Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Kuno Terakhir

Dewa Kuno Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Sistem
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: elz.

Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir. Memusnahkan dua ras terkuat di tiga dunia , darah para dewa dan iblis mengotori dunia manusia. Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , suara Isak tangis anak kecil pecah di antara puing puing patung dewa yang kepalanya telah patah. Ia bernama Shen Yan , membawa kekuatan kuno mata dewa yang berbahaya. Desas desus mengatakan "Jika mata dewa terbangun sepenuhnya maka dunia akan di lahirkan kembali atau membawa dunia dalam kehancuran".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elz., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Era Baru

‎Bab 1 : Era Baru

‎Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir , darah para dewa dan iblis mengotori tanah tanah di seluruh daratan dunia manusia. Berbagai sekte sekte besar pun runtuh karena teror pemburu langit yang terus mengejar sisa sisa pelarian perang yang bersembunyi ke wilayah tiga dunia. Saat ini dunia manusia masih diliputi kabut kematian mencekam yang membuat manusia hidup dalam ketakutan. Mereka yang ingin selamat harus bekerja sama dengan para pemburu langit dan melayani kepentingan mereka.

‎Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , anak kecil muncul entah dari mana asalnya. Tubuh kecilnya meringkuk di antara patung patung dewa yang kepalanya telah patah. Isaknya pilu , kadang pecah lalu menghilang. Tepat di dalam reruntuhan kuno , area yang pernah menjadi saksi bisu pertempuran tiga dunia. Kemunculannya menjadi awal dari ramalan besar perubahan dunia.

‎[Reruntuhan Kuno]

‎Lelaki tua dengan tubuh sedikit membungkuk dan pakaian lusuh datang mencari sisa sisa harta agar bisa di tukarkan dengan uang untuk menyambung hidup. Kerut wajahnya menunjukkan ia telah menyelami kehidupan dengan cukup berat.

‎"Sudah tiga hari tidak dapat apapun , bahkan dewa ingin aku mati kelaparan!"

‎Lelaki tua bernama Bao lao itu menggerutu dalam diam , di benaknya jika hari ini tidak mendapatkan apapun untuk di tukarkan maka ia akan memakan tanah kering sekali lagi. Keadaan alam ini memang belum sepenuhnya pulih , untuk bertahan hidup kadang sesama manusia saling membunuh satu sama lain. Berbeda dengan para kultivator yang mungkin sedikit lebih beruntung , meskipun kehidupan mereka di atur oleh keberadaan para pemburu langit namun mereka masih bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.

Langkahnya tiba tiba terhenti saat masuk ke dalam reruntuhan kuno tersebut , Bao lao menangkap sayup sayup kecil di telinganya. Ia bisa memastikan itu adalah suara seorang anak kecil , namun ia enggan untuk lebih mendekat karena rumor yang tersebar mengatakan bahwa reruntuhan kuno ini sangat mistis dan berhantu.

‎"Takdir apa ini dewa! Kenapa harus aku!"

‎Hatinya ingin melarikan diri dari area tersebut namun langkah kakinya justru membuatnya semakin dekat dengan sumber suara itu. Semakin dalam ia melangkah aroma lumut basah bercampur dupa tua benar benar membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Hingga akhirnya ia melihat seorang anak kecil menangis di sudut dekat patung patung dewa. Sebuah kain berwarna emas melilit tubuhnya , anak kecil itu menangis ketakutan. Bao lao mencoba untuk mendekatinya namun ia sangat terkejut karena ada sesuatu yang berbeda dari anak kecil di hadapannya.

‎"Bola Matanya..! Hantu..!" teriak Bao lao.

Bao lao berlari kencang hingga tubuhnya tak sengaja menabrak patung dewa yang telah retak di bagian jarinya. Itu membuat patahannya jatuh tepat di kepala orang tua pencari harta ini.

"Buk!" tubuh Bao lao ambruk tak sadarkan diri.

Setelah beberapa jam tertidur , pandangan samar mulai nampak saat Bao lao mulai membuka matanya. Ia lalu teringat bahwa dirinya masih di dalam reruntuhan kuno saat itu. Ia berdiri kembali berniat untuk melarikan diri namun tanpa di sadari matanya terasa penasaran dengan 'Hantu' sebelumnya. Ia memutuskan melihatnya sekali lagi sebelum berlari sekencang kencangnya.

"Apakah dia manusia? Dewa tolong selamatkan aku!" gumam Bao lao sambil mengusap kedua matanya.

‎Bao lao mulai menyadari bahwa anak kecil itu bukanlah hantu. Ia memberanikan dirinya meraih anak kecil tersebut namun ia meletakkannya kembali. Dalam benaknya ia berpikir bahwa dirinya saja sudah sangat tertatih dalam hidup ini apalagi harus merawat seorang anak kecil. Namun saat ia akan meninggalkan anak itu , telapak tangan kecilnya menggenggam jemari Bao lao yang keriput. Ego dalam dirinya runtuh , gerutunya menjadi diam , ia tahu ini adalah takdir. Bao lao lalu membawanya pulang dengan perut yang masih kosong , niatnya ingin menawarkannya kepada para penduduk kota daripada di tinggalkan begitu saja di tempat terkutuk ini.

‎[Kota Gerbang Tersembunyi]

‎Kota ini tidak ada di peta manapun , juga tidak berada di wilayah manapun. Kota ini di jahit ke dalam lipatan ruang oleh seorang immortal 500 tahun yang lalu untuk menyelamatkan manusia fana. Meskipun awalnya hanya di tujukan untuk manusia fana , namun lambat laun karena berkat anugerah surgawi kota ini mampu melahirkan bakat bakat luar biasa yang akhirnya menjadi kultivator dan menduduki posisi tinggi di berbagai sekte sekte baru di benua selatan.

‎"Nak kita sudah sampai! Semoga ada dermawan yang mau merawat mu di kota ini!"

‎Bao Lao pulang dengan menggendong anak kecil yang tertidur lelap di punggungnya. Kehadirannya seperti angin yang tak pernah di anggap meskipun benih benih kehidupan sering mendapatkan manfaat darinya. Dengan pakaian abu abu yang penuh tambalan Bao lao berjalan pelan mendekati seorang pedagang kaya , berharap mereka mau mengadopsi anak kecil yang masih tertidur di punggungnya.

‎"Kau benar benar tidak tahu diri! Untuk makan dirimu sendiri saja kau tidak mampu! Kau malah memungut seorang anak kecil diluar sana! Aku tidak mau...Kau cari saja orang lain untuk merawatnya!!" ucap seorang pedagang kaya sambil menggebrak meja dagangannya menolak permintaan Bao lao.

‎Bagi Bao lao perlakuan seperti ini adalah hal yang normal baginya , ini bukanlah yang pertama kalinya ia mendapat perlakuan menyedihkan seperti itu. Hanya karena status sosial saja , ucapan bahkan tindakan baik Bao lao sering di anggap omong kosong. Merasa gagal , ia pun terus berjalan menjajakan anak kecil itu seperti dagangan dari satu toko ke toko lainnya tapi tak seorang pun mau menerimanya. Dengan mata berkaca kaca Bao lao memandangi anak kecil tersebut , dahinya semakin terlipat karena rasa iba di hatinya.

‎"Kau memang tidak beruntung , Nak! Mari kita pulang.."

‎Dengan langkah yang berat Bao lao akhirnya membawa anak kecil itu pulang ke kediamannya yang hampir roboh. Ia meletakkan tubuh anak itu diatas sebuah ranjang yang terbuat dari sisa sisa kayu yang di beri alas jerami untuk menghangatkan tubuh.

[10 hari kemudian]

‎"Ayo! Lampion keberuntungan! Tulis namamu! Terbang ke langit , Dewa akan membacanya!" teriak para pedagang menyambut festival lampion tahun ini.

Acara festival lampion memang perayaan yang paling di tunggu oleh seluruh penduduk kota. Seluruh bangunan kota nampak meriah dengan hiasan ornamen ornamen berwarna merah membuat semangat tumbuh di kota ini. Pusat kota Gerbang Tersembunyi ini di pimpin oleh seorang wanita kaya raya dengan kultivasi yang cukup tinggi. Hukum disini di bawah bayang bayangnya , beruntungnya wanita pemimpin kota ini cukup adil dan tidak memihak siapapun berdasarkan status sosial. Sungai kota yang membentang dari ujung timur ke barat itu semakin menambah elok pemandangan Kota Gerbang Tersembunyi , banyak lalu lintas perahu sewa kecil yang kadang di gunakan untuk acara pernikahan.

‎Keadaan berbeda 180° terlihat di sebuah rumah kecil di ujung kota , Bao lao tidak merayakan acara seperti itu. Ia malah justru terlihat sedang merapikan tungku pembakaran miliknya dengan setitik harapan. Berharap hari ini ia memiliki bahan makanan yang bisa di masak untuknya dan anak kecil penghuni baru rumahnya.

‎"Sebenarnya siapa orang tua anak ini! Selain penampilannya yang berbeda , kenapa anak ini bisa berada di dalam reruntuhan kuno?!" gumam Bao lao sambil menatap bocah kecil yang tertidur di atas ranjang keras rumahnya.

‎"Karena matamu sangat indah , aku beri nama kau Shen Yan..." ucap Bao lao tersenyum sambil mengelus rambut hitam Shen Yan.

_________

1
Chen Xin
jangan sampai berhenti,lanjut trus ya thor🔥
Arinto Ario Triharyanto
bagus Thor 😎
elz.: terima kasih kak
total 1 replies
elz.
Semoga kalian suka 😊
Chen Xin
Pendukung setia 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!