Indonesia
NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suara ketukan halus pada dokumen di atas meja menandakan berakhirnya sesi rapat pagi itu.

Satu per satu jajaran direksi dan kepala divisi mulai membereskan berkas mereka, lalu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang meeting utama.

Dalam hitungan menit, ruangan besar itu kini hanya menyisakan Baskara yang masih duduk termenung di kursinya sambil memijat pelan batang hidungnya, dan Kenan yang berdiri setia di dekat jendela dengan ekspresi ragu-ragu.

Kenan melangkah mendekati meja Baskara, membawa sebuah tablet di tangannya.

"Tuan Baskara, ada satu hal lagi sebelum saya membiarkan Anda beristirahat."

Baskara mendongak, menatap asisten setianya dengan alis terangkat.

"Ada apa lagi, Kenan?"

Kenan menarik napas sejenak sebelum berbicara hati-hati.

"Tadi, sebelum rapat dimulai, saya mendapat pesan langsung dari pihak rutan. Mama Anda menyampaikan pesan melalui petugas di sana. Beliau memohon izin untuk bisa bertemu dengan Anda, Tuan."

Mendengar nama wanita yang telah melahirkannya itu disebut, rahang Baskara langsung mengeras.

Bayangan tentang bagaimana wanita itu ikut terlibat dalam intrik kelam bersama Billy dan Yanuar—hingga hampir menghancurkan hidupnya dan Alena—kembali berkelebat di benaknya.

Keputusan pengadilan yang menyeret nama sang ibu ke balik jeruji besi bukanlah hal yang mudah ia telan, namun itu adalah harga dari keadilan.

"Untuk apa lagi?" gumam Baskara dingin, suaranya terdengar datar namun menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam.

Kenan terdiam, tidak berani berspekulasi atau membela.

Baskara menggelengkan kepalanya tegas. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menolak permintaan tersebut.

"Katakan pada pihak rutan, saya menolaknya. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hidup saya dan Alena sudah cukup tenang sekarang, dan saya tidak ingin masa lalu yang rusak itu merusak kedamaian kami."

"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan penolakan ini."

Setelah urusan rapat penting dan penolakan tegas itu selesai, Baskara memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya hari itu.

Punggungnya yang belum sepenuhnya pulih mulai memberikan sinyal kelelahan, namun alasan terbesar ia ingin segera beranjak dari ruang kerjanya adalah rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.

Bayangan Alena di rumah bersama Tanti membuat hatinya tidak tenang jika harus berlama-lama di kantor.

Baskara merapikan meja kerjanya, mengambil ponsel dan kunci mobil, lalu bangkit berdiri.

Ia melangkah keluar ruangan, memberikan instruksi singkat kepada Kenan bahwa sisa pekerjaan hari itu akan ia tangani secara virtual dari rumah.

Tanpa membuang waktu, Baskara segera turun menuju basement, masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraannya membelah jalanan kota Jakarta, kembali menuju pelukan hangat sang istri tercinta.

Mobil hitam yang dikendarai Baskara memasuki area parkir basement apartemen dengan mulus. Setelah mematikan mesin, ia melangkah keluar dan langsung naik ke unit apartemen mereka dengan perasaan lega, seolah setiap kilometer yang ia tempuh membawanya pergi menjauh dari segala kepenatan kantor dan bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Begitu pintu unit apartemen terbuka dan ia melangkah masuk ke ruang tengah, aroma asam, pedas, dan segar yang khas langsung menyapa indra penciumannya.

Baskara menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang makan, lalu tersenyum tipis menyaksikan pemandangan di hadapannya.

Alena, istri tercintanya, tampak sedang duduk berhadapan dengan Tanti sambil memegang sepotong mangga muda.

Wajah Alena terlihat begitu menikmati, sesekali menyipitkan mata karena rasa asamnya yang kuat, namun tetap lahap mencocolnya ke dalam mangkok bumbu rujak berwarna cokelat pekat.

"Wah, rupanya dua 'ibu negara' sedang pesta rujak rupanya," tegur Baskara dengan suara baritonnya yang hangat, sambil berjalan mendekat dan melonggarkan dasi di lehernya.

Alena menoleh cepat ke arah sumber suara, matanya berbinar cerah mendapati suaminya sudah berdiri di dekat meja makan.

Ia buru-buru meletakkan potongan mangga di tangannya, lalu tersenyum lebar menyambut kepulangan Baskara.

"Iya, Bas! Tanti tadi tiba-tiba datang membawa mangga muda yang segar banget. Rasanya pas banget buat ngidam," ujar Alena antusias, lalu berdiri untuk menghampiri suaminya.

Ia merapikan jas dan dasi Baskara dengan penuh perhatian.

"Bagaimana pekerjaanmu? Cepat sekali pulangnya. Katanya tadi cuma meeting sebentar?"

Baskara membalas tatapan penuh perhatian itu dengan senyuman hangat, lalu merangkul pinggang Alena dengan lembut.

"Semuanya lancar, Sayang. Tidak ada masalah besar, jadi aku bisa langsung pulang ke sini. Aku tidak mau terlalu lama meninggalkan istriku sendirian," jawab Baskara dengan nada menggoda yang sukses membuat pipi Alena merona tipis.

Melihat kebersamaan suami-istri di depannya, Tanti yang sejak tadi duduk langsung tersenyum geli sekaligus merasa tidak enak karena menjadi 'nyamuk' di antara mereka. Ia segera beranjak, merapikan mangkok sisa rujak di atas meja.

"Ehem, Tuan Baskara sudah pulang rupanya," sapa Tanti sambil tersenyum hormat.

"Kalau begitu, karena Nyonya sudah ada yang menemani dan menjaga, saya pamit pulang dulu ya, Tuan, Nyonya."

Alena melepaskan rangkulan Baskara sejenak untuk menoleh ke arah asistennya.

"Mau langsung pulang, Tanti? Padahal baru sebentar. Terima kasih banyak ya mangga mudanya, bener-bener penyelamat hari ini!"

"Sama-sama, Nyonya. Senang bisa membawakan apa yang diinginkan baby," balas Tanti riang. "Saya permisi dulu ya, Tuan, Nyonya."

Setelah Tanti berlalu dan pintu apartemen tertutup rapat kembali, suasana di dalam unit kembali terasa intim dan menenangkan, memberikan ruang bagi Baskara dan Alena untuk menikmati sisa hari mereka berdua saja.

Begitu suara ketukan pintu penutup kepergian Tanti bergeming dan mengunci dari luar, Baskara tidak lagi menahan diri.

Ia langsung menarik tubuh Alena ke dalam dekapannya, membawanya erat-erat seolah wanita itu baru saja pergi berbulan-bulan lamanya.

Dagu Baskara bersandar nyaman di puncak kepala Alena, menghirup aroma lembut rambut istrinya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang selepas bekerja.

"Aku kangen sekali, Sayang," bisik Baskara tulus, suaranya terdengar berat dan sarat akan kerinduan yang mendalam.

Alena, yang sempat terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu, mengerjap sesaat sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Ia balas melingkarkan lengannya di pinggang tegap suaminya, merasa geli sekaligus tersentuh dengan sikap posesif manja sang suami.

"Bas, aku di sini, lho. Bukan sedang pergi ke luar kota atau ke mana-mana," protes Alena lembut di balik dada bidang Baskara, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis.

"Kita kan baru berpisah beberapa jam waktu kamu berangkat ke kantor tadi pagi."

Mendengar protes polos itu, tawa kecil kontan lepas dari bibir Baskara.

Ia melonggarkan sedikit pelukannya, menunduk untuk menatap mata sang istri dengan sorot penuh cinta yang terpancar jelas.

"Tetap saja terasa lama kalau tidak melihat wajahmu," balas Baskara membela diri, lalu mendaratkan satu ciuman penuh kasih di kening Alena.

"Apalagi rasanya ada yang kurang kalau seharian tidak memastikan kamu dan jagoan kecil kita baik-baik saja."

1
Muft Smoker
selamat Alena baskara ,,
semoga km juga cepat pulih ,,
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena and baskara, semoga Alena bisa melewati masa kritisnya dan bangun dari koma
Aghitsna Agis
semoga selamat alena dan debaynya
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,,
Muft Smoker
aaa sweet banget kn ,, jrang2 punya suami yg lebih muda bisa sesayang Dan sesetia ini ,,
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena dan baskara untuk toko roti yang baru, tetap jadi berkat
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!