tadi menyapu lantai segera menghampirinya dengan sebuah buku menu kecil. "Ini menunya, Kak. Mau minum apa dulu?"

"Es teh aja, makasih," jawab Dawin sambil tersenyum, memperhatikan remaja tersebut yang meski masih muda, punya sikap yang cukup sopan dan cekatan. Remaja tersebut adalah Zein, anak bungsu keluarga Lidar, baru kelas dua SMA namun sudah terbiasa membantu orang tuanya di restoran setiap pulang sekolah.

"Bapak, satu es teh buat meja nomor tiga," seru Zein ke arah dapur, sebelum kembali ke pekerjaannya menyapu lantai yang belum selesai.

Dari dapur, seorang wanita paruh baya keluar membawa gelas es teh tersebut, senyumnya begitu ramah ketika menyerahkan minuman tersebut ke meja Dawin. Dia adalah Bu Misa, istri Tuan Lidar, yang selain mengurus dapur juga sering turun tangan melayani pelanggan langsung ketika restoran sedang tidak terlalu ramai.

"Mau pesen apa, Mas? Hari ini ada spesial sup ayam kampung, enak banget lho, apalagi abis perjalanan jauh kayaknya," tawar Bu Misa dengan ramah, mengamati penampilan Dawin yang masih mengenakan seragam militer, tas ransel besar khas tentara tergeletak di samping kursinya.

"Boleh, Bu, satu porsi sup ayam kampung sama nasi," jawab Dawin, mulai merasakan kelelahan yang begitu menumpuk setelah perjalanan panjang dari markas menuju kota tersebut.

"Mas ini tentara ya? Baru pulang tugas?" tanya Bu Misa dengan penuh rasa ingin tahu, sudah terbiasa berbincang ramah dengan berbagai pelanggan yang mampir ke restoran mereka.

"Iya, Bu. Baru aja pulang dari perbatasan," jawab Dawin singkat, tidak ingin membahas terlalu detail mengenai tugas yang baru saja dia selesaikan tersebut.

"Wah, hebat ya, masih muda udah jadi tentara. Pasti orang tuanya bangga banget," ujar Bu Misa sambil tersenyum, sebelum akhirnya kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan tersebut.

Beberapa menit kemudian, Bu Misa kembali membawa semangkuk sup ayam kampung yang mengepul, aromanya begitu menggugah selera setelah perjalanan panjang yang membuat Dawin lupa kapan terakhir kali dia makan dengan layak. Dia mulai menyantap sup tersebut dengan lahap, merasakan kehangatan yang begitu berbeda dari ransum militer yang biasa dia konsumsi selama bertugas.

"Enak banget, Bu," ujar Dawin di sela-sela suapannya, memberikan pujian yang tulus atas masakan tersebut.

"Alhamdulillah kalau suka, Mas. Itu resep dari Bapaknya Zein, udah turun-temurun dari kakeknya dulu," jawab Bu Misa dengan bangga, sekilas melirik ke arah Tuan Lidar yang masih sibuk di meja kasir.

Zein, yang sudah selesai menyapu lantai, duduk sejenak di kursi dekat kasir, mengobrol ringan dengan ayahnya sambil sesekali membantu menghitung struk pesanan hari itu. Suasana restoran tersebut begitu tenang dan hangat, jauh dari bayangan kekacauan apa pun, sebuah ketenangan yang sayangnya tidak akan bertahan lama lagi.

Belum sempat Dawin menghabiskan separuh mangkuk supnya, lonceng pintu kembali berdenting, kali ini dengan gerakan yang jauh lebih kasar, hampir membuat kaca pintu tersebut pecah. Seorang pria berbadan kekar dengan tato di lengan kanan melangkah masuk dengan langkah yang penuh ancaman, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sudah begitu familiar bagi Tuan Lidar—ekspresi yang selalu membawa masalah setiap kali muncul.

"Pak Lidar, udah bulan ini lho. Mana jatahnya?" ujar pria tersebut dengan nada mengancam, berjalan langsung menuju meja kasir tanpa peduli dengan pelanggan lain yang sedang makan di dalam restoran tersebut.

Tuan Lidar menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kelelahan yang sudah lama dia tahan. "Piku, bulan ini bisnis lagi sepi. Saya belum bisa kasih penuh."

"Nggak ada alasan, Pak Tua. Saya nggak peduli sepi atau rame, yang penting jatah saya harus utuh," bentak pria bernama Piku tersebut, menggebrak meja kasir dengan keras hingga beberapa struk berhamburan jatuh ke lantai.

Zein, yang duduk tidak jauh dari kejadian tersebut, langsung berdiri dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran, namun tidak berani mendekat lebih jauh, mengingat pengalaman sebelumnya betapa berbahayanya berurusan dengan pria tersebut jika sedang emosi.

"Piku, tolong ngerti dulu situasi kami. Nanti bulan depan pasti saya usahain lunas," ujar Tuan Lidar dengan nada memohon, mencoba menenangkan situasi yang mulai memanas tersebut.

Namun permohonan tersebut justru membuat Piku semakin geram, tangannya terkepal sebelum akhirnya melayangkan pukulan keras ke wajah Tuan Lidar, membuat pria tua tersebut terhuyung dan menabrak rak piring di belakangnya, menciptakan suara pecahan yang begitu keras menggema di seluruh ruangan restoran tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!