Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi belum terlalu tinggi ketika Amira keluar dari kamarnya. Ia berniat mencari dapur untuk mengambil air minum, tetapi baru beberapa langkah menyusuri lorong, suara percakapan dari lantai bawah membuat langkahnya terhenti.

"Kalau memang sudah diputuskan, kenapa Tuan tidak memberi tahu kami sejak awal?" Suara seorang laki-laki terdengar cukup keras.

Amira mengernyit. Ia berjalan mendekati pagar pembatas lantai dua dan mengintip ke bawah. Di ruang tengah, Kaizar sudah berada di sana.

Pria itu duduk di kursi rodanya dengan wajah tenang. Di hadapannya berdiri dua orang laki-laki yang belum pernah Amira lihat sebelumnya. Salah satunya mengenakan setelan hitam, sedangkan yang lain membawa sebuah map tebal.

"Keputusan itu tidak membutuhkan persetujuan kalian," jawab Kaizar.

Laki-laki yang lebih tua tampak tidak puas. "Ini bukan sekadar keputusan pribadi, Tuan. Pernikahan dengan keluarga Wijaya akan membawa banyak masalah."

Amira langsung menegang. Mereka sedang membicarakan dirinya.

"Bisnis keluarga mereka sedang bermasalah," lanjut pria itu. "Sekarang mereka justru menyerahkan putrinya kepada Anda. Bukankah sudah jelas mereka hanya ingin menyelamatkan diri?"

Kaizar tidak menjawab sedangkan laki-laki itu semakin berani.

"Dan perempuan itu..." Ia berhenti sejenak. "Dia bukan pilihan yang tepat untuk keluarga Abraham."

Amira menggenggam pagar tangga. Entah kenapa, mendengar kalimat itu membuat dadanya terasa sesak. Ia sudah terbiasa dianggap tidak cukup baik oleh keluarganya sendiri.

Ternyata di rumah ini pun ia belum benar-benar diterima.

"Sudah selesai?" Suara Kaizar terdengar datar.

Pria itu tidak melanjutkan perkataannya lagi.

"Kalau tujuan kalian datang hanya untuk membicarakan calon istriku seperti sedang membicarakan barang yang baru dibeli, kalian bisa pulang."

Kedua pria itu saling pandang. "Tuan, kami hanya mengkhawatirkan—"

"Aku tidak membutuhkan kekhawatiran kalian."

Kaizar memutar kursi rodanya.

"Tapi keputusan ini akan memengaruhi banyak orang."

"Kalau begitu, biarkan aku yang menanggung akibatnya."

Salah satu pria itu tampak hendak membantah, tetapi Kaizar lebih dahulu melanjutkan.

"Dan satu lagi." Ia berhenti. "Jangan menilai seseorang hanya dari keluarga tempat dia dilahirkan."

Amira membeku. Kaizar mengangkat wajah.

Tatapannya tiba-tiba mengarah tepat ke tempat Amira berdiri, lalu mata mereka bertemu. Amira refleks mundur selangkah, namun sayangnya ia sudah terlambat. Kaizar sudah melihatnya.

"Amira."

Kedua tamu itu ikut menoleh. Amira tidak punya alasan untuk bersembunyi lagi. Ia turun perlahan dari tangga.

"Maaf. Aku tidak sengaja mendengar."

Kaizar tidak terlihat marah. "Turunlah."

Amira melanjutkan langkah. Begitu sampai di bawah, salah satu pria tadi memandangnya dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan itu membuat Amira merasa sedang diperiksa.

Kaizar menyadarinya. "Kenapa melihatnya seperti itu?"

Pria tersebut segera mengalihkan pandangan. "Tidak ada."

"Bagus."

Kaizar menatap kedua tamunya. "Kalau tidak ada urusan lain, kalian bisa pergi."

Mereka akhirnya menyerah. Setelah kedua orang itu meninggalkan rumah, suasana kembali tenang. Amira berdiri beberapa langkah dari Kaizar.

"Kenapa kamu membelaku?"

Kaizar mengangkat alis. "Aku tidak membelamu."

Amira mengerutkan kening. "Tadi kamu bilang—"

"Aku hanya tidak suka orang mengambil kesimpulan tentang seseorang sebelum mengenalnya."

Jawaban itu membuat Amira terdiam. Kaizar mengarahkan kursinya menuju ruang makan.

"Kalau kau lapar, sarapan sudah disiapkan."

Amira masih berdiri di tempat. "Kamu selalu seperti itu?"

Kaizar berhenti. "Seperti apa?"

"Kalau ada orang yang membicarakan sesuatu tentangmu, kamu tidak menjelaskan apa-apa."

Kaizar menoleh. "Untuk apa?"

"Supaya mereka tidak salah paham."

"Orang yang sudah memutuskan untuk salah paham tidak akan berubah hanya karena aku menjelaskan."

Amira tidak langsung menjawab. Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa, ia merasa Kaizar sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam, tentang hidupnya juga tentang bagaimana semua orang sudah memiliki cerita sendiri mengenai dirinya.

Keji, dingin, berbahaya dan monster. Tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Amira akhirnya berjalan mengikuti Kaizar. Namun sebelum sampai di ruang makan, ia teringat sesuatu.

"Kaizar."

"Ya?"

"Terima kasih."

Kaizar menatapnya. "Untuk apa?"

Amira tersenyum kecil. "Karena tadi."

Kaizar hanya mengangguk. "Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang seharusnya memang dilakukan."

Amira terdiam sejenak, bibirnya tersenyum perlahan untuk kali pertamanya sejak tinggal di rumah itu, ia mulai menyadari sesuatu. Mungkin pria yang akan menjadi suaminya bukanlah pria yang selama ini diceritakan orang-orang.

Tetapi jika begitu... Amira bertanya-tanya, mengapa semua orang begitu takut kepadanya? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Kaizar sampai membuat seluruh dunia melihatnya sebagai monster?

Pertanyaan itu belum sempat terjawab. Karena tepat saat mereka memasuki ruang makan, seorang pria berpakaian hitam masuk tergesa-gesa dari pintu utama.

"Tuan Kaizar."

Kaizar menoleh. "Ada apa?"

Pria itu menatap Amira sebentar sebelum kembali menghadap Kaizar. "Maaf mengganggu, Tuan. Ada seseorang dari keluarga Wijaya yang datang."

Alis Kaizar sedikit terangkat. "Siapa?"

Pria itu ragu. "Ricki."

Langkah Amira langsung terhenti. Nama itu membuat seluruh tubuhnya menegang.

Ricki datang ke sini? Untuk apa? Sementara Kaizar hanya menatap wajah Amira tanpa berkata apa-apa. Lalu terdengar suara pintu utama kembali dibuka.

Seseorang baru saja masuk ke rumah itu. Dan orang tersebut adalah laki-laki yang kemarin masih menjadi bagian terbesar dari hidup Amira.

Kini, untuk pertama kalinya, Ricki datang mencarinya ke rumah pria yang akan menjadi suaminya.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!