Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Cedric Sang Penyelamat

"Tuan... Tuan Cedric?"

Pria berambut pirang itu adalah bosnya—sang pemilik restoran mewah tempat Elisa bekerja menguras tenaga setiap sore demi lembaran dolar.

Namun, saat ini, sang bos sama sekali tidak tampak menyerupai seorang warga kota fana biasa yang ramah.

Cara berdiri dan tatapan matanya saat menghadapi ketiga bersaudara Salvatore menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ia mengetahui dengan pasti siapa sesungguhnya makhluk-makhluk kegelapan itu.

Jonas menyipitkan sepasang mata hitamnya yang tajam, cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Elisa mulai melonggar meski ia belum sepenuhnya melepaskan gadis itu.

"Siapa kau sebenarnya? Jangan pernah berani mencampuri urusan internal Keluarga Salvatore, Manusia Fana."

Pria bermata zamrud itu mengulas seulas senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang sama sekali tidak mencapai sepasang matanya.

"Manusia Fana? Kau bertindak terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan fana, Jonas Salvatore. Lepaskan tangan kotormu dari gadis itu sekarang juga, atau kau akan segera mengetahui seberapa buruk hari ini bisa berakhir untuk klanmu."

Jonas, Jonah, dan Josiah mendadak terpaku di posisi masing-masing. Sebagai makhluk abadi, mereka bertiga bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana tekanan udara di sekitar hutan cemara ini mendadak berubah drastis sejak pria pirang itu memunculkan diri.

Aroma esensi tubuh yang menguar dari pria itu bukanlah bau darah ras manusia yang rapuh dan manis, melainkan sebuah aroma tanah basah pasca hujan, bauran energi alam yang murni, dan tekanan kekuatan kuno yang terjaga selama ribuan tahun.

"Siapa sebenarnya jati dirimu?" tanya Josiah, sepasang tangannya yang semula berniat bergerak santai kini terkepal erat dalam posisi waspada di samping tubuh atletisnya.

Pria pirang itu mengambil beberapa langkah maju yang anggun, bayangan-bayangan rimbun pohon cemara di sekitarnya seolah bergerak merunduk, tunduk pada eksistensi kehadirannya.

"Aku hanyalah seorang warga kota biasa yang sangat menjunjung tinggi hukum ketertiban di Kota Luminara. Aku cukup mengenal dengan baik siapa ayah kandungmu, Justin Salvatore. Beliau adalah salah satu kolega bisnis lama milik ayahku."

Pria itu menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Jonas yang masih memegangi lengan Elisa. "Dan kebetulan sekali... ayah kandungku adalah sang Wali Kota Luminara."

Sepasang mata hitam Jonas berkilat tajam mendengar penuturan itu. Ingatan supranaturalnya berputar cepat, mengingat kembali barisan perjamuan formal kuno di balairung agung kota.

"Wali kota? Kau... berasal dari trah Keluarga Valerius? Putra tunggal dari Axel Valerius?"

"Tepat sekali. Namaku adalah Cedric Valerius," jawabnya sedingin es.

Sepasang mata hijau zamrudnya menatap lurus ke arah jemari Jonas yang mencengkeram kulit lengan Elisa. "And aku sangat tidak suka melihat salah satu pegawai terbaikku diperlakukan layaknya seonggok barang jarahan murahan di tengah jalanan sepi seperti ini."

"Dia adalah seorang Elf Hutan berdarah murni," sebuah gaung suara milik Jonah mendadak bergema keras melalui sambungan mindlink (hubungan pikiran) di dalam kepala Jonas dan Josiah.

"Aku bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana esensi auranya bergetar, energinya mirip dengan karakteristik sihir milik Bibi Stefany Pendragon. Pria pirang ini bukan jenis lawan yang bisa kita usik atau kita remehkan begitu saja di distrik ini. Besar kemungkinan, dia adalah putra mahkota dari klan bangsawan tinggi ras Elf."

Jonah menatap ke arah Cedric dengan binar mata penuh kewaspadaan, pendar warna biru safir di matanya sedikit meredup demi menekan insting konfrontasi.

"Jika para petinggi dan tetua ras Immortal sampai mengetahui bahwa kita memicu konflik berdarah dengan trah bangsawan ras Elf Hutan di dunia manusia, keadaan diplomasi akan menjadi sangat gawat bagi posisi Ayah," lanjut Jonah memberikan peringatan logis melalui pikiran mereka.

Jonas dan Josiah melirik ke arah Jonah hampir secara bersamaan, mengonfirmasi kebenaran dari kekhawatiran yang dilayangkan oleh saudara tengah mereka.

Cedric Valerius bukan sekadar anak dari seorang wali kota manusia; dia adalah sesosok entitas supranatural kuat yang memiliki pengaruh politik masif, yang sanggup menyeret seluruh garis keturunan keluarga Salvatore ke meja hijau mahkamah tinggi para tetua Immortal.

"Sial, kita terpaksa harus mundur dan pergi dari sini sekarang juga," balas Jonas melalui sambungan mindlink.

Rahang tegasnya mengeras menahan amarah, ego Demon-nya merasa terhina karena harus dipaksa mundur oleh ancaman ras lain. Namun, logikanya sebagai anak sulung yang memikul tanggung jawab klan tetap menang.

Jonas perlahan-lahan melepaskan cengkeraman kuat tangannya dari pergelangan tangan Elisa. Ia memundurkan langkahnya, menepis debu imajiner yang melekat di permukaan jaket kulit hitamnya, lalu menatap Cedric dengan sepasang mata yang masih sedingin es abadi.

"Sepertinya telah terjadi sebuah kesalahpahaman kecil di antara kita di tempat ini, Tuan Valerius," ucap Jonas dengan nada suara bariton yang terdengar sangat tenang namun setajam silet.

"Kami bertiga sejak awal hanya ingin memastikan keselamatan fisik dari gadis manusia ini di jalanan hutan sepi. Namun, karena kau saat ini sudah berada di sini... kurasa tanggung jawab proteksi itu sepenuhnya ada di tanganmu."

Jonas melirik ke arah Elisa sekilas—sebuah tatapan mata gelap yang menyiratkan pesan implisit bahwa urusan rahasia di antara mereka berdua sama sekali belum selesai—sebelum akhirnya ia memutar tubuh tegapnya, berjalan kembali menuju ke arah motor sport hitamnya.

"Ayo pergi, Josiah, Jonah," perintah Jonas mutlak.

Josiah mendengus kecewa, ia sempat melayangkan sebuah kerlingan mata nakal yang menggoda ke arah Elisa sebelum berbalik.

"Sampai jumpa lagi di kota nanti, Mate kecilku. Jangan merindukan pesona ketampananku terlalu cepat," bisiknya pelan sebelum akhirnya melesat pergi dengan kecepatan tinggi mengikuti jejak kakak-kakaknya.

Dalam hitungan detik berikutnya, deru mesin motor sport milik Jonas menderu keras membelah keheningan malam, melesat menjauh meninggalkan Elisa yang tubuh manusianya masih gemetar hebat di samping sosok Cedric.

Suasana hening yang mencekam kembali menyergap jalanan hutan cemara yang sepi itu. Hanya menyisakan sisa-sisa gema deru mesin motor yang masih terngiang di dalam rungu Elisa.

Gadis itu berdiri mematung di atas aspal; pakaian lengan panjang hitamnya yang basah oleh lumpur kini terasa semakin berat, dingin, dan menusuk kulitnya.

"Kau... apakah kau baik-baik saja, Elisa?" Suara bariton lembut milik Cedric seketika memecahkan lamunan gila di kepala Elisa.

Pria berambut pirang keemasan itu kini telah berdiri tepat di samping tubuhnya, mengulurkan sebuah saputangan kain putih bersih yang menguar keharuman aroma kayu cendana yang menenangkan.

Elisa menerima uluran saputangan tersebut menggunakan kedua telapak tangan manusianya yang masih gemetar hebat.

"Terima kasih banyak, Tuan Cedric. Dan... mohon maaf yang sebesar-besarnya. Gara-gara masalah pribadiku, Anda terpaksa harus terlibat dan berurusan dengan orang-orang gila dari keluarga Salvatore itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!