Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik bisik dibalik dinding
Perubahan sikap Nindi yang mulai sering menunggu kedatangan tukang galon dengan antusias, ternyata tidak luput dari perhatian Bi Inah yang sudah bertahun-tahun mengabdi di keluarga Prameswari tersebut. Sebagai orang yang paling sering berinteraksi dengan seisi rumah, Bi Inah mulai menyadari pola yang tidak biasa dalam keseharian Nindi belakangan ini.
"Non Nindi kayaknya seneng banget ya kalau Mas Gilang yang anter galon," gumam Bi Inah suatu hari kepada Pak Slamet, sopir pribadi keluarga tersebut yang kebetulan sedang mencuci mobil di garasi.
"Iya, saya juga notice. Biasanya Non Nindi mah nggak pernah keluar buat nyambut tukang galon, sekarang malah nungguin di teras," jawab Pak Slamet sambil terus menggosok bodi mobil dengan lap basah.
Percakapan sederhana antar staf rumah tangga tersebut, tanpa mereka sadari, akhirnya sampai juga ke telinga Om Hensa melalui salah satu asisten rumah tangga lain yang kebetulan mendengar dan menganggapnya sebagai bahan obrolan ringan. Mendengar informasi tersebut, Om Hensa yang tengah sibuk menyusun rencana perjodohan Nindi dengan Rafael, merasa sedikit terganggu dengan perkembangan yang tidak terduga tersebut.
"Tukang galon? Yang benar saja," gumam Om Hensa dengan nada meremehkan ketika mendengar kabar tersebut dari salah satu orang kepercayaannya, meski dalam hatinya dia mulai mempertimbangkan apakah hal tersebut bisa mengganggu rencana besarnya.
Dia memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing, menganggap ketertarikan Nindi tersebut hanya sekadar rasa penasaran sesaat yang akan hilang dengan sendirinya, mengingat perbedaan status sosial yang begitu jauh antara keduanya. Namun sebagai langkah antisipasi, dia mulai mempercepat rencana pertemuan antara Nindi dan Rafael, berharap bisa mengalihkan perhatian keponakannya tersebut sebelum ketertarikan itu berkembang lebih jauh.
Sementara itu, di lingkungan yang jauh berbeda, kabar mengenai kedekatan Gilang dengan seorang pelanggan kaya juga mulai beredar di kalangan sesama tukang galon yang biasa mangkal di depot Pak Darto. Yoga, sahabat Gilang, adalah orang pertama yang menyadari perubahan kecil pada sikap temannya tersebut.
"Lang, lo akhir-akhir ini kalau nganter ke komplek elite itu lamaan ya. Ada apaan sih?" tanya Yoga suatu sore, ketika mereka berdua sedang beristirahat di depot setelah menyelesaikan rute masing-masing.
Gilang sedikit tersipu mendapati pertanyaan tersebut, tidak menyangka perubahan kecil dalam rutinitasnya bisa terdeteksi oleh sahabatnya sendiri. "Ah, biasa aja kok, Yog. Cuma kadang pelanggannya suka ngajak ngobrol."
"Pelanggan yang mana? Yang di rumah gede itu?" desak Yoga dengan nada menggoda, sudah menduga arah pembicaraan tersebut.
"Iya, yang itu. Orangnya baik kok, cuma keliatannya kesepian aja tinggal di rumah segede itu," jawab Gilang mencoba menjelaskan dengan nada senetral mungkin, meski jauh di dalam hatinya, dia mulai menyadari ada perasaan berbeda yang perlahan tumbuh setiap kali memikirkan sosok Nindi.
"Hati-hati, Lang. Beda dunia itu biasanya susah nyatu. Jangan sampai lo malah sakit hati," ujar Yoga dengan nada yang lebih serius, memberikan peringatan yang lahir dari kepedulian tulus terhadap sahabatnya tersebut.
Gilang mengangguk pelan, menyadari kebenaran dalam ucapan Yoga tersebut. "Iya, saya juga sadar kok soal itu, Yog. Lagian saya kan cuma tukang galon biasa, dia anak orang kaya. Nggak mungkin ada apa-apa."
Namun meski mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada yang berusaha meyakinkan, jauh di dalam hati Gilang, sebuah keraguan kecil mulai muncul, mempertanyakan apakah benar perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya terhadap Nindi hanya sekadar simpati biasa, ataukah sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu, sebuah pertanyaan yang belum berani dia jawab sendiri, apalagi mengakui kepada orang lain.
Malam itu, sepulang kerja, Gilang duduk termenung di kamarnya, memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi jika perasaannya tersebut benar berkembang lebih jauh, sementara di sisi lain kota, tanpa dia ketahui, sebuah rencana besar sedang disusun yang bisa saja mengancam kesempatan yang baru saja mulai tumbuh antara dirinya dan Nindi.
Bu Suryani, yang sedang menyelesaikan jahitan terakhirnya malam itu, sempat memperhatikan anaknya yang tampak lebih pendiam dari biasanya. "Nak, kamu kenapa? Kayak ada yang dipikirin."
"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma capek aja," jawab Gilang berusaha mengelak, tidak ingin membebani ibunya dengan pergolakan perasaan yang bahkan belum sepenuhnya dia pahami sendiri.
Bu Suryani, yang sudah mengenal anaknya sejak lahir, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban tersebut, namun memilih untuk tidak memaksa, membiarkan Gilang menyelesaikan pergulatan batinnya sendiri terlebih dahulu. Dia hanya tersenyum lembut sambil melanjutkan pekerjaannya. "Kalau ada yang mau diceritain, Ibu selalu siap dengerin, Nak. Kapan pun kamu siap."
Kata-kata sederhana tersebut memberikan sedikit kehangatan bagi Gilang, mengingatkannya bahwa apapun yang terjadi ke depannya, dia masih memiliki sosok ibu yang selalu mendukungnya tanpa syarat, sebuah kekuatan yang akan sangat dia butuhkan menghadapi berbagai tantangan yang mulai mengintai hubungannya dengan Nindi di masa depan.