Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : Kehadiran yang Menggetarkan Langit

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari peresmian kelulusan telah tiba. Para murid beserta orang tua mereka berbondong-bondong datang ke akademik, mengenakan pakaian terbaik, wajah mereka penuh kebanggaan dan haru. Di antara kerumunan itu, Rebeca dan Kael juga hadir, berdiri dengan hati penuh haru menantikan momen kelulusan Angel. Keluarga Angel pun tak lama kemudian berpapasan dengan Rey beserta ibunya. Mereka saling menyapa dan mengobrol dengan hangat, berbagi cerita tentang masa tiga tahun yang telah berlalu. Tak lama berselang, Nagi pun datang bersama orang tuanya dari Kelompok Guardian. Mereka menyapa dengan ramah keluarga Angel maupun keluarga Rey, menambah suasana kehangatan di acara itu.

Acara pun resmi dimulai. Kepala Akademik, Ellion, naik ke atas panggung dengan pakaian kebesaran akademik. Ia memulai sambutannya dengan sihir yang memancarkan cahaya gemerlap dan suara yang bergema di seluruh penjuru aula, menyambut semua yang hadir. Setelah sambutan, Ellion mulai memanggil nama-nama murid berbakat yang telah menunjukkan prestasi luar biasa selama tiga tahun masa latihan.

Pertama disebutkan adalah Valerian, yang dikenal luas di kalangan murid sebagai pejuang pedang — namun banyak juga yang menyebutnya penyihir, karena pedang yang dipegangnya selalu diselimuti petir yang menyambar-nyambar setiap kali ia bertarung. Kemudian disebut Rey, yang dikenal sebagai seorang pembunuh bayangan yang mengerikan — kecepatannya begitu tinggi hingga gerakannya tak bisa dilihat oleh mata siapa pun, dan ia mampu mengalahkan senjata-senjata berat musuh hanya dengan sebilah belati kecil di tangannya. Satu per satu nama murid berbakat dipanggil, hingga akhirnya...

"Dan murid yang paling terkenal di antara kalian semua..." suara Ellion terdengar tegas dan penuh kekaguman, "...Angel."

Aula seketika berbisik-bisik. Angel kini dikenal oleh seluruh murid — bukan karena keburukan, melainkan karena hal yang mustahil. Gadis yang dulu tidak bisa melakukan apa pun, yang bahkan tidak mampu memegang pedang atau mengeluarkan sihir sedikit pun, kini di ujian terakhir mampu melawan siapa pun dengan kekuatan yang dahsyat.

"Angel, majulah ke depan untuk menerima penghargaanmu," panggil Ellion.

Rebeca dan Kael tersenyum bangga dari tempat mereka berdiri. "Ayo, Angel... jangan gugup, Nak. Kau pasti bisa," bisik Rebeca dengan mata berkaca-kaca.

Angel menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya, lalu melangkah maju menuju panggung penghargaan. Di sana, ia melihat Rey dan Nagi yang juga telah menerima penghargaan mereka. Keduanya tersenyum padanya, lalu mengangguk hormat.

"Selamat, Kapten!" ucap mereka berdua serempak dengan senyum lebar.

Angel tersenyum tulus menyambut mereka, lalu berdiri di podium untuk memulai pidatonya. Namun baru saja ia akan membuka mulutnya, suara seseorang memotong dari tengah kerumunan orang tua.

"Cih! Apa-apaan ini!" seru seorang pria paruh baya dengan pakaian mewah dan wajah angkuh. "Kenapa anak dari keluarga miskin yang tidak punya pangkat apa-apa justru diberi penghargaan paling tinggi? Sedangkan anak-anak kami yang berasal dari keluarga terpandang dan punya pengaruh di mana-mana, justru tidak mendapatkannya?! Tidak adil!"

Suara itu memicu keributan. Banyak orang tua lain yang ikut bersuara, mengejek dan menentang keputusan itu. Pengawal-pengawal akademik bergegas turun untuk menenangkan mereka, namun jumlah mereka terlalu banyak dan kewalahan menghadapi keributan itu.

Angel berdiri terpaku di podium. Hatinya terasa sakit sekali. Ia ingin segera mundur, turun dari tempat itu dan pulang secepat mungkin. Di sisi lain, Rebeca dan Kael mendengar ejekan itu dengan wajah yang berubah dingin dan mengerikan. Hawa amarah seakan mulai meluap dari tubuh mereka — rasa tidak terima begitu besarnya hingga mereka hampir kehilangan kendali.

Ejekan terus berdatangan. Ada yang mengejek status keluarganya, ada yang menuduh Angel hanya masuk ke sana karena punya orang dalam yang membantu. Namun kata-kata yang paling menghancurkan hati Angel datang ketika salah satu orang tua tertawa mengejek:

"Di mana ayahmu, hahaha?! Apakah ayahmu itu orang yang begitu lemah sampai tidak berani menunjukkan wajahnya sendiri di depan anak kandungnya sendiri?!"

Para orang tua yang jahat itu tertawa terbahak-bahak, suara tawa mereka menggema di seluruh aula. Namun tawa itu tiba-tiba terhenti seketika.

Angin kencang tiba-tiba bertiup masuk, disertai hawa dingin yang menusuk tulang, melewati di antara para orang tua dan murid itu. Suasana berubah seketika — dari suara tawa menjadi keheningan yang mencekam. Wajah mereka yang tadinya mengejek kini berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan seakan nyawa mereka akan melayang sesaat lagi.

Berbeda dengan mereka, Rebeca dan Kael justru merasakan hal yang berbeda. Mereka saling berpandangan dengan mata terbelalak. Mereka mengenali aura ini... siapa lagi kalau bukan dua orang yang paling mereka sayangi dan hormati — Lazark, dan di sebelahnya... suami Rebeca, Sang Dewa Penghancur.

Dua sosok berjalan melintasi tengah aula dengan langkah yang berat namun berwibawa, seakan tanah di bawah mereka ikut bergetar. Kehadiran mereka begitu dahsyat hingga siapa pun yang berada di dekat mereka merasa sesak napas. Angel pun merasakannya — hatinya berdebar kencang. Di atas panggung, Ellion menatap kedua sosok itu dengan pupil yang melebar tak percaya, bergumam pelan: "Tidak mungkin... dia datang..."

Kedua sosok itu terus berjalan hingga tepat berdiri di hadapan Angel. Lalu salah satu dari mereka melangkah maju sedikit, berbalik menghadap para orang tua dan murid dengan senyuman yang mengerikan.

"Hahahahaha... ternyata kalian sudah bosan hidup ya? Hahahaha!" suaranya terdengar penuh tawa namun kejam dan mengerikan. "Bukankah saat pertama kali kita bertemu dulu, aku sudah bilang... jangan pernah mengganggu Nona Muda!"

Seketika itu juga, pedang yang dulu selalu terbungkus kain kini terlihat sepenuhnya — sebilah pisau panjang yang tajam, berwarna hitam pekat, memancarkan aura kematian yang nyata. Sosok itu mengayunkan pedangnya ke arah langit-langit aula.

KRAKSSSS!!!

Langit-langit bangunan yang megah itu hancur berantakan seketika. Sinar matahari langsung menyinari seluruh ruangan itu, menampakkan sosok itu dengan jelas.

"Aku adalah Lazark!" serunya dengan suara yang menggelegar. "Dan sepertinya ini adalah peringatan terakhir untuk kalian semua... hiduplah dengan tenang, atau kalian akan menyesal!"

Para orang tua terdiam mematung, ketakutan luar biasa. Rebeca, Kael, maupun Ellion menatap dengan napas tertahan — mereka tahu betul bahwa Lazark jarang sekali menunjukkan sisi amarahnya yang sesungguhnya. Dan di sebelah Lazark, sosok yang lebih tinggi lagi berdiri dengan tenang, memancarkan kekuatan yang jauh melampaui segala sesuatu yang ada di sana. Perlahan sosok itu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Angel. Ia menatap putrinya dengan senyuman lembut yang penuh kerinduan.

"Sudah lama tidak bertemu, putriku..." ucapnya dengan suara yang lembut namun membuat seluruh ruangan hening sepenuhnya. "Kau telah melewati semuanya dengan caramu sendiri..."

Angel berdiri mematung, namun ia tidak merasa takut sedikit pun. Justru sebaliknya — hatinya terasa damai dan nyaman di dekat sosok ini, seakan ia telah lama merindukan kehadirannya. Namun kebingungan melanda pikirannya. Putriku? batinnya bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak tahu seperti apa rupa ayahnya, dan tidak pernah mendengar panggilan itu sebelumnya. Namun entah mengapa, sosok di hadapannya ini terasa begitu akrab, begitu dicintai, seakan sesuatu yang selalu ia rindukan tanpa sadar.

Di atas panggung, Ellion menatap tak berkedip. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok yang berdiri di hadapan Angel itu. Napasnya tertahan, dan seketika itu juga ia menyadari kebenaran yang tak bisa ia sangkal lagi — inilah Sang Dewa Penghancur, sekaligus ayah angkatnya sendiri. Tubuh Ellion gemetar hebat, dan tanpa sadar ia berlutut di tempatnya, diliputi rasa takut yang luar biasa menyadari kehadiran sosok terkuat di seluruh alam semesta itu.

Di sisi lain, Rebeca bangkit dari tempat duduknya dan berlari hingga tepat berada di hadapan Lazark. Wajahnya tampak penuh kekhawatiran namun juga amarah.

"Berhentilah, Lazark!" tegurnya dengan suara tegas. "Jangan menyakiti siapa pun yang ada di sini. Jika kau tidak berhenti, aku akan membunuhmu sekarang juga!"

Kael yang masih duduk di tempatnya hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa melihat segala sesuatu yang terjadi di hadapannya ini.

Lazark justru tertawa mendengar ancaman itu. "Hahahaha! Wah, apa kau tidak tahu, Nona sekaligus Ibu Muda? Putrimu sendiri sedang direndahkan dan diinjak-injak harga dirinya. Jika aku jadi kau, aku pasti sudah membunuh mereka semua sekaligus tanpa menyisakan satu nyawa pun!"

Seketika itu juga, aura kekuatan Lazark meledak semakin dahsyat. Para orang tua dan murid yang hadir merasakan ketakutan yang begitu nyata, seakan nyawa mereka akan melayang kapan saja. Namun sebelum kekuatan itu menyebar lebih jauh, Lazark tiba-tiba terhenti. Kekuatannya ditahan oleh sesuatu — atau lebih tepatnya, seseorang.

Langit yang tadinya cerah disinari matahari perlahan berubah menjadi gelap gulita. Hanya tersisa cahaya bulan merah darah yang bersinar menerangi aula itu. Dari tangan Rebeca, perlahan muncul sebilah sabit yang tampak mengerikan, penuh dengan aura pembunuh yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Gaun biru yang dikenakan Rebeca — pemberian dari Angel — seketika hancur berantakan, berganti menjadi pakaian bangsawan kuno yang megah namun mengerikan, pakaian yang sudah lama sekali terlupakan oleh dunia. Itulah tanda kebesaran dari Kelompok Pembunuh Langit, yang dipimpin langsung oleh Rebeca sendiri.

Melihat perubahan itu, semua orang tua, murid, maupun pengawal yang hadir menjadi gemetar ketakutan. Mereka yang tadi dengan berani merendahkan dan mengejek Angel kini hanya bisa menunduk ketakutan, menyadari betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat.

Namun di tengah suasana yang mencekam itu, Angel melihat ibunya seakan sedang terancam. Tanpa berpikir panjang, Angel bergegas berlari secepat kilat hingga tepat berdiri di depan Rebeca. Ia mengangkat kedua tangannya ke samping, membentuk benteng perlindungan di hadapan ibunya.

"Berhenti! Tolong jangan menyerang ibuku!" seru Angel dengan suara bergetar namun tegas. "Jika kau tetap melakukannya... aku akan membunuhmu!"

Seketika itu juga, sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Angel terbangun. Frey, Sang Senjata Ego yang selama ini tertidur di alam kesadaran Angel, tiba-tiba membuka matanya merasakan hawa ancaman dan niat membunuh yang begitu kuat dari Angel. Kekuatan yang luar biasa besar meledak dari tubuh Angel — kegelapan berwarna merah gelap yang mengerikan perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya, memancarkan aura yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding ketakutan.

Lazark yang melihat hal itu justru tersenyum lebar dengan mata berbinar kagum. "Hebat... benar-benar hebat!" gumamnya. "Dia akhirnya memperlihatkan kekuatan sang Pewaris Dewa Penghancur..."

Namun di saat itu juga, Sang Dewa Penghancur yang tadinya berdiri di dekat Ellion bergerak secepat kilat, seakan menghilang dari tempatnya dan muncul tepat di antara Angel dan Lazark. Tanpa menunggu lagi, ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan kekuatan yang begitu dahsyat namun terkendali.

DUG!!!

Satu hentakan itu saja sudah cukup. Kekuatan besar yang hendak dikeluarkan oleh Angel seketika terhenti sepenuhnya. Sang Dewa Penghancur tahu betul apa yang terjadi — di dalam diri putrinya masih tersisa keberadaan Frey, Sang Senjata Ego. Jika kekuatan itu terus meledak, Frey akan mengambil alih sepenuhnya. Perlahan namun pasti, kegelapan merah gelap yang tadinya menyelimuti tubuh Angel mulai memudar dan menghilang, seakan tidak pernah ada sama sekali.

Angel terdiam sejenak, lalu seketika itu juga kesadarannya kembali pulih. Ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan — ancaman itu, kekuatan yang meledak tak terkendali. Rasa takut menyelimuti hatinya, dan tanpa berpikir panjang Angel berbalik langsung memeluk Rebeca dengan erat, menyandarkan wajahnya di dada ibunya.

"Ibu..." isaknya pelan, tubuhnya masih gemetar karena ketakutan.

Melihat pemandangan itu, Sang Dewa Penghancur tersenyum penuh haru. Sudah begitu lama ia tidak melihat Rebeca dan putrinya — Angel yang kini telah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan kuat, padahal terakhir kali ia melihatnya, Angel hanyalah seorang bayi yang sedang digendong sebelum ia pergi menjaga dunia dari ancaman para dewa yang berbahaya.

Sosok yang tadinya berdiri memandangi mereka berdua perlahan berubah posisi. Ia berjongkok di hadapan Angel, menyamakan tingginya dengan putrinya. Dengan suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, ia memanggil:

"Angel..."

Angel seketika berbalik ketika namanya dipanggil. Di hadapannya, sosok itu masih tertutup jubah yang menutupi seluruh wajahnya. Namun perlahan, tangan kekar itu terangkat dan membuka penutup kepala jubahnya. Dari rambut yang berkilau hingga ke garis rahang dan dagunya, semuanya terlihat perlahan. Dan ketika wajah itu tampak sepenuhnya, Angel melihat senyuman di bibir pria itu — sebuah senyuman yang begitu hangat, begitu nyaman, seakan Angel sudah mengenalnya seumur hidupnya. Terlebih lagi, mata pria itu berwarna hitam kecokelatan... persis sama seperti mata Angel sendiri.

Angel semakin bingung. Kenapa aku merasa seakan aku sudah mengenal orang ini? pikirnya. Padahal ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Pria itu tersenyum dengan sopan, lalu berkata dengan lembut: "Angel, bolehkah aku berbicara sejenak dengan ibumu?"

Angel menoleh ke arah Rebeca dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi — kenapa pria ini bisa mengenal ibunya, dan kenapa dia tahu namanya?

Saat itu juga, Rebeca mengelus kepala Angel dengan lembut. "Sayang, bolehkah Ibu berbicara dengannya sebentar?" tanyanya meminta izin. Lalu Rebeca menoleh ke arah Kael. "Paman Kael juga ikut bersama kami."

Pria itu pun menoleh ke arah rekannya yang tadi menghancurkan langit-langit aula — Lazark — dan memberi isyarat agar ikut bersama mereka. Namun sebelum pergi, Rebeca meminta izin kepada Ellion untuk melanjutkan upacara kelulusan.

"Biarkan Angel tetap mengikuti acaranya di sini," ucap Rebeca lembut namun tegas. "Kami akan kembali setelah selesai berbicara."

Mereka pun beranjak pergi, dan upacara kelulusan dilanjutkan kembali hingga selesai. Sementara itu, Rebeca, Kael, Lazark, serta Sang Dewa Penghancur — yang tak lain adalah suami Rebeca, Yofaith — pergi ke sebuah tempat yang sepi dan kosong untuk berbicara berempat.

Sesampainya di sana, mereka berdiri saling berhadapan. Seperti biasa, tidak ada yang berbicara duluan. Mereka berdiri diam dalam keheningan, seakan itu sudah menjadi tradisi keluarga mereka — saling diam menunggu salah satu orang memecah keheningan. Wkwkwkwk.

Hingga akhirnya Yofaith membuka pembicaraan. "Bagaimana kabar kalian, Rebeca? Kael?"

Kael tersenyum tipis. "Aku sehat, Tuan. Semuanya baik-baik saja."

Namun Rebeca tetap terdiam. Wajahnya menahan begitu banyak perasaan. Ketika ia akhirnya berbicara, suaranya terdengar kasar dan penuh kesedihan yang terpendam. Kael yang mengenalnya dengan baik langsung menyadari betapa beratnya perasaan yang disembunyikan oleh Rebeca.

Kael pun menoleh ke arah Lazark. "Guru, mari kita menjauh sejenak. Biarkan mereka berdua menyelesaikan pembicaraan ini." Lazark mengangguk setuju, dan keduanya berjalan menjauh untuk memberi ruang bagi mereka berdua.

Begitu hanya tersisa mereka berdua, Rebeca menatap Yofaith dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa kau terlambat?" suaranya bergetar namun penuh kepedihan. "Kenapa baru sekarang kau menemuiku? Kenapa?! Kenapa?!" air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Jawab pertanyaanku! Apakah kau hanya peduli dengan dunia ini? Apakah kau tidak pernah memikirkanku dan putri kita?!" Rebeca menutupi wajahnya dengan telapak tangannya — tangan yang penuh dengan bekas luka — sambil menangis sejadi-jadinya.

Yofaith tidak berkata apa-apa selain memeluk Rebeca dengan erat. Pelukannya begitu hangat dan penuh penyesalan. "Maafkan aku..." bisiknya berulang kali. "Maafkan aku..." Tidak ada alasan yang bisa ia berikan, tidak ada pembelaan diri. Ia hanya bisa memeluknya dan mengucapkan kata maaf, karena ia tahu betul apa yang telah ia lakukan — ia telah meninggalkan mereka selama delapan tahun penuh. Sejak hari Angel lahir, Yofaith pergi dan tidak pernah kembali, hingga kini Angel telah berusia delapan tahun.

Rebeca melepaskan pelukan itu, matanya masih basah dan menatap tajam namun sedih ke arah Yofaith.

"Angel sudah begitu lama menantikanmu..." ucapnya dengan suara parau. "Selama ini aku hanya bisa menyuruhnya bersabar, berkata bahwa ayahnya sedang menjalankan tugas penting. Aku berjanji padanya... aku berjanji kau akan datang menemuinya saat ia berusia empat tahun. Tapi kau tidak pernah datang. Kau tidak menepati janjimu." Rebeca menahan isak tangannya. "Angel merasa sedih... bahkan membenciku karena kau tidak kunjung datang. Selama bertahun-tahun ia selalu sendirian, tidak punya teman satu pun..."

"Jawab aku, Yofaith!" desaknya dengan penuh keputusasaan. "Jawab pertanyaanku!"

Yofaith tetap tidak bisa berkata banyak. Ia hanya bisa memohon maaf, menatap Rebeca dengan mata penuh penyesalan. "Aku tahu... aku tidak punya alasan. Tapi aku berjanji... setelah acara kelulusan ini selesai, aku akan berbicara langsung dengan Angel. Aku akan menjelaskan semuanya padanya."

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!