Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hujan Darah dan Cahaya di Ujung Gang Gelap

​Deru mesin V8 dari Aston Martin hitam itu mengaum membelah jalanan ibu kota yang basah kuyup. Wiper mobil bergerak cepat, menyapu tirai hujan badai yang turun seolah langit sedang menumpahkan seluruh kepedihannya. Di balik kemudi, Arga Danendra mencengkeram setir berlapis kulit itu dengan tatapan sedingin es.

​Pikirannya masih berkecamuk. Kata-kata Raka di kantor tadi terus berdengung di telinganya layaknya kaset kusut. Berhentilah menghukum dirimu sendiri... Kau akan jatuh cinta pada seseorang, sampai kau rela merangkak memohon padanya.

​"Omong kosong," desis Arga, menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil sport itu melesat membelah genangan air, memercikkan air kotor ke trotoar jalanan yang sepi.

​Namun, insting bertahan hidup yang diasahnya selama bertahun-tahun di jalanan keras tiba-tiba berteriak memperingatkannya. Mata elang Arga melirik ke kaca spion tengah. Di tengah pekatnya malam dan kabut hujan, dua pasang lampu sorot menyilaukan membayangi mobilnya dengan kecepatan yang tak wajar. Dua buah SUV hitam berukuran masif melaju agresif, membelah jalan dan bermanuver memotong jalur layaknya predator yang sedang menggiring mangsanya ke jurang.

​Arga menyeringai tipis, senyum yang tak menyentuh matanya. "Jadi, anjing-anjing Wijaya sudah mulai menggigit."

​Tanpa kepanikan sedikit pun, Arga memutar setir tajam ke kiri. Ban mobilnya berdecit keras beradu dengan aspal basah, menghasilkan percikan bunga api kecil saat ia berbelok memasuki jalan pintas menuju area distrik tua. Namun, para penyerangnya sudah mempersiapkan ini. Dari arah depan, sebuah truk boks tanpa lampu melaju kencang, sengaja memblokir jalan keluarnya.

​Itu adalah jebakan mati.

​Otak jenius Arga bekerja dalam sepersekian detik. Rem mendadak hanya akan membuatnya dihantam dari belakang dan mati tergencet. Menginjak gas akan membuatnya hancur menabrak truk. Dengan ketenangan yang mengerikan, Arga memutar setir ke kanan hingga batas maksimal, menarik tuas rem tangan, dan membiarkan mobil miliaran rupiah itu berputar tak terkendali (drifting) menghantam tumpukan tong besi dan pembatas jalan di sisi trotoar.

​BRAAAKKK!!

​Suara benturan logam yang memekakkan telinga mengalahkan deru guntur di langit. Kaca depan Aston Martin itu hancur berkeping-keping, menghujani kabin kemudi bak kristal es yang mematikan. Airbag mengembang dengan keras, menghantam wajah Arga hingga pandangannya memutih sejenak. Bau bensin dan asap langsung memenuhi udara.

​Meski kepalanya pening dan darah hangat mulai mengalir dari pelipisnya hingga membutakan sebelah matanya, Arga tidak membuang waktu. Ia tahu, berdiam diri di dalam rongsokan mobil ini sama dengan menunggu peluru menembus kepalanya. Dengan sisa tenaga, ia menendang pintu mobil yang penyok hingga terbuka, lalu merangkak keluar ke tengah hujan deras.

​Napasnya memburu. Tulang rusuknya terasa seperti retak, setiap tarikan napas membawa rasa sakit yang menyengat. Samar-samar, melalui derai hujan, ia melihat pintu-pintu SUV hitam itu terbuka. Enam pria bertubuh besar berbalut jas hujan gelap turun membawa pipa besi, tongkat bisbol, dan pisau berburu yang berkilat memantulkan cahaya petir.

​Arga memaksakan diri berdiri tegak. Ia mengusap darah di matanya, menatap para pembunuh bayaran itu dengan aura raja iblis yang tak terbantahkan. Tidak ada ketakutan, yang ada hanyalah amarah murni.

​Pertarungan tak seimbang itu pun pecah di tengah jalanan aspal yang diguyur badai.

​Meski mengenakan setelan jas mahal, Arga bukanlah eksekutif lemah yang hanya tahu memegang pena. Ia adalah pria yang dibentuk oleh jalanan. Ia menghindari sabetan pipa besi pertama, menangkap lengan si penyerang, dan mematahkannya dengan satu putaran brutal yang diakhiri dengan tendangan telak ke lutut. Terdengar bunyi tulang berderak yang mengerikan.

​Satu tumbang. Sisa lima.

​Arga meninju rahang penyerang kedua hingga giginya rontok, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai tameng saat sabetan pisau dari penyerang ketiga datang. Hujan mencuci darah yang terus mengalir dari luka di kepalanya, membuat pandangannya semakin kabur. Adrenalin adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri.

​Namun, fisik manusia memiliki batas. Saat Arga berbalik untuk menghajar pria ketiga, penyerang keempat mengayunkan tongkat bisbol kayu dengan kekuatan penuh dari arah blind spot-nya.

​Bugh!

​Pukulan itu telak menghantam punggung Arga. Sang CEO muda terhuyung ke depan, memuntahkan darah segar yang langsung larut bersama genangan air hujan. Sebelum ia sempat mengembalikan keseimbangannya, sebuah pisau berburu merobek sisi pinggangnya, menembus kemeja mahalnya, mengoyak dagingnya dalam-dalam.

​Rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan sarafnya. Arga jatuh berlutut, napasnya tersengal parah.

​"Tuan Wijaya mengirimkan salam," bisik pemimpin penyerang itu dengan nada mengejek, mengangkat pipa besinya tinggi-tinggi untuk memberikan pukulan penyelesaian ke kepala Arga.

​Namun, suara sirine patroli polisi yang kebetulan melintas di jalan raya utama yang berjarak dua blok dari sana memecah konsentrasi mereka. Menyadari operasi mereka tidak lagi senyap, sang pemimpin mendecih kesal. "Tinggalkan dia. Dengan luka tusuk dan pendarahan separah itu, dia akan mati kehabisan darah sebelum pagi. Ayo pergi!"

​Gerombolan pembunuh itu bergegas masuk ke dalam mobil mereka dan melaju pergi, meninggalkan Arga yang terkapar tak berdaya di aspal dingin yang kotor.

​Arga mengerang pelan, mencengkeram pinggangnya yang terus mengeluarkan darah pekat. Pandangannya mulai menggelap. Ia tahu ia tidak bisa diam di sini, orang-orang itu mungkin akan kembali untuk memastikan kematiannya. Dengan sisa kesadaran yang menipis, ia menyeret tubuhnya yang hancur, merayap perlahan memasuki labirin gang-gang kumuh yang sempit dan gelap gulita, berusaha bersembunyi dari kematian.

​Setiap sentimeter yang ia tempuh terasa bagai siksaan neraka. Kemeja putihnya kini berubah warna menjadi merah pekat. Dunia di sekelilingnya berputar hebat. Tubuh besarnya akhirnya ambruk di sudut gang buntu, bersandar di dinding bata yang lembap, tersembunyi di balik tumpukan kardus basah dan tong sampah.

​Arga tertawa lirih, tawanya bercampur dengan batuk berdarah. Ia, Arga Danendra, pria yang menguasai perekonomian negara, pria yang ditakuti ribuan orang, kini harus mati membusuk di gang kumuh seperti anjing jalanan.

​Apakah ini karma karena aku terlalu angkuh? batinnya sinis.

​Napasnya semakin pendek. Hawa dingin mulai merayap naik dari ujung kakinya, pertanda bahwa maut sudah berdiri di hadapannya. Ia perlahan menutup matanya, menyerah pada kegelapan mutlak yang menyambutnya. Di saat-saat terakhirnya, bukan harta atau kerajaannya yang terlintas, melainkan wajah ibunya, dan, entah mengapa, wajah Natasha yang menatapnya jijik tujuh tahun lalu.

​Dunia ini memang busuk. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang tulus...

​Tap... Tap... Tap...

​Di ujung gang yang sama, suara langkah kaki kecil terdengar memecah derasnya hujan.

​Senja Kirana berjalan menunduk, merapatkan jaket tipisnya. Payung hitamnya yang patah harus ia pegang miring agar air tidak langsung mengguyur kepalanya. Genangan air kotor merembes masuk ke dalam sepatu ketsnya yang solnya sudah tipis, membekukan jari-jari kakinya. Namun, pikirannya melayang pada kehangatan resep roti yang baru ia ciptakan hari ini.

​Tiba-tiba, telinganya menangkap sebuah suara.

​Bukan suara hujan. Bukan suara guntur. Melainkan suara napas berat yang putus-putus, dan bau besi berkarat yang sangat tajam—bau darah.

​Langkah Senja terhenti. Bulu kuduknya berdiri. Di permukiman padat dan rawan seperti ini, aturan nomor satu untuk bertahan hidup adalah: jangan pernah ikut campur urusan orang lain. Jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam gang gelap, palingkan wajahmu dan teruslah berjalan. Begitulah cara orang-orang miskin melindungi diri dari intrik dunia bawah yang mematikan.

​Pikiran logis Senja berteriak menyuruhnya untuk segera lari pulang. Ia hanya gadis sebatang kara, ia tidak punya uang, kekuasaan, atau perlindungan jika sesuatu yang buruk terjadi.

​Namun, saat ia bersiap melangkah pergi, ujung matanya menangkap sebuah siluet besar yang terkapar di sudut gang. Dan di bawah genangan air hujan yang disorot lampu jalan yang redup, ia melihat aliran air berwarna merah pekat mengalir dari arah siluet tersebut menuju ujung sepatunya.

​Hati Senja berdesir hebat.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

Di dunia yang semakin dingin ini, sangat mudah bagi kita untuk memalingkan wajah dari penderitaan orang lain. Sangat mudah untuk beralasan bahwa kita terlalu sibuk, terlalu miskin, atau terlalu takut untuk menolong. Keberanian sejati bukanlah ketidakhadiran rasa takut, melainkan sebuah keputusan bahwa empati dan sisi kemanusiaan kita jauh lebih penting daripada ketakutan itu sendiri.

​Senja menelan ludahnya yang terasa kering. Ia teringat janjinya pada mendiang ibunya untuk selalu menjadi cahaya, untuk tidak pernah membiarkan kekejaman dunia mengubah hatinya menjadi batu. Jika ia meninggalkan orang itu malam ini, ia mungkin akan selamat, namun hati nuraninya akan mati selamanya.

​Dengan tangan gemetar yang mencengkeram gagang payung, Senja melangkah perlahan ke sudut gang yang gelap itu.

​"Paman...? Tuan...?" panggilnya dengan suara bergetar.

​Begitu ia mendekat dan berjongkok, Senja menahan napas, menutup mulutnya dengan tangan bebasnya agar tidak menjerit. Pemandangan di hadapannya sangat mengerikan. Seorang pria berbadan tegap, mengenakan pakaian yang jelas sangat mahal namun kini sobek dan basah kuyup, terkapar dengan tubuh bersimbah darah. Luka di pinggangnya menganga, terus memompa darah keluar.

​Bibir pria itu pucat pasi, nyaris membiru karena hipotermia, dan napasnya sangat tipis.

​Tanpa memedulikan rasa takutnya lagi, insting keibuan dan empati Senja mengambil alih. Ia melempar payung usangnya begitu saja—membiarkan punggungnya sendiri diguyur hujan es—dan berlutut di atas genangan darah kotor itu.

​"T-Tuan! Ya Tuhan, Anda berdarah sangat banyak!" Senja panik. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia melepaskan jaket rajut tipisnya, satu-satunya penghangat tubuh yang ia miliki malam itu. Ia melipat jaket itu dan menekankannya dengan kuat ke luka terbuka di pinggang Arga untuk menghentikan pendarahan.

​"A-akh!" Erangan kasar dan serak keluar dari mulut Arga akibat tekanan pada lukanya.

​Kelopak mata Arga bergerak pelan, perlahan terbuka hanya setengah. Pandangannya buram dan berbayang. Namun di tengah kesadarannya yang nyaris putus, di tengah rasa sakit yang menghancurkan dan hujan yang membekukan, ia melihat sebuah wajah.

​Sebuah wajah mungil, dengan mata bulat yang bening dan dipenuhi oleh air mata kepanikan. Gadis itu basah kuyup, bibirnya gemetar menahan dingin, namun kedua tangan kecilnya menekan lukanya dengan sekuat tenaga, berusaha menahan nyawa Arga agar tidak pergi dari tubuhnya.

​Di saat mantan kekasihnya dulu membuangnya hanya karena ia tidak punya uang pembeli payung, di hadapannya kini, seorang gadis asing yang jelas terlihat hidup dalam kemiskinan, membuang payung satu-satunya hanya demi menyelamatkan nyawa pria yang tak ia kenal.

​"T-Tuan... Tuan, tolong jangan tutup mata Anda. Tolong bertahanlah!" Suara Senja terdengar seperti isakan yang menyayat hati, sebuah ketulusan yang murni tanpa setitik pun kepalsuan. "Kumohon, bertahanlah..."

​Otak Arga yang sinis tidak bisa memproses pemandangan ini. Siapa dia? Kenapa dia menangis untukku? Kenapa dia menatapku dengan... kasih sayang?

​"Malaikat...?" gumam Arga parau, suaranya sangat lemah nyaris seperti embusan angin.

​"Saya bukan malaikat! Tuan, Anda berat sekali, tapi kita tidak bisa diam di sini, Anda akan mati kedinginan dan kehabisan darah!" Senja mengabaikan ucapan melantur Arga.

​Dengan kekuatan yang entah datang dari mana—mungkin dari keputusasaan dan tekad murninya—Senja menyelipkan salah satu lengan besar Arga ke pundak kecilnya. Gadis mungil yang bahkan tinggi badannya hanya sebatas dada Arga itu, memapah tubuh raksasa sang CEO dengan susah payah.

​"A-ayo, Tuan. Rumah saya dekat dari sini. Kumohon, bantu saya sedikit. Melangkahlah!" Senja meringis kesakitan saat bobot tubuh Arga nyaris meremukkan tulang bahunya.

​Arga kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Namun sentuhan hangat dari bahu kecil penyangganya itu mengalirkan sebuah energi asing ke dalam dadanya. Energi yang memaksanya untuk menurut, memaksakan sebelah kakinya untuk melangkah tertatih-tatih di atas aspal. Bau darahnya sendiri kini tergantikan oleh aroma manis samar dari tubuh gadis itu—aroma vanila dan roti panggang yang sangat menenangkan.

​Mereka berjalan bagai dua sosok yang saling menopang di tengah badai. Senja menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah menahan beban, langkahnya terseok-seok, sepatunya licin di atas aspal berbatu. Setiap kali Arga nyaris jatuh, dua tangan kecil Senja mencengkeram pinggangnya dengan erat, menolak untuk melepaskannya.

​Sepanjang sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti satu abad itu, kesadaran Arga terus keluar masuk. Namun satu hal yang terukir jelas dalam ingatan bawah sadarnya yang mulai gelap: rasa hangat. Hangat dari tubuh gadis itu, dan hangat dari air mata gadis itu yang jatuh menetes di punggung tangannya.

​Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu kayu reyot di ujung gang terdalam. Rumah kontrakan Senja.

​Dengan tangan gemetar, Senja merogoh kunci di saku celananya yang basah, membuka pintu, dan setengah menyeret Arga masuk ke dalam ruangan yang hanya berukuran tiga kali empat meter tersebut.

​"Kita sampai... Anda aman sekarang, Tuan," bisik Senja, napasnya putus-putus kelelahan.

​Ia membaringkan Arga dengan hati-hati di atas satu-satunya kasur lantai tipis miliknya yang sudah lusuh namun sangat bersih dan wangi sinar matahari. Begitu punggung Arga menyentuh kasur, sisa tenaga yang mempertahankannya runtuh seketika.

​Sebelum kesadarannya benar-benar terenggut oleh kegelapan, Arga menatap wajah Senja untuk terakhir kalinya. Gadis itu bergegas mencari kotak P3K tua dengan panik, rambut panjangnya yang lepek oleh hujan menempel di lehernya.

​Di dalam hati Arga yang selama tujuh tahun ini membeku layaknya gunung es yang keras dan tajam, tanpa disadari, sebuah retakan kecil tercipta malam ini. Retakan yang ditembus oleh seberkas cahaya hangat dari gadis yatim piatu di lingkungan kumuh yang tak pernah ia ketahui eksistensinya.

​Mata Arga terpejam rapat, dan ia pun jatuh ke dalam ketidaksadaran yang panjang, tidak tahu bahwa saat ia membuka matanya besok, dunianya tidak akan pernah lagi sama.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!