"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kain gorden warna krem di jendela ndalem timur bergoyang pelan tersapu angin malam yang lolos dari celah kayu. Di luar, rintik hujan sisa sore tadi masih menetes satu-satu dari ujung atap genteng, jatuh menimpa dedaunan kayu manis dengan bunyi konstan yang mengisi kesunyian Pacet. Hawa dingin lereng gunung merayap naik, menyusup hingga ke balik selimut tebal yang terhampar di atas pembaringan, namun dingin itu tak sebanding dengan kehampaan yang membeku di dada Naya.
Sejak petang tadi, bangunan ndalem timur—yang biasanya lengang dan hanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu kyai dari luar kota—resmi menjadi tempat naungannya.
Bu Nyai Khadijah sendiri yang mengantar, membantunya menata lemari kecil, sementara Mbak Zaenab menyiapkan air hangat dan memastikan kunci pintu bekerja dengan baik. Mertuanya tak banyak bersuara, hanya usapan tangan sepuh yang bergetar di bahu Naya serta pelukan erat penuh rasa bersalah yang menjadi bahasa pamit sebelum wanita tua itu kembali ke ndalem utama dengan mata sembap.
Kini, Naya sendirian.
Di atas sajadah yang belum sempat diikat kembali, Naya menopang keningnya dengan kedua telapak tangan. Jemarinya meremas kain bergo yang dikenakannya, menekan pelipis demi menahan denyut nyeri yang terus menghantam kepalanya. Air mata yang sejak sore mengalir tanpa permisi rasanya sudah mengering, meninggalkan jejak lengket dan perih di sudut mata.
Namun sesak di dadanya tak kunjung surut. Tiap kali ia menarik napas, ada rasa ngilu yang amat tajam, seolah ada serpihan kaca yang tertancap tepat di ulu hati.
Naya memejamkan mata erat-erat, membiarkan ingatannya ditarik mundur pada jejak-jejak masa lalu yang kini terasa seperti lelucon pahit.
Ia pertama kali melangkahkan kaki ke Pesantren Al-Anwar di usia empat belas tahun—seorang gadis kecil berwajah polos yang diantar orang tuanya dengan tas kain besar.
Selama bertahun-tahun menimba ilmu di sini, nama 'Gus Reyhan' hanyalah sebuah mitos luhur yang sering dibicarakan para santri dengan nada kagum. Sosoknya tak pernah benar-benar hadir di pelataran pesantren. Sejak tamat SMP, Reyhan dikirim sang ayah untuk mendalami kitab di sebuah pesantren tua berdisiplin tinggi di Malang, sebelum akhirnya terbang ke Mesir selama empat tahun penuh.
Naya hanya melihatnya setahun sekali, itu pun dari kejauhan. Saat Gus muda itu pulang untuk sowan di hari raya, melintas sepintas dengan baju koko putih dan peci yang menutupi dahinya, berjarak puluh meter di antara kerumunan santri yang mengantre sungkem. Tidak ada obrolan, tidak ada tatapan mata yang menetap.
Lalu, hari itu tiba. Hari di mana Kyai Ahmad memanggil Naya ke ruang tamu khusus setelah ia menyelesaikan skripsi S1 Psikologinya. Dengan nada penuh harapan dan pandangan mata seorang ayah yang mendambakan kedamaian rumah tangga putranya, Kyai Ahmad meminangnya untuk Reyhan.
Naya ingat betul bagaimana ia terdiam malam itu di kamarnya. Sebagai wanita yang terdidik secara rasional dan memiliki pengetahuan mendalam tentang dinamika emosi manusia, Naya sadar sepenuhnya bahwa pernikahan perjodohan ini adalah sebuah perjudian rasa. Ia tahu Reyhan tidak mengenalnya. Ia paham pria itu mungkin belum menyimpan benih cinta untuknya. Tapi waktu itu, Naya memilih untuk optimis. Ia percaya pada konsep kebiasaan yang membuahkan kehangatan. Cinta bisa ditumbuhkan secara perlahan melalui pengabdian, komunikasi yang sehat, dan saling pengertian.
Namun betapa naifnya pemikiran itu, bisik Naya dalam hatinya, diiringi kepalan tangan yang makin meremas kain jilbabnya.
Ia tidak memprotes dinginnya sikap Reyhan di awal pernikahan. Ia menoleransi jarak fisik yang dipasang pria itu setiap kali mereka berada di satu kamar. Naya bahkan menggunakan ilmu psikologinya untuk menganalisis: mungkin suaminya mengalami culture shock pasca-pulang dari lingkungan akademis Kairo yang amat ketat, mungkin ada kecemasan performa, atau mungkin beban status sebagai calon penerus pengasuh Al-Anwar terlalu berat di pundaknya. Naya berlapang dada menjadi pihak yang terus mengerti dan mengalah.
Ternyata, semua pemahaman itu adalah bentuk kebodohan yang terencana.
Bukan trauma yang membuat Reyhan tak mau menyentuhnya. Bukan pula karena kekhusyukan ibadah yang menghalangi pria itu membagikan kasih sayangnya. Pintu hati Reyhan bukannya tertutup rapat—pintu itu sudah terbuka lebar, namun untuk wanita lain.
"Kenapa harus berbohong, Gus...?" gumam Naya lirih. Suaranya pecah di tengah remang kamar.
Jika sejak awal Reyhan menolak perjodohan itu, jika pria itu secara jantan menghadap ayahnya dan mengaku telah menjatuhkan pilihan pada Rani sebelum akad dilangsungkan, Naya tidak akan pernah menghalangi. Ia akan mundur dengan terhormat. Ia akan memilih berangkat ke Jakarta atau Surabaya, mengambil program profesi dan spesialisasi psikiatri yang selama ini menjadi impian terbesarnya. Ia tidak akan terjebak dalam sandiwara satu tahun yang menguras harga dirinya hingga ke dasar terendah.
Yang paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan bukanlah fakta bahwa ada orang ketiga, melainkan kesadaran bahwa seluruh pengorbanan dan kesabaran yang diserahkan dengan tulus ternyata dianggap tidak ada artinya.
Selama 365 hari, Naya melayani Reyhan sebagai seorang istri yang berbakti, menyiapkan segala kebutuhannya dari bangun tidur hingga terpejam, sementara di belakangnya, pria itu membagi pelukan dan naungan batin dengan Rani di ndalem barat—tempat yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kamar tempat Naya mendoakan suaminya tiap malam.
Sakit itu kembali mencengkeram. Naya membungkukkan tubuhnya hingga dahinya menyentuh karpet di bawah sajadah. Bahunya berguncang pelan. Tidak ada raungan, hanya isak penyesalan dan kepedihan yang teramat sangat atas naifnya hati yang terlalu mudah percaya.
**
Angin malam Pacet bertiup makin kencang, membawa kabut dingin dari lereng Gunung Welirang yang merayap hingga menembus celah-celah kayu jati di ruang tengah ndalem utama. Lampu gantung kuno yang menggantung di langit-langit berukir melemparkan pendar kuning temaram, menciptakan bayang-bayang panjang yang menggantung kaku di atas karpet Persia.
Di atas meja kayu yang beralas kain tenun, sebuah ponsel pintar tergeletak di samping cangkir teh kapulaga yang sudah berjam-jam mendingin. Suara sambungan telepon jarak jauh itu masih menyisakan dengung samar yang menusuk dada.
Kyai Ahmad menghela napas panjang. Garis-garis tegas di dahinya tampak kian mendalam, menyimpan beban kekecewaan yang tak terperi. Di sisinya, Bu Nyai Khadijah masih menggenggam jemarinya sendiri yang gemetar hebat. Selendang ijo lumut yang menutupi bahunya berguncang pelan seiring isak tangis yang berusaha ditahannya sejak panggilan telepon itu terputus beberapa saat lalu.
Sambungan yang baru saja mengaitkan Mojokerto dan Kuala Lumpur itu terasa bagaikan sidang penghakiman sunyi.
Ketika berita pengkhianatan Reyhan disampaikan—tentang pernikahan siri yang disembunyikan selama sebelas bulan, tentang keperawanan Naya yang tak pernah tersentuh demi sebuah kebohongan yang dibungkus alibi penyucian batin—suasana di seberang sana sempat menghening total. Hening yang sangat beracun.
Kyai Zaydan dan Bu Nyai Mahera, orang tua Naya yang saat ini tengah mengurus kerja sama lembaga dakwah di Malaysia, tak mampu menyembunyikan getar syok dari balik sambungan suara. Demi menjaga objektivitas dan memastikan putri mereka terlindungi, Kyai Zaydan langsung menggabungkan panggilan tersebut dengan Arsyaka—kakak kandung Naya yang berada di Jombang.
Arsyaka, seorang pria muda berwatak tegas yang selama ini sangat menjaga adik perempuannya, tidak menyela dengan makian. Suaranya di telepon terdengar begitu tenang, namun justru ketenangan itulah yang mengintimidasi. Sebuah ketenangan yang membeku, menyalurkan rasa murka yang ditata secara rasional.
"Besok subuh Syaka berangkat ke Mojokerto, Kiai," ucap Arsyaka dengan nada rendah namun penuh penekanan sebelum telepon ditutup. "Saya menghormati Kiai Ahmad dan Bu Nyai sebagai guru kami. Tapi adik saya tidak dibesarkan untuk dijadikan pajangan atau bahan kebohongan. Besok kita selesaikan semuanya secara terang-terangan."
Kata-kata itu masih menggantung rapat di udara ruang tengah ndalem.
"Bi..." Bu Nyai Khadijah akhirnya bersuara. Suaranya parau, pecah di tengah kepungan udara malam yang menggigit. Tangannya meraih lengan jubah suaminya, memeganginya erat-erat seolah mencari tumpuan agar tidak roboh.
"Bagaimana kalau besok Naya benar-benar memutuskan pergi meninggalkan pesantren ini? Bagaimana kalau Syaka langsung membawa Naya pulang?"
Kyai Ahmad memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya yang terasa pening. "Itu hak keluarga Naya, Umi. Kita tidak punya alasan lagi untuk menahan anak orang."
"Tapi Umi tidak rela, Bi..." Airmata Bu Nyai Khadijah menetes lagi, jatuh membasahi ubin marmer. "Naya itu bukan cuma menantu untuk Umi. Sejak dia mondok di sini waktu SMP, Umi sudah menganggap dia seperti anak kandung sendiri. Dia yang telaten mengurus pesantren putri, dia yang mengajar santri-santri dengan sabar, dia yang selalu ada waktu Umi sakit... Kenapa justru anak kita sendiri yang menghancurkan hatinya?"
Bu Nyai meremas dadanya sendiri yang ngilu. Rasa malu dan bersalah menyatu menjadi adonan yang sangat pahit. Sebagai ibu dari seorang Gus yang menjadi panutan ribuan santri, beliau merasa gagal total. Putra yang beliau agungkan, yang dikirim jauh-jauh menimba ilmu tafsir hingga ke tanah Kairo, ternyata menyimpan kebusukan di balik jubah kesalehannya.
Kyai Ahmad menatap istrinya dengan tatapan iba, lalu mengusap punggung tangan Bu Nyai Khadijah dengan penuh kehangatan yang tersisa.
"Abi juga sakit, Umi. Hati Abi hancur melihat Naya seperti tadi," ujar Kyai Ahmad pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak goyah meski matanya sendiri mengembun.
"Tapi kita harus sadar posisi. Jangan sampai rasa sayang kita pada Naya justru berubah jadi sikap egois yang makin menyiksa dia. Naya sudah terlalu banyak mengalah. Satu tahun dia mengubur cita-citanya jadi dokter psikiater demi mendampingi Reyhan... dan balasan anak kita hanya kebohongan."
Kyai Ahmad menghela napas berat, menatap ke arah pintu depan ndalem yang tertutup rapat.
"Kalau besok Naya memilih menyelesaikannya dan pergi dari Al-Anwar, kita harus ikhlas menepuk dadanya dan melepasnya dengan terhormat. Reyhan yang membuat api ini, maka Reyhan harus menanggung abu kehilangannya sendiri. Kita tidak boleh menjadi orang tua yang membela kesalahan hanya karena Reyhan itu darah daging kita."
Bu Nyai Khadijah menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya membentur dinding-dinding ndalem yang malam ini terasa begitu asing dan mencekam.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah