Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Perlahan ia mulai menuju ke kekuatan aslinya di kehidupan pertamanya. Kini bahkan ia dikenal sebagai salah satu dari Lima Raja Dunia. Seseorang dengan pengaruh dan kekuatan yang luar biasa.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini menuju sebuah pulau misterius yang berisi harta karun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang Aneh
Taichu Wuji tiba-tiba berdiri. Kemudian ia berjalan menuju bagian tengah ruangan. Di sana terdapat tempat yang cukup kosong.
Taichu Wuji menarik pedangnya. Wajahnya berubah serius. Kedua kakinya mengambil posisi. Ia mengangkat pedangnya.
Tatapannya menjadi tajam.
"Kalau begitu... saatnya berlatih!"
Ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian...
"Tebasan Neraka!"
Wusss!
Pedangnya ditebaskan dengan penuh keyakinan. Tapi tentu saja tidak terjadi apa-apa.
Taichu Wuji tidak menyerah. Ia segera mengubah posisi.
"Tebasan Bayangan Malam!"
Srak!
Pedangnya kembali diayunkan. Kali ini ia bahkan memutar tubuhnya agar terlihat lebih gagah. Sayangnya, gerakannya justru hampir kehilangan keseimbangan. Namun Taichu Wuji tetap memasang wajah serius.
"Potongan Iblis Setipis Embun!"
Sret!
Pedang kembali bergerak.
Taichu Wuji semakin bersemangat.
"Gerak Gelap Tanpa Jiwa!"
Ia melompat. Berputar di udara. Lalu mendarat dengan satu lutut sambil menahan pedangnya di samping tubuh. Pose tersebut menurutnya sangat keren.
Taichu Wuji mengangkat kepalanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat.
"Benar-benar sempurna."
Ia menatap bayangannya sendiri yang terpantul di cermin di pojok ruangannya. Dalam pikirannya, ia sudah menjadi Dewa Kematian Boqin Changing, Sang Raja Dunia. Pendekar yang hanya dengan satu tebasan mampu membuat langit bergetar.
Taichu Wuji bahkan kini membayangkan dirinya berdiri di atas gunung dengan jubah berkibar diterpa angin. Ribuan pendekar berada di bawah kakinya.
"Aku adalah Boqin Changing..."
Ia menyeringai.
"Akulah Dewa Kematian!"
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Rasakan kekuatanku!"
Taichu Wuji hendak mengeluarkan jurus berikutnya ketika...
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar. Taichu Wuji langsung terkejut.
"Hah?!"
Kakinya yang sebelumnya berada dalam posisi siap bertarung mendadak salah pijak.
"Aduh!"
Bruk!
Tubuhnya tersandung.
Pedang yang berada di tangannya langsung terlepas. Ia berusaha mempertahankan keseimbangan dengan menggerakkan kedua tangannya.
Tunggu! Tunggu!"
Bukannya berhasil berdiri tegak, ia malah menabrak meja.
Brak!
Beberapa lembar laporan beterbangan ke udara. Taichu Wuji akhirnya jatuh terduduk.
"Aduh..."
Ia meringis sambil memegangi pinggangnya.
Suara dari luar kembali terdengar.
"Tuan?"
Taichu Wuji langsung membeku. Ia melihat kondisi ruangan. Kertas berserakan dan pedangnya tergeletak.
Dirinya sendiri duduk di lantai dengan posisi yang sangat tidak berwibawa. Wajahnya berubah panik.
"Jangan masuk!"
Ia buru-buru bangkit. Namun ketika hendak berdiri, kakinya justru menginjak salah satu lembar laporan.
"Ups!"
Tubuhnya kembali hampir jatuh. Untungnya kali ini ia berhasil berpegangan pada meja.
Taichu Wuji menghela napas lega. Kemudian ia buru-buru merapikan pakaiannya. Ia mengambil pedangnya. Menyisir rambutnya dengan tangan.
Ia lalu mengangkat dagu dan memasang wajah serius. Seolah-olah beberapa detik lalu dirinya tidak baru saja tersandung.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Seorang pelayan masuk dan langsung melihat keadaan ruangan. Ia terdiam.
Taichu Wuji juga terdiam. Keduanya saling menatap.
Pelayan itu melihat banyak kertas di lantai. Lalu kembali melihat wajah Taichu Wuji. Namun sebagai seorang pelayan senior, ia tahu kapan harus berpura-pura tidak melihat sesuatu.
Ia membungkuk.
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Taichu Wuji mengangkat alis.
"Siapa?"
Pelayan itu menjawab dengan sopan.
"Seorang pemuda."
Ia kembali bersuara.
"Dia meminta bertemu langsung dengan Tuan."
Taichu Wuji hendak menolak karena tidak memiliki janji. Namun pelayan itu segera melanjutkan.
"Dia juga membawa sebuah token."
Taichu Wuji berhenti.
"Token?"
Pelayan tersebut mengeluarkan token yang tadi diberikan Boqin Changing.
"Benar."
Begitu melihat lambang dan ukiran token tersebut, ekspresi Taichu Wuji berubah. Ia langsung mengambilnya.
Matanya menyipit kemudian membesar.
"Ini..."
Tangannya sedikit gemetar. Taichu Wuji menatap token itu beberapa kali. Kemudian menatap pelayan di depannya
"Di mana orangnya?"
Pelayan itu menjelaskan posisi tamu itu.
"Di ruang khusus."
Wajah Taichu Wuju nampak begitu panik.
"Antar aku ke sana."
Taichu Wuji melangkah cepat menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke belakang. Melihat ruangan yang berantakan.
"Kau..."
"Rapikan dulu semuanya."
Pelayan itu mengangguk.
Taichu Wuji kemudian berlari keluar dengan wajah serius. Ia berlari menuju ruang khusus dengan langkah yang begitu cepat. Wajahnya yang sebelumnya masih terlihat tenang kini dipenuhi kegembiraan dan kegugupan.
Token yang berada di tangannya terus ia genggam erat. Ia benar-benar mengenali token tersebut. Walaupun token itu bukan berasal dari cabang Paviliun Teratai Naga di Kekaisaran Houran, Taichu Wuji tetap mengetahui asal-usulnya.
Itu adalah token Paviliun Teratai Naga dari Kekaisaran Qin. Lebih tepatnya token dengan kedudukan tertinggi.
Token yang hanya dimiliki oleh segelintir orang yang mempunyai kedudukan luar biasa tinggi di dalam Paviliun Teratai Naga. Bahkan seorang kepala toko seperti dirinya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk melihat token tersebut secara langsung.
Taichu Wuji menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
Langkahnya semakin cepat. Ada sebuah kemungkinan yang sejak tadi terus berputar di kepalanya.
Pemuda, pemilik token tertinggi, dan datang ke cabang Paviliun Teratai Naga. Semua petunjuk itu mengarah pada satu nama, Boqin Changing.
Jika seseorang dengan token setinggi itu datang dalam wujud seorang pemuda, kemungkinan besar hanya ada satu orang.
Taichu Wuji bergumam.
"Dewa Kematian..."
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Jangan-jangan benar-benar ia yang datang..."
Beberapa pelayan yang melihatnya berlari hanya bisa terdiam. Mereka tidak pernah melihat kepala toko mereka berlari seperti itu. Biasanya Taichu Wuji selalu berjalan dengan tenang dan penuh wibawa.
"Boqin Changing..."
Taichu Wuji hampir saja berteriak karena terlalu bersemangat. Namun ia segera menutup mulutnya sendiri.
"Tenang!"
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Tenang, Taichu Wuji."
"Kau adalah kepala toko Paviliun Teratai Naga."
"Kau harus bersikap tenang."
Ia mengangguk pada dirinya sendiri.
Namun setelah beberapa langkah, ia kembali berlari.
"Ah, tidak bisa tenang!"
Beberapa saat kemudian, akhirnya ia sampai di depan ruangan khusus. Taichu Wuji berhenti.
Ia merapikan jubahnya dan mengusap rambutnya. Kemudian menarik napas panjang.
"Tenang."
Ia menatap pintu.
"Jangan mempermalukan diri sendiri."
Ia mengangkat tangannya.
Namun sebelum sempat mengetuk, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Orang di dalam adalah seorang Raja Dunia. Bahkan jika dugaan itu benar, ia tidak boleh bersikap sembarangan.
Taichu Wuji mengetuk pintu sejenak sebelum akhirnya langsung membuka pintu dengan hati-hati.
Krek...
Pintu terbuka.
Tatapan Taichu Wuji langsung tertuju ke dalam.
Di sana, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Pemuda itu duduk di sebuah kursi sambil menunggu. Wajahnya terlihat muda. Namun ada ketenangan yang sulit dijelaskan dari dirinya.
Tatapannya santai. Tubuhnya tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan. Seolah-olah menunggu seorang kepala toko bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan.
Taichu Wuji membeku. Tangannya masih memegang gagang pintu. Matanya membesar. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama sesaat.
Tidak perlu diperkenalkan. Tidak perlu dijelaskan. Taichu Wuji sudah mengetahui jawabannya. Pemuda yang selama ini hanya ia kenal melalui berbagai cerita, laporan, dan kabar luar biasa, kini benar-benar berada di hadapannya.
Pemuda di depannya benar-benar Dewa Kematian, Boqin Changing. Sang Raja Dunia yang baru. Orang yang selama bertahun-tahun ia kagumi.
Taichu Wuji buru-buru masuk dan menutup pintu.
Klik.
Ruangan menjadi sunyi.
Taichu Wuji berdiri di depan pintu. Boqin Changing menatapnya.
Taichu Wuji masih tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Boqin Changing mengangkat alis. Ia merasa kepala toko ini cukup aneh.
"Jadi..."
Boqin Changing akhirnya membuka suara.
"Kau kepala toko di tempat ini?"
Taichu Wuji membuka mulut. Namun tidak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya kembali. Kemudian membukanya lagi. Tetap tidak ada suara.
Di dalam kepalanya justru terjadi kekacauan.
“Dewa Kematian datang ke tokoku! Aku bertemu dengannya!”
Taichu Wuji merasa seluruh tubuhnya sedikit gemetar.
Selama bertahun-tahun ia membaca kisah tentang Boqin Changing. Ia mengetahui berbagai pertempurannya.
Ia juga mengetahui berbagai pencapaiannya. Ia bahkan menghafal beberapa jurus terkenal milik Boqin Changing. Sekarang orang itu benar-benar ada di depannya.
Taichu Wuji merasa malu jika mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Jika Boqin Changing mengetahui bahwa dirinya baru saja berlatih "Tebasan Neraka" sambil mengaku sebagai Dewa Kematian, ia mungkin ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri.
Namun semua pikiran itu tiba-tiba lenyap ketika Taichu Wuji melihat Boqin Changing sekali lagi. Sang Raja Dunia ada di depannya.
Pikiran normalnya telah kembali. Taichu Wuji segera bergerak.
Bruk!
Ia langsung berlutut. Kepalanya menunduk dalam.
Boqin Changing sedikit terkejut melihat tindakan tersebut. Taichu Wuji akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya.
"Taichu Wuji..."
Ia menarik napas.
"Memberi hormat kepada Tuan Chang!"
Boqin Changing terdiam. Ia menatap pria yang sedang berlutut di depannya.
"Kau mengenalku?"