Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 DINYATAKAN HIDUP
Kaluna membaca dokumen tersebut berulang kali, berharap menemukan kesalahan pada nama pemilik rekening. Tidak ada. Di bagian atas tertulis nilai pemindahan dana yang cukup besar untuk membuat siapa pun percaya bahwa ia memang sedang menyiapkan pelarian. Tanggal persetujuannya satu hari sebelum mobil Kaluna jatuh ke sungai. Di bawahnya terdapat tanda tangan yang sangat mirip dengan miliknya.
“Dari mana media mendapat ini?” tanya Kaluna.
Naren memperbesar bagian bawah dokumen. “Tidak ada keterangan sumber.”
“Rekeningnya benar milikku?”
“Kita belum tahu.”
“Namanya jelas tertulis.”
“Nama pada dokumen bisa ditulis siapa saja.”
Kaluna mengambil telepon dari tangan Naren. Nomor rekening hanya tampak sebagian karena beberapa angka ditutupi media. Meski begitu, nama bank dan negara tujuan tidak disamarkan. Rekening itu berada di Singapura. Sama seperti tujuan tiket penerbangan satu arah yang dibuat atas namanya. Tiket, foto hotel, dan rekening luar negeri. Semua bukti itu seperti disusun agar saling mendukung.
“Ini akan dibawa ke sidang besok,” kata Kaluna.
Salindri yang baru bergabung melalui panggilan video meminta dokumen tersebut dikirim kepadanya.
“Sidang besok hanya mengenai pemulihan status hukum,” katanya. “Mereka bisa memakai dokumen ini untuk membangun dugaan bahwa kamu sengaja menghilang, tapi itu tidak mengubah hasil DNA.”
“Kalau hakim percaya aku sengaja pergi?”
“Status hidupmu tetap harus dipulihkan. Orang yang masih hidup tidak bisa dibiarkan tercatat mati hanya karena ada dugaan pelanggaran lain.”
“Bagaimana dengan hakku?”
“Itu perkara berikutnya.”
Kaluna memandang lampu-lampu kota di luar jendela mobil. Ia semakin dekat mendapatkan namanya kembali, tetapi setiap langkah selalu diikuti pintu lain yang sengaja ditutup.
“Aku ingin rekening ini diperiksa malam ini.”
Naren mengangguk. “Aku bisa mulai dari kode bank dan pola dokumennya.”
“Tidak cukup.”
“Kaluna,” kata Salindri, “kita tidak akan mendapatkan data rekening luar negeri dalam beberapa jam.”
“Jadi besok mereka memperlihatkan ini dan aku hanya bisa bilang belum tahu?”
“Kita mengatakan bahwa keaslian dokumen belum terverifikasi.”
“Mereka akan bilang aku menyangkal semua bukti.”
“Mereka boleh berkata apa saja. Yang penting kita tidak membuat pernyataan yang tidak bisa kita pertahankan.”
Kaluna menutup mata sebentar. Besok ia harus berdiri di hadapan hakim untuk membuktikan bahwa dirinya masih hidup. Seharusnya hal itu sederhana. Ia bernapas, berbicara, dan berdiri dengan tubuhnya sendiri. Keluarga Mahardika justru mengubah kepulangannya menjadi perkara tentang niat. Seolah hidup saja belum cukup.
Pagi berikutnya, halaman pengadilan dipenuhi wartawan. Beberapa kamera sudah mengarah ke pintu masuk ketika mobil Kaluna berhenti. Petugas keamanan membantu membuka jalan, tetapi suara pertanyaan tetap mengejarnya.
“Bu Kaluna, apakah rekening Singapura itu milik Anda?”
“Apakah Anda sengaja menghilang?”
“Benarkah Anda kembali karena saham perusahaan?”
“Apakah Anda akan mengambil Elara dari keluarga Mahardika?”
Kaluna tidak menanggapi. Salindri berjalan di sampingnya. Naren mengikuti beberapa langkah di belakang sambil membawa map berisi dokumen.
Di dalam gedung, suasananya lebih tenang. Arsen sudah datang. Ia berdiri bersama kuasa hukum Mahardika Medika. Bramasta juga hadir dengan setelan gelap dan wajah tenang seperti biasa. Ia tidak tampak seperti ancaman. Justru seperti anggota keluarga yang datang untuk memastikan proses berjalan dengan baik. Veyra tidak tampak.
“Elara?” tanya Kaluna kepada Arsen.
“Di rumah bersama Veyra.”
“Bagus.”
Arsen memandang Kaluna. “Aku baru melihat laporan rekening itu pagi ini.”
“Lalu?”
“Aku meminta bagian keuangan memeriksa.”
“Dan mereka bilang?”
“Nomor rekeningnya tidak tercatat dalam daftar rekening resmi perusahaan.”
“Itu bukan berarti rekening tersebut tidak pernah dibuat.”
“Aku tahu.”
Kaluna mengalihkan pandangan ke kuasa hukum yang berdiri di belakang Arsen.
“Apakah perusahaan akan memakai dokumen itu hari ini?”
Arsen belum menjawab ketika Bramasta mendekat.
“Kaluna,” sapanya tenang.
Kaluna tidak membalas sapaan itu.
Bramasta tetap tersenyum tipis. “Hari ini seharusnya menjadi langkah penting bagimu. Jangan biarkan pemberitaan membuatmu kehilangan kendali.”
“Pemberitaan itu memakai dokumen perusahaan.”
“Belum ada bukti dokumen tersebut berasal dari perusahaan.”
“Foto hotel juga dikirim memakai perangkat perusahaan.”
Bramasta melirik Naren sebentar, lalu kembali kepada Kaluna.
“Saya mendengar kamu mulai memeriksa arsip lama. Itu hakmu. Tapi jangan sampai keinginan mencari kesalahan membuat semua orang tampak bersalah.”
“Termasuk orang yang meminta aku menghentikan pemeriksaan dua hari sebelum kecelakaan?”
Wajah Bramasta tidak berubah.
“Saya tidak tahu apa yang kamu maksud.”
Kaluna menunggu satu gerakan kecil, satu perubahan napas, atau tanda bahwa pertanyaannya mengenai sasaran. Tidak ada. Bramasta tetap tenang.
“Kalau begitu, kamu tidak perlu khawatir,” kata Kaluna.
Pintu ruang sidang dibuka sebelum percakapan mereka berlanjut.
Kaluna duduk bersama Salindri. Di sisi lain, kuasa hukum perusahaan menyiapkan beberapa berkas keberatan. Sidang dimulai dengan pemeriksaan identitas. Nama lengkap. Tanggal lahir. Tempat lahir. Nama orang tua. Alamat terakhir sebelum kecelakaan.
Kaluna menjawab semuanya.
Hakim kemudian memeriksa hasil tes DNA yang menunjukkan hubungan biologis antara Kaluna dan Elara. Foto lama, sidik jari, catatan pendidikan, serta dokumen pendirian Mahardika Medika juga diserahkan.
Mbok Rini memberikan kesaksian singkat. Perempuan tua itu berdiri dengan kedua tangan gemetar, tetapi suaranya cukup jelas.
“Saya mengenal Nona Kaluna sejak sebelum menikah dengan Pak Arsen,” katanya. “Cara berjalan, suara, dan bekas luka kecil di bawah telinganya tidak mungkin saya salah.”
Hakim memintanya menjelaskan kapan terakhir bertemu Kaluna sebelum kecelakaan dan bagaimana ia mengenalinya saat acara peringatan kematian.
Setelah Mbok Rini selesai, Salindri menyerahkan catatan medis dari Jati Pranendra. Dokumen itu belum membuka seluruh riwayat perawatan Kaluna. Cukup untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan tanpa identitas ditemukan dalam keadaan cedera berat beberapa hari setelah kecelakaan.
Perempuan itu mengalami trauma kepala, beberapa patah tulang, dan gangguan ingatan.
Foto medis lama dibandingkan dengan Kaluna.
Bekas luka dan struktur tulangnya sama.
“Dokter yang merawat bersedia memberikan kesaksian dalam pemeriksaan lanjutan,” kata Salindri.
Kuasa hukum perusahaan kemudian berdiri.
“Kami tidak menyangkal adanya hubungan biologis antara pemohon dengan Elara Mahardika,” katanya. “Tapi kami meminta pengadilan tidak langsung menerima seluruh cerita pemohon tanpa pemeriksaan.”
Salindri menoleh. “Permohonan hari ini mengenai status hidup dan identitas, bukan perkara penggelapan.”
“Keduanya berhubungan. Pemohon diduga telah melakukan persiapan perjalanan ke luar negeri, memindahkan dana, dan berada di hotel dekat bandara sebelum kecelakaan.”
Kuasa hukum menyerahkan salinan tiket dan laporan rekening Singapura. Kaluna melirik Arsen. Lelaki itu duduk dengan rahang mengeras, tetapi tidak menghentikan pengacaranya.
“Dokumen rekening tersebut baru beredar tadi malam dan belum pernah diuji keasliannya,” kata Salindri.
“Kami tidak meminta hakim memutus kesalahan pidana. Kami hanya meminta agar alasan hilangnya pemohon selama tiga tahun diperiksa.”
“Hilangnya seseorang tidak mengubah fakta bahwa ia masih hidup.”
“Kalau pemohon sengaja menghilang, maka berbagai keputusan yang dibuat keluarga dan perusahaan selama tiga tahun tidak bisa langsung dianggap sebagai perampasan hak.”
Kaluna memahami arah serangan itu. Mereka tidak bisa lagi mengatakan dirinya bukan Kaluna. Jadi mereka mengakui ia hidup, tetapi berusaha membuat seluruh kejadian setelah kematiannya terlihat sebagai akibat dari pilihannya sendiri.
Hakim memeriksa dokumen rekening cukup lama.
“Apakah pemohon mengenali rekening ini?”
Kaluna berdiri.
“Tidak.”
“Apakah Anda pernah membuka rekening di Singapura?”
“Setahu saya, tidak.”
“Setahu Anda?”
“Saya mengalami kehilangan sebagian ingatan. Saya tidak akan berbohong dan mengatakan saya mengingat semuanya. Tapi saya tidak pernah berniat meninggalkan putri saya atau menggelapkan uang perusahaan.”
Kuasa hukum perusahaan langsung bertanya, “Kalau Anda tidak mengingat semuanya, bagaimana Anda bisa memastikan tidak pernah berniat pergi?”
Salindri berdiri. “Pertanyaan itu sudah melewati ruang pemeriksaan hari ini.”
Hakim meminta kedua pihak menahan diri. Kaluna tetap berdiri.
“Saya tidak meminta pengadilan memercayai perasaan saya,” katanya. “Saya meminta setiap dokumen diperiksa. Foto hotel yang dipakai untuk menuduh saya melarikan diri sudah terbukti dipotong. Nama salah satu peserta pertemuan juga diduga dipalsukan. Kalau rekening ini benar, silakan periksa siapa yang membukanya, perangkat apa yang digunakan, dan siapa yang mengendalikan uangnya.”
Ruang sidang sunyi.
Kaluna kembali duduk. Arsen memandangnya dari seberang. Kali ini tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya rasa bersalah yang sulit disembunyikan.
Setelah seluruh bukti diperiksa, hakim menunda sidang selama hampir satu jam untuk mempertimbangkan permohonan.
Kaluna menunggu di lorong.
Teleponnya bergetar.
Sebuah pesan dari Elara masuk melalui nomor Veyra.
Kamu sudah hidup belum?
Kaluna membaca kalimat itu beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
Ia membalas:
Aku dari dulu hidup. Pengadilan hanya sedang memperbaiki catatannya.
Elara menjawab:
Kalau sudah selesai bilang aku.
Kaluna mengetik:
Iya.
Tidak lama kemudian, mereka dipanggil kembali ke ruang sidang.
Hakim membaca putusan perlahan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, kesesuaian identitas, catatan medis, dokumen pribadi, serta kesaksian yang diberikan, pengadilan menyatakan bahwa perempuan di hadapan mereka adalah Kaluna Adiswara.
Penetapan kematian sebelumnya dibatalkan.
Catatan kependudukan dan dokumen keluarga harus diperbaiki.
Secara hukum, Kaluna kembali dinyatakan hidup.
Ia mendengar kalimat itu tanpa bergerak.
Tiga tahun setelah orang lain mengadakan pemakaman untuknya, sebuah lembaga negara akhirnya mengakui bahwa dirinya belum mati.
Salindri menyentuh tangannya pelan.
“Kita berhasil.”
Kaluna menarik napas panjang.
Hakim belum selesai.
“Penetapan ini hanya menyangkut identitas dan status hidup pemohon,” lanjutnya. “Tidak serta-merta membatalkan pengalihan aset, keputusan perusahaan, perkawinan yang dilakukan setelah penetapan kematian, ataupun pengaturan pengasuhan anak. Seluruh sengketa tersebut harus diperiksa melalui proses terpisah.”
Kebahagiaan kecil yang baru muncul langsung tertahan. Kaluna sudah tahu hal itu, tetapi mendengarnya diucapkan secara resmi tetap terasa berat.
Kuasa hukum perusahaan berdiri setelah sidang selesai.
“Kami menghormati keputusan pengadilan. Keberatan mengenai alasan menghilangnya Kaluna Adiswara dan tuntutan atas aset perusahaan akan tetap dilanjutkan.”
Bramasta berjalan mendekat.
“Selamat,” katanya. “Namamu sudah kembali.”
Kaluna menoleh kepada Salindri.
“Tapi hakku belum.”
“Semua ada prosesnya.”
“Proses yang kalian kendalikan selama aku dianggap mati.”
Bramasta tersenyum tipis. “Kalau kamu yakin berada di pihak yang benar, kamu tidak perlu takut pada pemeriksaan.”
Kaluna mendengar kalimat itu seperti ancaman yang dibungkus nasihat. Ia tidak menjawab.
Di luar ruang sidang, wartawan kembali memenuhi lorong. Salindri memberi pernyataan singkat bahwa status kematian Kaluna telah dibatalkan. Pertanyaan mengenai saham, rekening Singapura, dan hak asuh dijawab dengan kalimat yang sama: seluruhnya masih dalam pemeriksaan.
Kaluna mengirim pesan kepada Elara.
Pengadilan sudah memperbaiki catatannya. Sekarang aku resmi dinyatakan hidup.
Balasan Elara datang beberapa menit kemudian.
Berarti aku boleh bilang kamu bukan hantu?
Kaluna tertawa kecil. Senyum itu tidak bertahan lama.
Pesan berikutnya masuk.
Tapi Papa bilang kamu belum tentu tinggal sama aku.
Kaluna mengangkat kepala.
Arsen berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu sedang berbicara dengan kuasa hukum perusahaan. Saat menyadari Kaluna memperhatikannya, ia menghentikan percakapan.
Salindri menyerahkan salinan keputusan pengadilan.
“Mulai hari ini, identitasmu pulih. Kita bisa mengajukan akses dokumen, tuntutan aset, dan permohonan pengaturan pertemuan dengan Elara atas namamu sendiri.”
“Berapa lama?”
“Tidak sebentar.”
Kaluna memegang keputusan tersebut erat-erat.
Namanya sudah kembali.
Rumahnya masih ditempati orang lain.
Sahamnya masih berada di tangan yayasan keluarga.
Suaminya telah menikahi adiknya.
Putrinya masih memanggil perempuan lain Mama.
Dan sebuah rekening di luar negeri sedang dipakai untuk membuktikan bahwa Kaluna pernah memilih meninggalkan semuanya.
Naren berdiri di sampingnya.
“Apa langkah pertama?”
Kaluna memandang dokumen yang menyatakan dirinya hidup.
“Kita cari siapa yang membuka rekening itu.”
Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah Arsen dan Bramasta.
“Setelah itu, aku akan membuktikan bahwa aku tidak pernah melarikan diri.”
Hari itu, Kaluna Adiswara kembali hidup di mata hukum.
Untuk mendapatkan kembali anak, nama, dan hartanya, ia masih harus membuktikan bahwa kematiannya bukan pilihan yang dibuatnya sendiri.