Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Pancaran Aura Sejati
Dentang musik di dalam ballroom Gedung Pertemuan Alumni perlahan melunak saat acara pesta tahunan Fakultas Ilmu Komputer mulai mendekati penghujung malam. Riuh tepuk tangan dan obrolan para undangan terdengar samar dari kejauhan. Bayu Anggara, Melisa, dan Dimas melangkah keluar melintasi pintu kaca menuju balkon lantai dua yang tenang dan sejuk. Angin malam yang berembus pelan membawa kesegaran, menyapu hangat sisa-sisa ketegangan insiden bersama Nadeo beberapa saat lalu.
"Wah, udara di luar sini rasanya jauh lebih segar ya," kata Dimas seraya meregangkan kedua tangannya ke udara. "Di dalam tadi ruangan rasanya mendadak panas gara-gara drama si Nadeo."
Melisa menyandarkan kedua tangannya di atas pagar pembatas balkon, memandangi gemerlap lampu kota di bawah sana. "Aku sungguh lega acara malam ini berjalan lancar. Sikap Nadeo tadi benar-benar di luar batas, tapi caramu menghadapinya sungguh luar biasa, Bayu."
Bayu melangkah mendekat, berdiri satu meter di samping Melisa seraya menyandarkan sebelah tangannya di pagar marmer. Jas warna abu-abu gelapnya tertimpa sinar bulan yang lembut, membuat siluet tubuhnya tampak sangat tegap dan proposional.
"Kebenaran data tidak pernah membutuhkan teriakan untuk membuktikan dirinya, Melisa," sahut Bayu lembut dengan nada suara yang teratur dan menenangkan. "Nadeo hanya panik karena keangkuhannya tertembus oleh kenyataan."
Dimas melirik jam tangannya, lalu melemparkan senyuman penuh arti ke arah Bayu dan Melisa. "Eh, Bay, Mel... gue ke area parkir privat dulu ya. Gue mau memanaskan mesin Porsche Panamera kita dulu supaya nanti pas kalian turun, suasananya sudah nyaman." Ujarnya sedikit sombong.
Melisa menoleh terkejut. "Porsche Panamera? Kamu bawa mobil sport baru itu, Dimas?"
Dimas tertawa renyah seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Bayu. "Bukan mobil gue, Mel. Mobil operasional baru milik Bayu. Nanti lu lihat sendiri deh betapa kerennya mobil sahabat gue ini. Gue turun duluan ya!"
"Eh, Dimas, tunggu—" kata Melisa, namun Dimas sudah melambaikan tangan dan melangkah cepat kembali ke dalam gedung dengan senyum jahat yang menggoda.
Suasana di balkon seketika hening. Hanya tersisa desir angin malam dan suara gemericik air mancur dari taman di bawah. Melisa memutar tubuhnya, bersandar pada pagar balkon seraya menatap Bayu dari jarak yang sangat dekat.
"Bayu..." panggil Melisa pelan, suara jernihnya terdengar lebih intimated dari biasanya.
Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya, menatap Melisa penuh perhatian. "Iya, Melisa? Ada yang masih mengganggu pikiranmu?"
Melisa menggelengkan kepalanya perlahan, matanya tidak berkedip memperhatikan setiap sudut wajah Bayu. Sinar bulan dan pendar lampu taman yang remang menerangi wajah Bayu secara sempurna. Tanpa riasan berlebihan, garis rahang Bayu tampak begitu tegas dan berkarakter. Rambut hitamnya tertata rapi, dan di balik lensa transparan kacamata titaniumnya, sepasang mata Bayu memancarkan binar kecerdasan, ketenangan, serta ketampanan yang sangat dewasa.
"Aku cuma... baru menyadari sesuatu malam ini," bisik Melisa dengan raut wajah yang merona hangat.
"Menyadari hal apa, Melisa?" tanya Bayu ramah, mengulas senyum tipis di bibirnya.
Melisa melangkah satu tindak mendekat, hingga jarak di antara mereka kini hanya menyisakan beberapa sentimeter. Bau harum parfum vanila lembut dari Melisa menyapa indra penciuman Bayu.
"Selama ini aku selalu memandangmu sebagai rekan riset yang sangat cerdas, mahasiswa berprestasi, dan pria yang sangat rendah hati," tutur Melisa jujur, tatapan matanya bergetar lembut memandang manik mata Bayu. "Tapi malam ini... saat kamu berdiri tegak di tengah ballroom, saat kamu membela kebenaran dengan begitu tenang tanpa sedikit pun keraguan... aku melihat sosok pria yang sangat tampan dan karismatik."
Jantung Bayu di balik kemeja putihnya berderak lebih cepat. Namun, pembawaannya tetap tenang dan terkendali.
Ponsel di saku jas Bayu bergetar sangat halus. Suara sintesis Jarvis mengalun jernih melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu.
"Pemindaian respons biometrik dan visual subjek Melisa," lapor Jarvis mendetail. "Terdeteksi perubahan pupil mata sebesar dua puluh empat persen dan peningkatan frekuensi detak jantung pada angka seratus dua kali per menit. Indikator daya tarik visual dan emosional terhadap diri Anda berada pada titik tertinggi, Bayu."
Bayu menatap Melisa lurus-lurus, senyuman hangat mengukir indah di wajahnya. "Apakah jas abu-abu ini yang membuatku terlihat berbeda di matamu, Melisa?"
Melisa tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu di tengah sunyinya malam. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu dengan jemari yang lembut dan sedikit bergetar, ia merapikan kerah jas Bayu yang sedikit terlipat di dekat bahu.
"Bukan sekadar pakaian atau jas mewah ini, Bayu," kata Melisa pelan, jemarinya kini menyentuh pelan bingkai kacamata titanium Bayu sebelum kembali turun. "Tapi aura di dalam dirimu. Ketepatan bicaramu, ketenangan tatapan matamu, dan rasa aman yang selalu kamu berikan setiap kali berada di dekatku. Ketampananmu itu murni... tidak dibuat-buat dan sangat memikat."
Pipi Melisa semakin merona merah setelah mengutarakan kejujuran hatinya secara langsung. Ia tertunduk sedikit, merasa malu atas keberaniannya sendiri.
Bayu mengangkat tangannya, jemarinya menggenggam pelan tangan Melisa yang baru saja merapikan kerahnya. Sentuhan kulit mereka yang hangat menyalurkan getaran emosi yang begitu nyata di antara keduanya.
"Terima kasih atas pujian tulusmu, Melisa," tutur Bayu dengan suara berat yang mengalun sangat lembut dan berwibawa. "Jika aku terlihat lebih baik malam ini, itu karena kehadiran wanita luar biasa seperti kamu di sampingku."
Melisa mendongak, matanya berbinar cerah menatap wajah Bayu dari dekat. "Kamu selalu tahu cara menjawab dengan kalimat yang manis, Bayu."
"Aku hanya mengatakan apa yang sejujurnya ada di hatiku, Melisa," balas Bayu jujur, menatap mata Melisa tanpa berpaling sedikit pun. "Bagiku, kecerdasan dan keanggunanmu malam ini jauh lebih memukau daripada seluruh lampu kristal di dalam ballroom pesta itu."
Melisa menahan napasnya sejenak, dadanya berdegup kencang mendengar penuturan jujur dari Bayu. Perasaan yang sebelumnya samar kini kian mengkristal dengan sangat jelas. Di matanya saat ini, Bayu Anggara bukan lagi sekadar teman kuliah biasa, ia adalah sosok pria sejati yang memiliki pesona tak tertandingi, pria yang secara ajaib memiliki kehangatan dan ketenangan yang identik dengan pahlawan berzirah yang pernah mendekapnya.
"Bayu..." bisik Melisa tulus. "Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu dan berada di sisimu."
"Aku juga sangat bersyukur memiliki kamu dalam hidupku, Melisa," sahut Bayu lembut seraya perlahan melepaskan genggaman tangannya dengan penuh rasa hormat, Bayu merasa ia harus segera mengakhiri intraksi intens in sebelum semuanya tidak terkendali.
"A-Ayo, Dimas pasti sudah menunggu kita di bawah. Nanti dia terlalu lama memanaskan mesin mobilnya." Ucapnya sedikit canggung.
Melisa tertawa hangat melihat sikap Bayu yang seakan menghindar, ia segera qmenganggukkan kepalanya dengan anggun. "Baiklah, ayo kita turun."
Keduanya melangkah beriringan meninggalkan balkon sepi tersebut, berjalan menyusuri koridor gedung yang mulai redup. Setiap langkah kaki mereka terasa harmonis dan penuh dengan keselarasan emosi yang manis.
Saat mereka tiba di area penjemputan privat, sedan coupe Porsche Panamera berwarna midnight blue milik Bayu sudah terparkir mulus dengan lampu LED tajam yang menyala anggun. Dimas menyembul dari jendela pengemudi sambil melambaikan tangan dengan tawa lebar.
"Silakan masuk, Tuan dan Nyonya!" goda Dimas antusias. "Kabin sudah sejuk dan siap meluncur!"
Bayu membukakan pintu penumpang depan untuk Melisa dengan sikap yang sangat santun. Melisa melangkah masuk dengan gaun birunya, memberikan senyuman paling manis kepada Bayu sebelum pintu ditutup pelan.
Bayu mengitari bodi mobil dan duduk di kursi penumpang belakang. Sedan mewah itu meluncur mulus membelah keheningan malam kota. Di dalam kabin yang hangat dan kedap suara, Melisa sesekali melirik melalui kaca spion tengah, menatap siluet Bayu yang duduk tenang memandangi pemandangan lampu kota.
Di bawah pendar malam yang syahdu, interaksi hangat malam itu meninggalkan jejak manis yang mendalam. Melisa telah melihat aura ketampanan dan karisma sejati dari Bayu Anggara, sementara Bayu menjaga rahasia besar dan cintanya dengan ketenangan mutlak yang semakin mempererat ikatan batin di antara mereka.