SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: RETAKAN DI BALIK DINDING
Keesokan harinya di sekolah, atmosfer di sekitar Aluna terasa jauh lebih tenang secara mendadak. Reno benar-benar mematuhi peringatan dingin Devan; cowok itu tidak lagi berani mendekati, menyapa, atau bahkan sekadar melirik Aluna dari kejauhan. Gertakan tanpa ampun dari Devan di belakang panggung berhasil membungkam ancaman itu sepenuhnya.
Namun, ketenangan di area sekolah justru berbanding terbalik dengan badai terselubung yang perlahan tapi pasti mulai berkecamuk di dalam rumah mereka sendiri.
Malam itu, jarum jam dinding berdetak menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit. Hujan gerimis yang menyiram halaman luar membiarkan udara dingin merayap masuk lewat celah ventilasi. Di ruang keluarga lantai bawah yang hangat, Ayah Danu dan Ibu sedang duduk bersanding di sofa empuk sembari meneliti beberapa dokumen berkas pekerjaan dan lembaran rencana renovasi rumah.
Aluna sedang menyeduh dua gelas teh hangat di area dapur yang remang ketika telinganya menangkap nada percakapan kedua orang tua mereka yang mendadak berubah amat serius.
"Danu, akhir-akhir ini Kamu merasa ada yang beda tidak sama anak-anak kita?" suara Ibu terdengar pelan, namun sarat akan kebingungan dan keraguan yang dalam dari ruang tengah.
Langkah kaki Aluna seketika terhenti kaku di lantai keramik dapur. Jemari mungilnya yang memegang sendok teh membeku di udara. Napasnya mendadak tertahan rapat; ia menggeser tubuhnya sedikit, menempelkan punggungnya pada dinding pemisah antara dapur dan ruang keluarga.
"Beda bagaimana maksudmu, Ma?" tanya Ayah Danu ragu, membalikkan halaman berkas di tangannya.
"Ya... Devan dan Aluna," sahut Ibu pelan, menghela napas panjang. "Ibu tahu mereka memang kelihatan akrab dan saling menjaga sebagai saudara tiri. Tapi belakangan ini... Ibu merasa ada kecanggohan yang sangat aneh di antara mereka berdua. Kemarin sore waktu Ibu mendadak pulang lebih cepat, Devan kelihatan tegang sekali waktu keluar dari area lorong atas. Dan waktu Ibu lihat Aluna di kamarnya... bibir anak itu kelihatan agak bengkak, mukanya juga pucat kayak orang ketakutan."
Jantung Aluna serasa melompat keluar dari dadanya. Darahnya mendesir dingin seketika, menghantarkan rasa panik yang membuat persendian tangannya gemetar. Dugaan dan insting tajam seorang ibu yang selama ini berusaha mereka hindari ternyata mulai menangkap sinyal-sinyal rahasia dari hubungan terlarang mereka.
"Ah, itu pasti cuma perasaan Kamu saja, Ma," balas Ayah Danu mencoba menenangkan dengan nada tenang, meski ada sedikit nada skeptis di akhir kalimatnya. "Anak-anak kan sudah kelas dua belas dan sepuluh, pasti lagi banyak pikiran soal ujian dan kegiatan sekolah. Devan itu anak yang sangat bertanggung jawab dan dewasa, dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang melanggar batas."
"Semoga saja cuma perasaan Ibu yang berlebihan..." bisik Ibu mengusap keningnya ragu.
Aluna mencengkeram kuat-kuat pinggiran meja dapur berbahan granit yang dingin, menahan ritme dadanya yang naik-turun tak beraturan. Sebelum kepanikannya pecah menjadi tangisan cemas, sebuah tangan hangat dan kokoh mendadak merengkuh pinggang mungilnya dari belakang dengan gerakan yang sangat halus namun penuh ketegasan.
Devan telah berdiri merapat tepat di belakang Aluna. Kakak tirinya itu baru saja turun menyusuri tangga tanpa membuat suara sedikit pun, mendengar seluruh isi percakapan orang tua mereka dari sudut keremangan lorong atas.
"Kak..." cicit Aluna sangat pelan, suaranya bergetar hebat. Matanya melirik ke belakang dengan raut wajah penuh kecemasan yang membuncah.
Devan tidak menunjukkan riak panik sedikit pun pada paras tampannya. Ia menundukkan kepalanya perlahan, menyandarkan dagunya di bahu Aluna dan berbisik tepat di samping telinga adiknya—suaranya begitu serak, rendah, dan dingin bagaikan es.
"Tenang," bisik Devan seraya meremas pelan pinggul Aluna di balik sweater tipisnya, menyalurkan tekanan protektif yang memaksa saraf Aluna untuk kembali terkontrol. "Jangan pernah tunjukkan rasa takut atau cemasmu di depan mereka. Selama tidak ada pengakuan dari mulut kita... mereka tidak akan pernah punya bukti apa pun untuk menuduh."
Devan memiringkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan kecupan singkat yang amat mendalam dan panas di garis leher Aluna yang terbuka. Sentuhan itu menjadi sebuah penegasan membakar bahwa apa pun dinding kecurigaan yang mulai dibangun oleh orang tua mereka, Devan tak akan pernah melepaskan Aluna begitu saja dari genggamannya.
Apakah revisi ekspansi Bab 21 ini sudah pas? Jika sudah, kita bisa tancap gas berlanjut merevisi Bab 22!