Indonesia
NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Tipis Antara Takdir dan Maut

Bzzzzzt! Beep... Beep... Beep...

​Suara nyaring alat pemantau jantung di dalam ruang operasi menusuk telinga Anindya. Dari balik kaca bening yang dingin, ia melihat tubuh Adrian terangkat lalu menghempas kembali ke ranjang setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya.

​"Isi ulang ke dua ratus Joule! Cepat!" teriak dokter bedah dari dalam ruangan, peluh membasahi dahinya.

​Anindya menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding kaca, air matanya menetes tanpa henti. Tangannya yang sebelah lagi perlahan turun mengelus perutnya yang masih rata.

​"Jangan mati, Adrian... kubohon jangan mati..." bisik Anindya dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan.

​Sarah mendekati Anindya dengan wajah pucat pasi. "Nyonya Anindya, Anda harus mundur. Kondisi Anda sedang hamil muda, stres berlebihan bisa membahayakan janin Anda!"

​"Bagaimana aku bisa mundur, Sarah?!" jerit Anindya tanpa berpaling dari kaca. "Anak di dalam perutku ini butuh ayahnya! Adrian harus tahu kalau dia akan menjadi seorang ayah!"

"Tapi darah Anda tidak bisa didonorkan sekarang!" suara Sarah pecah oleh keputusasaan. "Jika kita memaksakan transfusi dari Anda, Anda dan bayi Anda bisa mengalami pendarahan hebat!"

​"Lalu apa kita cuma harus diam menontonnya mati?!" bentak Anindya, memutar tubuhnya menghadap Sarah dengan mata menyala penuh emosi. "Pasti ada cara lain! Cari donor lain di rumah sakit ini sekarang juga!"

​"Golongan darah Bombay Phenotype hanya dimiliki oleh satu dari jutaan orang, Nyonya!" sahut Sarah seraya menggigit bibirnya. "Di seluruh bank darah kota ini, stoknya nol!"

​Beep... Beep... Beep...

​Di dalam ruangan, alat medis kembali melepaskan sengatan listrik ketiga. Dokter bedah menggelengkan kepalanya pasrah, lalu mengangkat kedua tangannya seraya melirik jam dinding.

​"Waktu kematian, pukul dua lewat empat puluh lima menit pagi..." ucap dokter itu lirih, suaranya terdengar jelas dari pengeras suara komunikasi ruangan.

​"Tidak! Jangan hentikan!" jerit Anindya histeris. Ia memukul kaca tebal itu dengan seluruh tenaganya. "Dokter! Jangan menyerah! Lakukan sesuatu!"

​Seolah mendengar jeritan Anindya, pintu koridor darurat di ujung lorong mendadak didobrak keras dari luar.

​Brak!

Seorang pria berseragam dokter dengan pakaian berantakan dan napas terengah-engah berlari menghampiri mereka. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kotak pendingin medis khusus bertuliskan Emergency Blood Transport.

​"Tunggu! Jangan matikan mesinnya!" teriak pria itu dengan suara nyaring.

​Sarah terperanjat hebat. "Dokter Kenzie?! Kenapa Anda ada di sini?!"

​Dokter Kenzie, kepala laboratorium riset independen keluarga Vane, menghentikan fisiknya di depan Anindya dan Sarah seraya terbatuk-batuk. "Aku... aku membawa kantong darah murni Bombay Phenotype!"

Anindya melotot tak percaya, meraih bahu Dokter Kenzie. "Dari mana Anda mendapatkan darah itu?! Siapa pendonornya?!"

​"Nona Clara!" jawab Dokter Kenzie cepat sembari menyerahkan kotak itu kepada perawat yang berlari keluar dari ruang operasi. "Dua hari sebelum kecelakaan itu terjadi, Nona Clara secara rahasia menyimpankan dua kantong darah murni miliknya di laboratoriumku untuk cadangan darurat Adrian!"

​"Clara?" gumam Anindya, lidahnya mendadak kelu.

​"Nona Clara tahu tubuhnya makin melemah karena penyakitnya," lanjut Dokter Kenzie seraya menatap ke dalam ruang operasi melalui kaca. "Dia menyuruhku mengunci sampel darah itu dan hanya mengeluarkannya jika nyawa Adrian berada di ambang kematian mutlak."

​Di dalam ruangan, tim medis dengan cepat menyambungkan kantong darah dari kotak pendingin itu ke selang infus Adrian. Dokter bedah kembali menempelkan alat kejut listrik ke dada Adrian.

​"Isi ke dua ratus lima puluh Joule! Sekali lagi! Sekarang!" perintah dokter bedah.

​Bzzzzzt!

​Tubuh Adrian melonjak tinggi. Udara di lorong terasa berhenti berhembus. Semua mata tertuju pada layar monitor jantung yang tadinya menunjukkan garis lurus yang membisu.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

​Thump.

​Sebuah gelombang kecil muncul di layar monitor.

​Thump... Thump...

​Suara detak jantung yang lemah namun teratur perlahan kembali terdengar dari pengeras suara, makin lama makin stabil dan kuat.

​"Detak jantungnya kembali! Tekanan darah mulai naik!" teriak perawat di dalam ruangan penuh kegembiraan.

Anindya menyandarkan dahinya ke kaca tebal itu, tangannya gemetar hebat seraya menghembuskan napas lega yang luar biasa. Air matanya menetes, namun kali ini bukan karena duka.

​"Dia selamat..." bisik Sarah dengan senyum haru. "Tuan Adrian selamat..."

​Dua hari kemudian, di kamar perawatan VVIP lantai paling atas.

​Sinar matahari pagi menembus tirai tipis, menerangi ruangan yang luas dan wangi bunga segar. Adrian terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang masih menempel di tubuhnya, namun warna di wajahnya perlahan telah kembali normal.

Anindya duduk di kursi samping ranjang, menggenggam erat jemari Adrian yang terasa hangat. Ia menatap wajah pria yang selama ini bersikap begitu dingin padanya, namun rela menaruh dadanya di depan peluru demi melindunginya.

​Perlahan, kelopak mata Adrian bergerak. Pria itu menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka matanya secara penuh.

​"Anindya..." suara Adrian terdengar sangat serak dan lemah.

​Anindya langsung menegakkan tubuhnya, air matanya kembali merebak di pelupuk mata. "Adrian! Kau sudah sadar? Tunggu, aku panggilkan dokter--"

"Jangan pergi," bisik Adrian, mencengkeram jemari Anindya sedikit lebih erat, menahannya untuk tetap berada di sampingnya.

​Anindya kembali duduk, menatap mata hitam Adrian yang kini tidak lagi memancarkan kedinginan, melainkan kehangatan yang amat dalam.

​"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Adrian pelan.

​"Rian sudah membaik," jawab Anindya seraya tersenyum tipis. "Dia sudah bisa bicara dan makan sendiri di kamarnya. Semua ini berkat bantuanmu, Adrian."

​"Aku hanya menjalankan bagian dari kontrakku," sahut Adrian dengan kekehan kecil yang tertahan karena rasa nyeri di perutnya.

​"Kontrak itu sudah tidak berlaku lagi, Adrian," tegas Anindya. Ia mengambil selembar kertas pembatalan kontrak dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja samping ranjang. "Paman Hendra sudah ditangkap polisi. Seluruh kejahatannya sudah terbukti. Kau tidak perlu berpura-pura lagi padaku."

​Adrian menatap kertas itu sejenak, lalu kembali menatap mata Anindya. "Lalu... apa kau akan pergi meninggalkanku sekarang setelah semuanya selesai?"

​Anindya bungkam sejenak. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu, lalu menggenggamnya rapat di dalam telapak tangannya.

​"Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui sebelum aku memutuskan untuk pergi atau bertahan di rumahmu," ucap Anindya pelan.

​"Hal apa?" tanya Adrian, mengernyitkan dahinya bingung.

​Anindya membuka telapak tangannya, memperlihatkan sebuah alat tes kehamilan (testpack) plastik dengan dua garis merah yang sangat jelas di atasnya.

​Adrian terpaku. Matanya yang tajam melotot menatap benda kecil di tangan Anindya, lalu beralih menatap wajah istrinya dengan ekspresi tak percaya yang luar biasa.

​"Ini... ini..." suara Adrian tercekat di tenggorokan, suaranya bergetar hebat.

​"Dokter bilang usianya sudah empat minggu," ujar Anindya dengan senyum tipis di bibirnya. "Benihmu ada di dalam perutku, Adrian."

​Adrian mencoba mendudukkan tubuhnya dengan terburu-buru, mengabaikan rasa sakit hebat di luka bekas operasinya. "Anindya... kau serius?! Kau sedang mengandung anakku?!"

​"Jangan banyak bergerak, Adrian!" bentak Anindya khawatir, menahan bahu Adrian agar kembali berbaring. "Ya, aku serius. Anak ini nyata."

Adrian menatap Anindya dengan pandangan yang penuh dengan emosi meluap-luap—campuran antara kebahagiaan, rasa bersalah, dan cinta yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat mengelus lembut perut Anindya.

​"Terima kasih, Anindya... Terima kasih..." bisik Adrian penuh haru, sesuatu yang belum pernah dilihat Anindya sepanjang hidupnya. "Aku bersumpah akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian lagi."

​Namun, di tengah momen haru tersebut, pintu kamar perawatan tiba-tiba diketuk dengan sangat keras.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

​Sarah melangkah masuk dengan terburu-buru, wajahnya tampak sangat tegang dan panik, membawa sebuah dokumen rahasia bersampul merah dengan logo Kepolisian Pusat.

​"Tuan Adrian, Nyonya Anindya! Ada masalah besar!" seru Sarah dengan nada suara menajam.

​Adrian mengernyitkan dahi dengan raut wajah kesal karena momen bahagianya terganggu. "Ada apa lagi, Sarah?! Bukankah Paman Hendra sudah berada di dalam sel tahanan?!"

​"Paman Hendra memang sudah ditahan, Tuan!" sahut Sarah cepat. "Tapi baru saja pengacara keluarga Vane menerima surat panggilan resmi dari Mahkamah Internasional!"

​Anindya berdiri dari kursinya. "Surat panggilan? Mengenai apa?!"

​Sarah membuka dokumen itu dan membacakannya dengan suara bergetar:

​"Atas tuduhan kepemilikan aset ilegal dan pencucian uang jaringan medis gelap, seluruh harta, rekening, dan saham Vane Group milik Adrian Vane dihentikan secara hukum dan disita oleh negara mulai detik ini!"

​Adrian terperanjat hebat, wajahnya mendadak pucat pasi. "Penyitaan seluruh aset?! Siapa yang melaporkan tuduhan palsu itu ke Mahkamah Internasional?!"

​Sarah menatap Adrian dan Anindya dengan pandangan ketakutan yang amat sangat sebelum akhirnya menjawab:

​"Pelapor utamanya... adalah Ibu Suri Nyonya Besar Vane, nenek Anda sendiri, Tuan! Dan beliau menuntut hak asuh penuh atas bayi yang sedang dikandung Nyonya Anindya!"​​​​​​​

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!