"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Matahari sore di Manhattan menggantung rendah di antara pencakar langit, memancarkan sinar jingga yang silau dan membakar tajam. Panas sisa musim panas yang tertinggal di permukaan aspal seolah menguap, menciptakan hawa megap-megap yang menguji ketahanan fisik siapa pun di jalanan. Namun, terik yang mengernyitkan dahi itu sama sekali tidak menyurutkan langkah dua wanita yang sedang menyusuri trotoar kawasan Universitas Columbia.
Glow berjalan memimpin di depan dengan gaun terusan pastel yang dipadukan dengan kacamata hitam berbingkai tebal. Di sampingnya, Angelina menyeka lehernya yang berkeringat dengan tisu basah.
Sepanjang jalan dari area Upper West Side hingga mendekati kompleks kampus, misi gila mereka sudah resmi dimulai: berburu pria bernama Lean.
"Permisi! Kau bernama Lean?" cegat Glow pada seorang pemuda berjaket denim yang baru saja keluar dari kedai kopi.
Pemuda itu mengernyit bingung, melangkah mundur satu pijakan. "Maaf? Bukan, nama saya—"
"Bukan ya? Baiklah, membuang waktu!" potong Glow cepat, lalu berbalik menyambar lengan pria lain yang sedang berjalan santai sambil mendengarkan musik menggunakan headphones.
Glow menarik sebelah headphone pria itu tanpa permisi. "Kau Lean?"
"Apa-apaan?! Aku Chris!" seru pria itu kaget dan tampak kesal.
"Hey, Lean! Aku Glow!" panggil Glow lagi dengan suara lantang pada seorang pria berjas rapi yang sedang berdiri menanti lampu penyeberangan jalan.
Pria berjas itu menoleh, menatap Glow dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan aneh dan canggung. "Sorry, Tante... Saya bukan Lean."
Kalimat singkat itu meluncur begitu mulus dari mulut si pria berjas sebelum ia cepat-cepat menyelinap di antara kerumunan orang.
"Wah, sialan!" Glow menghentakkan kakinya ke trotoar, wajahnya memerah padam. Ia berbalik menatap sahabatnya dengan sengit. "Kenapa dia memanggilku 'Tante', Angelina?!"
Angelina memegang dadanya, napasnya memburu akibat mengejar langkah Glow yang tidak sabaran. Ia menatap wajah Glow dari balik kacamata hitamnya, mengamati tumpukan foundation tebal, garis contour tajam yang dipertegas untuk menyamarkan raut mukanya yang sembab, serta kacamata hitam besar yang menutup separuh wajah cantiknya.
"Ingat, Glow," kata Angelina sambil berusaha menahan tawa yang hampir pecah di tenggorokannya. "Kita sedang menyamar. Tentu saja dia memanggilmu Tante, mengingat—ah, tidak usah diingat!"
"Sialan kau! Ini semua gara-gara ide makeup tebalmu, Angelina!" umpat Glow tajam, menepuk-nepuk pipinya yang terasa berat oleh riasan tebal buatan sahabatnya itu. "Aku kelihatan seperti wanita tiga puluh lima tahun yang baru selesai melakukan operasi plastik gagal!"
"Haha, sorry, baby!" Angelina tertawa leluasa, merangkul leher Glow dan menepuk-nepuk bahunya lembut. "Mari tanyakan lagi pada para mahasiswa ganteng di sebelah sana. Kemari!"
Tanpa menunggu persetujuan, Angelina menyambar pergelangan tangan sang sahabat—gadis berkepribadian ajaib yang selalu punya ide gila di saat-saat paling tidak terduga. Mereka mengikis jarak menuju kerumunan mahasiswa yang sedang berkumpul di tangga batu area perpustakaan kampus.
Satu per satu mahasiswa yang lewat ditanyai dengan pertanyaan absurd yang sama, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada Lean. Yang ada hanya tatapan aneh, tawa tertahan, dan bisik-bisik keheranan dari para mahasiswa yang merasa sedang diusili oleh dua wanita aneh berpenampilan glamor.
...****************...
Satu jam berlalu tanpa hasil. Kaki Glow yang menopang tubuhnya di atas high heels lima sentimeter mulai terasa goyah.
Rasa lelah fisik bertabrakan dengan amarah yang memuncak. Angelina memandu Glow duduk di salah satu bangku taman kayu yang agak tersembunyi di bawah rindangnya pohon oak tua, jauh dari lalu lalang utama.
Glow menyandarkan punggungnya, menarik kacamata hitamnya ke atas kepala. Sinar matahari sore menembus celah dedaunan, menyorot matanya yang sembab dan merusak tatanan riasannya yang mulai luntur oleh keringat.
Angelina menarik napas panjang, lalu merogoh tas tangannya untuk mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar tanpa henti. Saat layar menyala, mata Angelina membelalak lebar. Berita utama di aplikasi sosial media kampus dan gossip page Manhattan mendadak meledak.
Sebuah video berdurasi singkat yang direkam diam-diam dari sudut kafe L’Étoile tadi siang telah diunggah dan menjadi tular.
Di video itu, sosok Pearl Glow Hurt—putri dari keluarga berada yang cukup dikenal di kalangan elit New York—terlihat jelas sedang dilabrak oleh Istri Sah, lengkap dengan teriakan dramatis dan aksi Glow yang mengaku-ngaku kekasihnya bernama "Lean".
Judul salurannya sangat menyengat: "Drama Sosialita Manhattan: Pearl Glow Hurt Dilabrak Istri Sah, Mengaku Punya Pacar Bernama Lean Demi Tutup Malu!"
"Uhh... berhasil sudah aku menjadi artis terkenal dalam sehari, Angelina," bisik Glow datar saat Angelina menunjukkan layar ponsel itu padanya. Wajah Glow meluncur tanpa ekspresi, menatap rekaman dirinya sendiri yang diputar berulang-ulang oleh ribuan penonton online. "Bukankah aktingku mengalahkan penerima piala Oscar?"
Angelina tidak tertawa. Bercandaan di kafe tadi adalah benteng pertahanan, tapi melihat sahabatnya dipermalukan secara nasional di media sosial adalah hal yang sama sekali berbeda.
Angelina duduk merapat, mengambil tisu bersih, lalu menangkup wajah Glow. Dengan sangat perlahan, ia menghapus bulir keringat dan lelehan air mata yang mulai menetas kembali di pipi sang sahabat.
"Kau gadis cantik yang pandai berakting, Glow," kata Angelina lembut. Suaranya bergetar menahan haru dan amarah pada situasi ini. "Tapi jangan berpura-pura kuat saat kau sedang hancur. Di depanku, kau tidak perlu berakting."
Kalimat tulus itu merobohkan seluruh dinding pertahanan yang tersisa di dalam dada Pearl Glow Hurt.
Glow menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di bawah naungan pohon oak di sudut New York itu, tangisnya pecah seketika. Ia menangis terisak-isak, berteriak meratapi kepedihan yang menyayat dadanya, lalu mengumpat meluapkan seluruh rasa benci pada pria berniat bangsat bernama Leon.
"Bajingan sialan! Penipu brengsek!" teriak Glow di sela isakannya, tak peduli lagi pada harga diri atau riasannya yang hancur total. "Selama Tiga bulan! Tiga bulan dia berpura-pura menjadi pria paling sempurna di dunia! Dia bertutur kata lembut, membawakanku sarapan, mendengarkan rencanaku... sementara dia punya istri di rumah!"
Angelina memeluk tubuh Glow yang bergetar hebat, membiarkan sahabatnya menumpahkan seluruh beban di bahunya.
Bagi Glow, Tiga bulan bersama "Leon" alias Leonardo adalah rekor terlama dalam sejarah percintaannya seumur hidup. Di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, Glow selalu menjadi wanita yang sangat selektif dan dingin pada pria. Ia tak pernah membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke dalam hatinya—sampai pria bertutur kata lembut itu datang dan meruntuhkan pertahanannya, hanya untuk menghancurkannya menjadi kepingan tak berbentuk.
"Tiga bulan, Angelina... Tiga bulan aku percaya dia Leon-ku..." ratap Glow dengan suara serak, air matanya membasahi gaun Angelina.
"Aku tahu, Glow. Aku tahu," puji Angelina sambil terus mengusap punggungnya. "Biarkan semuanya keluar. Luapkan semuanya hari ini."
Hampir setengah jam Glow menangis dan meluapkan sumpahnya. Hingga akhirnya, tatapannya yang lelah meredup, napasnya memburu melambat, dan amarahnya berganti menjadi ketetapan hati yang makin dingin dan pekat.
Glow menyapu matanya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam. "Sudah. Aku selesai menangisinya."
"Kau yakin?" tanya Angelina cemas.
"Yakin," pangkas Glow, menegakkan punggungnya kembali. "Ayo pulang. Kita harus bersiap untuk perburuan besok."
Angelina mendesah lega melihat Glow mulai bisa menguasai dirinya lagi. Mereka berdua berdiri, merapikan gaun masing-masing, lalu melangkah menuju area parkir khusus di tepi jalan kampus tempat mobil sport mewah milik Angelina terparkir.
Namun, kejutan hari itu rupanya belum selesai.
Saat mereka tiba di tepi jalan, langkah mereka terhenti seketika. Mobil sport ramping berwarna merah menyala milik Angelina tampak miring tak seimbang, amblas mendekati aspal jalanan.
Mereka mendekat dengan mata membelalak. Keempat ban mobil mewah itu—depan, belakang, kiri, dan kanan—telah kempis total. Bekas goresan tajam terlihat jelas di dinding karet ban, menandakan karet-karet mahal itu tidak sekadar bocor, melainkan sengaja ditusuk hingga robek.
Angelina melotot, tas tangannya hampir terlepas dari genggamannya. Sementara Glow menatap keempat roda yang tak berdaya itu dengan urat leher yang mengencang.
"BAJINGAN KECIL MANA YANG MELAKUKANNYA?!" teriak mereka berdua berbarengan, suaranya melengking membelah ketenangan sore New York.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍