Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Lorong area belakang hotel yang sepi dan remang itu mendadak menghening. Sisa-sisa kehangatan dari ciuman yang baru saja berlalu masih tertinggal di bibir mereka, berpadu dengan udara malam yang dingin dan lembap. Suara deru mesin pendingin ruangan raksasa jauh di ujung lorong menjadi satu-satunya latar bunyi yang menemani keheningan tersebut.

Tae-jun dan Ji-eun masih berdiri begitu dekat. Dahi mereka yang sebelumnya saling menempel kini perlahan terpisah, memberi jarak beberapa inci saja agar mata mereka bisa saling menatap. Kedua bibir mereka masih menyisakan helaan napas yang memburu. Ada kecanggungan luar biasa yang tiba-tiba menyergap, sesuatu yang wajar ketika dua orang baru saja merobohkan tembok pertahanan terbesar dalam hidup mereka. Untuk pertama kalinya, perasaan yang selama ini tersimpan rapi ini terhampar di antara mereka.

Ji-eun menundukkan pandangannya, merapatkan pakaian kerjanya yang terasa melonggar. Jemarinya yang agak gemetar merapi-rapikan helaian rambut yang terlepas dari sanggul rapinya. Rona merah di pipinya menjalar hingga ke leher, bukan hanya karena sisa kejutan dari ciuman tadi, melainkan juga karena rasa bingung yang mendadak melingkupinya.

Tae-jun mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah perempuan di hadapannya. Ia menghela napas panjang, merengkuh jemari Ji-eun yang terasa dingin dan menggenggamnya hangat. "Kita bicarakan ini. Bukan sebagai Direktur dan Manajer, tapi sebagai kita."

Ji-eun mendongak, matanya yang basah menatap Tae-jun penuh keraguan. Ketakutan yang sebelumnya mendesaknya untuk mundur kini merayap kembali, meski tak seliar tadi. "Tae-jun-ssi, aku... hanya takut," pengakuannya terdengar jujur dan rapuh.

Tae-jun mempererat genggaman tangannya.

"Ji-eun-a, dengarkan aku baik-baik," kata Tae-jun dengan nada tenang namun penuh penekanan. "Sekarang aku minta berhenti mengambil keputusan untuk kita berdua seolah-olah Kau tahu apa yang terbaik bagiku. Aku dewasa, aku tahu persis risiko dari setiap langkah yang kuambil. Dan dari semua risiko di dunia ini, kehilanganmu adalah satu-satunya hal yang paling tidak ingin kualami."

Ji-eun menggigit bibir bawahnya, tersentuh oleh ketegasan pria itu.

"Aku tidak minta kita mengumumkan hal ini ke seluruh dunia besok pagi," lanjut Tae-jun, matanya menatap lembut. "Kita bisa melangkah perlahan. Jika rumor di hotel yang Kau khawatirkan, maka kita hanya perlu membuat batasan yang tegas."

Mereka berdiri di lorong itu selama beberapa saat, merumuskan bagaimana jalan tengah yang bisa menyelamatkan pekerjaan sekaligus perasaan mereka. Hingga akhirnya, sebuah kesepakatan tersirat terbentuk di antara keduanya.

Satu aturan sederhana, di dalam area hotel dan di hadapan siapapun, mereka adalah Direktur Seo Tae-jun dan Manajer Han Ji-eun. Tidak ada pengecualian, tidak ada perlakuan khusus. Namun, begitu jam kerja usai dan di luar pekerjaan, mereka hanyalah Tae-jun dan Ji-eun, dua orang biasa yang saling menyukai.

-----

Keesokan paginya, suasana atrium utama hotel bintang lima itu riuh seperti biasa. Karyawan berjas rapi lalu-lalang, lalu lintas tamu di area lobby mulai padat, dan aroma kopi segar memenuhi udara pagi.

Pintu lift eksekutif terbuka berdenting halus. Tae-jun melangkah keluar dengan setelan jas hitamnya yang sempurna, didampingi oleh sekretarisnya. Di saat yang sama, Ji-eun sedang berdiri di dekat meja resepsionis, memegang papan jalan berisi laporan reservasi harian.

Langkah Tae-jun terhenti sejenak ketika berpapasan dengan Ji-eun di dekat pilar utama.

Ji-eun membungkuk sopan dengan sudut kelengkapan postur yang sangat baik, persis seperti yang disyaratkan dalam standar pelayanan hotel. "Selamat pagi, Direktur Seo."

Tae-jun menghentikan langkahnya, menatap Ji-eun dengan wajah datar yang menjadi ciri khas kepemimpinannya. "Selamat pagi, Manajer Han. Bagaimana kesiapan ruang rapat untuk sore nanti?"

"Semua sudah disiapkan sesuai standar, Pak Direktur. Saya akan memeriksanya lagi satu jam sebelum acara," jawab Ji-eun lancar, tanpa ada sedikit pun celah dalam intonasi suaranya.

"Bagus. Lanjutkan pekerjaanmu." Tae-jun mengangguk singkat lalu kembali melangkah menuju ruang kerjanya.

Sikap mereka begitu sempurna. Tidak ada staf yang menaruh curiga. Bagi siapa saja yang melihat, interaksi itu hanyalah komunikasi formal antara atasan dan bawahan. Tidak ada yang menyadari bahwa hanya beberapa belas jam sebelumnya, di sebuah lorong remang yang sepi, kedua orang itu saling mendekap dan mengakui perasaan yang selama ini menyiksa batin mereka.

Namun, di balik formalitas yang rapi itu, ada sesuatu yang terselip secara tersembunyi. Tatapan mata mereka saat berpapasan tak lagi sama. Ada kehangatan rahasia yang tersimpan di balik binar mata Tae-jun, dan ada getaran kecil yang membuat dada Ji-eun berdesir setiap kali pria itu menyebut namanya, meski dengan embel-embel jabatan.

Sepanjang hari ini, pekerjaan Ji-eun terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Beberapa kali, saat ia sedang sendirian di dalam ruang arsip atau ketika memeriksa kerapian kamar suite, Ji-eun menatap pantulan dirinya di kaca dan tanpa sadar tersenyum kecil. Bayangan wajah Tae-jun saat berbisik semalam, sentuhan lembut jemarinya di pipi, serta rasa hangat yang tertinggal dari ciuman itu terus terbayang di benaknya, menghadirkan perasaan membuncah yang sulit ia sembunyikan.

Begitu jam kerja berakhir dan lorong-lorong hotel mulai ditinggalkan para staf shift siang, Tae-jun tidak langsung pulang. Ia menunggu di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir di sudut terpencil area parkir basement, jauh dari jangkauan kamera pengawas utama dan alur lalu lintas karyawan.

Beberapa menit kemudian, pintu penumpang terbuka. Ji-eun masuk dengan gerakan cepat dan cekatan, lalu segera menutup pintu kembali. Ia menghela napas lega, seolah baru saja menyelesaikan misi rahasia yang mendebarkan.

Tae-jun mematikan lampu dalam mobilnya dan mulai menjalankan kendaraannya keluar dari area parkir hotel. Mereka tidak pergi ke restoran mewah atau tempat kencan populer. Tae-jun tahu Ji-eun masih membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan dinamika baru ini, sehingga ia memilih hal yang paling sederhana, mengantarkan Ji-eun pulang ke apartemennya.

Suasana di dalam mobil terasa tenang dan nyaman. Musik klasik berputar samar dari sistem suara mobil, menemani perjalanan mereka membelah kemacetan kota di sore hari. Perbincangan mereka mengalir ringan, berputar pada hal-hal kecil seputar pekerjaan harian yang tadi mereka lalui, sesekali diselingi tawa tipis.

Tak terasa, mobil Tae-jun sudah berhenti didepan apartemen Ji-eun.

Ji-eun meraih tali tasnya dan bersiap memutar gagang pintu mobil. "Terima kasih sudah mengantarku, Direktur Seo," godanya pelan dengan nada bercanda.

Namun, sebelum jemari Ji-eun menyentuh pintu, tangan Tae-jun bergerak lebih cepat. Ia meraih pergelangan tangan Ji-eun, melingkarkan jemarinya yang hangat dan menggenggam tangan perempuan itu dengan erat.

Ji-eun menghentikan gerakannya dan menoleh, menatap Tae-jun dengan alis terangkat heran.

Tae-jun menatap mata Ji-eun dalam-dalam, mengabaikan keremangan cahaya jalanan yang menembus kaca mobil. Suaranya terdengar rendah dan jujur ketika ia bersuara, "Besok aku ingin bertemu denganmu lagi."

Ji-eun tertegun sejenak sebelum bibirnya mengukir senyum kecil yang manis. "Padahal kita bertemu setiap hari."

"Aku tahu," sahut Tae-jun singkat, tanpa melepas genggaman tangannya.

Ji-eun memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria tegas yang kini tampak begitu polos di hadapannya. "Dan Kau sudah merindukanku?"

Tae-jun tidak mencoba mengelak atau bersikap gengsi. Ia menatap lurus ke dalam mata Ji-eun, membiarkan seluruh ketulusannya terlihat jelas. "Sepertinya begitu."

Jawaban yang terucap tanpa ragu itu meluluhkan seluruh sisa ketakutan yang ada di dalam hati Ji-eun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menahan beban, kecemasan, dan rasa takut akan masa depan, Ji-eun tertawa lepas. Tawa yang renyah dan jujur, lahir dari lubuk hatinya yang paling dalam, tanpa merasa perlu menyembunyikan kebahagiaannya lagi.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!