**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Bahu Lebar, Pinggang Ramping
Keira masih memikirkan tatapan Reynard semalam ketika sebuah benda berwarna hitam jatuh dari tumpukan pakaian di tangannya.
Ia menunduk.
Bra hitam miliknya tergeletak tepat di atas kaus putih Reynard.
"Ya Tuhan."
Minggu pagi itu seharusnya tenang. Keira hanya berniat menjemur pakaian di balkon kecil unit 8B, tetapi angin semalam rupanya menjatuhkan beberapa pakaian dari gantungan. Entah bagaimana, pakaian dalamnya terselip ke keranjang cucian bersih yang dibawa Reynard dari unit 8A.
Belum sempat ia menyembunyikannya, pintu kamar mandi terbuka sedikit.
"Ci Kei, handuk kecilku ada di luar, nggak?"
Keira refleks menjejalkan bra itu ke belakang punggung. "Nggak ada!"
"Aku belum selesai tanya."
"Pokoknya nggak ada."
Pintu terbuka lebih lebar. Reynard muncul dengan rambut basah dan handuk besar yang terikat rendah di pinggang. Untung tubuh bagian atasnya masih tertutup kaus tanpa lengan, meski kain yang lembap menempel jelas di dada.
Tatapannya jatuh ke kaus putih di lantai, lalu ke tangan Keira yang disembunyikan.
"Itu bajuku?"
"Bukan."
"Warnanya putih."
"Banyak benda berwarna putih di dunia."
Reynard berjalan mendekat. Keira mundur satu langkah. Benda yang ia sembunyikan justru tersangkut di jarinya dan jatuh lagi, kali ini tepat di antara kaki mereka.
Sunyi.
Reynard membungkuk bersamaan dengannya. Kepala mereka hampir bertabrakan. Keira lebih dulu meraih bra itu, sementara Reynard mengambil kausnya. Keduanya bangkit secepat mungkin dan berdiri saling membelakangi.
"Anginnya kencang semalam," kata Reynard, suaranya terlalu tenang.
"Aku tahu."
"Jemurannya mungkin terbang ke keranjangku."
"Aku tahu."
"Aku nggak lihat apa-apa."
Keira berbalik. "Kalau nggak lihat, kenapa kamu tahu aku malu?"
Senyum kecil muncul di wajah Reynard. Keira melempar kaus putih itu ke kepalanya, lalu kabur ke balkon dengan membawa seluruh tumpukan pakaian.
Sepuluh menit kemudian ia masih mengomel sendiri sambil menjepit jemuran. Rasa panas di wajahnya belum hilang. Lebih memalukan lagi, setiap kali memejamkan mata, yang terbayang bukan pakaian dalamnya yang jatuh, melainkan garis dada Reynard di balik kaus basah.
Ia benar-benar butuh kopi.
Ketika Keira kembali ke ruang tengah, suara shower sudah berhenti. Ia membuat kopi dengan dua sendok gula, duduk di sofa, dan memaksa diri membuka berkas tugas. Baru dua kalimat dibaca, suara Reynard terdengar dari kamar mandi.
"Ci Kei?"
"Apa lagi?"
"Boleh tolong ambilin kaus bersih di tas?"
"Kenapa kamu nggak ambil sendiri?"
"Karena aku lupa bawa baju masuk."
"Pakai handuk. Jalan ke unitmu."
"Kalau Tante sebelah keluar terus lihat aku cuma pakai handuk, Cici yang bakal ditanya macam-macam."
Argumen menyebalkan itu benar.
Keira menemukan kaus hitam di tas olahraga Reynard. Ia mengetuk pintu kamar mandi dan mengulurkan pakaian itu lewat celah tanpa melihat.
"Ambil."
"Sedikit lagi. Tanganku nggak sampai."
Keira mendecakkan lidah, lalu menoleh.
Pintu terbuka setengah. Kali ini Reynard benar-benar hanya mengenakan handuk putih di pinggang. Titik air mengalir dari rambut ke leher, melintasi bahu lebar, lalu turun mengikuti lekuk perut yang keras. Pinggangnya ramping, membentuk garis tajam yang hilang di balik handuk.
Jari Keira mendadak kaku pada kain kaus.
Sindrom haus kulit itu datang tanpa peringatan.
Bukan sekadar keinginan iseng untuk menyentuh. Ada rasa gatal halus di ujung jarinya, lalu kekosongan aneh di dada yang seolah hanya bisa diredakan oleh kehangatan kulit orang lain. Selama ini Keira mampu mengabaikannya. Vanessa bahkan sering membiarkannya memeluk lengan atau menyandarkan kepala ketika gejalanya muncul.
Namun tubuh di depannya bukan Vanessa.
Ini Reynard. Adik Vanessa. Cowok yang baru berusia delapan belas tahun, tiga tahun lebih muda darinya, dan berdiri terlalu dekat dengan kulit yang masih basah.
"Ci?"
Suara itu menariknya kembali.
Keira baru sadar pandangannya tertahan di dada Reynard. Ia mengepalkan ujung kaus sampai buku jarinya memutih. Ujung jarinya berdenyut ingin bergerak satu senti lagi, menyentuh bahu yang berkilau oleh air.
Tidak.
Ia mendorong kaus itu ke dada Reynard. Telapak tangannya nyaris ikut menempel, tetapi Keira menariknya pada detik terakhir.
"Lain kali siapkan baju sebelum mandi!"
Ia berbalik begitu cepat sampai hampir tersandung karpet. Di belakangnya terdengar tawa tertahan.
"Iya, Ci Kei."
"Jangan ketawa!"
"Aku nggak ketawa."
"Suaranya kedengaran."
Keira menjatuhkan diri ke sofa. Dadanya naik turun seperti baru berlari mengelilingi gedung. Ia menekan kedua telapak tangan ke paha, berusaha menghilangkan sisa dorongan yang membuat kulitnya terasa terlalu peka.
"Kamu sakit?" Reynard bertanya dari balik pintu.
"Nggak."
"Mukamu merah."
"Air panas di kamar mandi bikin ruangan pengap."
Reynard melirik pendingin ruangan yang menunjukkan dua puluh dua derajat. Untung ia cukup bijak untuk tidak membantah. Ia hanya mengambil botol air dari kulkas, membuka tutupnya, lalu menaruh botol itu di meja di depan Keira.
"Minum dulu."
Jarinya berhenti beberapa senti dari tangan Keira. Tidak ada sentuhan, tetapi kesadaran bahwa Reynard sengaja menjaga jarak justru membuat Keira semakin salah tingkah. Apakah cowok itu menyadari apa yang baru saja terjadi? Apakah tatapannya tadi terlalu jelas?
Keira meraih botol setelah Reynard melepaskannya. Air dingin membantu tenggorokannya, tetapi tidak menghapus bayangan bahu telanjang yang masih menempel di kepala.
"Mulai besok," katanya tegas, "kamu mandi di unit sendiri."
"Pemanas air di sana belum menyala."
"Panggil teknisi."
"Baik, Ci Kei."
Jawaban patuh itu disertai senyum tipis yang membuat Keira curiga ia sedang kalah dalam permainan yang bahkan belum ia pahami.
Ponselnya bergetar.
Nama Ricky Susanto muncul di layar bersama tujuh pesan yang belum dibuka.
Pagi, Miss Keira. Lagi apa?
Kemarin aku lihat foto kelasmu. Cantik banget.
Kok chat-ku nggak dibalas?
Aku serius sama kamu, lho.
Keira mengernyit. Ricky adalah staf administrasi di Sanggar Bahasa Cerdas, tempat ia mengajar kelas bahasa Inggris dua kali seminggu. Sebulan lalu pria itu pernah mengajaknya berkencan. Keira sudah menolak dengan baik, mengira masalah selesai.
Ternyata tidak.
Pesan terakhir masuk saat ia masih membaca.
Kalau sibuk, aku telepon aja ya.
Layar segera berganti menjadi panggilan masuk. Nama Ricky berdenyut bersama getaran yang terasa menusuk telapak tangan.
Reynard keluar dari kamar mandi dengan kaus hitam yang tadi diberikan Keira. Rambutnya masih basah, tetapi sorot matanya langsung berubah saat melihat ekspresi Keira.
"Siapa?"
"Orang dari tempat kerja."
"Cici kelihatan nggak suka."
"Memang nggak suka."
Jari Keira melayang di atas tombol hijau. Ia tidak ingin membuat masalah ini lebih besar, tetapi membiarkannya juga hanya akan membuat Ricky merasa punya celah.
"Aku sudah pernah menolaknya," katanya, lebih kepada diri sendiri. "Kali ini harus jelas."
Reynard tidak bertanya lagi. Ia duduk di kursi seberang, cukup jauh untuk tidak ikut campur, cukup dekat untuk membuat Keira merasa tidak sendirian.
Ponsel terus bergetar.
Keira menarik napas dalam, menekan tombol terima, lalu mengangkat ponsel ke telinga.