Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegemparan di Balai Desa

Riuh rendah suasana Balai Desa mendadak senyap begitu Sekar melangkah mantap mendekati meja pendaftaran utama, langkahnya tegas menggema di lantai kayu yang biasa dipenuhi obrolan riuh para pemburu. Puluhan pasang mata otomatis berpaling, mengikuti sosok gadis yang selama ini dikenal selalu menyendiri, tidak pernah mau bergabung dengan kelompok mana pun sejak pertama kali terdaftar sebagai pemburu. Papan pengumuman misi di dinding samping ikut terlupakan, seluruh perhatian tertuju pada satu titik di tengah ruangan.

Galih berdiri kaku di samping Sekar, merasakan tatapan penasaran dari segala penjuru ruangan menusuk punggungnya. Ia mencoba menegakkan bahu, meniru sikap tenang Sekar meski jantungnya berdegup kencang menahan gugup. Para pemburu senior yang biasa berkumpul di sudut ruangan, membersihkan senjata atau berbincang santai sambil menikmati minuman hangat, kini semuanya menoleh, memperhatikan gerak-gerik mereka berdua dengan rasa penasaran yang tidak disembunyikan. Bau minyak senjata dan kayu tua yang biasa memenuhi Balai Desa terasa lebih pekat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja yang membuat setiap indranya bekerja lebih tajam karena gugup.

Sekar berhenti tepat di depan meja kayu panjang tempat petugas registrasi biasa mencatat data para pemburu. Petugas itu, seorang pria paruh baya berkacamata dengan tumpukan berkas di sampingnya, mendongak sedikit terkejut melihat kedatangan Sekar yang tidak biasa membawa orang lain. Ia menaruh pena yang tadi digunakannya, memperbaiki letak kacamatanya sebelum menatap Sekar dan Galih bergantian.

"Sekar? Ada yang bisa kubantu?" tanyanya, suaranya sedikit ragu, seolah tidak yakin harus bersikap seperti apa.

"Aku ingin mendaftarkan dia sebagai pemburu baru," kata Sekar tegas, menunjuk Galih yang berdiri di sampingnya. "Namanya Galih."

Petugas itu menatap Galih sejenak, memperhatikan penampilannya yang masih terlihat sedikit canggung meski sudah mengenakan pakaian sederhana khas penduduk desa. Ia mengambil selembar formulir kosong, mulai mencatat data yang diperlukan.

"Dan kelompok pendaftarannya?" tanya petugas itu lagi, pena masih tergenggam siap menulis.

"Kelompok independen," jawab Sekar cepat, suaranya cukup keras hingga terdengar jelas oleh seisi ruangan. "Namanya Laskar Cakra. Aku sebagai ketua."

Petugas registrasi itu terbelalak kaget, penanya berhenti di tengah kertas. "Kau... membentuk kelompok sendiri? Tidak bergabung dengan Naga Selatan?"

"Aku tidak pernah bilang mau bergabung dengan mereka," sahut Sekar datar, tidak menunjukkan keraguan sedikit pun di wajahnya.

Bisikan-bisikan kecil mulai menyebar ke seluruh penjuru ruangan, saling bersahutan di antara para pemburu yang menyaksikan momen itu. Semua orang tahu betapa berkuasanya Kelompok Naga Selatan di desa ini, dan keputusan Sekar untuk membentuk kelompok independen sendiri, apalagi menolak tawaran bergabung yang sudah pasti pernah ditawarkan padanya, adalah sesuatu yang jarang terjadi. Beberapa pemburu tua bahkan berhenti membersihkan senjata mereka, ikut memperhatikan dengan mata terbelalak seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

"Sekar memang tidak pernah mau terikat kelompok mana pun," bisik seorang pemburu di sudut ruangan pada temannya, cukup keras hingga terdengar oleh Galih. "Tapi membentuk kelompok sendiri dengan anak baru itu? Berani juga."

Galih merasakan wajahnya memanas mendengar dirinya dibicarakan seolah ia tidak ada di sana, namun ia berusaha menahan diri, mengikuti sikap tenang Sekar yang sama sekali tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan itu.

Dari sudut ruangan, di antara kerumunan anak buahnya yang sedang bersantai menikmati keberhasilan misi terakhir, Raka bangkit berdiri mendadak. Wajahnya yang tadi santai kini memerah padam, rahangnya mengeras menahan amarah yang jelas terlihat di sorot matanya. Gelas minuman di tangannya diletakkan terlalu keras hingga menimbulkan bunyi berdenting yang membuat beberapa orang di dekatnya tersentak kaget.

Ia melangkah cepat mendekati meja registrasi, sepatunya menghentak lantai kayu dengan keras di setiap langkah.

"Apa maksudnya ini, Sekar?" Raka membentak, suaranya menggema memenuhi ruangan yang sudah sepenuhnya hening menyaksikan konfrontasi itu. "Kau menolak Naga Selatan cuma untuk buat kelompok konyol berdua sama anak baru ini? Kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?"

Sekar hanya melirik sekilas ke arah Raka, tidak menunjukkan reaksi berarti selain sedikit kerutan di dahinya karena kesal diganggu.

"Bukan urusanmu," jawabnya singkat, kembali fokus pada petugas registrasi yang masih terpaku di tempatnya.

"Bukan urusanku?" ulang Raka, suaranya semakin tinggi, matanya beralih menatap Galih dengan tatapan penuh hina. "Kau pilih orang cupu ini daripada kelompok terbaik di desa ini? Dia bahkan tidak bisa berdiri tegak melawan Tuyakra tanpa ditolong. Kau mempermalukan dirimu sendiri, Sekar."

Galih mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan diri untuk tidak membalas ejekan itu. Ia teringat kata-kata serupa yang pernah dilontarkan Raka di pasar beberapa hari lalu, dan mendengarnya lagi di depan begitu banyak orang membuat dadanya bergemuruh oleh campuran malu dan amarah. Ia menghitung dalam hati, mencoba mengalihkan perhatiannya dari kata-kata pedas itu seperti yang selalu diajarkan Ki Wira saat emosinya mulai naik terlalu tinggi.

Namun Sekar sama sekali tidak menggubris. Ia mengambil dua lembar kartu identitas dari tangan petugas yang baru saja selesai mencatat data mereka berdua, memeriksanya sekilas sebelum menyelipkannya ke dalam saku.

"Sudah selesai?" tanya Sekar pada petugas, mengabaikan Raka yang masih berdiri mematung dengan wajah merah padam di sampingnya.

"Su... sudah," jawab petugas itu gugup, jelas tidak ingin terlibat lebih jauh dalam konfrontasi yang sedang berlangsung.

"Kalau begitu kami pergi," kata Sekar, berbalik badan dan mulai melangkah keluar tanpa sedikit pun menoleh ke arah Raka.

Galih buru-buru mengikuti, berjalan cepat di belakang Sekar sambil berusaha mengabaikan tatapan puluhan pasang mata yang masih mengikuti setiap langkah mereka menuju pintu keluar.

Dari belakang, terdengar tawa mengejek beberapa anak buah Raka yang menyaksikan pemimpin mereka gagal membalas dengan kata-kata yang cukup tajam. Suara tawa itu bergema di seluruh ruangan, campuran hiburan dan ejekan yang jelas ditujukan bukan hanya pada Galih, tapi juga pada Raka sendiri yang berdiri terpaku tanpa mampu berbuat apa-apa selain menyaksikan kepergian Sekar dan Galih. Beberapa pemburu lain yang tadinya berbisik-bisik kini mulai kembali ke aktivitas masing-masing, meski suasana canggung masih terasa menggantung di udara Balai Desa.

Raka berdiri diam di tengah ruangan, tubuhnya kaku menahan amarah yang membuncah. Tangannya terkepal erat di samping tubuh, buku-buku jarinya memutih menahan dorongan untuk mengejar dan membalas penghinaan yang baru saja ia terima di depan seluruh anak buahnya sendiri. Napasnya memburu pelan, dadanya naik turun menahan gejolak amarah yang tidak bisa ia lampiaskan begitu saja di depan umum. Matanya yang menatap punggung Galih yang semakin menjauh dipenuhi kebencian pekat, seolah sedang bersumpah bahwa ini bukanlah akhir dari cerita di antara mereka.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!