Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Jangan Percaya Siapa Pun
Ponsel Dila masih berada di tangannya.
Pesan dari nomor tidak dikenal itu membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.
«Jangan percaya Azam. Dia tidak mengatakan semuanya kepadamu.»
Dila membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Ia menatap layar ponselnya, berharap pesan tersebut tiba-tiba menghilang.
Namun tetap ada.
Bu Ratih masih berdiri beberapa langkah darinya. Wajah perempuan itu terlihat pucat, sementara Azam berdiri di samping Dila dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Siapa yang mengirim pesan itu?” tanya Azam.
Dila refleks mematikan layar.
“Tidak ada.”
Azam menatapnya.
“Kamu berbohong.”
Dila langsung mengangkat wajah.
“Kenapa Anda selalu menganggap saya berbohong?”
“Karena wajahmu mudah dibaca.”
“Kalau begitu jangan lihat wajah saya.”
Azam terdiam.
Bu Ratih memperhatikan mereka dengan cemas.
“Dila…”
Dila menoleh.
“Ya?”
“Pulanglah.”
“Tapi saya ingin tahu—”
“Pulang.”
Nada suara Bu Ratih kali ini jauh lebih tegas.
Dila semakin bingung.
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi?”
Bu Ratih memejamkan mata.
“Belum waktunya.”
Dila hampir tertawa karena frustrasi.
“Semua orang mengatakan itu.”
Azam kemudian berkata,
“Saya antar.”
“Tidak perlu.”
“Aku tidak bertanya.”
Dila menatap Azam tajam.
“Saya bisa pulang sendiri.”
Azam hendak menjawab, tetapi Bu Ratih lebih dahulu berkata,
“Azam, biarkan dia.”
Azam akhirnya mengangguk.
Dila berjalan meninggalkan taman.
Namun sebelum masuk ke rumah, ia menoleh sekali lagi.
Bu Ratih masih menatapnya.
Tatapan itu bukan tatapan seorang ibu kepada orang asing.
Melainkan tatapan seseorang yang sedang melihat masa lalu kembali hidup.
Di perjalanan pulang, Dila tidak berhenti memikirkan semuanya.
Laras mengemudikan mobil dengan tenang.
“Bu Dila.”
“Ya?”
“Boleh saya bertanya?”
“Silakan.”
“Apa yang terjadi di rumah tadi?”
Dila menatap keluar jendela.
“Entahlah.”
“Pak Azam menjelaskan sesuatu?”
“Tidak.”
Laras mengangguk pelan.
“Berarti memang belum waktunya.”
Dila langsung menoleh.
“Jangan bilang begitu lagi.”
Laras tertawa kecil.
“Baik.”
“Laras.”
“Ya?”
“Apakah kamu tahu tentang Larasati?”
Tangan Laras yang memegang kemudi terlihat sedikit menegang.
Dila memperhatikannya.
“Kamu tahu?”
“Sedikit.”
“Siapa dia?”
Laras terdiam cukup lama.
“Seorang perempuan yang sangat penting bagi keluarga Pak Azam.”
“Kenapa?”
“Karena dia adalah kakak kandung Pak Azam.”
Dila membeku.
“Kakak?”
“Iya.”
“Kenapa saya mirip dengannya?”
Laras tidak menjawab.
Dila semakin yakin bahwa perempuan itu mengetahui sesuatu.
“Laras.”
“Maaf.”
“Jawab.”
“Saya tidak boleh.”
“Perintah Azam?”
Laras mengangguk.
Dila menyandarkan tubuhnya.
“Baik.”
Namun dalam hati, Dila membuat keputusan.
Ia akan mencari tahu sendiri.
Ketika sampai di rumah, hampir tengah malam.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Fadil tertidur di sofa.
Dila berhenti di ambang pintu.
Ia merasa bersalah.
Fadil pasti menunggunya.
Dila berjalan pelan mendekat dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh suaminya.
Namun Fadil terbangun.
“Kamu sudah pulang?”
“Iya.”
“Jam berapa ini?”
“Hampir tengah malam.”
Fadil langsung duduk.
“Kamu kenapa tidak menelepon?”
“Maaf. Ada acara.”
Fadil memperhatikan wajah istrinya.
“Kamu menangis?”
Dila buru-buru mengusap sudut matanya.
“Enggak.”
“Dila.”
“Aku cuma capek.”
Fadil berdiri.
“Kamu yakin?”
Dila mengangguk.
Fadil tidak memaksa.
Namun ketika Dila hendak masuk kamar, Fadil berkata,
“Aku tadi menerima telepon.”
Dila berhenti.
“Dari siapa?”
“Nomor tidak dikenal.”
Jantung Dila langsung berdegup.
“Dia bilang apa?”
“Dia bertanya apakah aku suaminya Dila.”
Dila membeku.
“Terus?”
“Aku jawab iya.”
“Lalu?”
“Dia langsung menutup telepon.”
Dila merasakan tengkuknya dingin.
“Nomornya masih ada?”
Fadil mengambil ponselnya.
“Sudah aku hapus.”
“Kenapa?”
“Karena aku pikir penipuan.”
Dila mengangguk pelan.
“Ya… mungkin.”
Fadil menatapnya.
“Dila.”
“Ya?”
“Kenapa kamu terlihat takut?”
Dila tidak menjawab.
Fadil mendekat.
“Apakah pekerjaanmu ada hubungannya dengan telepon itu?”
Dila ingin berkata tidak.
Namun kali ini ia tidak sanggup berbohong.
“Mungkin.”
Fadil terdiam.
“Pekerjaanmu sebenarnya apa?”
Dila menunduk.
“Aku sudah bilang.”
“Pendamping pribadi?”
“Iya.”
“Pendamping siapa?”
Dila mengangkat wajah.
“Pak Azam.”
Nama itu membuat ekspresi Fadil berubah.
“Azam?”
“Iya.”
“Dia yang tadi malam kamu temui?”
Dila mengangguk.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita semuanya?”
“Aku tidak boleh.”
Fadil menatapnya cukup lama.
“Tidak boleh atau tidak mau?”
Pertanyaan itu menusuk hati Dila.
“Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu dari Mas.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Dila terdiam.
Fadil menghela napas.
“Aku percaya kamu.”
Kalimat itu justru membuat Dila semakin merasa bersalah.
“Tapi kepercayaan itu bukan berarti aku tidak boleh bertanya.”
Dila mengangguk.
“Maaf.”
Fadil berjalan menuju kamar.
“Tidurlah.”
Dila berdiri sendiri di ruang tengah.
Ia menatap punggung suaminya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Dila merasa jarak di antara mereka mulai terbentuk.
Dan semua itu berawal dari sebuah kontrak.
Keesokan paginya, Dila terbangun karena suara notifikasi.
Sebuah pesan masuk.
«Azam: Datang lebih awal. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.»
Dila segera bersiap.
Setelah sarapan, ia berpamitan kepada Fadil.
“Aku berangkat.”
Fadil hanya mengangguk.
“Jangan pulang terlalu malam.”
Dila berhenti.
Biasanya Fadil akan tersenyum.
Hari ini tidak.
Dila ingin memeluknya, tetapi ragu.
Akhirnya ia pergi.
Begitu tiba di Wiratama Group, Dila langsung menuju lantai tiga puluh dua.
Azam sudah menunggunya.
“Duduk.”
Dila duduk.
Azam meletakkan sebuah map cokelat di hadapannya.
“Buka.”
Dila membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.
Foto pertama memperlihatkan keluarga Azam.
Foto kedua memperlihatkan Bu Ratih ketika masih muda.
Foto ketiga membuat napas Dila tercekat.
Seorang perempuan muda berdiri sambil menggendong bayi.
Wajah perempuan itu…
Sangat mirip dengan dirinya.
Dila menatap foto tersebut lama.
“Ini siapa?”
“Larasati.”
Dila menyentuh foto itu.
“Dan bayi itu?”
Azam terdiam.
“Siapa?”
“Adiknya.”
“Siapa?”
Azam menatap Dila.
“Namanya Azam.”
Dila membeku.
Ia menatap foto itu kembali.
Azam kecil berada dalam pelukan Larasati.
“Kenapa Anda menunjukkan ini?”
“Karena kamu harus tahu bahwa saya tidak memilihmu secara kebetulan.”
Dila mengangkat wajah.
“Apakah saya anak Larasati?”
Azam tidak langsung menjawab.
“Jawab.”
“Tidak.”
Dila menghela napas lega.
Namun Azam melanjutkan,
“Tapi ada kemungkinan kamu memiliki hubungan darah dengannya.”
Dila kembali membeku.
“Hubungan darah?”
Azam mengangguk.
“Dan itulah yang sedang saya cari tahu.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum Larasati meninggal, dia meninggalkan sebuah surat.”
“Surat apa?”
Azam mengambil amplop tua.
Kemudian menyerahkannya kepada Dila.
“Surat ini ditujukan kepada seseorang bernama Dila.”
Jantung Dila serasa berhenti.
“Dila?”
“Iya.”
“Tapi bagaimana mungkin?”
“Surat ini ditulis dua puluh delapan tahun lalu.”
Dila menatap amplop tersebut.
Tangannya gemetar.
“Dua puluh delapan tahun lalu saya bahkan belum…”
Ia berhenti.
Sebuah pikiran tiba-tiba muncul.
Azam memandangnya.
“Kamu mulai mengerti?”
Dila menatapnya.
“Berapa umur saya saat Larasati meninggal?”
“Dua tahun.”
Dila terdiam.
Dua tahun.
Sesuatu yang sangat jauh dalam ingatannya tiba-tiba muncul.
Suara seorang perempuan.
Aroma minyak kayu putih.
Sebuah kalung kecil.
Dan sebuah lagu yang dulu sering dinyanyikan seseorang kepadanya.
Dila memegang kepalanya.
“Saya ingat…”
Azam langsung berdiri.
“Apa?”
“Seorang perempuan.”
“Apa yang kamu ingat?”
“Dia memanggil nama saya.”
Dila memejamkan mata.
“Dia bilang…”
Suaranya bergetar.
“Jangan percaya keluarga itu.”
Azam membeku.
“Dila.”
Dila membuka mata.
“Kenapa?”
“Kalimat itu…”
“Apa?”
“Itu sama persis dengan kalimat dalam surat Larasati.”
Dila menatapnya dengan wajah pucat.
Azam membuka amplop tersebut.
Namun sebelum ia sempat mengeluarkan suratnya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Laras masuk dengan wajah panik.
“Pak Azam!”
Azam menoleh.
“Ada apa?”
“Kita punya masalah.”
“Apa?”
“Dokumen lama dari ruang arsip hilang.”
Azam langsung berdiri.
“Dokumen apa?”
Laras menatap Dila.
“Berkas Larasati.”
Suasana mendadak sunyi.
Azam menatap Dila.
Dila menatap amplop di tangannya.
Seseorang telah mengambil dokumen tentang Larasati.
Dan orang itu tahu bahwa Dila sedang mencari tahu masa lalu.
Beberapa menit kemudian, seluruh lantai tiga puluh dua diperiksa.
Tidak ada tanda-tanda pembobolan.
Tidak ada kamera yang rusak.
Tidak ada pintu yang dipaksa.
Artinya…
Orang yang mengambil dokumen itu memiliki akses resmi.
Azam berdiri di depan layar keamanan.
“Siapa saja yang bisa masuk ruang arsip?”
Laras membuka daftar.
“Lima orang.”
“Nama?”
“Laras, saya sendiri. Pak Bagas dari bagian legal. Pak Rangga dari keuangan. Sekar dari pemasaran…”
Laras berhenti.
“Dan?”
“Pak Arif.”
Dila langsung teringat lelaki yang menabraknya beberapa hari lalu.
Arif.
Tatapan anehnya.
Seolah mengenal dirinya.
Azam menoleh.
“Kamu mengenal Arif?”
Dila mengangguk.
“Saya pernah bertemu dengannya.”
“Di mana?”
“Di lorong kantor.”
“Apa yang dia katakan?”
“Tidak banyak.”
Azam tampak berpikir.
Kemudian ponsel Laras berdering.
Ia mengangkatnya.
Wajahnya berubah.
“Pak…”
“Apa?”
“Polisi baru saja menemukan sebuah mobil terbengkalai di dekat gudang lama perusahaan.”
“Lalu?”
“Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan.”
Azam mengerutkan kening.
“Dokumen Larasati?”
Laras menelan ludah.
“Bukan.”
“Lalu apa?”
“Dokumen tentang…”
Laras memandang Dila.
“…keluarga Dila.”
Dila merasa seluruh tubuhnya membeku.
Azam segera menatapnya.
“Mulai sekarang, kamu tidak boleh pergi sendirian.”
Dila menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena orang yang mengambil dokumen itu mungkin tidak hanya menginginkan rahasia perusahaan.”
Azam mengambil ponselnya.
“Dia mungkin menginginkan kamu.”
Dila terdiam.
Di luar gedung, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.
Seorang pria di dalamnya sedang memperhatikan gedung Wiratama Group.
Kemudian ia mengangkat ponsel.
“Dia sudah tahu tentang Larasati.”
Suara seseorang terdengar dari seberang.
“Lalu?”
“Azam juga sudah menemukan Dila.”
Hening beberapa detik.
Kemudian suara itu berkata,
“Kalau begitu, jangan biarkan mereka menemukan kebenarannya.”
Pria tersebut menatap lantai tiga puluh dua.
“Kalau Dila mengetahui siapa dirinya…”
Suara di telepon menjawab dingin.
“…semua yang kita bangun selama dua puluh delapan tahun akan hancur.”
Sambungan terputus.
Sementara di lantai tiga puluh dua, Dila masih berdiri dengan wajah pucat.
Ia belum tahu siapa dirinya sebenarnya.
Namun untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa masa lalunya ternyata memiliki nilai yang cukup besar hingga membuat seseorang rela melakukan apa saja untuk menyembunyikannya.
Dan di rumah, Fadil menerima sebuah amplop tanpa nama.
Di bagian depannya hanya tertulis satu kalimat:
«“Kalau kamu ingin menyelamatkan istrimu, cari tahu siapa Azam sebenarnya.”»
Fadil menatap tulisan itu dengan tangan gemetar.
Ia tidak tahu bahwa sejak hari itu, dirinya pun telah masuk ke dalam permainan rahasia yang selama ini mengelilingi Dila.
Bersambung…