"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Hitam
Pintu jati ganda Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi di kedalaman Sektor Zero tertutup rapat dengan desisan pneumatik halus. Udara dingin beraroma kayu cendana dan tembakau mahal melingkupi Argus yang sedang berdiri tegap di balik meja batu granit hitamnya. Pria besar itu mengapit cerutunya, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke arah Daren yang baru saja melangkah masuk.
Daren merapikan jaket kulit hitamnya. Wajahnya tetap tenang, namun sorot mata kelabunya menyimpan kedalaman analisis dari pertemuannya di kamar nomor 13 Hotel Grand Sovereign.
"Bagaimana, Daren?" suara Argus keluar rendah, tebal, dan sarat akan ketegangan yang tertahan. "Apakah mereka benar-benar dari The Hell?"
Daren mengangguk tipis, melangkah mendekati meja granit. "Benar, Tuan Argus. Saya menemui tujuh orang bertopeng di dalam kamar nomor 13. Pimpinan mereka yang mengenakan topeng iblis hitam telah menerima kembali emblem besi yang kita temukan."
Daren menyampaikan setiap baris kalimat dan klarifikasi valid yang diucapkan oleh pimpinan The Hell secara presisi tanpa ada satu detail pun yang terlewat: bahwa keberadaan emblem tersebut di Sektor Barat Daya murni merupakan sebuah kebetulan akibat pencurian oleh preman jalanan, serta penegasan resmi bahwa The Hell tidak pernah bermaksud menyerang, merebut wilayah, atau ikut campur dalam konflik antara Red Crows dan Viper Syndicate.
Mendengar laporan resmi yang begitu jernih dan utuh dari Daren, ketegangan di dalam dada Argus seketika mencair sepenuhnya. Pria penguasa dunia bawah tanah itu menghembuskan asap cerutu tebalnya ke udara, lalu bersandar pada kursi kebesarannya dengan raut wajah yang kembali tenang dan terkendali.
"Klarifikasi yang sangat valid..." gumam Argus seraya mengangguk-angguk puas. "Jika faksi raksasa seperti The Hell menegaskan tidak memiliki iktikad permusuhan, maka kita tidak perlu membuang energi untuk bayangan yang tidak ada. Kita bisa memusatkan seluruh kekuatan tempur Sektor Zero untuk menghancurkan Viper Syndicate sampai ke akar-akarnya."
"Diterima, Tuan Argus," sahut Daren tegas.
Sektor Utara – Villa Tersembunyi di Puncak Perbukitan
Di sebuah lokasi yang sangat jauh dari hiruk-pikuk keramaian Kota Atlas, berdiri sebuah villa mewah bergaya arsitektur klasik di atas puncak perbukitan Sektor Utara. Tempat itu terisolasi penuh oleh benteng batu alam dan pepohonan pinus yang tinggi menjulang, jauh dari jangkauan radar maupun pengawasan publik.
Di teras lantai dua villa yang menghadap langsung ke arah pemandangan gemerlap lampu Kota Atlas di bawah naungan malam, sang pria bertopeng iblis berwarna hitam legam sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas. Angin malam yang sejuk mengibarkan mantel hitam berpotongan elegan yang membungkus tubuh tegapnya.
Di sampingnya, berdiri sesosok pria bertubuh jangkung dengan kemeja taktis rapi—ajudan pribadinya yang di Hotel Grand Sovereign tadi siang mengenakan topeng tengkorak perak. Sang ajudan kini melepas topengnya, menyesap secangkir kopi hangat di tangannya.
Suasana teras itu begitu tenang dan sunyi.
Sang ajudan memalingkan wajahnya, menatap pimpinannya yang masih enggan melepas topeng iblis hitamnya.
"Tuan..." panggil sang ajudan dengan nada suara yang penuh rasa penasaran yang tak lagi sanggup ditahannya. "...apakah pemuda bertato merah yang kita temui di kamar nomor 13 tadi siang... adalah pemuda yang selama ini menjadi pusat perhatian Anda?"
Sang pria bertopeng iblis hitam tidak langsung membalas. Manik mata kelabunya yang berbinar tajam dari balik lubang topeng menatap lurus ke arah hamparan lampu Kota Atlas—ke arah lokasi di mana Daren berada.
Perlahan-lahan, sang pria menganggukkan kepalanya tipis.
"Ya..." suara pria itu keluar begitu tebal, tegap, dan penuh rahasia—suara berat dari balik topengnya. "...dialah pemuda itu. Seseorang yang ditakdirkan berjalan di antara kegelapan dan takdirnya sendiri."
Sang pria bertopeng iblis berdiri tegap, meresapi embusan angin malam yang menerpa mantel kebesarannya. Di balik kegelapan topengnya, tidak ada rahasia atau identitas yang terungkap ke udara. Sosoknya tetap terselimuti tirai kabut misteri yang sangat pekat, menjadi bayangan raksasa yang belum terjangkau oleh siapa pun.
Pria bertopeng iblis itu merapikan posisi mantelnya, memalingkan wajah menatap sang ajudan dengan pandangan yang kaku dan berwibawa.
"Besok siang," perintah sang pria dengan nada suara yang tak terbantahkan, "datanglah secara pribadi ke Markas Utama Sektor Zero milik Argus."
Sang ajudan tersentak kaget. "Ke Markas Utama Red Crows, Tuan?"
"Benar," sahut sang pimpinan. "Serahkan sebuah bingkisan atas nama The Hell untuk Red Crows sebagai bentuk konfirmasi ulang bahwa seluruh insiden emblem ini murni merupakan kebetulan murni tanpa ada rekayasa atau provokasi sedikit pun. Dan yang paling penting..."
Sang pria merogoh saku dalam mantelnya, menarik keluar sebuah kotak kayu berlapis beludru hitam berukir benang emas yang sangat elegan.
"...serahkan kotak hitam ini secara langsung ke tangan Crows-0. Katakan padanya bahwa itu adalah bingkisan khusus dariku."
Sang ajudan menerima kotak beludru hitam itu dengan kedua tangannya, membungkuk hormat secara mendalam. "Perintah diterima, Tuan. Saya akan melaksanakannya besok siang."
Keesokan Harinya – Markas Utama Red Crows (Pukul 12.00 WIB)
Suasana di kedalaman Sektor Zero siang itu diwarnai oleh kesibukan internal. Di dalam Ruang Komando Utama, Daren sedang berdiri di samping meja granit bersama Argus, Mike, dan Joe. Daren baru saja menyerahkan lembaran berkas laporan lengkap mengenai perkembangan penyamarannya di SMA Bintang, penyitaan sampel zat sintetis bersama Firman, serta pemetaan jaringan lokal.
"Kerja yang sangat rapi dan presisi, Daren," puji Argus seraya memeriksa lembaran berkas tersebut. "Dengan terkuncinya Firman dan dipindahkannya adiknya ke Sektor Utara, kita tinggal menunggu waktu untuk memancing sang bandar besar keluar."
Namun, belum sempat Daren memberikan tanggapan...
BEEP! BEEP! BEEP! BEEP!
Sirene peringatan tingkat tinggi di pintu gerbang utama Sektor Zero mendadak meraung nyaring di seluruh penjuru markas bawah tanah! Lampu indikator merah berkedip kencang di dinding.
"Ada apa, Joe?!" bentak Mike kaget seraya mencabut pistol semi-otomatis dari balik jasnya.
Joe dengan cepat mengetikkan perintah di atas papan ketik holografiknya, membuka rekaman kamera keamanan di lorong luar gerbang utama.
"Tuan Argus!" seru Joe dengan raut wajah kaget luar biasa. "Sebuah kendaraan lapis baja tanpa pelat nomor baru saja melewati garis steril perimeter luar! Hanya ada satu orang yang keluar dari kendaraan itu!"
Di layar monitor raksasa, terlihat sesosok pria bertubuh jangkung mengenakan setelan taktis rapi berjalan tenang menyusuri lorong utama Sektor Zero. Pria itu berjalan santai tanpa membawa senjata terbuka, melewati puluhan prajurit taktis Red Crows yang mengarahkan moncong senapan serbu ke arahnya.
Pria itu adalah sang ajudan dari The Hell—pria yang kemarin di kamar nomor 13 mengenakan topeng tengkorak perak, namun kini berjalan tanpa topeng, memperlihatkan wajah tegasnya dengan ketenangan tingkat dewa.
BRAAK!
Pintu ganda Ruang Komando Utama mendesis terbuka.
Sang ajudan melangkah masuk dengan tenang. Sikap tubuhnya yang santai di tengah kepungan puluhan moncong senjata prajurit Red Crows memancarkan tingkat kepercayaan diri dan dominasi dari faksi raksasa yang tak tertandingi.
Argus, Mike, dan Daren berdiri tegap membisu.
Sang ajudan menghentikan langkahnya empat meter di depan meja granit. Dia membawa dua buah peti kecil: sebuah peti kayu tebal berlogo perak, dan sebuah kotak kayu berlapis beludru hitam berukir benang emas.
"Selamat siang, Pemimpin Tertinggi Argus," panggil sang ajudan dengan suara tebal dan tenang.
Dia meletakkan peti kayu pertama di atas meja granit Argus. "Pimpinan kami mengutus saya ke tempat ini untuk menyerahkan bingkisan penghormatan ini kepada Red Crows. Ini adalah dokumen jaminan resmi dari The Hell untuk mengonfirmasi kembali bahwa apa yang terjadi dengan insiden emblem kemarin murni merupakan sebuah kebetulan murni tanpa ada rekayasa atau provokasi geopolitik sedikit pun."
Argus menatap peti kayu tersebut, lalu menundukkan kepalanya tipis. "Sampaikan rasa hormatku pada pimpinanmu atas iktikad baik ini."
Sang ajudan kemudian memalingkan tubuhnya, melangkah tepat ke hadapan Daren.
Dia mengulurkan kotak kayu kedua yang berlapis beludru hitam berukir benang emas secara khusus ke hadapan Daren.
"Dan kotak ini..." ucap sang ajudan dengan nada suara yang tenang, "...adalah bingkisan pribadi dari Pimpinan Kami yang ditujukan khusus untukmu, Crows-0."
Daren menatap kotak beludru hitam di tangan sang ajudan sejenak. Manik mata kelabunya menyempit tajam. Rasa penasaran dan teka-teki mengenai sosok pria bertopeng iblis hitam yang kemarin ditemuinya mendadak meluap di dalam dada Daren.
Daren mengulurkan tangannya, menerima kotak beludru hitam tersebut.
Namun, bukannya langsung menyimpan kotak itu, Daren justru menegakkan dada tegapnya, menatap lurus ke dalam manik mata sang ajudan dengan sepasang mata kelabu yang membeku dingin.
"Siapa sebenarnya The Hell?" tanya Daren dengan suara tebal, keras, dan penuh keberanian mutlak. "Dan siapa pria bertopeng iblis hitam yang memimpin kalian itu?!"
Pertanyaan langsung dan sangat berani yang dilontarkan oleh Daren di hadapan utusan faksi raksasa dunia bawah tanah seketika membuat suasana di dalam Ruang Komando Utama mendadak membeku kaku!
Argus yang berdiri di samping meja granit sampai tersentak kaget. Kening pria besar itu memercikkan pelipis keringat dingin—sebuah reaksi refleks yang sangat jarang diperlihatkan oleh sang penguasa Sektor Zero. Argus tahu betul betapa berbahayanya menantang atau mendesak utusan dari The Hell dengan pertanyaan sensitif seperti itu!
Mike yang berdiri di dekat dinding refleks memegang gagang pistolnya, bersiap menghadapi respons terburuk.
Namun... sang ajudan dari The Hell tidak marah atau mencabut senjatanya.
Mendengar pertanyaan berani yang keluar dari mulut Daren, sang ajudan justru menghentikan langkahnya. Bibirnya menyunggingkan sebuah terkekeh rendah yang sangat santai—terhibur oleh keteguhan dan keberanian tanpa rasa takut yang dimiliki oleh pemuda di depannya.
"Hahaha..." kekeh sang ajudan pelan.
Satu detik kemudian...
Raut wajah sang ajudan seketika berubah seratus delapan puluh derajat!
Tawa santainya menguap tanpa bekas, berganti dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan memancarkan pendar kepekatan aura intimidasi murni dari organisasi bayangan paling ditakuti di bumi!
Sang ajudan mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Daren, berbisik dengan nada suara tebal yang membekukan seluruh udara di Ruang Komando:
"Kami..." bisik sang ajudan seraya tersenyum dingin, "...hanyalah sebuah rumor."
Selesai mengucapkan kalimat penuh teka-teki yang membisu tersebut, sang ajudan membalikkan badannya secara anggun. Tanpa menunggu balasan atau mengucapkan kata pamit tambahan, dia melangkah lebar keluar dari Ruang Komando Utama.
Pintu ganda Sektor Zero mendesis tertutup di belakangnya, dan deru mobil lapis bajanya terdengar melesat meninggalkan kawasan bawah tanah tersebut.
Keheningan yang sangat berat menyelimuti Ruang Komando Utama pasca-kepergian utusan tersebut.
Argus menghembuskan napas panjangnya, mengusap pelipisnya yang sedikit basah oleh keringat dingin, lalu menatap Daren seraya menggelengkan kepalanya pasrah.
"Kau benar-benar tidak punya rasa takut, Daren..." gumam Argus dengan nada suara antara heran dan kagum. "Mendesak utusan The Hell dengan pertanyaan seperti itu di dalam markas kita sendiri..."
Daren tidak membalas ucapan Argus. Dia memandangi kotak kayu berlapis beludru hitam berukir benang emas yang kini berada di dalam genggaman tangan kanannya.
Kotak itu terasa cukup berat, memancarkan aroma kayu mahoni tua yang harum.
Di dalam benak Daren, berbagai pertanyaan saling berbenturan: Apa isi kotak ini? Kenapa pimpinan bertopeng iblis itu memberikan bingkisan pribadi padaku? Dan siapakah mereka sebenarnya?
Daren meremas pelan pinggiran kotak beludru hitam tersebut.
Namun, alih-alih menyerah pada rasa penasarannya dan membuka kotak itu di depan Argus dan yang lainnya, Daren memilih untuk mempertahankan ketenangan jiwanya. Dia memutuskan untuk tidak peduli dan tidak membuang energinya untuk teka-teki yang belum saatnya terkuak.
Daren memasukkan kotak beludru hitam itu ke dalam saku dalam jaket kulit hitamnya, menyimpannya rapat-rapat tanpa membukanya.
Daren merapikan kerah jaketnya, menatap Argus dengan pandangan mata kelabu yang kembali dingin dan terkendali.
"Saya kembali ke penyamaran di sekolah sekarang, Tuan Argus," ucap Daren datar.
Argus tersenyum tipis, mengangguk bangga. "Pergilah, Daren. Selesaikan tugasmu."
Daren membalikkan badannya, melangkah lebar meninggalkan Sektor Zero. Kotak hitam di balik jaketnya tetap tersimpan rapat sebagai rahasia sunyi, sementara langkah kakinya bersiap menuntaskan perburuan puncak menumpas Viper Syndicate di bawah langit Kota Atlas.