"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinas bareng
"Kalian berdua yang berangkat," kata Pak Hadi, menyerahkan dua lembar tiket kereta ke meja. "Vendor campaign minta ketemu langsung buat finalisasi kontrak. Dua hari satu malam."
Rain menatap tiket itu, lalu menatap Kenzo yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi biasa aja, seolah pengumuman itu nggak ada bedanya dengan pengumuman rapat biasa.
"Kenapa harus berdua?" tanya Rain, mencoba terdengar profesional meski dalam hati mulai gugup.
"Karena ini menyangkut budget dan strategi kreatif sekaligus," jawab Pak Hadi. "Kalian berdua yang paling paham dua sisi itu."
Nggak ada ruang buat menolak. Rain hanya bisa mengangguk, sementara di grup WA divisi, berita itu udah menyebar bahkan sebelum Rain sempat keluar dari ruang rapat.
**Sari:** RAIN DINAS BARENG PAK KENZO KE BANDUNG???
**Dimas:** WOI GILA
**Vina:** dua hari satu malam pula 👀👀👀
Rain mematikan layar ponselnya, menghela napas panjang. Kadang dia lupa, di kantor ini privasi itu barang langka. Padahal dia juga ada dalam satu grub tersebut, bisa-bisanya mereka ngomong begitu. Rasanya memang menyebalkan, tapi Rain bisa tahan semua itu. Apalagi kalau bukan karena kerjaan, nyari kerjaan susah, udah sampai di tingkat ini, apalagi kalau bukan jurus bertahan.
---
Perjalanan kereta ke Bandung memakan waktu sekitar tiga jam. Rain duduk di sebelah jendela, Kenzo di sebelahnya, laptop terbuka di pangkuan masing-masing, sesekali berdiskusi soal detail kontrak yang harus dibahas besok.
"Kamu nggak gugup ketemu vendor sebesar ini?" tanya Rain, mencoba mencairkan suasana.
"Kenapa harus gugup?" Kenzo menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.
"Ya, kali aja," Rain mengangkat bahu. "Aku sendiri agak gugup, sih. Ini pertama kalinya aku megang negosiasi sebesar ini."
Kenzo akhirnya menoleh, menutup laptopnya pelan. "Kamu udah nyiapin data pendukungnya semalaman. Aku lihat commit terakhir di file bersama jam dua pagi."
Rain kaget. "Kamu merhatiin jam segitu?"
"Aku juga masih kerja jam segitu," jawab Kenzo, singkat. "Kebetulan aja lihat."
Rain tersenyum kecil, meski diam-diam merasa hangat mendengar itu. "Kamu ini kerja keras banget buat orang yang katanya... ya, kamu tahu sendirilah, gosipnya gimana."
"Gosip yang mana?" Kenzo bertanya, meski nadanya seolah udah tahu jawabannya.
"Anak konglomerat lah, tinggal terima jadi lah," Rain menjawab jujur, meski agak ragu mengucapkannya langsung ke wajah Kenzo.
Kenzo diam sejenak, menatap ke luar jendela kereta yang bergerak melewati hamparan sawah. "Kalau semua tinggal terima jadi, ngapain aku capek-capek mulai dari staff biasa lima tahun lalu."
Rain terdiam, menyadari itu adalah pengakuan paling terbuka yang pernah Kenzo bagikan soal dirinya sendiri.
"Kamu mulai dari staff biasa?" tanya Rain, penasaran.
"Iya. Orang tua nggak pernah ngasih posisi langsung," jawab Kenzo. "Mereka cuma ngasih kesempatan buat coba. Sisanya aku yang harus buktiin."
"Kenapa nggak pernah cerita soal ini ke orang-orang di kantor?"
Kenzo mengangkat bahu. "Nggak penting orang lain tahu prosesnya. Yang penting hasilnya."
Rain menatapnya lama, mulai melihat Kenzo dengan cara yang benar-benar berbeda dari yang dia bayangkan selama ini.
---
Malamnya, setelah makan malam bersama tim vendor, Rain dan Kenzo berjalan kembali ke hotel, melewati trotoar kota Bandung yang mulai sepi.
"Besok pagi negosiasi final," kata Kenzo, memecah keheningan. "Kamu siap?"
"Harus siap," jawab Rain, tersenyum kecil. "Nggak ada pilihan lain."
"Kalau kamu ragu di tengah negosiasi, lihat aja aku," kata Kenzo, tiba-tiba. "Aku bakal kasih tanda."
"Tanda apa?"
"Nanti kamu juga tahu," jawab Kenzo, dengan nada yang nyaris menggoda, hal yang jarang banget Rain dengar dari orang ini.
Rain tertawa kecil, merasa suasana di antara mereka jauh lebih ringan dari biasanya. "Kamu beda banget kalau lagi di luar kantor."
"Nggak beda," Kenzo membalas. "Cuma lebih jujur aja."
Dikantor juga mereka jarang interaksi, kecuali debat kusir di ruang rapat. Kalau sekarang mereka ada waktu berdua, jadi bisa mengenal lebih jauh.
---
Sementara itu, di Jakarta, Pandu duduk sendirian di mejanya yang udah sepi, menatap ponsel yang menampilkan chat terakhir dari Rain: *"Sampai Bandung dengan selamat. Besok negosiasi penting, doain lancar ya."*
Dia mengetik beberapa kali balasan, lalu menghapusnya lagi. Ada rasa nggak nyaman yang sulit dia jelaskan, mengganjal di dadanya sejak tahu Rain berangkat berdua sama Kenzo.
Akhirnya dia cuma mengetik balasan singkat: *"Semangat, ya."*
Dikirim, lalu ponsel itu diletakkan lagi di meja. Pandu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantor yang kosong, sementara pikirannya penuh dengan pertanyaan yang selama ini terus dia hindari.
*Kenapa aku baru merasa takut kehilangan sekarang, pas udah keduluan orang lain?*
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...