Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hari silih berganti dan Ji-eun perlahan mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil yang ditinggalkan Tae-jun. Namun, di dalam area hotel bintang lima tempatnya bekerja, batas-batas profesionalisme tetap berdiri kokoh. Tae-jun di depan publik adalah sosok Direktur Utama yang berwibawa, dingin, dan berjarak. Matanya yang tajam dan auranya yang intimidatif sanggup membuat staf paling senior sekalipun menahan napas saat berpapasan dengannya di lorong.
Meski begitu, ada momen-momen samar di mana pertahanan dingin itu retak tipis, hanya untuk Ji-eun.
Sore harinya, di tengah rapat divisi operasional, Tae-jun duduk di ujung meja panjang dengan ekspresi datar yang kaku. Seluruh kepala departemen bicara dengan nada hati-hati. Saat giliran Ji-eun menyampaikan laporan, Tae-jun mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun, ketika Ji-eun tanpa sengaja berkata “menu darurat jam sebelas malam” sebuah istilah rahasia yang mereka gunakan untuk menyebut tteokbokki yang mereka santap dua hari lalu, sudut bibir Tae-jun terangkat sangat tipis.
Tae-jun dengan cepat berdehem, menutupi senyumnya dengan kepalan tangan, sementara Ji-eun mendadak menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa di depan belasan staf yang kebingungan.
"Lanjutkan, Manajer Han," ujar Tae-jun pendek, suaranya kembali berat dan formal.
"Baik, Direktur Seo," jawab Ji-eun, menundukkan kepala dengan binar jenaka di matanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, begitu jam kerja shift siang Ji-eun selesai, Tae-jun menjemput Ji-eun tidak jauh dari hotel kemudian membawanya pergi ke sebuah kedai sup hangat kecil di pinggiran kota yang buka hingga larut malam. Kedai itu sederhana, berbilik kayu, dan jauh dari lalu lintas elite yang biasa mendatangi Tae-jun.
Suasana makan malam berlangsung sangat santai. Di atas meja kayu yang berasap tipis, Tae-jun sibuk menyendokkan daging empuk ke dalam mangkuk Ji-eun hingga menggunung.
"Tae-jun-ssi, cukup," protes Ji-eun sembari tertawa pelan. "Mangkukku sudah tidak muat lagi. Kau sendiri belum makan."
"Kau harus makan yang banyak," sahut Tae-jun tanpa ragu, matanya menatap Ji-eun penuh kehangatan yang manis. "Hari ini Kau berdiri seharian di lobby. Kalau Kau sakit atau berat badanmu turun sedikit saja, aku bisa gila karena memikirkannya."
Ji-eun menggeleng-gelengkan kepala. "Kau ini berlebihan sekali. Di kantor tadi Kau terlihat seperti bisa membekukan satu ruangan, tapi di sini Kau mendadak jadi sangat cerewet."
"Di kantor aku ini direktur yang harus menjaga sikap," puji Tae-jun pada dirinya sendiri, sebelum tatapannya melunak secara drastis. "Aku hanya ingin memastikan pacarku makan dengan baik. Mau bagaimana lagi?"
Pipi Ji-eun merona merah. Nada bicara Tae-jun yang begitu lugas tanpa rasa gengsi selalu berhasil membuatnya salah tingkah.
Sambil menikmati hidangan hangat itu, percakapan mereka bergulir makin dalam. Untuk pertama kalinya, Tae-jun mulai membuka lembaran masa lalunya yang tersimpan rapat.
"Rumah tempatku membesar itu sangat besar," gumam Tae-jun pelan selesai mereka makan, jemarinya memainkan pinggiran cangkir tehnya. "Tapi rumah itu selalu terasa dingin dan terlalu sunyi. Ibuku meninggal saat usiaku 7 tahun. Bahkan aku tidak mengingat jelas bagaimana wajahnya."
Ji-eun mendengarkan tanpa menyela, menatap wajah tampan di hadapannya yang kini menyisakan guratan kesepian masa kecil.
"Sejak kecil, aku terbiasa makan sendirian di meja makan panjang yang muat untuk belasan orang," lanjut Tae-jun, melayangkan pandangannya ke luar jendela kedai. "Aku diajari cara memegang pisau dan garpu dengan benar sebelum aku belajar cara mengungkapkan apa yang kuinginkan. Semua orang menuntutku menjadi penerus yang sempurna, tanpa ada yang pernah bertanya... apakah aku bahagia?"
Ji-eun mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Tae-jun yang kokoh. "Tae-jun-ssi..."
Tae-jun menoleh, menatap jemari mereka yang bertaut, lalu mengukir senyum tulus, senyuman langka yang tak seorang pun di tempat kerja pernah melihatnya.
"Tapi sekarang terasa berbeda," bisik Tae-jun, membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam erat tangan Ji-eun. "Sejak ada Kau, aku tidak pernah merasa sendirian lagi."
Ji-eun tersenyum hangat, hatinya tersentuh mendalam. Ia ganti bercerita tentang kehidupannya yang sederhana, tentang bagaimana ia harus berjuang keras meniti karier dari bawah demi membuktikan kemampuannya. Malam itu, sekat antara direktur dan bawahan benar-benar lebur tanpa sisa. Mereka hanyalah dua manusia yang saling membuka diri dan belajar memahami luka satu sama lain.
Setelah selesai makan malam, Tae-jun mengantar Ji-eun pulang dengan mobilnya. Perjalanan membelah jalanan kota yang lengang dipenuhi alunan musik jazz ber-tempo lambat. Rasa lelah akibat beban kerja seharian akhirnya membuat kelopak mata Ji-eun terasa makin berat. Tanpa sadar, kepalanya terkulai lemah ke samping, tertidur lelap di kursi penumpang.
Menyadari hal itu, Tae-jun segera menepikan mobilnya pelan ke bahu jalan yang aman. Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan, ia mengecilkan volume musik hingga hampir tak terdengar. Ia kemudian melepas jas hitam mahal yang melekat di badannya dan menyelimutkannya ke tubuh Ji-eun dengan lembut.
Tae-jun tidak membangunkannya. Ia mematikan mesin mobil, menyalakan lampu pendar redup, dan hanya duduk diam memperhatikan wajah Ji-eun yang sedang tertidur lelap. Jemari Tae-jun bergerak perlahan, merapikan helai rambut yang menutupi dahi Ji-eun, lalu mengusap pipi perempuan itu dengan punggung jarinya. Ada rasa kagum, sayang, dan kepemilikan yang mendalam di matanya.
Hampir satu jam berlalu hingga akhirnya Ji-eun membuka matanya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, menyadari aroma parfum maskulin yang familiar menyelimuti tubuhnya.
"Eungh... aku tertidur?" gumam Ji-eun dengan suara serak khas bangun tidur. Ia buru-buru melihat jam di dasbor. "Astaga, Tae-jun-ssi! Kenapa Kau tidak membangunkanku? Ini sudah hampir jam satu malam!"
Tae-jun yang sedang bersandar santai sambil menatapnya hanya tersenyum tipis. "Kenapa harus kubangunkan? Kau terlihat sangat nyaman."
"Tapi kasihan Kau harus menunggu!" Ji-eun mengusap wajahnya yang terasa hangat, merasa bersalah. "Harusnya Kau tepuk bahuku."
"Ji-eun-a," panggil Tae-jun lembut, memajukan tubuhnya dan terkekeh pelan. "Melihatmu tidur nyenyak di sampingku seperti ini adalah bagian terbaik dari hariku. Aku bahkan rela duduk di sini sampai pagi kalau itu artinya aku bisa terus memandangi wajahmu."
Ji-eun memukul pelan lengan Tae-jun dengan jas yang tadi menyelimutinya. "Bicaramu makin tidak karuan. Kau ini benar-benar..."
"Benar-benar apa? Kecintaan?" potong Tae-jun cepat sambil menaikkan alisnya, tanpa ragu mengakui julukan itu. "Aku tidak peduli. Kau boleh sebut aku apa saja, asal Kau tidak memintaku untuk menjauh."
Ji-eun menahan senyumnya yang hampir meledak. Ia merapikan jas Tae-jun dan menyerahkannya kembali. "Ayo jalan, nanti Kau kurang tidur."
Tae-jun melajukan kembali mobilnya hingga berhenti tepat di depan apartement Ji-eun. Sebelum Ji-eun sempat menyentuh gagang pintu mobil, Tae-jun sudah menahannya.
"Tunggu sebentar," ujar Tae-jun.
Pria itu melepas sabuk pengamannya, lalu merengkuh tubuh Ji-eun ke dalam pelukannya. Ji-eun sempat terkejut sejenak, namun kemudian melingkarkan kedua lengannya di pinggang Tae-jun, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Suara detak jantung Tae-jun terdengar teratur dan menenangkan.
Mereka berpelukan cukup lama di dalam keremangan mobil. Dinding pertahanan, status sosial, dan keraguan yang dulu menghalangi kini telah menguap sepenuhnya.
"Terima kasih untuk hari ini," bisik Ji-eun tulus di ceruk leher Tae-jun.
Tae-jun mengecup puncak kepala Ji-eun dengan penuh kelembutan, menahan napasnya di sana selama beberapa detik. "Selamat tidur, Ji-eun-a. Sampai ketemu besok di kantor... Manajer Han."
Ji-eun tertawa kecil dalam pelukan itu. "Selamat tidur, Direktur Seo."
Malam itu, saat Ji-eun melangkah masuk ke dalam rumahnya dan Tae-jun melajukan mobilnya kembali menembus keheningan kota, keduanya tahu satu hal pasti, mereka bukan lagi dua orang asing yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua jiwa yang telah menemukan rumah dalam diri satu sama lain.
...****************...