Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4: Ketua OSIS yang Selalu Menunggu
Beberapa hari berlalu sejak kejadian di taman itu, dan kebiasaan aneh itu terus berulang setiap hari tanpa aku rencanakan. Setiap kali bel istirahat berbunyi, entah bagaimana caranya Ethan selalu muncul di tempat aku duduk—kadang lebih dulu, kadang setelah aku duduk sebentar. Dia tidak pernah bilang suka pada kuenya, tapi setiap kali aku menyodorkan sepotong, ia selalu menerimanya dan memakannya sampai habis tanpa satu pun sisa. Kadang ia bertanya hal-hal sepele tentang kue itu, kadang hanya diam dan mendengarku bercerita, tapi ia selalu ada di sana. Dan setiap hari, sebelum berpisah, ia selalu berkata kalimat yang sama: "Besok bawa yang sama." Seolah itu adalah janji tak tertulis di antara kami.
Hari ini, saat aku berjalan menuju taman seperti biasa sambil membawa kotak bekal berisi kue cokelat lembut yang baru dibuat Tante Lisa pagi ini, seseorang berdiri tegak di tengah lorong, menghalangi jalanku. Dia berbadan tegap, berwajah tegas dan tampan, dengan rambut yang tertata rapi dan lencana ketua OSIS yang terpasang gagah di dada kirinya. Itu Mark, ketua OSIS yang paling disegani di sekolah—sosok yang dihormati semua orang, dan dalam cerita aslinya selalu menjadi pelindung Elena sekaligus musuh terbesar Lily asli.
"Lily," panggilnya dengan suara rendah namun tegas, matanya menatapku tajam dan menyelidik, seolah sedang mencari sesuatu di dalam diriku. "Boleh bicara sebentar? Di sini saja, tidak lama."
"Tentu saja, Kak Mark. Ada apa?" Aku menatapnya dengan tenang dan polos, tanpa rasa takut sedikit pun. "Apakah aku melakukan kesalahan di sekolah?"
Mark terdiam sejenak, lalu menatapku lebih lekat. "Semua orang di sekolah ini berbicara tentangmu akhir-akhir ini. Mereka bilang kau berubah total. Bahwa kau tidak lagi menyakiti siapa pun, bahkan kemarin kau menolong Elena saat Grace berusaha menjebaknya. Dan… aku sering melihatmu bersama Ethan di taman saat istirahat."
"Itu benar. Menyakiti orang itu tidak baik, bukan?" jawabku jujur dan tenang. "Dan Ethan… dia hanya menemani makan kue itu saja. Tidak ada yang lain."
"Kenapa berubah tiba-tiba?" tanyanya tajam, nada bicaranya meninggi sedikit. "Aku tidak percaya perubahan drastis terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Selama bertahun-tahun kau adalah gadis yang manja, kejam, dan egois. Lalu tiba-tiba kau menjadi lembut dan baik hati? Apakah kau merencanakan sesuatu yang lebih besar? Atau… semua ini hanya akal-akalanmu untuk menarik perhatian Ethan dengan cara yang berbeda?"
Pertanyaan itu tajam dan langsung, tepat sasaran. Aku tahu dia punya alasan untuk curiga—dia pernah melihat sisi terburuk Lily asli, dan wajar jika dia tidak percaya begitu saja. Namun aku tidak marah. Aku justru mengerti kekhawatirannya.
Aku menggeleng pelan, menatapnya dengan mata yang tulus dan jujur. "Aku tidak merencanakan apa-apa, Kak Mark. Dan aku tidak berpura-pura. Aku hanya… menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membenci orang lain dan menyakiti siapa pun. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik, itu saja. Bukan untuk siapa pun, tapi untuk diriku sendiri."
Mark terdiam mendengar jawabanku. Dia menatapku lama sekali, seolah sedang menimbang apakah kata-kataku itu jujur atau kebohongan lain. Perlahan, tatapan tajamnya mulai melembut, kerutan di dahinya perlahan hilang. Dia menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
"Jika kau benar-benar berubah… itu hal yang sangat bagus," ucapnya pelan, nadanya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Dunia ini butuh orang baik, bukan orang yang menyakiti orang lain. Tapi ingat, aku akan tetap mengawasimu. Jika kau berani menyakiti siapa pun di sekolah ini… aku tidak akan tinggal diam."
"Baiklah, aku janji tidak akan menyakiti siapa pun!" Aku mengangkat tangan kananku setinggi bahu, seolah bersumpah dengan tulus. "Dan kalau Kak Mark tidak percaya, silakan awasi aku setiap hari. Aku tidak keberatan kok."
Mark menatap tanganku yang terangkat itu, lalu ke wajahku yang penuh senyum tulus dan polos. Perlahan, sudut bibirnya yang selalu kaku dan serius terangkat membentuk senyum tipis yang sangat jarang dilihat orang lain.
"Baik. Aku akan percaya sekali ini," ucapnya pelan, lalu ia berhenti sejenak, seolah ragu hendak mengatakan sesuatu. Setelah beberapa detik, ia melanjutkan dengan nada yang jauh lebih pelan dan lembut, "Tapi… kalau ada apa-apa, kalau ada yang mengganggumu atau kau butuh bantuan… kau bisa datang padaku. Aku akan membantumu."
Dengan itu, ia berbalik dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri di tempat dengan perasaan bingung dan sedikit terkejut. Bukankah dalam cerita aslinya, Mark selalu memusuhiku dan bahkan pernah melaporkanku ke guru karena menyakiti Elena? Kenapa sekarang dia malah bilang mau membantuku? Apakah perubahanku ini benar-benar mulai mengubah takdir semua orang di sekitarku?
Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu tersenyum kecil. Semakin banyak orang yang memihakku, semakin mudah bagiku untuk selamat dari akhir cerita yang tragis itu. Tapi entah kenapa… di dalam hatiku, ada perasaan hangat yang mengatakan bahwa perubahan ini bukan hanya untuk menyelamatkan diriku saja. Mungkin… aku benar-benar bisa menjadi orang yang lebih baik di dunia ini.
Dengan pikiran itu, aku melanjutkan langkahku menuju taman, di mana seseorang sudah menunggu di sana sambil menatap jam tangannya dengan wajah yang tidak sabar—sepertinya Ethan sudah menungguku sejak tadi. Dan di tanganku, kotak bekal berisi kue cokelat itu terasa semakin berharga. Bukan hanya karena rasanya yang enak, tapi karena kue sederhana ini perlahan-lahan menyatukan hati orang-orang yang dulu saling menjauh.