Indonesia
NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

flashback

Masih flashback

Lantai 3. Restoran mewah dengan lampu kristal dan pemandangan kota.

Meja sudah dipesan. Di sudut ruangan sebelah kaca pemandangan kota.

Di tengahnya ada vas bunga mawar putih. Wanginya terlalu manis.

Cheyrin duduk dengan anggun. Di sebelahnya papanya menarik kursi kemudi duduk.

Cheyrin memainkan ujung serbet di pangkuannya. Dress champagne satinnya dingin menyentuh kulit.

Restoran ini...

Dia ingat sekali. Dulu tempat ini sering mereka datangi bertiga.

Dia, Papa, dan Mama.

Mama yang selalu pesan dessert duluan. Papa yang selalu tertawa.

Sekarang hanya mereka berdua.

Belum sampai 5 menit, dari sudut pintu ujung ruangan, muncul dua orang.

Langkahnya anggun.

Seorang wanita usia 40-an, dengan blazer krem dan senyum ramah.

Di belakangnya, seorang pemuda dengan kemeja hitam.

Nafas Cheyrin tercekat.

Pemuda itu.

Steven.

Anak yang selalu dia lihat di lapangan basket kampus. Anak yang 2 hari lalu bertengkar dengan Jayden karena dirinya.

Dan wanita itu.

Ibu yang waktu itu membentak dirinya di L'Evanne karena steaknya salah.

Yang membuat Cheyrin diam dan menunduk hari itu.

"Mas."

Wanita itu langsung memeluk Papa Cheyrin. Pelukan hangat. Terlalu akrab.

"Duduk sini ya, Sayang." Papa Cheyrin menepuk kursi di sebelahnya.

Dunia Cheyrin berputar.

Steven berhenti melangkah saat melihatnya.

Mata mereka bertemu.

"Cheyrin?"

Suara Steven pelan. Kaget. Tidak percaya.

Cheyrin memaksa dirinya menoleh. Menatap Steven. Menatap wanita itu.

Takdir macam apa ini.

"Pah... apa ini?" tanyanya. Suaranya hampir tidak keluar.

Papa menatapnya, menenangkan nya.

"Kamu tenang dulu ya, sayang."

Wanita itu ikut menoleh ke Cheyrin. Matanya membesar.

"Dia... anak kamu, Mas?"

"Iya." Papa Cheyrin mengangguk. "Dia anak saya. Kamu udah pernah ketemu?"

Rahang Cheyrin mengeras.

Dia menjawab lebih dulu, sebelum siapapun bicara lagi.

Suara datar.

"Ini temen aku, Pah. Steven."

Papa tersenyum kecil. Tidak paham.

"Oh... ternyata kalian udah berteman. Bagus dong."

Tidak ada yang bagus.

Steven duduk di sampingnya. Terlalu dekat.

Beberapa detik, Cheyrin bisa merasakan tatapan Steven menelusuri dress champagne nya.

Cheyrin tidak menoleh. Sekali pun.

Hening. Hanya suara denting sendok.

Sampai akhirnya Papa Cheyrin membuka suara.

Nada santainya yang paling menyakitkan.

"Jadi, ini Tante Mira. Dia bakal jadi ibu sambung kamu."

Detik itu juga.

Cheyrin menoleh cepat.

Matanya merah. Rahangnya mengeras.

Penolakan. Marah. Hancur. Semuanya jadi satu.

Tanpa sepatah kata.

Tanpa menyentuh makanannya.

Cheyrin mendorong kursi. Bangkit.

"Papa baru aja pisah dari mama, dan sekarang papa udah mau ngelanjutin kehidupan papa. Egois"

Tumitnya beradu dengan lantai marmer saat dia meninggalkan meja itu.

Meninggalkan mawar putih.

Meninggalkan Papa.

Meninggalkan Steven yang masih terpaku.

Meninggalkan "keluarga baru" yang bahkan belum dimulai.

Cheyrin mendorong pintu kaca balkon dengan kasar.

Angin malam menyapu kulitnya yang dingin.

Dari lantai tiga, gemerlap lampu kota terbentang di bawah sana. Indah, tapi tidak mampu menenangkan dadanya yang sesak.

Tangan Cheyrin menggenggam erat pagar besi. Gaun satin champagne yang dikenakannya berkibar tertiup angin.

Air matanya kembali jatuh.

Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi.

Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.

Pelan. Hati-hati.

Steven berhenti beberapa langkah di belakang Cheyrin.

Ia melihat bahu gadis itu yang bergetar. Melihat punggungnya yang kaku. Melihat tangannya yang sesekali menghapus air mata di pipi.

Steven menghela napas pelan.

"Pergi aja. Gue gak butuh ditenangin."

Cheyrin berbicara lebih dulu, tanpa menoleh. Suaranya serak dan bergetar.

Keheningan kembali menyelimuti. Hanya ada suara angin yang berdesir.

Akhirnya Steven melangkah maju. Ia berdiri di samping Cheyrin, menjaga jarak. Keduanya kini bersandar pada pagar, menatap ke arah kota yang sama.

"Gue tau." ucap Steven pelan.

"Gue tau lo gak bisa nerima semua ini."

Cheyrin memejamkan matanya rapat-rapat.

"Gue awalnya juga gitu." lanjut Steven.

"Waktu nyokap gue bilang kalau dia mau nikah lagi, gue marah. Gue ngerasa dikhianatin."

Ia berhenti sejenak, menatap ujung sepatunya sendiri.

"Tapi lo tau gak... waktu gue lihat wajah bahagia nyokap gue hari itu, gue jadi diem."

Cheyrin memalingkan wajahnya, menolak untuk menatap Steven. Rahangnya mengeras menahan amarah dan sakit.

Hening beberapa detik. Lalu Cheyrin bersuara. Pelan, tapi dingin.

"Jadi lo udah tau semua ini sebelumnya?"

Steven langsung menoleh. Kaget.

"Nggak. Gue sama sekali nggak tau kalau yang lagi dekat sama nyokap gue tuh bokap lo."

Cheyrin terkekeh kecil. Tanpa emosi.

"Hebat. Orang tua kita kompak banget ya. Sama-sama ngebohongi."

"Mungkin buat lo berat." suara Steven melembut.

"Orang tua lo baru aja pisah. Gue juga gitu. Bagi gue, gak ada yang bisa gantiin almarhum bokap gue."

Angin kembali berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Cheyrin.

"Tapi coba..." Steven menoleh sekilas ke arah Cheyrin.

"Coba lihat dari posisi kita sebagai anak. Ini hidup mereka. Hidup orang tua kita. Kita nggak perlu ikut campur."

"Mungkin..." Steven menarik napas panjang.

"Mungkin mereka emang udah ditakdirkan bersama."

Cheyrin tidak menjawab sepatah kata pun.

Ia hanya terus menatap lampu-lampu kota di kejauhan.

Di pipinya, air mata masih mengalir. Namun kali ini, ia tidak lagi menghapusnya.

PAGI ITU.

Cukup.

Empat hari tidak masuk kampus sudah terlalu lama.

Niat awal Cheyrin untuk menenangkan diri justru gagal total. Makin dipikirkan, makin sesak.

Pagi itu Cheyrin bersiap seperti biasa.

Rapi. Sempurna. Blazer hitam, rambut dikuncir rendah, tidak ada celah untuk terlihat rapuh.

Di meja makan, hanya ada ia dan Pak Mahendra. Suasananya hening. Tidak ada mawar putih. Tidak ada Tante Mira.

Saat Cheyrin hendak berangkat, Pak Mahendra menahannya.

"Chey, tunggu."

Cheyrin berhenti di ambang pintu.

"Steven yang akan menjemput kamu. Pergi bareng aja ya."

Detik itu juga tubuh Cheyrin menegang.

Tercengang.

Ia sama sekali tidak meminta untuk dijemput. Kalau pun Papa tidak bisa mengantar, tidak apa-apa. Ia bisa naik taksi. Ojek online. Apa saja.

Tapi pergi bersama Steven?

Tidak. Itu bukan ide yang bagus.

Kampus masih membicarakan kejadian beberapa hari lalu. Bagaimana jika mereka melihat Cheyrin dan Steven datang bersama? Gosipnya akan ke mana-mana. Ini tidak benar.

"Pa..." Cheyrin mencoba menolak.

Tapi Pak Mahendra sudah memotong. Nadanya ringan, seolah ini hal yang sepele.

"Supaya tali persaudaraan kalian semakin erat, sayang."

Erat.

Iya, memang erat.

Sampai-sampai Cheyrin merasa seperti dicekik.

Tidak ada pilihan lain.

Dengan rahang mengeras, Cheyrin akhirnya mengalah dan menurut pada kemauan Papanya.

Cheyrin akhirnya berangkat bersama Steven.

Di atas motor Kawasaki Ninja biru itu, duduk di belakang orang yang akan menjadi saudara tirinya.

Helm pinjaman terasa berat di kepala.

Hening. Hanya ada suara mesin dan angin yang menerpa.

Sampai akhirnya Steven memecah keheningan.

"Lo udah mendingan?"

Cheyrin mengerutkan dahi di balik helm.

"Mendingan?"

Steven sedikit menunduk. Suaranya pelan, hampir kalah oleh angin.

"Maksud gue... udah bisa nerima keputusan orang tua kita?"

Cheyrin memalingkan wajahnya ke arah ruko-ruko di pinggir jalan. Menghindari.

"Gausah bahas itu. Gue lagi males."

Setelah itu mereka kembali diam.

Canggung. Kaku. Seperti dua orang asing yang dipaksa satu nasib.

Beberapa detik kemudian, Cheyrin akhirnya bersuara lagi. Pelan.

"Gue mau nanya sesuatu."

Steven langsung fokus. "Hmm?"

"Lo beneran jadian sama Lisa?"

Steven terdiam. Tangan yang di stang motor sempat menegang.

"Iya. Emang kenapa?"

Cheyrin menghela napas panjang. Panjang sekali.

"Gue harap lo beneran jadiin dia pacar lo. Bukan tameng buat perlindungan lo."

Setelah itu mereka kembali diam.

Canggung. Kaku. Seperti dua orang asing yang dipaksa satu nasib.

Beberapa meter lagi sampai gerbang kampus.

Cheyrin langsung menepuk pelan bahu Steven.

"Turunin gue di sini aja."

Steven langsung menyerngit. Ia menoleh sekilas ke belakang.

"Lah kenapa? Ngapain di sini?"

Cheyrin tetap datar. Tegar.

"Gue bilang turunin."

Steven menghela napas, tidak ingin berdebat dengan Cheyrin, tapi tetap menepikan motor di bawah pohon beringin besar. Jauh dari gerbang utama. Jauh dari keramaian.

Begitu motor berhenti, Cheyrin langsung turun. Melepas helm. Mengembalikannya tanpa menatap Steven.

Tanpa sepatah kata lagi, ia berjalan masuk ke kampus sendirian.

Meninggalkan Steven yang masih duduk di atas motor, menatap punggungnya.

FLASHBACK BERAKHIR

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!