Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Gemuruh hujan malam yang mengguyur distrik tengah Verona Heights tak sanggup menembus ketebalan dinding beton Gedung Arsip Lama, sebuah bangunan netral bertembok tebal yang sejak puluhan tahun lalu disepakati sebagai area tanpa senjata oleh Tiga Faksi Utama.
Di dalam aula beratap kubah yang temaram, bau kertas tua, lilin lebah, dan cerutu mahal bercampur menjadi satu udara yang berat dan menyesakkan.
Di ujung meja bundar berukir pualam, tiga figur penguasa dunia bawah Verona Heights telah menduduki kursi mereka masing-masing.
Di sebelah kiri, Don Sergio Rossi duduk bersandar kaku. Pria paruh baya bertubuh tambun itu mengepalkan jemarinya yang dipenuhi cincin emas tebal di atas meja.
Kumis tebalnya melengkung ke bawah bersama napasnya yang memburu, sementara mata liciknya yang kecil berkilat penuh kepanikan dan kemarahan yang tertahan.
Tiga pelabuhan utamanya baru saja diratakan dengan tanah oleh armada tempur Dominic dua hari lalu.
Di sebelah kanan, Vincent Valenti duduk bersedekah menyilangkan kaki panjangnya. Pria muda flamboyan itu mengenakan setelan jas kustom sutra merah marun seharga puluhan ribu dolar, lengkap dengan jam tangan berlapis platina yang membiaskan pendar lilin.
Jemarinya yang halus sibuk memainkan korek api gas berlapis emas, meski ketegangan di sudut matanya menyingkapkan bahwa kepala konsorsium keuangan itu sedang menghitung potensi kerugian bisnis pencucian uangnya jika perang terbuka ini berlanjut.
Dan di tengah-tengah mereka, duduk Madam Vane.
Wanita paruh baya yang tadinya dikenal hanya sebagai kepala pengurus rumah tangga Blackwood Manor itu kini duduk kaku dalam balutan gaun hitam berdada tinggi.
Wajahnya yang pucat dan keriput tampak seperti dipahat dari batu karang tanpa emosi, tanpa rasa takut, dengan pandangan mata yang begitu keras dan dingin hingga mampu membekukan keberanian siapa pun yang berani menatapnya.
Sebagai perwakilan resmi Faksi Vane, faksi penjaga rahasia tua dan silsilah konsorsium kehadirannya memberikan bobot hukum yang sangat mematikan di meja persidangan netral ini.
Klak.
Pintu besi ganda aula terbuka lebar.
Dominic Blackwood melangkah masuk dengan gaung sepatu kulit yang bergema tegas di atas lantai pualam. Jas panjang hitam melengkapi aura pembunuh yang menguar pekat dari tubuhnya.
Di sampingnya, Evangeline melangkah anggun dengan bahu kanannya tersangga rapat di balik mantel wol tebal, wajah gadingnya tampak pucat namun terpancar ketenangan yang tak tergoyahkan sebagai Nyonya Blackwood.
Pandangan mata ketiga pimpinan faksi langsung mengunci pada pasangan suami istri tersebut.
"Dominic," Don Sergio Rossi menggeram rendah, suaranya serak beradu dengan sisa asap cerutu di tenggorokannya. Pria tambun itu menegakkan tubuh gemuknya, menunjuk Dominic dengan jemarinya yang gemetar. "Kau menghancurkan tiga pelabuhanku! Kau membantai lima puluh anggotaku di dermaga enam tanpa persetujuan Konsorsium!"
Dominic tidak langsung menjawab. Pria itu menuntun Eva untuk duduk di salah satu kursi kayu berukir di sisi meja, sebelum ia sendiri berdiri tegap di belakang kursi istrinya, menatap ketiga pimpinan faksi dengan iris kelam yang amat dingin.
"Kau mengirim penembak jitu ke Villa Mistral untuk melubangi dadaku, Sergio," desis Dominic, suaranya begitu rendah namun sanggup menghentikan detak jantung di ruangan itu.
"Dan peluru orangmu menembus bahu istriku. Penghancuran tiga pelabuhanmu hanyalah uang muka dari utang darah yang harus kau bayar."
"Itu bukan orangku!" bentak Don Sergio, kumis tebalnya bergetar hebat seraya menghempaskan telapak tangannya ke atas meja pualam.
Bam!
"Aku memang membencimu, Blackwood! Tapi aku tidak cukup bodoh untuk meluncurkan serangan udara menggunakan amunisi berstempel organisasiku sendiri di tanah netral milikmu!"
"Sergio benar, Dominic," sela Vincent Valenti dengan suara halusnya yang teratur. Pria flamboyan itu menghentikan ketukan korek api emasnya, menatap Dominic dan Eva secara bergantian.
"Helikopter yang digunakan dalam serangan itu terdaftar atas nama anak perusahaan logistikku. Tapi aku tidak pernah menandatangani manifes penerbangan itu. Seseorang telah memalsukan otoritas keuanganku dan mencuri amunisi Sergio dari gudang transit."
Vincent memajukan tubuhnya, mengusap dagunya yang tercukur rapi. "Seseorang sengaja menggunakan aset Faksi Rossi dan Faksi Valenti untuk memicu bentrok terbuka dengan Blackwood. Jika kita saling membantai malam ini, siapa yang paling diuntungkan?"
Ruangan itu mendadak hening.
Eva menahan napasnya secara halus di balik mantel wolnya. Mata hazelnya bergerak cermat menyapu ekspresi ketiga pimpinan faksi tersebut satu per satu.
Don Sergio Rossi tampak terlalu panik dan emosional untuk menjadi seorang master strategi. Vincent Valenti terlalu berhitung soal margin kerugian finansial untuk mengambil risiko perang terbuka.
Pandangan Eva akhirnya bertumpu pada Madam Vane.
Kepala pengurus rumah tangga manor itu masih duduk sangat kaku. Jemari Madam Vane yang kurus melingkar kencang pada gagang tongkat kayu hitam di pangkuannya.
Tidak ada kepanikan pada wajah batu karangnya hanya ada tatapan penuh rahasia yang teramat dalam.
"Madam Vane," suara Eva meluncur halus dan tenang, memecah keheningan ruangan. "Sebagai kepala penjaga silsilah dan perwakilan Faksi Vane... apakah Anda melihat pola ini pernah terjadi sebelumnya?"
Madam Vane perlahan memutar kepalanya, menatap Eva dengan mata tuanya yang tajam dan tak berdasar.
"Pola ini tidak pernah berubah sejak empat belas tahun lalu, Nyonya Evie," jawab Madam Vane, suaranya parau dan dingin.
"Pola yang sama yang merobohkan klinik perdamaian di St. Jude 2012. Pola yang sama yang menewaskan Lady Vivienne dan Clara Cross."
Nama Clara Cross yang diucapkan oleh Madam Vane membuat dada Eva bergetar hebat, namun ia berhasil mempertahankan raut wajahnya tetap tenang dan tanpa celah.
"Apa maksudmu, Vane?!" desak Don Sergio dengan raut wajah makin pucat. "Siapa yang menggerakkan pola ini?!"
Madam Vane menegakkan punggungnya, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai pualam sekali.
"Ada tangan di atas Tiga Faksi," kata Madam Vane lambat-lambat, pandangannya mengedar menatap Sergio, Vincent, dan Dominic secara bergantian.
"Tangan yang memegang segel perak Ordo Lima Duri. Seseorang yang memiliki akses ke buku induk pendiri sebelum Konsorsium ini dipecah."
Dominic memicingkan matanya tajam. "Sosok berinisial G.B."
Begitu inisial G.B. meluncur dari bibir Dominic, reaksi di meja persidangan itu meledak secara instan.
Don Sergio Rossi mendadak tersedak ludahnya sendiri, matanya yang kecil membelalak melotot penuh horor. Wajah tambunnya yang tadinya merah oleh kemarahan berubah menjadi pucat pasi.
Eva menyerap setiap perubahan reaksi mikro tersebut dengan ketajaman analisis Ghost Rose. Don Sergio tahu siapa pemilik inisial G.B. itu. Mereka mengenal nama itu dan mereka teramat sangat ketakutan padanya.
"Dari mana... dari mana kau mendengar inisial itu, Dominic?!" suara Don Sergio bergetar hebat, tidak ada lagi sisa kepemimpinan atau keangkuhan penguasa pelabuhan pada dirinya.
"Inisial itu tertera pada lembar otorisasi terakhir manifes St. Jude 2012," sahut Dominic dingin, melangkah satu tapak lebih dekat ke meja. "Siapa dia, Sergio? Siapa pemilik inisial G.B. yang membuat kalian berdua gemetar seperti pecundang?"
Don Sergio menggelengkan kepalanya dengan cepat, peluh dingin mulai membasahi dahinya yang lebar. "Jangan sebut nama itu di sini! Jangan pernah cari tahu tentang inisial itu jika kau masih ingin bernapas, Blackwood. Orang itu... orang itu bukan manusia, dia adalah-"
Bang! Bang!
Sebelum Don Sergio sempat menyelesaikan kalimatnya, suara tembakan berperedam berat memecah kaca kubah Gedung Arsip Lama.
Tiga butir peluru kaliber tinggi menembus tepat di dada dan leher Don Sergio Rossi. Darah segar menyembur deras dari mulut dan luka tembak sang penguasa pelabuhan, membasahi meja pualam putih di hadapan mereka.
"Penembak jitu! Tiarap!" terikat Vincent Valenti seraya melempar tubuhnya ke balik kursi kayu.
Dominic menyambar bahu Eva dalam pecahan detik, merangkul tubuh istrinya dan merebahkannya ke lantai di balik meja pualam tebal seraya melindungi kepala Eva dengan seluruh tubuhnya.
Brrrrrrtttttt!
Hujan tembakan otomatis dari arah atap kaca memudarkan keheningan aula netral tersebut! Dalam hitungan detik, Don Sergio Rossi tewas terkulai di atas mejanya, membawa rahasia identitas asli di balik inisial G.B.
Di tengah kepulan asap mesiu dan teriakan pengawal yang menerobos masuk, Madam Vane masih duduk kaku di kursinya, tidak bergeming satu milimeter pun meski peluru menyayat dinding di belakang kepalanya. Mata wanita tua itu menatap lurus ke arah ceceran darah Don Sergio di atas meja.
Eva yang berada di dalam pelukan hangat Dominic menatap darah segar yang mengalir di pualam. Batinnya berteriak penuh geram dan ketegangan.
Mereka membunuh Don Sergio tepat sebelum ia menyebutkan namanya.
Siapa pun sosok berinisial G.B. ini, dia memiliki mata dan telinga di dalam setiap sudut Verona Heights dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mengungkap identitas aslinya.
...Bersambung......